ilmu kalam

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.     Latar belakang

Teologi Islam merupakan istilah yang diambil dari bahasa Inggris, Theology. William L. mendefinisikannya dengan pemikiran tentang Tuhan. Dengan mengutip dari William Ockham, Reese lebih jauh mengatakan bahwa teologi merupakan disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan. Sementara itu, Gove menyatakan bahwa teologi adalah penjelasan tentang keimanan, perbuatan, dan pengalaman agama secara rasional.

Teologi merupakan istilah lain dari Ilmu Kalâm, dimana Ilmu Kalâm tersebut merupakan ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika atau filsafat secara teoretis aliran Salaf tidak dapat dimasukkan dalam Ilmu Kalâm, karena aliran ini berada dalam masalah-masalah ketuhanan dan tidak menggunakan argumentasi filsafat atau logika.

Oleh karena itu kami menyusun makalah ini dengan tujuan dapat menambah wawasan tentang Ilmu Kalâm itu sendiri. Sehingga kita dapat mengetahui secara detail dan terperinci mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Ilmu Kalâm tersebut.

1.2.     Rumusan Masalah

  1. Apakah pengertian dari Ilmu Kalâm?
  2. Apakah nama-nama lain dari Ilmu Kalâm dan sebab-sebab penamaannya?
  3. Apa saja sumber-sumber Ilmu Kalâm?
  4. Apa saja objek Ilmu Kalâm?
  5. Bagaimana sejarah munculnya Ilmu Kalâm?
  6.    Apakah hubungan Ilmu Kalâm dengan ilmu-ilmu lainnya?

1.3.     Tujuan

  1. Dapat mengetahui pengertian dari Ilmu Kalâm.
  2. Dapat mengetahui nama-nama lain dari Ilmu Kalâm dan alasan penamaannya.
  3. Dapat mengetahui sumber-sumber Ilmu Kalâm.
  4. Dapat mengetahui objek-objek dari Ilmu Kalâm.
  5. Dapat mengetahui sejarah munculnya Ilmu Kalâm.
  6. Dapat mengetahui hubungan Ilmu Kalâm dengan ilmu-ilmu lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Pengertian Ilmu Kalâm

Perkataan ‘’Kalâm” sebenarnya merupakan suatu istilah yang sudah tidak asing lagi, khususnya bagi kaum muslim. Secara harfiyah perkataan “Kalâm” dapat ditemukan baik didalam Al-Qur’an maupun diberbagai sumber lain.

Misalnya didalam kitab Jurmiyah terungkap pengertian Kalâm sebagai berikut:

اللفظ المركب المفيد

Artinya : “Kata-kata yang tersusun dengan sengaja untuk menunjukkan suatu maksud atau pengertian”

Didalam Al-Qur’an istilah Kalâm ini dapat ditemukan dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan salah satu sifat Allah, yakni lafadz “Kalâmullah”. Ayat-ayat itu antara lain:

  1. An-Nisa’ ayat 164:

Wxߙâ‘ur ô‰s% öNßg»oYóÁ|Ás% šø‹n=tã `ÏB ã@ö6s% Wxߙâ‘ur öN©9 öNßgóÁÝÁø)tR šø‹n=tã 4 zN¯=x.ur ª!$# 4Óy›qãB $VJŠÎ=ò6s? ÇÊÏÍÈ

“Dan (Kami Telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh Telah kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung”

  1. Al-Baqarah ayat 75:

* tbqãèyJôÜtGsùr& br& (#qãZÏB÷sムöNä3s9 ô‰s%ur tb%x. ×,ƒÌsù öNßg÷YÏiB tbqãèyJó¡o„ zN»n=Ÿ2 «!$# ¢OèO ¼çmtRqèùÌhptä† .`ÏB ω÷èt/ $tB çnqè=s)tã öNèdur šcqßJn=ôètƒ ÇÐÎÈ

Artinya:“ Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui”

  1. At-Taubah ayat 6:

÷bÎ)ur Ӊtnr& z`ÏiB šúüÏ.Ύô³ßJø9$# x8u‘$yftFó™$# çnöÅ_r’sù 4Ó®Lym yìyJó¡o„ zN»n=x. «!$# ¢OèO çmøóÎ=ö/r& ¼çmuZtBù’tB 4 y7Ï9ºsŒ öNåk¨Xr’Î/ ×Pöqs% žw šcqßJn=ôètƒ ÇÏÈ

Artinya: “ Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, Kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak Mengetahui”

Dengan demikian secara harfiyah perkataan “Kalâm” berarti pembicaraan atau perkataan. Sedangkan menurut ayat-ayat tersebut diatas istilah Kalâm berarti sabda Allah atau firman Allah, sebagaimana juga menurut para musafir sebutan Kalâm tiada lain adalah menunjukkan pengertian “Kalaamullah”. Demikian pula menurut Encyclopaedia of Religion yang mengartikan “Kalâm” dengan pembicaraan atau perkataan.

Dr. Muzaffaruddin Nadvi dalam bukunya Muslim Thought and It’s Source , melihat pengertian ilmu Kalâm dari aspek sumber latar belakang kemunculannya, juga mengungkapakan sisi metodologinya. Ia mengataka bahwa ilmu Kalâm tiada lain adalah “Ilmu berfikir yang lahir pada saat terjadinya percekcokan antara penganut Islam ortodoks dengan penganut Islam baru”. Penganut Islam baru adalah orang-orang baru yang memeluk Islam, yang ide-ide keagamaannya masih bercampur dengan ide-ide keagamaan lama dan pemikiran leluhur mereka seperti Yahudi, Hindu, Budha, Kristen dan isme-isme lainnya. Oleh karena itu, ketika itu mereka (Penganut Islam Ortodoks) menfsirkan Al-Qur’an (ajaran Islam) berdasarkan cara pandang mereka sendiri. Untuk menghadapi mereka para pemikir muslim waktu itu (penganut Islam ortodoks) menyodorkan ilmu logika (mantiq) yang diperkenalkan kepada manusia dengan nama “Kalâm”.

Sebutan ini (Kalâm) juga dipertegas oleh Nurcholish Madjid, yang mengutip Ali Asy-Syabi bahwa antara istilah mantiq dan Kalâm secara historis ada hubungan. Keduanya memiliki kesamaan, lalu antara kaum Mutakallim (ahli ilmu Kalâm) dan para filosofis mengganti istilah mantiq dengan Kalâm karena keduanya memiliki makna harfiyah yang sama.

Berkaitan dengan pengertian diatas, didalam Encyclopaedia of Religion and Ethnics istilah “Kalâm” (atau dalam  bahasa inggris Converstion) dihubungkan dengan istilah Yunani yakni dialektika. Oleh Plato istilah ini digunakan dalam pengertian metafisika. Atau kadang-kadang istilah Kalâm ini dapat dipahami dalam pengertian “fundamental of religion(Ushuluddin).

Muhammad Abduh mengartikan ilmu Kalâm dengan “ilmu yang berisi alasan-alasan, atau sekumpulan argumentasi, guna mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan salaf dan ahlus sunnah.

2.2 Nama-Nama Lain Ilmu Kalâm dan Sebab-Sebab Penamaannya

  1. Ilmu Tauhid

Ilmu ini dinamakan ilmu tauhid karena pokok pembahasannya dititikberatkan kepada ke-Esa-an Allah SWT. Tauhid adalah percaya kepada tuhan Yang Maha Esa dan tidak mempercayai tidak ada yang menjadi sekutu bagi-Nya. Tujuan tauhid adalah menetapkan ke-Esa-an Allah dalan zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Sebab itulah pembahasan yang berhubungan dengan-Nya dinamakan ilmu tauhid yang terpenting dalam ilmu tauhid adalah mengenai ke-Esa-an Allah.[1]

  1. Ilmu Ushuluddin

Ilmu Kalâm dinamakan juga dengan ilmu Ushuluddin karena obyek pembahasan utamanya adalah dasar-dasar agama yang merupakan masalah esensial dalam ajaran Islam. Dan masalah kepercayaan itu betul-betul menjadi dasar pokok dari persoalan lain dalam agama Islam.[2]

  1. Ilmu Kalâm

Menurut Syeikh Muhammad  Abduh ilmu tauhid sering disebut juga dengan ilmu Kalâm. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya memberikan batasan adakalanya masalah yang paling mashur dan banyak meimbulkan perbedaan pendapat dianatar para ulama-ulama kurun pertama yaitu apakah Kalâm Allah (wahyu) yang dibacakan itu qadim atau hadits? Dan adakalanya pula karena ilmu tauhid itu dibina oleh dalil akal (rasio) yang pengaruhnya dapat dilihat dari setiap perkataan para ahli yang banyak berbicara tentang ilmu ini. Disamping itu karena dalam memberikan dalil tentang pokok (Ushul) agama lebih menyerupai logika (Mantik) sebagaimana yang selalu di tempuh oleh para ahli pikir dalam menjelaskan argumentasi (hujjah) tentang pendiriannya. Kemudian orang mengganti Mantik dengan Kalâm, karena pada hakekatnya keduanya adalah berbeda.

Ilmu tauhid dinamakan ilmu Kalâm karena dalam pembahasannya mengenai eksistensi Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan-Nya digunakan argument-argumen filosofis dengan menggunakan logika atau mantik. Ilmu Kalâm dikenal sebagai ilmu keIslaman yang berdiri sendiri yakni pada zaman Khalifah Al-Makmun (813-833 M) dari Bani Abbasiyyah. [3]

  1. Ilmu Teologi

Ilmu tauhid sering disebut juga dengan ilmu teologi karena pembahasannya mencakup persoalan-persoalan dasar dan soal pokok seperti ketuhanan, iman, kufur, dan hal-hal pokok lainnya sebagaiman tercakup dalam rukun iman.

Pada awalnya istilah teologi diguanakan oleh kalangan orang-orang Barat untuk memberikan pengertian yang berkaitan dengan hak ketuhanan dalam agama Kristen. Kemudian istilah tersebut mereka gunakan untuk menamakan sesuatu yang oleh dunia Islam dinamakan ilmu tauhid, ilmu Kalâm atau ilmu Ushuluddin.

Memang pentransferan istiah tersebut atau mengganti pengertian ilmu tauhid dengan ilmu teologi sebagaimana yang mereka terapkan dalam agama Kristen adlah kurang tepat karena unsur muatannya jelas berbeda tidak seperti dalam agama Kristen yang hanya menyangkut persoalan ketuhanan.

  1. Ilmu Hakikat

Ilmu hakikat ialah ilmu sejati karena ilmu ini menjelaskan hakikat segala sesuatu, sehingga dapat meyakini akan kepercayaan yang benar (hakiki).[4]

  1. Ilmu Makrifat

Disebut ilmu makrifat karena dengan pengetahuan ini dapat mengetahui benar-benar tentang Allah dan segal sifat-sifat-Nya dan dengan keyakinan yang teguh.

Meskipun nama yang diberikan berbeda-beda inti poko pembahasan ilmu tauhid adalah sama yaitu wujud Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Karena itu, aspek terpenting dalam ilmu tauhid adalah keyakinan akan adanya Allah Yang Maha Sempurna, Mahakuasa dan memiliki sifat-sifat ke-Maha Sempurnaan lainnya. Keyakinan ini pada gilirannya akan membawa kepada keyakinan terhadap adanya malaikat, kitab-kitab, Nabi dan Rasul, hari akhir, dan melahirkan kesadaran akan tugas dan kewajiban terhadap Khalik (Pencipta).

 

2.3 Sumber-Sumber Ilmu Kalâm

Sumber Ideal, yaitu al-Qur’an dan Hadits, dimana di dalamnya memuat data yang berkaitan dengan obyek kajian dalam ilmu teologi/tauhid, yakni ketuhanan, kenabian, dan sam’iyat.

         1.         Al-Quran

Sebagai sumber ilmu Kalâm, Al-Qur’an banyak menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan Ketuhanan diantaranya :

  1. Q.S . Al-Ikhlas (112): 3-4. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun didunia ini yang tampak sekutu (sejajar) dengan-Nya.
  2. Q.S . Asy-Syura (42): 7. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun didunia ini, ia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
  3. Q.S . Al-furqan (25): 59. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Penyayang bertahta diatas “Arsy’. Ia Pencipta langit, bumi dan semua yang ada diantara keduanya.
  4. Q.S . Al-Fath (48): 10. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai “tangan” yang selalu berada diatas tangan orang-orang yang melakukan sesuatu selama mereka berpegang teguh dengan janji Allah.
  5. Q.S . Thaha (20): 39. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai “mata “ yang selalu digunakan untuk mengawasi seluruh gerak, termasuk gerakan hati makhluk-Nya.
  6. Q.S . Ar-Rahman (55): 27. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai “wajah” yang tidak akan rusak selama-lamanya.
  7. Q.S . An-Nisa’ (4): 125. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan menurunkan aturan berupa agama. Seseorang akan dikatakan telah melaksanakan aturan agama apabila melaksanakannya dengan ikhlas karena Allah.
  8. Q.S . Luqman (31): 22. Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah disebut sebagai orang muhsin.
  9. Q.S . Al-Ikhlas (3): 83. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah tempat kembali segala sesuatu, baik secra terpaksa maupun secara sadar.
  10. Q.S . Al-Imran (3): 84-85. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhanlah yang menurunkan penunjuk jalan kepada para nabi.
  11. Q.S . Al-Anbiya (21): 92.Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah berbagai suku, ras, atau etnis, dan agama apapun adalah umat Tuhan yang satu. Oleh sebab itu semua umat dalam kondisi dan situasi apapun harus mengarahkan pengabdiannya hanya kepada-Nya.
    1. Q.S . Al-Hajj (22): 78. Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu kegiatan yang sungguh-sungguh akan dikatakan sebagai “jihad” kalau dilakukannya hanya karena Allah SWT semata.

Ayat-ayat yang tersebut diatas berkaitan dengan zat, sifat, asma, perbuatan, tuntunan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan. Oleh sebab itu para ahli berbeda pendapat dalam menginterpretasikan rinciannya. Pembicaraan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan itu disitematisasikan yang pada gilirannya menjadi sebuah ilmu yang dikenal dengan istilah ilmu Kalâm. [5]

         2.         Hadits

Ada beberapa hadits yang kemudian dipahami sebagian ulama sebagai predikdi Nabi mengenai kemunculan berbagai golongan dalam Ilmu Kalâm, diantaranya adalah

Hadits yang diriwayatkan dari dari Abu Hurairah r.a. Ia mengatakan bahwa Rosulullah bersabda, “Orang-oranngYahudi akan terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan; Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh golongan.

Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar. Ia mengatakan bahwa Rosulullah bersabda, “Akan menimpa umatku apa yang pernah menimpa Bani Israil. Bani Israil telah terpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan saja, “Siapa mereka itu, wahai Rosulullah?” Tanya para sahabat. Rosulullah menjawab, ‘Mereka adalah yang mengikuti jejakku dan sahabat-sahabatku.

Komentar dari Abdullah Qadir tentang hadits masalah faksi tersebut, yang merupakan salah satu kajian Ilmu Kalâm, mempunyai sanad sangat banyak.* Diantara sanad yang sampai kepada Nabi adalah yang berasal dari beberapa sahabat, seperti Anasbin Malik, Abu Hurairah, Abu Ad-Darda, Jabir, Abu Said Al-Khudri, Abu Abi Kaab, Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Abu Ummah, Watsilah bin Al-Aqsa.

            Ada pula pada riwayat yang hanya sampai kepada sahabat. Di antaranya adalah Hadits yang mengatakan bahwa umat Islam akan terpecah-belah ke dalam beberapa golongan. Di antara golongan-golongan itu, hanya satu saja yang benar, sedangkan yang lainnya sesat.

                        Keberadaan Hadits yang berkaitan dengan perpecahan umat seperti tersebut diatas, pada dasarnya merupakan prediksi Nabi dengan melihat yang tersimpan dalam hati para sahabatnya. Oleh sebab itu, sering dikatakan bahwa hadits-hadits seperti itu lebih dimaksudkan sebagai peringatan bagi para sahabat dan umat Nabi tentang bahayanya perpecahan dan pentingnya persatuan.[6]

         3.         Pemikiran Manusia

Dalam hal ini pemikiran manusia bias berupa pemikiran umat Islam sendiri atau dari non Islam. Sebelum filsafat Yunani masuk dan berkembang didunia Islam, umat Islam sendiri telah menggunakan pemikiran rasionalnya untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat AL-Qur’an terutama yang belum jelas maksudnya (al-mutasyabihad). Dari beberapa ayat-ayat Al-Qur’an mengharuskan untuk menggunakan rasio diantaranya : [7]

Ÿxsùr& tbr㍭/y‰tGtƒ šc#uäöà)ø9$# ôQr& 4’n?tã A>qè=è% !$ygä9$xÿø%r& ÇËÍÈ    

Artinya : “Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad (47) : 24)

 

óOn=sùr& (#ÿrãÝàZtƒ ’n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# ôMßgs%öqsù y#ø‹x. $yg»oYø‹t^t/ $yg»¨Y­ƒy—ur $tBur $olm; `ÏB 8lrãèù ÇÏÈ   uÚö‘F{$#ur $yg»tR÷Šy‰tB $uZøŠs)ø9r&ur $pkŽÏù zÓśºuru‘ $uZ÷Fu;/Rr&ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. £l÷ry— 8kŠÎgt/ ÇÐÈ  

Artinya : “Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,” (Q.S. Qaaf (50) : 6-7)

                        Ayat serupa dapat ditemukan pada An-Nahl (16) ; 68-69; Al-Jatsiyah (45) : 12-13; Al-Isra’ (17) : 44; Al-An’am (6) : 97-98; At-Taubah (9) : 122; Ath-Thariq (86) : 5-7; Al-Ghatsiyah (88) : 7-20; Shad (38) : 29; Muhammad (47) : 24; An-Nahl (16) : 17; Az-Zumar (39) : 9; Adz-Dzariyat (51) : 47-49, dan lain-lain.

                        Semua ayat tersebut diatas berkaitan langsung dengan anjuran motivasi, bahkan perintah kepada manusia untuk menggunakan rasio. Dengan demikian, jika ditemukan seorang muslim telah melakukan suatu kajian objek tertentu dengan rasionya, hal itu secara teoritis bukan karena adanya pengaruh pihak luar saja tetapi karena adanya perintah langsung Al-Qur’an sendiri. Bentuk konkrit penggunaan pemikiran Islam sebagai sumber ilmu Kalâm adalah ijtihad yang dilakukan para mutakallim dalam persoalan-persoalan tertentu yang tidak ada penjelasannya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist.

                        Adapun sumber ilmu Kalâm berupa pemikiran yang berasal dari luar Islam dapat diklasifikasikan dalam dua kategori. Pertama, pemikiran nonmulim yang telah menjadi peradaban lalu ditrasfer dan diasimilasikan dengan pemikiran umat Islam. Proses transfer dan asimilasi ini dapat dimaklumi karena sebellum Islam masuk dan berkembang, dunia Arab adalah suatu wilayah tempat diturunkannya agama-agama Samawi lainya. Kedua, berupa pemikiran-pemikiran nonmuslim yang bersifat akademis, seperti filsafat (terutama dari Yunani), sejarah dan sains.

         4.         Insting[8]

Secara instingtif, manusia selalu ingin bertuhan. Kepercayaan adanya Tuhan telah berkembang sejak adanya manusia pertama. Oleh sebab itu, sangat wajarkalau William L. Resec mengatakan bahwa ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan, yang dikenal dengan istilah Theologia, telah berkembang sejak lama. Ia bahkan mengatakan bahwa teologi muncul dari sebuah mitos (theologia was originally viewedas concerned with myth). Selanjtnya, teologi itu berkembang menjadi “theology natural” (teologi alam) dan “revealed theology” (teologi wahyu).[9]

 

2.4 Objek Ilmu Kalâm[10]

     Ajaran tauhid atau aqidah merupakan ajaran terpenting yang dibawa oleh Al-Qur’an yakni pengakuan terhadap ke Esaan Allah SWT. dengan segala sifat-sifat kesempurnann-Nya, dengan segala keagungan-Nya dan mengesakan-Nya dalam beribadat.

     Dalam disiplin ilmu-ilmu Islam ajaran tauhid ini dibahas oleh ilmu Kalâm, hal ini disebabkan persoalan terpenting yang menjadi pembicaraan pada abad-abad permulaan hijriah adalah Kalâm Allah (wahyu Allah) yang dibacakan iitu apakah “baharu” atau “qadim”. Dalam membicarakan wahyu ini dasar yang dipakai adalah akal pikiran dan sangat sedikit yang mendasarkan pendapatnya pada dalil naql, kecuali setelah terlebih dahulu menetapkan benarnya pokok persoalan.[11]

     Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, terdapat berbagai aliran pemikiran Kalâm yang berawal dari pemikiran politik, pertentangan politik antara Ali bin Abi Talib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan meningkat menjadi persoalan Teoligi yang berujung pada peristiwa tahkim (arbitrase) yang memicu terjadinya pertentangan Teologi di kalangan umat Islam. Kepincangan tahkim antara kelompok Ali bi Abi Talib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan memunculkan lahirnya aliran Khawarij dengan semboyan mereka la hamka illa lillah (tidak ada hokum selain hokum Allah).

     Khawarij memandang Ali, Mu’awiyah ‘Amr bin Ash, Abu Musa al-Asyari dan lain-lain yang menerima tahkim adalah kafir, karena Al-Qur’an mengatakan :

`tBur óO©9 Oä3øts† !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# y7Í´¯»s9’ré’sù ãNèd tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÍÍÈ  

Artinya ; “ Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”

Lambat laun orang yang dipandang kafir bukan hanya yang tidak berhukum dengan Al-Qur’an, tetapi juga orang yang berbuat dosa besar. Disamping munculnya persoalan mu’min dan kafir.,muncul perseoalan tentang kehendak dan perbuatan manusia. Apakah manusia memiliki kebebasan berkehendak dan berbuat, ataukah manusia melakukannya secara terpaksa. Aliran yang memunculkan masalah ini adalah Qadariyah dan Jabariyah.

     Pada masa selanjutnya, Mu’tazilah mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani dan menterjemahkannya kedalam bahasa Arab, mereka mulai terpengaruh dengan filsafat Yunani dengan pemakaian rasio dan membawanya kelapangan Teologi, namun demikian mereka tidak meninggalkan wahyu. Sebagai antitesa terhadap pandangan Mu’tazilah yang rasional, maka muncullah aliran al-Asy’ariyah dan al-Maturidiyah yang dapat disebut sebagai golongan tradisional Islam.

     Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa objek dari ilmu Kalâm berkisar pada masalah wahyu, akal, iman, kufur, kehendak daan perbuatan Tuhan, keadilan dan sifat-sifat Tuhan.

2.5 Sejarah Munculnya Ilmu Kalâm

Ilmu Kalâm lahir dalam tradisi intelektual. Tradisi intelektual adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat beragama untuk menemukan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan akal dalam masyarakat tertentu dan mencoba menyelaraskan hubungan antara akal dengan apa yang disebut wahyu (Muhsin Mahdi). Ilmu Kalâm erat kaitannya dengan lahirnya skisme dalam Islam. Karenanya, asal mula persoalan Kalâm bisa ditelusuri hingga terbunuhnya Khalifah III Utsman bin Affan (Fitnah Kubrâ). Awal mula pemikiran kalâm adalah pertanyaan tentang siapa yang berhak memimpin (persoalan politik)

Menurut Harun Nasution, kemunculan persoalan Kalâm dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut pembunuhan Ustman bin Affan yang berbuntut pada penolakan Mu’awwiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ketegangan antara Mu’awiyah dan Ali bin Abi Thalib mengkristal menjadi Perang Siffin yang berakhir dengan keputusan tahkim (arbitrase). Sikap Ali yang menerima tipu muslihat Amr bin Al-Ash, utusan dari pihak Mu’awwiyyah dalam tahkim, sungguhpun dalam keadaan terpaksa tidak disetujui oleh sebagian tentaranya. Mereka berpendapat  bahwa persoalan yang terjadi pada saat itu tidak dapat diputuskan melalui tahkim. Putusan hanya datang dari Allah  dengan kembali pada hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an. La hukma illa lillah (tidak ada hukum selain hukum Allah) atau la hukma illa Allah (tidak ada perantara selain perantara Allah) menjadi semboyan mereka.  Mereka memadang Ali bin Abi Thalib telah berbuat salah sehingga mereka meninggalkan barisannya. Dalam sejarah Islam, mereka terkenal dengan nama Khawarij, yaitu orang yang keluar dan memisahkan diri atau secerders.

Di luar pasukan yang membelot Ali, ada pula sebagian besar yang tetap mendukung Ali. Mereka inilah yang kemudian memunculkan kelompok Syi’ah. Menurut Watt, Syi’ah muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mu’awiyyah yang dikenal dengan Perang Siffin sebagai respon atas penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan Mu’awiyyah, pasukan Ali terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung sikap Ali kelak disebut Syi’ah dan kelompok lain menolak sikap Ali kelak disebut Khawarij.  

Persoalan ini telah menimbulkan tiga aliran teologi dalam Islam yaitu:

  1. Aliran Khawarij, menegaskan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalam arti telah keluar dalam Islam, atau tegasnya murtad dan wajib dibunuh.
  2. Aliran Murji’ah, menegaskan bahwa orang yang berdosa besar masih tetap mu’min dan bukan kafir. Adapu soal dosa yang dilakukannya, hal itu terserah kepada Allah untuk mengampuni atau menghukumnya.
  3. Aliran Mu’tazilah, yang tidak menerima kedua pendapat diatas. Bagi mereka, orang yang berdosa besar bukan kafir, tapi bukan pula mu’min. mereka mengambil posisi antara mu’min dan kafir, yang dalam bahasa Arabnya terkenal dengan istilah al-manzilah manzilatain (posisi diantara dua posisi).[12]

Latar belakang ilmu Kalâm menurut Ahmad Amin dalam bukunya Duha al-Islam dikelompokkan mejadi 2 faktor :

  1. a.      Faktor Internal
  2. Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama hokum Islam, disamping membahas masalah ketauhidan, kenabian dan lain-lain, juga menyampaikan penolakan terhadap keyakinan-keyakinan lain yang diluar agama Islam, dan dalam Al-Qur’an diperintahkan supaya umat Islam melakukan penolakan terhadap berbagai keyakinan yang menyimpang tersebut dengan melakukan dakwah secara bijaksana dan melakukan bertahan (debat) dengan cara yang baik (Q.S. an-Nahl : 125). Perintah ini menuntut umay Islam mempelajari cara melakukan perdebatan dengan baik, hal ini mendorong munculnya Ilmu Kalâm.
  3. Semakin meluasnya wilayah kekuasaan umat Islam, mengakibatkan terjadinya persentuhan ajaran Islam dengan budaya-budaya lain yang ada diwilayah kekuasaannya Umat Islam mulai mengenal Filsafat dan mempelajarinya. Dan selanjutnya muncul upaya memfilsafati ayat-ayat Al-Qur’an yang nampaknya tidak sejalan, bahkan kelihatan bertentangan, seperti ayat-ayat yang membicarakan perbuatan manusia. Apakah manusia ini berbuat secara terpaksa ataukah memiliki kebebasan untuk berbuat.
  4. Rasulullah sampai akhir hayatnya tidak menyebutkan secara jelas siapakah yang akan menggantikannya untuk memimpin umat Islam setelah beliau wafat, namun demikian para sahabat dapat menyelesaikan persoalan kekhalifahan ini dengan diangkatnya Abu Bakar sebagai khalifah pertaman dan Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua.

Persoalan kekhalifahan (imamah) muncul pada masa akhir kekhalifahan Usman bin Affan, yakni terbunuhnya Usman yang melahirkan perdebatan Teologi, kelompok as-sunnah wa al-istiqomah menyebut bahwa pembunuh Usman adalah perbuatan dzalim dan merupakan permusuhan, dan kelompok lain menyebutkan berbeda dengan kelompok pertama (bukan bentuk kedzaliman).

Setelah Usman wafat, maka Ali bin Abi Thalib terpilih sebagai khalifah ke empat, tetapi begitu terpilih, langsung mendapat tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin menjadi khalifah. Tantangan pertaman muncul dari Talhah dan Zubeir dari Mekkah, tantangan kedua muncul dari Muawiyah dan keluarga dekat Usman bin Affan, yakni tidak mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.

Tantangan dari Talhah dan Zubeir melahirkan perang Jamal (unta) yang berakhir dengan kemenangan di pihak Ali. Tantangan dari Muawiyah melahirkan perang Siffin yang diselesaikan dengan tahkim (arbitrase). Terjadi ketidakadilan dalam tahkim mengakibatkan sebagai pendukung Ali bin Abi Thalib keluar dari barisan Ali dan membentuk kelompok yang dikenal dengan “khawarij”. Kelompok khawarij sebagai kelompok yang tidak menerima tahkim menuduh orang-orang yang terlibat dalam tahkim telah keluar dari Islam, mereka memperkuat tuduhan ini dengan Q.S. Al-Maaidah : 44 sebagai berikut,

!`tBur óO©9 Oä3øts† !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# y7Í´¯»s9’ré’sù ãNèd tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÍÍÈ  

     Kelompok ini berpendapat bahwa yang tidak berhukum dengan Al-Qur’an adalah kafir, pelakuk dosa besar dan wajib memeranginya. Pada masa yang sama muncul kelompok pembela Ali bin Abi Thalib yakni kelompok “Syiah

Persoalan kafir mengkafirkan ini telah sampai ke berbagai wilayah, dan Hasan Basri ditanya bagaimana pendapatnya tentang orang yang berbuat dosa besar, Wasil bin ‘Ata menjawab, sebelum Hasan Basri. Dari berbagai persoalan ini muncullah ilmu Kalâm.

 

  1. b.      Faktor Eksternal
    1. Seiring dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam, maka semakin banyak umat Islam yang memeluk agama Islam yang pada masa sebelumnya mereka memeluk agama atau kepercayaan tertentu. Pemeluk Islam ini ada yang berasal dari agama Yahudi dan Nasrani, ada dari peyembah berhala, peyembah matahari dan lainya. Setelah mereka memeluk Islam, maka tidak jarang terjadinya penyelesaian suatu masalah yang mereka temukan dalam Islam dengan menggunakan ajaran agama dan kepercayaan yang mereka anut sebelumnya.
    2. Aliran Mu’tazilah sebagai salah satu aliran yang lahir dari perdebatan tentang iman dan kufur, adalah salah satu aliran yang banyak melakukan dakwah atau seruan ke dalam Islam dn sekaligus melakukan  perdebatan dengan berbagai pihak dalam hal mengemukakan dan mempertahankan pendapat, bahkan mereka melakukan perdebatan dengan berbagai agama dan kepercayaan lain dalam rangka menegakkan dan membela ajaran Islam khususnya daru serangan kelompok Yahudi dan Nasrani.
    3. Adanya perdebatan antara sesama umat Islam dan khususnya dengan para pemeluk agama lain (Yahudi dan Nasrani) mengharuskan para mutakallim Mu’tazilah mempelajari filsafat, logika (ilmu mantiq) dan juga mempelajari Teologi Yunani, sebagaimana an-Nizam mempelajari filsafat Aristoteles. Kajian filsafat dan logika ini menjadi bagian ilmu Kalâm dan ilmu Kalâm menjadi ilmu yang berdiri sendiri.
    4. Selain factor intern dan ekstern sebagaimana disebut diatas, munculnya khilafiyah.

Pada masa akhir sahabat yang bersumber dari Jahm bin Safwan, Ma’bad al-Juhami dan Gillan ad-Dimasyqi dalam hal membicarakan qadr dan pengingkaran penyandaran yang baik dan buruk pada qadr, melahirkan kelompok Qodariyah dan Jabariyah perbedaan ini turut memicu timbulnya Ilmu Kalâm dalam kajian sejarah Islam.

Dalam Islam, timbul pula dua aliran teologi yang terkenal dengan nama Qodariyah dan Jabariyah, manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbutannya. Adapun Jabariyah, berpendapat sebaliknya bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dan kehendak dan perbuatannya.

Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional mendapat tantangan keras dari golongan tradisionalIslam, terutama golongan Hanbali, yaitu pengikut-pengikut mazhab Ibn Hanbal. Mereka yang menentang ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisional yang dipelopori Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (935 M). di samping aliran Asy’ariyah, timbul pula suatu aliran di Samarkand oleh Abu Mansur Muhammad Al-Maturidi (w. 944 M). Aliran ini kemudian terkenal dengan nama teologi Al-Maturidiyah.

Aliran-aliran Khawarij, Murji’ah dan Mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi, kecuali dalam sejarah. Adapun yang masih ada sampai sekarang adalah aliran Asy’ariah dan Maturidiyah yang keduanya disebut Ahlussunnah wal-jama’ah.[13]

 

2.6 Hubungan Ilmu Kalâm Dengan Ilmu Lainnya

     Bertitik tolak dari ilmu Kalâm sebagaimana diungkapkan diatas yakni : masalah wahyu, akal, iman, kufur, kehendak dan perbuatan Tuhan, keadilan dan sifat-sifat Tuhan dan juga berdasarkan faktor-faktor pendorong tumbuh dan berkembangkannya ilmu Kalâm, maka dapat disebutkan bahwa ilmu Kalâm memiliki keterkaitan dengan filsafat dan tasawuf.

  1. Titik persamaan

Dilihat dari objek kajiannya Ilmu Kalâm, filsafat, tasawuf mempunyai kemiripan :

  1. Objek kajian Ilmu Kalâm adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya.
  2. Objek kajian Filsafat adalah masalah ketuhanan disamping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada.
  3. Objek kajian Tasawuh adalah Tuhan yakni upaya-upaya pendekatan terhadapnya.

Sehingga dilihat dari aspek objeknya ketiga ilmu tersebut membahas tentang ketuhanan.

      Baik Ilmu Kalâm, filsafat maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, kebenaran. Ilmu Kalâm, dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenarannya tentang Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia, atau tentang Tuhan. Sementara itu, tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal berusaha menghampiri kebenaran dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.

 

 

  1. Titik Perbedaan

Dilihat pada aspek metodologinya Ilmu Kalâm, filsafat dan tasawuf mempunyai perbedaan :

  1. Ilmu Kalâm

Sebagai ilmu yang menggunakan logika disamping argumentasi-argumentasi naqliah yang berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama. Sebagai sebuah dialog keagamaan Ilmu Kalâm berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional.

  1. Filsafat

Filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode yang digunakannya pun adalah metode rasional. Peranan filsafat sebagai mana yang diungkapkan oleh Socrates adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep. Dalam fisafat dikenal tiga kebenaran : Pertama, kebenaran korespondensi, dalam pandangannya kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan fakta dan data itu sendiri. Kedua, kebenaran koherensi, dalam pandangannya, kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan suatu pertimbangan yang telah diakui kebenarannya secara umum dan permanen. Ketiga, kebenaran pragmatik, dalam pandangannya, kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat dan mungkin dapat dikerjakan dengan dampak yang memuaskan.

  1. Tasawuf

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf bersifat sangat subjektif yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau ilham, atau inspirasi yang dating dari Tuhan. Kebenaran yang dihasilkan ilmu tasawuf dikenal dengan istilah kebenaran hudhuri, yaitu suatu kebenaran yang objeknya dating dari subjek sendiri.

Sebagian orang memandang bahwa ketiga ilmu diatas memilki jenjang tertentu. Jenjang pertama adalah Ilmu Kalâm, kemudian filsafat dan yang terakhir adalah ilmu tasawuf. Oleh sebab itu merupakan suatu kekeliruan apabila dialektika kefilsafatan atau tasawuf teoretis diperkenalkan kepada masyarakat awam karena akan berdampak pada terjadinya rasional jumping (lompatan pemikiran).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1.     Kesimpulan

Perkataan ‘’Kalâm” sebenarnya merupakan suatu istilah yang sudah tidak asing lagi, khususnya bagi kaum muslim. Secara harfiyah perkataan “Kalâm” dapat ditemukan baik didalam Al-Qur’an maupun diberbagai sumber lain.

Misalnya didalam kitab Jurmiyah terungkap pengertian Kalâm sebagai berikut:

اللفظ المركب المفيد

Artinya : “Kata-kata yang tersusun dengan sengaja untuk menunjukkan suatu maksud atau pengertian

Ilmu Kalâm lahir dalam tradisi intelektual. Tradisi intelektual adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat beragama untuk menemukan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan akal dalam masyarakat tertentu dan mencoba menyelaraskan hubungan antara akal dengan apa yang disebut wahyu (Muhsin Mahdi). Ilmu Kalâm erat kaitannya dengan lahirnya skisme dalam Islam. Karenanya, asal mula persoalan Kalâm bisa ditelusuri hingga terbunuhnya Khalifah III Utsman bin Affan (Fitnah Kubrâ). Awal mula pemikiran kalâm adalah pertanyaan tentang siapa yang berhak memimpin (persoalan politik)

3.2.     Saran

Dalam makalah ini diharapkan ada pengembangan dalam penjelasan mengenai ilmu kalam sehingga dapat menambah wawasan. Demi kesempurnaan makalah kami ii, kami harapkan kritik dan saran dari pembaca. Semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadikan amal shaleh bagi kami. Amiin.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

ü  Abduh, Muhammad. 1996. Rislah Tauhid. Alih Bahasa. KH. Firdaus AN.

Jakarta : Bulan Bintang

ü  Ahmad, Muhammad. 1998. Tauhid Ilmu Kalâm. Bandung : Pustaka Setia

ü  Al-Akkad, Abbas Mahmoud. Ketuhanan Sepanjang Ajaran agama-agama

dan Pemikiran Manusia. Terj. A. Hanafi. Jakarta : Bulan Bintang

ü  Anwar, Rosihon. 2003.  Ilmu Kalâm. Bandung : CV. Pustaka Setia

ü  Nasrah. Kalam dan Sekte-sekte dalam Khawarij.jurnal

ü  Nasution, Harun. 1986. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta : UI Press

ü  Raziq, Musthafa Abd. 1959. Tamhid II Tarikh Al-Falsafah Al

Islamiyah.Lajnah wa At-Tha’lif wa At-Tarjamah wa An-Nasyr

 


[1]  Drs. H.Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalâm, Pustaka Setia, Bandung, 1998, hlm.13-14

[2]  Ibid, hml.14-15

[3] Ibid, hml.15-16

[4] Ibid, hml.17

[5] Roziq, op. cit. 260-261

[6] Rosihon Anwar. 2003.  Ilmu Kalâm. Bandung : CV. Pustaka Setia,hlm; 17-21

[7]  Harun Nasution. Akal dan Wahyu dalam Islam. UI Press. Jakarta.1986.hlm,39-51.

[8]  Abbas Mahmoud  Al-Akkad. Ketuhanan Sepanjang Ajaran agama-agama dan Pemikiran Manusia. Terj. A. Hanafi. Bulan Bintang. Jakarta. 1973. Hlm.32

[9]  Roziq, op. cit. hlm.288-289

[10]  Nasrah. Kalam dan Sekte-sekte dalam Khawarij.jurnal. hlm.2.

[11] Muhammad Abduh, Rislah Tauhid. Alih Bahasa. KH. Firdaus AN. (Jakarta:Bulan Bintang.1996),hlm.3.

[12] Rosihon Anwar. 2003.  Ilmu Kalâm. Bandung : CV. Pustaka Setia,hlm; 27-29

[13] Nasrah. Kalam dan Sekte-sekte dalam Khawarij.jurnal. hlm.3-4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: