STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

AKAR

 

Dosen Pembimbing:

 

Evika Sandi Savitri, M.P

 

 

Oleh:

Dina indrawasih

09620063

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG

2009

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Semua tumbuhan berpembuluh (vaskular) mempunyai akar, karena akar merupakan bagian bawah dari sumbu tanaman yang biasanya berkembang dibawah permukaan tanah, tidak berklorofil dan mempunyai bulu akar yang uniseluler. Meskipun ada juga akar yang berkembang diluar tanah bergantung dari fungsi akar tersebut (Savitri, 2009).

            Akar pertama pada tumbuhan berbiji berkembang dari meristem apeks diujung akar embrio dalam biji yang berkecambah. Pada Gymnospermae dan dikotil, akar tersebut berkembang dan membesar menjadi akar tunggang. Sedangkan pada monokotil, akar primer tidak bertahan lama dalam kehidupan tanaman dan segera mengering (Tjitrosomo, 1983).

1.2  Rumusan masalah

Masalah yang ada pada praktikum ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Bagaimana macam-macam jaringan penyusun akar primer dan sekunder ?
  2. Bagaimana perbandingan antara jaringan penyusun akar dikotil dan monokotil?
  3. Bagaimana tipe berkas pengangkut, tipe stele, periderm, dan struktur anomali pertumbuhan sekunder akar ?

 

1.3  Tujuan

Tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui macam-macam jaringan penyusun akar primer dan sekunder.
  2. Untuk mengetahui perbandingan antara jaringan penyusun akar dikotil dan monokotil
  3. Untuk mengetahui tipe berkas pengangkut, tipe stele, periderm, dan struktur anomali pertumbuhan sekunder akar.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Konsep Akar

Akar merupakan bagian bawah dari sumbu tumbuhan dan umumnya berkembang di bawah permukaan tanah, meskipun ada pula akar yang tumbuh di luar tanah. Akar pertama pada tumbuhan berbiji berkembang dari meristem apeks di ujung akar embrio dalam biji yang berkecambah. Pada gymnospermae dan dikotil, akar tersebut berkembang dan membesar menjadi akar primer dengan cabang yang berukuran lebih kecil. System akar tersebut dinamakan akar tunggang. Pada monokotil, akar primer tidak lama bertahan dalam kehidupan tumbuhan dan segera mengering. Dari dekat pangkalnya atau di dekatnya akan muncul akar baru yang disebut akar tambahan atau adventif (Estiti. 1995).

Irisan memanjang ujung akar muda menunjukkan 4 daerah pertumbuhan yang batasnya tidak terlalu jelas. Yaitu : tudung akar, daerah pembelahan sel, daerah pemanjangan, dan daerah diferensiasi sel. Daerah-daerah pertumbuhan ini dapat berhimpitan karena dipengaruhi oleh jenis tumbuhnya serta keadaan lingkungan yang menentukan aktifitasnya (Sutrian,2004).

Akar juga merupakan bagian pokok yang nomor tiga (di samping batang dan daun) bagi tumbuhan yang tumbuhnya telah merupakan kormus. Bagi tumbuhan, akar berfungsi untuk memperkuat berdirinya tumbuhan, untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut di dalam air tadi dari dalam tanah, untuk mengangkut air dan zat-zat makana tadi ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan dan kadang-kadang sebagai tempat untuk penimbunan makanan    (Estiti,1985).

2.2 Macam-Macam Akar

Keragaman bentuk dan struktur akar sering terkait dengan fungsinya. Karena itu dikenal akar penyimpan, akar sukulen, akar udara, pneumatofur, akar panjat, akar pembelit, akar tunjang, dan akar yang hidup bersimbiosis dengang jamur. Kondisi lingkungan sering mempengaruhi sistem akar. Ditanah kering tumbuhan biasanya memiliki sistem akar yang berkembang dengan lebih baik. Banyak tumbuhan yang tumbuh ditanah berpasir menghasilkan akar lateral yang horizontal dan tidak dalam, menyebar dekat dibawah permukaan tanah hingga berpuluh meter panjangnya minsalnya pada tamarix (Estiti, 1995).

            Sedangkan secara ontogeni (Asal terbentuknya), akar dibedakan menjadi dua jenis yaitu

  1. Akar primer, berkembang dari radikula (akar utama yang tumbuh dari biji)
  2. Akar adventif, berkembang dari bagian lain dari tumbuhan (misalnya pada batang, daun, tunas) (Kartasapoetra, 1991).

2.3 Susunan Jaringan Primer dalam Akar.

Susunan jaringan primer dalam akar pada jarak tertentu dari inisial apikal akar akan dapat dibedakan dalam berbagai zona yaitu tudung akar, epidermis, korteks akar dan silinder pembuluh atau silinder tengah (Fahn, 1982)

2.3.1 Tudung Akar

            Tudung akar terletak pada ujung akar, berfungsi melindungi promeristem akar serta membantu penembusan tanah oleh akar. Tudung akar terdiri atas sel-sel parenkimatis dengan berbagai tingkatan diferensiasi. Selnya terkadang tersusun atas deretan radial yang berasal dari permulaan tudung akar. Pada beberapa tumbuhan, sel sentral di tudung akar membentuk struktur yang lebih jelas dan tetap yang disebut kolumela (Hidayat, 2005).

            Secara fisiologis tudung akar mempunyai fungsi penting, yaitu menentukan arah gravitasi pertumbuhan akar. Telah diketahui bahwa pemotongan ujung akar akan mempengaruhi responnya terhadap gaya berat, dikarenakan  tudung akar mengandung amiloplas yang dapat yang dapat mempengaruhi geotropisme. Amiloplas pada tudung akar ini membentuk inklusiones yang berbentuk padat, berupa butir tepung yang disebut statolit (Sumardi, 1993).

2.3.2 Epidermis

Pada kebanyakan akar, epidermis berdinding tipis. Rambut-rambut akar berkembang dari yang khusus, dan sel tersebut mempunyai ukuran yang berbeda dengan sel epidermis, dinamakan trikhoblas. Trikhoblas sendiri berasal dari pembelah protoderm. Epidermis akar yang berfungsi untuk penyerapan.serta bulu-bulu akar yang memiliki kutikula tipis (Sumardi, 1993).

            Ciri khas dari epidermis akar ialah pembentukan rambut akar yang merupakan organ yang sangat sesuai untuk pengambilan air dan garam yang efisien. Daerah rambut akar biasanya terbatas beberapa sentimeter dari ujung akar. Rambut akar tidak ada di dekat meristem apikal dan biasanya mati/mengering pada bagian akar yang lebih dewasa (Fahn, 1995).

 

2.3.3 Korteks Akar

            korteks akar umumnya terdiri atas sel-sel prenkimatis selama perkembangannya, ukuran sel-sel korteks yang mengalami differensiasi bertambah, sebelum terjadi vakuolisasi dalam sel tersebut (Sumardi, 1993).

            korteks akar lebih lebar daripada korteks batang, karena itulah korteks akar berperan lebih banyak dalam penyimpanan. Lapisan paling dalam dari korteks merupakan endodermis (Kartasapoetra,1991).

2.3.4 Endodermis

            Endodermis tersusun oleh satu lapis sel yang berbeda secara fisiologi, struktur, dan fungsi dengan lapisan sel di sekitarnya. Berdasarkan perkem­bangan dicincin selnva, endodermis dapat dibedakan menjadi:

  1. Endodermis tersier apabila penebalan membentuk huruf U yang mengandung lapisan suberin dan selulose pada dinding radial dan tangensial bagian dalam. Di antara sel-sel endodermis terdapat bebe­rapa sel yang tidak mengalami penebalan dinding, yaitu sel-sel yang ter­letak berhadapan dengan protoxilem. Sel-sel ini disebut sel peresap (Nugroho, 2006).
  2. Endodermis primer yang mengalami penebalan berupa titik-tirik Caspary dari suberin dan kutin.
  3. Endodermis sekunder, apabila penebalan berupa pita Caspary dari zat lignin.

Pita Caspary adalah pita-pita suberin yang mengelilingi dinding radial dan melintang pada daerah penyerapan pada akar di dinding sel endodermis. Pita caspary berfungsi untuk mengendalikan pergerakan larutan (air dan mineral) dari daerah korteks yang akan menuju silinder pusat (Savitri, 2009).

Kehadiran pita caspary membagi akar menjadi dua bagian yang terpisah. Pembagian ini penting dalam gerak selektif garam mineral dan air. Setiap ion dalam larutan air tanah mampu menembus epidermis dan korteks akar. Bahkan jika seluruh sel korteks memiliki plasmalema yang tidak permeable terhadapnya, ion tersebut dapat menembus korteks melalui air dalam dinding dan ruang antarsel. Namun, pita caspary merupakan penghalangnya. Agar dapat masuk stele dan memasuki arus transpirasi xylem, ion harus melewati plasmalema sel endodermis. Disinilah terjadi seleksi anatara ion yang dapat masuk dan ion yang harus tetap di luar (Hidayat, 1995).

 

2.3.5. Eksodermis

            Pada sebagian besar tumbuhan, dinding sel pada lapisan sel terluar korteks akan membentuk gabus, sehingga terbentuk jaringan pelindung baru yaitu eksodermis yang akan menggantikan epidermis. Struktur dan sifat sitokimiawi sel eksodermis mirip sel endodermis. Dinding primer dilapisi suberin dan lapisan itu dilapisi lagi oleh selulosa. Lignin juga ditemukan disana (Hidayat, 2005).

            Sel-sel eksodermis juga mengandung protoplas. Tebalnya eksodermis ini berbeda-beda pada lapisan sel tunggal sampai yang berlapis-lapis. Eksodermis biasanya disertai pula oleh jaringan sklerenkim seperti pada akar Ananas, Graminae dan Cyperaceae (Sumardi, 1993).

 

Gambar struktur endodermis dengan pita caspary

(Hidayat, 1995)

2.4 Sistem jaringan pengangkut

Bagian terluar dan berbatasan langsung dengan endodermis, selapis sel atau mungkin beberapa lapis sel berupa lapisan sel parenkim yang berasal dari inisial yang sama dari xilem dan floem, lapisan ini disebut periskel atau perikambium. Periskel kadang-kadang berdinding tebal. Perisikel ini mampu menghasilkan primodia akar lateral (akar cabang), sebagian felogen, dan sebagian dari kambium pembuluh. Selain periskel adalagi jaringan yang bersifat parenkimatis terletak di pusat silinder akar, yaitu parenkim empulur, jika bagian tengah ini tidak ditempat jaringan pembuluh (Savitri, 2009).

Dibagian dalam periskel langsung berbatasan dengan protofloem dan protoxilem. Biasanya xilem clan floem akar tersusun secara radiasi. Bila berkas pembuluh tidak banyak, maka sering xilem bersatu di bagian tengah akar sehingga akar tidak berempulur. Berdasarkan jumlah protoxilem atau jumlah lengan (jari­jari) xilem, akar dikenal dengan xilem diarkh, triakh, tetrakh, pentrakh, poliarkh (masing-masing artinya 2,3,4,5, banyak kelompok protoxilem atau berkas xilem). selain itu xilem primer dengan arah pendewasaan dari luar ke dalam eksarkh. Arah pendewasaan sel dalam floem juga dari luar ke dalam (Savitri, 2009).

 

Gambar beberapa pola yang dibentuk oleh xilem primer pada penampang melintang akar (a) diark, (b) triark, (c) tetrark, (d) poliark (Savitri, 2009)

 

 

2.5 Karakteristik akar

Secara umum, karakteristik akar adalah 1) mempunvai tendensi untuk rumbuh ke bawah atau ke samping daripada untuk tumbuh ke atas, 2 ) tidak dijumpai adanya klorofil, 3) tidak dijumpai adanya daun dan tunas, 4) pada akar primer, floem, dan xilem tersusun dalam radius yang berbeda, 5) ujung akar mmnpunyai zone pertumbuhan yang pendek dan 6) dijumpai adanya rambut akar di daerah dekat ujung akar (Fahn, 1991).

Akar mempunyai anatomi yang lebih sederhana daripada anatomi batang dan mempunvai keragaman vang rendah dibandingkan batang. Hal ini sebagai akibat dari adanva lingkungan yang relatif seragam di dalam tanah. Berikut ini karakter anatomi dari akar tumbuhan Dicotyledoneae dan Monocotyledonae (Fahn, 1991).

 

2.6 Akar kontraktil

            Pada sejumlah tumbuhan, penggantian batang lama oleh batang baru berlangsung pada posisi tertentu dalam tanah atau permukaannya. Posisi tersebut sering diperoleh dengan penarikan oleh akar khusus yang disebut akar pengerut atau akar kontraktil. Akar seperti ini banyak ditemukan pada tumbuhan dikotil basah contohnya Daucus, Taraxacum, Trifolium dan Oxsalis. Pada tumbuhan monokotil akar kontraktil dapat berupa umbi lapis atau sisik dan berupa umbi batang contohnya Allium dan Gladiolus (Hidayat, 1995).

 

2.7 Mikoriza

             Lapisan epidermis dan korteks pada akar banyak tumbuhan sering berasosiasi dengan cendawan tanah. Asosiasi yang luas antara hifa cendawan dengan akar muda tumbuhan tingkat tinggi ini dikenal dengan mikoriza (yunani mykes berarti jamur, rhiza akar). Biasanya hal ini merupakan simbiosis, baik tumbuhan maupun cendawan bisa mendapatkan keuntungan dari simbiosis ini  (Fahn, 1991).

Gambar  bagan Mikoriza (a) ektomikoriza, (b) endomikoriza

(Hidayat, 1995)

             Berdasarkan hubungan jamur dengan inangnya, mikoriza dapat dibedakan menjadi dua yaitu ektomikoriza dan andomikoriza. Pada ektoriza, jamur menyelubungi seluruh ujung akar dengan penutup yang disebut tudung hifa, hifa memasuki akar di ruang antar sel korteks dan berbentuk jala (jala harting) contonya pada Pinus, Quercus, Castanea, Eucalyptus (Hidayat, 1995).

2.8 Perkembangan akar

Peristiwa utama pada awal pembentukan akar adalah penyusunan meristem apexnya. Saat biji berkecamba, promeristem diujung akar embrio membentuk akar primer. Sementara akar primer tumbuh, meristem apex memperoleh bentuk tertentu. Ada dua macam jenis susunan sel pada meristem apex akar jenis pertama yaitu silinder pembuluh, korteks, dan tudung akar, masing-masing dapat diketahui asalnya pada lapisan terpisah pada meristem apeks, ketiganya ini memiliki sel pemula sendiri-sendiri. Dalam hal ini epidermis berdiferensiasi dari lapisan korteks paling luar atau dari lapisan tudung akar paling dalam. Pada jenis kedua, semua lapisan sel dihasilkan oleh sekelompok sel di titik tumbuh akar. Jadi sel disemua daerah akar memiliki pemula bersama (Hidayat, 1995).

 

Gambar meristem apex pada perkembangan akar (Hidayat, 1995).

 

 

2.9 Pertumbuhan Sekunder Pada Akar

Akar tumbuhan monokotil, akar dikotil dibentuk herba atau akar cabang dikotil  pohon, dan kriptogam biasanya tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Sedang akar kebanyakan tumbuhan dikotil dan akar Gymnospermae mengalami pertumbuhan sekunder. Kambium pembuluh membelah ke arah dalam menghasilkan xilem dan ke arah luar menghasilkan floem sekunder. Sehingga jaringan pada – akar bertambah (kambium gabus) dibentuk dan menghasilkan perider. Felogen ke arah luar membentuk felem  (gabus) dan ke arah dalam membentuk feloderm. Periderm merupakan jaringan sekunder yang dihasilkan oleh kambium gabus sebagai pengganti epidermis, biasanya akar yang membentuk periderm akan melengkapi akarnya dengan lentisel (Fahn, 1991).

Pada umumnya tumbuhan memiliki susunan berkas pengangkut dengan tipe-tipe normal, tetapi beberapa tumbuhan memiliki bentuk penyimpangan susunan berkas pengankut setelah mengalami pertumbuhan sekunder. Peristiwa penyimpangan ini disebut anomali. Pada akar yang berfungsi menyimpan cadangan, sejumlah sel-sel parenkim terdapat pada xilem dan floem, tetapi penyimpangan sekunder terjadi normal, misalnya pada Daucus carota. Pada Beta vulgaris (bit) kambium tambahan dibentuk dari periskel dan floem, kambium tersusun konsentris, dan menghasilkan xilem dan floem. Pada Ipomea batatas (ubi jalar), kambium terletak seperti pada umumnya, tetapi ada kambium tambahan yang berbentuk di sekitar xilem (Nugroho, 2006).

2.10 Keragaman Dalam Pertumbuhan Sekunder

Pada akar penyimpan, banyak terdapat parenkim penyimpan cadangan makanan. Akar Apiaceae, seperti bortol (Daucus daorta), memiliki pertumbuhan sekunder yang normal, namun parenkim merupakan sebagian besar dari xylem maupun floem sekunder. Tetapi, pada bit (Beta) penambahan tebal merupakan akibat dari apa yang dinamakan pertumbuhan anomaly. Sejumlah cambium pembuluh yang tersusun kurang lebih memusat dibentuk di sebelah luar jaringan pembuluh asal. Sel cambium dibentuk oleh sel perisikel dan floem dan beberapa kali menghasilkan penambahan jaringan pembuluh. Setiap lingkaran terdiri dari parenkim penyimpan serta berkas floem dan xylem yang terpisah oleh panel parenkim yang lebar-lebar  (Hidayat, 1995)

Akar adventif pada ubi jalar (Ipomoea batatas) menunjukkan pertumbuhan sekunder anomaly yang lain macamnya. Xylem dibentuk dengan cara normal, tetapi banyak mengandung parenkim xylem.

 

BAB III

METODE PENGAMATAN

 

3.1 Waktu dan tempat

Praktikum struktur perkembangan tumbuhan tentang anatomi tumbuhan (akar) ini dilakukan pada hari Senin Tanggal 30 April 2009  di Laboratorium Biologi dasar I Universitas Islam Negeri Malang pada pukul 07.00-0930 WIB.

3.2 Alat dan bahan

3.2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :

  1. Mikroskop majemuk                      1 buah
  2. Kaca preparat                                4 buah
  3. Deck glass                                     4  buah
  4. Pisau cutter                                   2 buah
  5. Pipet tetes                                     1 buah
  6. Kertas penghisap                           secukupnya
  7. Pinset                                            2 buah
  8. Kuas kecil                                     1 buah
  9. Jarum preparat

3.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain :

  1. Preparat akar jagung (Zea mays)
  2. Preparat akar padi (Oryza sativa)
  3. Preparat akar kacang (Hypongea arachis)
  4. Preparat akar ubi jalar (Ipomea batatas)

3.3 Cara kerja

3.3.1 Pengamatan preparat akar jagung (Zea mays)

  1. Membuat irisan setipis mungkin pada akar jagung (Zea mays L)
  2. Meletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemudian ditutup menggunakan deck glass.
  3. Mengamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
  4. Menunjukkan letak jaringan pengangkut, epidermis, korteks, endodermis, perisikel, metaxilem dan metafloemnya.
  5. Menunjukkan tipe jaringan pengangkut berdasarkan pola pertumbuhan xilem dan floem.
  6. Menggambar hasil pengamatan disertai deskripsi.

 

3.3.2 Pengamatan preparat akar padi (Oryza sativa)

  1. Membuat irisan setipis mungkin pada akar padi (Oryza sativa)
  2. Meletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemudian ditutup menggunakan deck glass.
  3. Mengamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
  4. Menunjukkan letak jaringan pengangkut, epidermis, korteks, endodermis, perisikel, metaxilem dan metafloemnya.
  5. Menunjukkan tipe jaringan pengangkut berdasarkan pola pertumbuhan xilem dan floem.
  6. Menggambar hasil pengamatan disertai deskripsi.

 

3.3.3 Pengamatan preparat akar kacang (Hypongea arachis)

  1. Membuat irisan setipis mungkin pada akar kacang (Hypongea arachis)
  2. Meletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemudian ditutup menggunakan deck glass.
  3. Mengamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
  4. Menunjukkan letak jaringan pengangkut, epidermis, korteks, endodermis, perisikel, metaxilem dan metafloemnya.
  5. Menunjukkan tipe jaringan pengangkut berdasarkan pola pertumbuhan xilem dan floem.
  6. Menggambar hasil pengamatan disertai deskripsi.

3.3.4 Pengamatan preparat akar ubi jalar (Ipomea batatas)

  1. Membuat irisan setipis mungkin pada akar ubi jalar (Ipomea batatas)
  2. Meletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemudian ditutup menggunakan deck glass.
  3. Mengamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
  4. Menunjukkan letak jaringan pengangkut, epidermis, korteks, endodermis, perisikel, metaxilem dan metafloemnya.
  5. Menunjukkan tipe jaringan pengangkut berdasarkan pola pertumbuhan xilem dan floem.
  6. Menggambar hasil pengamatan disertai deskripsi

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil Pengamatan

Gambar pengamatan

Gambar literatur

 

 

 

 

 

Type poliark pada jagung (Zea mays)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Type poliark pada jagung (Zea mays)

(Anonymous, 2009)

 

 

 

 

 

 

 

Type tetrark pada akar padi (Oryza sativa)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Type tetrark pada akar padi (Oryza sativa)

(Anonymous, 2009)

 

 

 

 

 

 

 

 

Type tetrark pada akar kacang tanah (Hypongea arachis)

 

 

 

 

 

 

 

 

Type tetrark pada akar kacang tanah (Hypongea arachis). (Anonymous, 2009)

 

 

 

 

Type poliark pada akar ubi jalar (Ipomea batatas)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Type poliark pada akar ubi jalar (Ipomea batatas) . (Anonymous, 2009)

 

 

4.2 Pembahasan

4.2.1 Akar jagung (Zea mays)

Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan dengan perbesaran 10×10 ditemukan bahwa pada akar jagung tampak bagian epidermis yang terletak pada bagian yang paling luar yang berupa garis melingkar yang tebal yang berwarna hijau tua pekat. Sedangakan ektodermis berupa garis tipis yang warnanya sedikit muda dibandingkan dengan epidermis. Kortek terletak pada bagian tengan dan berwarna bening. Jaringan angkutnya terletak pada bagian tengah, dan jaringan  floem berada diluar berwarna bening, sedangkan xilem berwarna hijau tua berada lebih dalam. Jumlah xilem yang terdapat pada akar jagung adalah lebih dari 4 buah sehingga tipe dari akar jagung adalah poliark.

Bila jumlah berkas tidak banyak, maka xilem sering bersatu di bagian tengah akar sehingga akar tidak berempulur. Sesuai dengan jumlah berkas xilem di tepi, maka akar dinamakan diark bila terdapat dua berkas xilem, disebut triark jika jumlahnya tiga berkas, dan bila jumlahnya empat atau seterusnya disebut tetrark. Sedangkan apabila lebih dari 4 disebut poliark (Evika, 2009).

4.2.3. Padi (Oryza sativa)

Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan dengan perbesaran 10×10. Pada akar padi tampak bagian epidermis yang terletak pada bagian yang paling luar yang berupa garis melingkar yang tebal yang berwarna hijau tua pekat. Sedangakan ektodermis merupakan garis tipis yang warnanya sedikit muda dibandingkan dengan epidermis. Kortek terletak pada bagian tengan dan berwarna bening. Jaringan angkutnya terletak pada bagian tengah , floem berada diluar berwarna bening, sedangkan xilem berwarna hijau tua berada lebih dalam. Jumlah xilem yang terdapat pada akar padi adalah banyak lebih dari 4 buah sehingga tipe dari akar padi adalah poliark.

             Bila jumlah berkas tidak banyak, maka xilem sering bersatu di bagian tengah akar sehingga akar tidak berempulur. Sesuai dengan jumlah berkas xilem di tepi, maka akar dinamakan diark bila terdapat dua berkas xilem, disebut triark jika jumlahnya tiga berkas, dan bila jumlahnya empat atau seterusnya disebut tetrark. Sedangkan apabila lebih dari 4 disebut poliark (Evika, 2009).

4.2.3 Akar kacang tanah (Arachis hypogea)

Berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan pada akar kacang tanah dengan perbesaran 10×10. Pada bagian luar adalah epidermis sedangkan pada bagian lebih dalam terdapat ektodermis. Jaringan pengangkut yaitu floem dan xilem terdapat pada bagian tengah. Sebelum jaringan angkut terdapat korteks. Pada xilemnya terdapat 2 jenis yaitu rotoxilem dan juga metaxilem.  Xilem yang terlihat pada akar kacang tanah terdapat 4 buah sehingga dikenal dengan tipe tetrark karena xilemnya ada 4 buah.

Silinder pembuluh terdiri dari jaringan pembuluh dengan satu dan beberapa lapisan sel di sebelah luarnya yaitu perisikel. Perisikel merupakan lapisan yang terbentuk dari prokambium dan berfungsi sebagai pembatas antara silinder pusat dengan bagian korteks. Umunya tersusun atas satu lapisan sel dan turut terlibat dalam pembentukan akar lateral dan felogen (kambium gabus)  (Isrep,1993).

4.2.4 Akar ubi jalar (Ipomea batatas).                                         

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan  pada bagian paling tepi terdapat garis yang melingkar yaitu epidermis sedangkan agak dalamnya terdapat garis yang melingkar yaitu ektodermis. Pada bagian tengah terdapat protoxilem yang letaknya agak diluar sedangkan yang didalam adalah metaxilem. Daerah antara ektodermis dan jaringan angkut terdapat perisikel. Sedangkan floem terdapat dekat dengan xilem. Jumlah xilem yang terdapat pada akar kacang tanah ini adalah banyak dan lebih dari 4 sehingga pada akar kacang tanah ini tipenya adalah poliark.

             Semua berkas xilem dan floem tersusun dalam lingkaran. Bila jumlah berkas tidak banyak, maka xilem sering bersatu di bagian tengah akar sehingga akar tidak berempulur. Sesuai dengan jumlah berkas xilem di tepi, maka akar dinamakan diark bila terdapat dua berkas xilem, disebut triark jika jumlahnya tiga berkas, dan bila jumlahnya empat atau seterusnya disebut tetrark. Sedangkan apabila lebih dari 4 disebut poliark (Evika, 2009).

BAB IV

PENUTUIP

 

5.1  Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang dialakukan dapat simpulkan bahwa :

  1. Sistem pertumbuhan pada akar dibagi menjadi dua, yaitu sistem pertumbuhan akar primer dan sistem pertumbuhan akar sekunder
  2. Jaringan yang menyusun akar antara lain epidermis, ektodermis, foloem, xilem, korteks, dan perisikel.
  3. Susunan jaringan primer dalam akar dapat dibedakan dalam berbagai zona yaitu tudung akar, epidermis, korteks akar dan silinder pembuluh atau silinder tengah 
  4. Dalam akar yang mempunyai penebalan sekunder, kambiumnya berasal dari benang-benang meristem dalam jaringan prokambium atau jaringan parenkimatis yang terletak di antara kelompok-kelompok floem primer dan pusat stele.
  5. Pada Akar jagung ( Zea mays) tipenya adalah poliark karena terdapat banyak xilem.
  6. Pada akar kacang tanah (Arachis hypogea) tipenya adalah tetrark karena  xilem jumlahnya adalah 4 buah.
  7. Pada Akar Ubi jalar (Ipomea batatas) tipenya adalah poliark karena terdapat banyak xilem.
  8. Pada Akar padi (Oryza sativa) tipenya adalah poliark karena terdapat banyak xilem.

DAFTAR PUSTAKA

Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan edisi ke tiga. Yogyakarta : UGM Press.

Hidayat, Estiti B. 1995 Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : Penerbit ITB.

Kartasapoetra, Ir. A.G. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan (tentang

Sel dan Jaringan). Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Nugroho, Hartanto L. Dkk. 2006. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan.

Depok : Penebar Swadaya.

Salisbury, Frank B. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung : Penerbit ITB.

Savitri, Evika Sandi. Sp. Mp. Struktur Perkembangan Tumbuhan (Anatomi

Tumbuhan. Malang : UIN Press.

Sumardi, Issrep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta :

UGM Press.

Tjitrosomo, Siti Sutarmi. Prof. Dr. Ir. H. 1983. Botani Umum 1. Bandung :

Angkasa.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: