ADZAN, IQAMAH, DAN SHALAT BERJAMAAH

  1. 1.      ADZAN DAN IQAMAH
  1. ketentuan adzan dan iqamah

Azan adalah panggilan untuk menunaikan shalat fardu secara berjamaah. Pada masa Rasulullah saw, azan shalat fajar dilakukan dua kali, yaitu azan pertama sebelum masuk subuh (sekitar masuk makan sahur) dan azan yang kedua pada saat masuk waktu subuh. (Ibrahim, 2008:42)

Adzan secara lughawi (etimologi): Menginformasikan semata-mata. Sedangkan secara istilah (terminologi) adalah : Menginformasikan (memberitahukan) tentang waktu-waktu shalat dengan kata-kata tertentu. Adzan ini telah diperintahkan (dilakukan) sejak pada tahun pertama dari Hijrah Nabi ke Madinah. Sedangkan diperintahkan  (disyariatkan) menurut Syiah adalah bahwa malaikat Jibril yang membawa turun dari Allah kepada Rasulullah yang mulia. Sedangkan menurut sunni adalah Abdullah Bin Zaid bermiompi ada orang yang mengajarinya, kemudian diceritakan hasil mimpinya itu kepada Rasulullah, lalu Rasulullah memastikannya untuk dipergunakan.

(Mughniyah, 20010: 96)

  1.  Syarat Adzan

SYARAT ADZAN MENURUT 4 MADZHAB

No.

Hal

Syafi’i

Hambali

Maliki

Hanafi

1

Niat

-

-

2

Mutawali

√ 

3

Berbahasa Arab

-

4

Masuk waktu sholat

5

Tartib

(Mughniyah, 1996: 280-281)

Iqamah dikumandangkan sebagai pertanda shalat berjamaahakan segera dimulai. Sebelum mengumandangkan azan, seorang muazin hendaklah mengetahui adab-adab melaksanakan azan. Adab melaksanakan azan menurut jumhur ulama’ adalah sebagai berikut:

1. Muadzin hendaknya tidak menerima upah

2. Muadzin harus suci dari hadas besar, hadas kecil dan najis

3. Muadzin menghadap ke arah kiblat ketika mengumandangkan azan

4. Ketika membaca hayya ‘ala as-shalah, muadzin menghadapkan muka dan dadanya ke sebelah kanan. Kemudian ketika membaca hayya ‘ala al-falah, muazin menghadapkan muka dan dadanya ke sebelah kiri.

5. Muadzin memasukkan dua anak jarinya ke dalam kedua telinganya.

6. Muadzin hendaknya bersuara nyaring.

7. Muadzin tidak boleh berbicara ketika mengumandangkan adzan.

8. Setelah mengumandangkan adzan, muadzin hendaknya berdoa (doa setelah adzan). (Ibrahim, 2008:42)

Adzan dan iqamah hendaknya dikumandangkan oleh seorang laki-laki, kecuali jika shalat jamaahyang akan dilakukan semuanya terdiri atas kaum perempuan. Hal tersebut pernah dilakukan Aisyah r.a. Sebagai orang Islam, setiap mendengarkan azan seyogyanya  membiasakan hal-hal berikut:

1. Kita sebaiknya menghentikan kegiatan dan bersegera bersiap-siap untuk mendirikan shalat berjamaah di masjid.

2. Kita disunnahkan menirukan adzan yang dikumandangkan muadzin.

3. Setelah adzan selesai dikumandangkan, maka segera membaca doa setelah adzan.

4. Kita bersegera mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat wajib. (Ibrahim, 2008:44)

           C. Hukum Adzan

HUKUM ADZAN MENURUT 4 MADZHAB

 

Imam Syafi’i

Imam Hanafi

Imam Malik

Imam Hambali

adzan merupakan sunnah kifayah bagi jamaah dan sunnah ain bagi sholatnya munfarid

adzan merupakan sunnah kifayah  bagi semua musholli

Menurut Malikiyah, adzan merupakan sunnah kifayah bagi jamaah

adzan merupakan fardhu kifayah bagi suatu desa atau kota.

(Mughniyah : 1996, 96)

5. Adzan tidak boleh pada hal-hal berikut:

Hambali

Maliki

Hanafi

Syafi’i

Adzan itu tidak boleh dilakukan untuk jenazah, sholat sunnah dan sholat nadzar

 

Adzan itu tidak boleh untuk sholat sunnah, sholat yang telah lewat, dan tidak pula untuk sholat jenazah

 

Tidak boleh untuk sholat jenazah, juga tidak tidak untuk sholat dua hari raya, gerhana matahari dan gerhana bulan, sholat terawih dan tidak boleh pula untuk sholat sunnah

Tidak boleh untuk sholat jenazah, dan tidak pula pada sholat nadzar, dan tidak pula shalat-shalat nafilah (sunnah) lainnya

(Mughniyah, 20010: 97.)

6. Syarat-Syatrat Adzan

Semua ulama’ madzab sepakat bahwa syart sahnya adzan adalah kata-katanya harus berurutan dan tertib antara tiap-tiap bagianya, orang yannnng adzan itu harus orang laki-laki, muslim, dan berakal, tetapi sah juga yang adazan itu anak kecil yang sudah mumayyiz (bisa membedakan antara yang bersih dan tidak), Dan adzan ini tidak disyaratkan untuk suci. .(Mughniyah, 20010: 97).

Ulama’ madzhab berbeda pendapat selain hal diatas

Hanafi

Syafi’I

Hambali

Maliki

Sah adzan tanpa niat

Sah adzan tanpa niat

Harus dengan niat

Harus dengan niat

Bagi orang arab tidak boleh adzan dengan selain bahasa arab. Dan bagi orang selain orang arab boleh adazn dengan bahasanya sendiri untuk dirinya dan untuk para jama’ahnya

Bagi orang arab tidak boleh adzan dengan selain bahasa arab. Dan bagi orang selain orang arab boleh adazn dengan bahasanya sendiri untuk dirinya dan untuk para jama’ahnya

Adzan itu boleh dengan selain bahasa selain bahasa arab secara mutlak.

 

Bagi orang arab tidak boleh adzan dengan selain bahasa arab. Dan bagi orang selain orang arab boleh adazn dengan bahasanya sendiri untuk dirinya dan untuk para jama’ahnya

Dilarang mendahulukannya, dan tidak membedakan antara shalat subuh dengan shalat-shalat lainya dan pendapat ini adalah lebih selamat

Boleh mendahulukan adzan untuk memberitahukan adzan untuk memberitahukan tentang shalat shubuh

Boleh mendahulukan adzan untuk memberitahukan adzan untuk memberitahukan tentang shalat shubuh

Boleh mendahulukan adzan untuk memberitahukan adzan untuk memberitahukan tentang shalat shubuh

 (Mughniyah, 20010: 97)

 

2. KETENTUAN SHALAT BERJAMAAH

1. pengertian shalat berjamaah

Secara bahasa, kata jamaah berarti kumpulan atau bersama-sama. Menurut istilah, shalat jamaah adalah shalat yang dilakukan secar bersama-sama oleh dua orang atau lebih, salah satunya menjadi imam, sedangkan lainnya menjadi makmum. Dengan demikian, shalat berjamaah sekurang-kurangnya dilakukan oleh dua orang. (Ibrahim, 2008:45)

2. Hukum Shalat Berjamaah

Hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakad (sunnah yang dikuatkan), artinya shalat secara berjamaah sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. (terutama bagi kaum lelaki) dan dilakukan di masjid. (Ibrahim, 2008:46)

Imam Hambali

Imam Hanafi

Imam syafi’i

Sholat jama’ah hukumnya wajib bagi setiap individu yang mampu melaksanakannya

Sholat jama’ah hukumnya tidak wajib baik fardhu ‘ain atau kifayah tetapi hanya disunnahkan dengan sunnah mu’akkad

Sholat jama’ah hukumnya tidak wajib baik fardhu ‘ain atau kifayah tetapi hanya disunnahkan dengan sunnah mu’akkad

 (Mughniyah, 1996:       )

Seluruh kaum muslimin telah sepakat bahwa shalat berjama’ah itu termasuk salah satu syi’ar agama Islam. Ia telah dikerjakan oleh Rasulullah saw secara rutin dan diikuti oleh para Khalifah sesudahnya. Hanya ulama’ berselisih pendapat dalam hal: Apakah hukumnya wajib atau sunnah mustahabah (sunnah yang dianjurkan)?

Hambali: shalat berjama’ah itu hukumnya wajib atas setiap individu yang mampu melaksanakannay. Tetapi kalau ditinggalkan dan ia shalat sendiri, maka ia berdosa, sedangkan shalatnya tetap sah.

Imamiyah, Hanafi dan sebagian besar Ulama’ Syafi’i mengatakan: Hukumnya tidak wajib, baik fardhu ‘ain atau kifayah, tetapi hanya disunnahkan dengan sunnah muakkadah.

3.Syarat-Syarat Shalat Berjama’ah

Syarat-syarat shalat berjama’ah itu ada 11, yaitu:

  1. Islam, menurut kesepakatan ulama’
  2. Berakal, menurut kesepakatan ulama’
  3. Adil, menuru madzhab Imamiyah, Maliki, dan Hambali dalam salah satu dari dua riwayat Imam Ahmad. Pihak Imamiyah mengambil dalil dari sabda Nabi saw yang artinya “Wanita tidaklah mengimani kaum pria, dan orang durhaka tidaklah mengimani orang beriman”. Dan sesuai dengan ijma’ Ahlul Bait bahwa Imam sholat itu menunjukkan kepemimppinan, sedangkan orang yang durhaka tidak pantas sama sekali untuk jabatan tersebut. Namun mereka mengatakan pula bahwa orang yang merasa percaya kepada seorang laki-laki ia sholat ia di belakangnya (menjadi makmum), kemudian ternyata orang itu adalah seorang yang fasik, maka dalam hal ini tidak wajib mengulangi shalatnya.
  4. Laki-laki

Wanita tidak sah menjadi iamam untuk laki-laki, dan sah apabila mengimami sesama kaum wanita, demikian menurut pendapat semua madzhab selalin madzhab Maliki: Wanita tidak sah menjadi imam walaupun untuk mengimami ssesamanya.

  1. Baligh.

Ini merupakan syarat pada madzhab Maliki, Hanafi dan Hambali, sedangkan Syafi’I mengatakan: Sah Iqtida’(mengikuti) dengan anak yang sudah mumayyiz asalkan ia mendekati dewasa (hampir baligh).

  1. Jumlah

Seluruh ulama’ sepakat bahwa sekurang-kurangnya sah berjama’ah selain pada sholat jum’at itu apabila jumlahnya dua orang, dimana salah satunya imam

 

7.   Makmum tidak menempatkan dirinya di depan Imam.

Demikian menurut pendapat semua ulama’ kecuali pada mazhab Maliki. Maliki mengatakan: Makmum tidak batal shalatnya walaupun ia berada di depan Imam.

8.   Berkumpul dalam satu tempat tanpa penghalang.

            Imamiyah mengatakan: Makmum tidak boleh berjauhan dengan Imam kecuali berhubungan dengan shaf . dan dalam berjamaah tidak boleh ada penghalang yang merintango makmum laki-laki untuk menyaksikan gerak-gerik imam, atau melihat makmum lainya yang menyaksikan imam, kecuali untuk kaum wanita mereka boleh mengikuti imam sekalipun ada penghalang, asalkan gerakan imam tidak samar bagi mereka.

            Syafi’ie mengatakan: Tidak jadi soal apabila jarak antara imam dan makmum lebih dari tiga ratus hasta, dengan syarat tidak ada penghalang antara keduanya.

            Hanafi mengatakan: Jika seseorang yang berada di rumahnya ikut imam yang berada di masjid, kalu rumahnya itu bergandengan dengan masjid, yang hanya di pisahkan oleh dinding, maka shalatnya sah dengan syarat gerakan imam tidak samar bagi si makmum. Tetapi jika letak rumahnya berjauhan dengan masjid, misalkan di pisahkan oleh jalan atau sungai maka iqtida’  tidak sah.

            Maliki mengatakan: Perbedaan tempat tidk menjadi penghalang sahnya iqtida’. Jika di antara imam dan makmum itu terdapat penghalang berupa jalan, sungai atau dinding, maka shalatnya tetap sah selama makmum bisa mengikuti gerakan imam.

9.  Makmum harus berniat mengikuti imam, demikian kesepakatan seluruh  imam.

10. Shalat makmum dan imam harus sama.

            Para ulama’ sepakat, tidak sah jika ada perbedaan antara dua shalat dalam rukun dan af’al nya (perbuatanya). Seperti shalat fardhu dan shalat jenazah atau shalat ied.

            Selain yang di sebutkan ini, terdapat perselisihan.

            Hanafi dan Maliki mengatakan: Orang yang shalat duhur tidak sah bermakmum dengan orang yang shalat ashar. Begitu juga orang yang shalat qadha’ tidak sah bermakmum dengan orang yang shalat pada waktunya, dan sebaliknya.

            Imamiyah dan Syafi’ie mengatakan: semuanya itu sah. Hambali mengatkan: tidak sah shlat duhur di belakang shalat ashar, begitupun pula sebaliknya. Dan sah shalat duhur qada’ di belakang shalat dhuhur  ada’an (tepat waktu).

11. Bacaan yang sempurna.

            Orang yang bacanya fasih (baik) tidak boleh bermakmum kepada orang yang kurang baik bacaanya, demikian kesepakatan seluruh ulama’. Jika orang yang baik bacaanya bermakmum kepada orang yang kurang baik bacaanya, maka shalatnya menjadi batal, demikian menurut seluruh ulama’ selain dari Hanafi, yang mengatakan: shalat keduanya batal. Namun mereka mempunyai pendapat khusus terhadap orang yang ummi (yang tidak dapat membaca dan menulis), secara ummi hendaknya mengikuti imam (bermakmum) kepada orang yag baik bacaanya, dan tidak di perbolehkan shalat sendiri, walaupun ia bisa menunaikan shalat sendiri atau berjama’ah dengan bacaan yang benar.

12. Hukum menjadi makmum

            Para ulama’ bersepakat bahwa orang yang berwudhu’ boleh bermakmum dengan orang yang bertayamum, dan bahwa seseorang makmum harus mengikuti imam dalam bacaan dan dzikir-dzikirnya. Namun mereka berselisih pendapat dalam hal kewajiban makmum untuk mengikuti bacaan al-fatihah, Imam:

 

Syafi’ie

Hanafi

Maliki

: makmum harus mengikuti imam dalam shalat sirriyah (shalat yang bacaanya perlahan) dan jahriyah (suara yang di keraskan) dan ia wajib membaca surat Al-fatihah dalam setiap rakaat

makmum tidak wajib mengikuti bacaan imam, baik dalam shalat  sirriyah maupun dalam shalat jahriyah

makmum wajib membaca di dalam shalat sirriyah, dan tidak wajib dalam shalat jahriyah.

 

            Semua mazhab sepakat tentang wajibnya makmum mengikuti imam dalam segala gerak-geriknya, namun mereka berselisih pendapat tentang tefsir “mengikuti” itu.

 

Hanafi

Maliki

Hambali

makna “mengikuti” menjadi makna dengan muqaromah (serta merta), dengan perbuatan makmum yang langsung mengikuti perbuatan imam, dan dengan ta’akhkhar (terlambat

sesungguhnya makna “mengikuti” itu adalah bila perbuatan makmum itu berlangsung sesudah perbuatan imam. Ia tidak boleh mendahului perbuatan imam, atau menunda terlalu lama

makna “mengikuti”itu adalah: apabila makmum tidak mendahului imam dalam salah satu gerakan shalat, dan tidak pula mengakhirinya.

 

             

13. Hukum masbuq (makmum yang dating terlambat)

            Jika seseorang adatang sesudah imam mendirikan shalat, dan sudah melakukan satu rakaat atau lebih, maka seluruh ulama’ sepakat bahwa orang tersebut hendaklah berniat berjama’ah dan meneruskan shalat bersama imam.

Hanafi, Maliki, Hambali

Syafi’ie

rakaat yang di dapatkan oleh makmum bersama imam itu menjadi kahir rakaat bgi shalat si makmum. Jika ia mendapatkan rakaat ketiga dalam shalat maghrib bersama imam, maka itu di anggap sebagai rakaat ketiga juga untuk shalatnya. Kemudian ia melanjutkan dengan satu rakaat yang di dalamnya ia baca Al-fatihah, surat dan tasyahud, kemudian satu rakaat lagi yang di dalmnya ia baca Al-fatihah dan surat. Orang yang melakukanya shalat seprti ini, yaitu mendahulukan rakaat ketiga dari rakaat pertama dan kedua. Apa yang di kerjakanya bersama imam adalah akhir shalatnya, dan yang di kerjakannya sesudah imam adalah permulaan shalatnya

: rakaat yang di daptkan makmum bersama imam di anggap awal shalatnya, bukan akhirnya. Jadi kalau ia mendapatkan satu rakaat pada shalat maghrib bersama imam, maka itu di anggap sebagai rakaat pertama baginya, lalu ia meneruskanya dengan rekaat ke dua dan membaca tasyahud sesudahnya, kemudian di teruskan dengan rakaat ketuga yang menjadi rakaat terakhir baginya

14. Orang yang lebih pintar menjadi imam.

Hanafi

Maliki

Hambali

apabila berkumpul beberapa orang untuk mengerjakan shalat berjama’ah, maka di dahulukan orang yang lebih berilmu dalam hukum agama untuk menjadi imam, kemudian orang yang lebih baik bacaanya, kemudian orang yang lebih wara’, kemudian orang yang lebih dahulu masuk islam, kemudian orang yang lebih tua usianya, kemudian orang yang lebi\h baik akhlaknya, kemudian orang yang lebih bagus wajahnya.

sultan atau wakilnya harus di dahulukan, kemudian baru imam masjid dan tuan rumah, kemudian orang yang lebih mengetahui tentang hukum shalat, kemudian orang yang lebih mengetahui ilmu hadist, kemudian orang yang lebih adil, kemudian orang yang lebih baik bacaanya, kemudian yang lebih taat ibadahnya

orang yang lebih mengerti hukum agama, dan lebih baik bacaanya harus di dahulukan menjadi imam, kemudian orang yang lebih baik bacaanya saja, kemudian orang-orang yang faham hukum-hukum shalat

 

 

 

 

 

3. Syarat Imam dan Makmum

Imam adalah pemimpin.  Imam dalam shalat adalah orang yang memimpin shalat dan berdiri paling depan atau di depan makmum. Gerakan-gerakan seorang imam dalam shalatberjamaah harus diikuti oleh makmum. (Ibrahim, 2008:47)

Yang dijadikan ukuran untuk memilih seorang imam menurut H.R. Muslim dari Abi Mas’ud al-Ansari adalah sebagai berikut:

a. kemampuannya dalam kitab suci Al-Qur’an (baik bacaannya maupun banyak hafalannya)

b. Kemampuan dalam hadis Nabi Muhammad saw.

c. Siapa yang paling dahulu melakukan atau ikut hijrah ke Madinah al-Munawarah atau lebih dahulu masukIslam.

d. Orang yang tertua usianya diperkirakan lebih khusyuk dalam memimpin shalat berjamaah. (Ibrahim, 2008:47)

Di samping hal-hal di atas, imam hendaknya bersikap sebagai berikut:

a. Memperhatikan (membetulkan atau meluruskan) saf shalat jamaah sebelum shalat dimulai.

b. Bijak dalam memimpin shalat jamaah, misalnya tidak terlalu panjang dalam membaca surah ataupun yang lainnya, terutama apabila jamaahnya ada yang tua, muda, dan anak-anak.

c. Kaum perempuan tidak dibolehkan menjadi imam bagi kaum laki-laki. Rasulullah bersabda “Janganlah seorang perempuan menjadi imam bagi kaum lelaki.” (H.R. ibnu Majah dari Jabir ibn Abdillah) (Ibrahim, 2008:48)

Makmum berarti orang yang diimami atau orang yang dipimpin dalam shalat berjamaah. Makmum dalam shalat berjamaah hendaknya memiliki perasaan senagn dan ikhlas kepada imam sebagai pemimpin shalat berjamaah. Untuk menjadi makmum diperlukan syarat, diantaranya sebagai berikut:

a. berniat menjadi makmum

b. posisi makmum tidak boleh menjorok ke depan melebihi imam.

c. gerakan makmum harus mengikuti imam, tidak boleh mendahului.

d. shalat makmum harus sama dengan imam.

e. laki-laki tidak sah menjadi makmum apabila imamnya perempuan. (Ibrahim, 2008:48)

  1. D.    Menggantikan Imam yang Batal

Imam yang batal dapat digantikan oleh makmum yang tepat berada di belakangnya. Imam dapat meminta diganti melalui isyarat. Agar isyarat tersebut mudah dipahami, makmum yang berada di belakang imam diisyaratkan orang yang paham ilmu agama. Oleh karena itu, sebaiknya makmum yang berada di belakang imam adalah orang yang siap menggantikan kedudukan imam. (Mughniyah, 1996:135)

MENGGANTIKAN IMAM YANG BATAL MENURUT 4 MADZHAB

 

Pernyataan

Imam

Syafi’i

Maliki:

Hanafi

Hambali

Hukum

 

sunnah

 

sunnah

 

afdhol

 

 

jawaz

 

Sebab-sebab

datangnya hadas

 

-

 

- datang hadas ketika sholat

- terbuka aurat sekiranya melakukan sholat

-lalai dari membaca bacaan fardhu

 

-sakit yang sangat mencegah dia menyempurnakan sholat

- lalai dari rukun qouli

- datangnya hadas

 

(Mughniyah, 1996:135)

 

 

 

           

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: