HADIST DHO’IF

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

       Hadits adalah segala riwayat yang berasal dari Rasullah baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan (taqrir), sifat fisik dan tingkah laku (ahwal) beliau yang dijadikan sebagai dalil hukum syri’ah. Namun tatkala Rasullah meninggal maka banyak hadits palsu yang beredar dikalangan masyarakat.

      Hadits dhoif  adalah hadits yang tidak memenuhi kriteria hadits maqbul (hasan atau sahih) atau hadits yang lemah hukum sanad periwayatnya atau pada hukum matananya. Ada banyak macam hadits dhaif baik itu berasal dari terputusnya sanad dan berdasarkna catatan perawinya. Pada hadits dhoif yang disebabkan terputusnya sanad masih dibagi lagi menjadi tujuh bagian dan hadits dhoif yang berdasarkan terputusnya perawinya dibedakan menjadi dua bagian.

      Secara serta merta hadits palsu (maudu’) tidak muncul begitu saja namun ada banyak sebab yang menyebabkan mengapa seseorang ingin membuat dan menyebarkan hadits palsu tersebut. Adapun sejarah yang menyebabkan hadits palsu bisa tesebar dikalangan masyarakat dikarnakan oleh beberapa factor diantaranya terlau fanatiknya terhadap guru, bahasa dan bangsa mereka, karena ingin menjadi seorang yang popular dan masih banyak lagi sebab atau factor-faktor yang menyebabkan muncuknya hadits palsu (maudu’).

      Sebagai masyarakat islam seharusnya kita harus faham bagaimana cirri-ciri dari hadits palsu sehingga nantinya kita sebagai umat islam tidak terjerumus dengan adanya hadits palsu yang nantinya bisa menyesatkan. Oleh sebab itu kita harus mengerti cirri-ciri dari hadits palsu sehingga nantinya kita bisa membedakan antara mana hadits yang sahih (asli) dan mana hadits yang palsu.

      Dengan penjelasan masalah diatas maka isi makalah ini akan menerangkan pengertian dari hadits dhoif dan pembagianya dan akan mengunkap bagaimana sejarah terbentuknya hadits palsu dan criteria dari hadits palsu, sehingga nantinya kita sebagai umat islam bisa membedakan antara mana hadits yang palsu dan mana hadits yang tidak palsu.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang ada di atas maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

  1. Jelaskan pengertian hadits dhoif?
  2. Ada berapa pembagian hadits dhoif berdasarkan terputusnya sanad dan rawi dan berdasarkan catatan rawinya?
  3. Jelaskan sejarah hadits palsu dan kreteria hadits palsu?

1.3. Tujuan

  1. Kita dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan hadits dhoif.
  2. Kita dapat mengetahui pembagian hadits dhoif berdasarkan terpusnya sanad dan rawi dan berdasarkan catatan rawinya.
  3. Kita dapat menjelaskan bagaimana asal mula munculnya hadits palsu dan kreteria hadits palsu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.      Pengertian Hadits Dhoif

Hadits dhoif  adalah hadits yang tidak memenuhi kriteria hadits maqbul (hasan atau sahih) atau hadits yang lemah hukum sanad periwayatnya atau pada hukum matannya.[1]Namun ke Dhoifan hadits ini berfariasi tergantung dari asalmula hadits tersebut.

Hadits yang dikatakan dhoif oleh para ulama, sebenarnya tidak selalu bermakna tertolak. Ada hadits dhoif yang masi diamalkan dan ada pula hadits dhoif yang tidak diamalakan. Hadits dikatakan dhoif apabila disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah terputusnya sanad, kualitas hafalan perawinya dan sifat dari perawi hadits tersebut.

Mengenai beramal dengan hadits dhaif merupakan hal yang diperbolehkan oleh para Ulama Muhadditsin, Hadits dhoif tak dapat dijadikan Hujjah atau dalil dalam suatu hukum, namun tak sepantasnya kita menafikan (meniadakan) hadits dhoif, karena hadits dhoif banyak pembagiannya, Dan telah sepakat jumhur para ulama untuk menerapkan beberapa hukum dengan berlandaskan dengan hadits dhoif, sebagaimana Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, menjadikan hukum bahwa bersentuhan kulit antara pria dan wanita dewasa tidak membatalkan wudhu, dengan berdalil pada hadits Aisyah ra bersama Rasul saw yang Rasul saw menyentuhnya dan lalu meneruskan shalat tanpa berwudhu, hadits ini dhoif, namun Imam Ahmad memakainya sebagai ketentuan hukum thaharah.

  1. 2.      Pembagian Hadits Dhoif
    1. a.      Berdasarkan terputusnya sanad atau rawi

   Maksud dari sanad terputus adalah apabila dalam periwayatan terdapat perawi yang gugur dari rentetan sanad. Gugurnya perawi dalam sanad dapat berbeda-beda tempatnya. Ada yang gugur dari awal, di tengah dan di akhir. Bisa juga gugurnya dibeberapa tempat secara berurutan atau tidak berurutan. Perbedaan tempat dan jumlah perawi yang gugur akan membedakan pendefinisian hadits tersebut. Terdapat beberapa macam hadits yang disebabkan terputusnya sanad. Dalam pembagian ini terdapat perbedaan ulama dalam menentukan macam-macamnya.

    Hadits dhoif berdasarkan terputusnya sanad terbagi menjadi tujuh bagian yaitu:[2]

1)      Hadits Mawquf

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat berupa perkataan, perbuatan dan taqrirnya.

2)      Hadits Maqtu

Yaitu hadits yang diriwayatkan dari tabi’in berupa perkataan, perbuatan dan taqrirnya.

3)      Muallaq

Yaitu hadits yang terputus dari awal sanadnya dari jajaran perowi atau hadits yang gugur rawinya seorang atau lebih yang terjadi di awal sanadnya.[3]

Hadits ini juga termsuk hadit dhaif, karena hadits ini sudah hilang syarat pertama dari  syurut al-qabul dan sosok perawinya yang gugur status kepribadianya tidak diketahui. Diperkecualikan hadits-hadits mualak yang terdapat dalam kitab penyusunya komitmen untuk tidak memasukan hadits dalam kitabnya kecuali apabila hadits tersebut hadits yang sahih dan hadits tersebut telah diakui kesahihanya oleh sebagian besar para ulama’ hadits.

Hadits-hadits muallaq yang terdapat dalam shahihain masuk dalam kategori shahih karena hadits tersebut sebagian besar ternyata bersetatus muttashil dalam riwayat lain dalam kitab tersebut. Adapun hadits muallaq yang tidak terdapat keteranganya atau tidak terulang dalam kitab tersebut ternyata juga bersetatus bersambung.

Hadits tergolong hadits muallaq karena dibuang semua rawi dalam sanad hadits tersebut  kecuali sahabat, yakni Abu Musa. Sesungguhnya hadits mualaq mempunyai dua pengertian yang pertama hadits yang dibuang semua sanadnya. Kedua hadits yang dibuang sanadnya kecuali sahabat.

4)      Mu’dhal

Istilah ini berasal dari kata a’dhola yang berarti memayahkan. Diisstilahkan demikian karena peneliti yang akan mencari perawi yang gugur akan merasa kepayahan. Adapun secara terminology mu’dhol berarti hadits yang terputus sanadnya pada dua tempat secara berurutan, bisa mulai dari awal sanad, tengah dan akhir sanad. Adpun hokum dari hadits Mu’dhol adalah dhaif  karena tidak memenuhi kretiria hadits maqbul.

5)      Mursal

Terdapat beberapa perbedaan dalam pendefinisian kata mursal. Ada definisi mursal menurut jamhur muhadditsin adalah hadits yang gugur perawinya pada tingkatan sahabat atau tabi’in.[4] Pada proses periwayatanya tabi’in menisbatkan langsung pada nabi tanpa menyebut sahabat. Artinya pada sanat tersebut sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut gugur dari jajaran sanad, hal itu diketahui karena tabi’in tidak berjumpa dengan nabi. Hadits yang didengar oleh tabi’in dapat dipastikan bersumber dari para sahabat sedang pada sanad tersebut sahabat tidak tampak.

Hukum hadits mursal dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:

¨      Hadits mursal tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, karena yang gugur bisa jadi tidak sebatas sahabat tapi ada kemungkinan dua orang yaitu sahabat dan tabi’in.

¨      Dapat dijadikan sebagai hujjah asalkan diriwayatkan dari tabi’in senior. Selain itu hadits tersebut diriwayatkan dengan sanad lain bersambung dan makna haditsnya sesuai dengan ucapan sebagian sahabat dan telah diamalkan dan dianut oleh mayoritas ahlu al-‘ilm.

¨      Hadits mursal dapat dijadikan sebagai hujjah dengan syarat: tabi’in yang meriwayatkan hadits tersebut dikenal dikalangan ulama’ hadits sebagai seorang yang tsiqah dan jika meriwayatkan hadits tidak mengambil kecuali dari perawi yang tsiqah pula.

6)      Mudallas

Istilah mudallas terambil dari kata dallisa- yadlisu yang berarti remang. Diistilahkan demikian karena perawi berusaha mengkaburkan hakikat yang sebenarnya terjadi, dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Hadits mudallas memiliki banyak bagian namun kesumuanya itu termuat pada dua pokok pembagian yaitu:

¨      Tadlis isnad

Tadlis isnad yaitu seorang perawi meriwayatkan hadits dari orang yang pernah diriwayatkan haditsnya (misal gurunya) namun pada hadits tertentu ia tidak mendengar hadits tersebut secara langsung tetapi dia meriwayatkan dengan menggunakan sighad (lafad) yang sepintas menunjukan seakan-akan dia mendengar hadits tersebut dari guru tersebut.

¨      Tadlis syuyukh

Pengertian tadlis syuyukh yaitu seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari seorang guru namun tapi tidak menyebutkan nama asli gurunya, namu dengan menyebutkan sifat, gelar, atau julukan yang banyak orang yang tidak mengenal hal itu. Hal ini bisa dilakukan karena berbagai macam alasan seperti usia gurunya lebih mudah sehingga ia malu untuk menyebutkanya, atau agar diduga jumlah gurunya banyak, atau juga agar dinilai sebagai perawi yang mengetahui banyak tentang gurunya tidak hanya sebatas nama tapi lebih dari itu seperti ifat, gelar dan asal-usul dari guru tersebut.

Pelaku periwayatan seperti ini hukumnya lebih ringan dalam pandangan ulama’. Kecuali jika perawi melakukan ini dengan tujuan untuk mengelabuhi, misalnya guru perawi tersebut dikenal seorang yang dhoi

f, lalu ia meriwayatkan dengan julukanya agar orang tidak tau kalua orang yang dimaksud itu adalah gurunya yang dho’if.

7)      Hadits Munqathi’

Yaitu hadits yang gugur seorang perawinya sebelum para sahabat pada satu tempat, atau gugur pada dua tempat yang tidak berturut-turut.

  1. b.      Berdasarkan catatan rawinya
    1. 1.      Hadits Mutawatir

Manna al-Qaththan,[5] memberikan definisi hadits mutawatir sebagai hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang menurut adat kebiasaan mustahil sepakat untuk berdusta, dari awal sanad hingga akhir sanad (pada seluruh generasi) dan hadits yang meriwayatkan bersifat mahsas dengan itu Subhi al-Shalil mendefiadnisikanya dengan hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak, yang menurut akal dan kebiasaan mustahil bersepakat untuk melakukan dusta, dan para perawinya tersebut memiliki kesamaan sifat mulai dari awal sampai akhir.

Berdasarkan definisi tersebut, hadits mutawatir memiliki criteria sebagai berikut:

  1. Jumlah perawainya banyak hingga menurut akal kebiasaan mustahil bersepakat untuk berdusta.
  2. Jumlah perawi terdapat pada setiap generasi. Hal ini berarti tidak dapat dikatakan hadits mutawatir jika setiap generasi diriwayatkan oleh satu, dua  atau tiga.
  3. Hadits yang diriwayatkan bersifat mahsus artinya para perawi tersebut meriwayatkan hadits berdasarkna panca indra.

Menurut al-Qathan lebih mendefisikan lagi hadits mutawatir menjadi dua yaitu:[6]

1)      Mutawatir lafdzi

Yaitu hadits mutawatir yang lafadz dan maknanya sama. Hadits ini sedikit sekali jumlahnya karena sangat sulit jumlah perawi yang begitu banyak dapat meriwayatkan sebuah hadits dalam suatu keseragaman redaksi.

2)      Mutawatir  ma’nawi

Yaitu hadits mutawatir yang maknanya sama akan tetapi redaksinya berbeda. Contoh hadits mutawatir bentuk ini adalah hadits tentang mengangkat tangan dalam berdo’a mengusap khuffain, isra’ mi’raj dan lain-lain.

  1. 2.      Hadits ahad

Yaitu hadits yang tidak memenuhi syarat mutawatir. Dengan demikian berarti bahwa semua hadits yang jumlah perawinya tidak sampai pada tingkat mutawattir dinamakan hadits ahad. Hadits ahad dibagi lagi menjadi tiga bagian:

a)      Hadits masyhur

Yaitu hadits diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih dari setiap generasi, akan tetapi tidak mencapai jumlah mutawatir. Jika diteliti lebih lanjut sebenarnya hadits masyhur ini tidak semuanya berkualitas shahih, karena jumlah perawi yang demikian belum tentu menjamin ke-sahihanya kecuali disertai sifat-sifat yang menjadikan sanad atau matanya shahih.

Berdasarkan segi lingkungan dan penyebaranya maupun dari segi frekuensi penggunaanya hadits masyhur juga sangat beragam, yaitu:

  • Hadits masyhur di kalangan muhadditsun  
  • Hadits masyhur di kalangan muhadditsun, ulama lain dan masyarakat awam.
  • Hadits masyhur di kalangan fuqaha’
  • Hadits masyhur di kalangan ahli ushul fiqih
  • Hadits masyhur di kalangan ahli bahasa arab
  • Hadits masyhur di kalangan ahli pendidikan
  • Hadits masyhur di kalangan umum

a)      Hadits ‘aziz

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tidak kurang oleh dua perawi pada seluruh tingkatan atau generasi.

b)      Hadits gharib

Hadits gharib adalah hadits yang diriwayatkan seorang perawi maupun hal itu terjadi. Artinya bahwa hadits gharib ini tidak diisyaratkan harus satu orang perawi pada setiap tingkatan atau generasi, akan tetapi cukup pada satu tingkatan sanad dengan sati perawi.

Berdasarkan letak terjadinya ke-ghariban, hadits model ini dapat dipilih menjadi tiga kelompok, yaitu:

1)      Gahrib matnan wa isnadan (gahrib dari segi matan dan sanadnya)

Artinya bahwa hadits tidak diriwayatkan melainkan melalui satu sanad.

2)      Gahrib isnadan la matnan (gharib dari segi sanadnya dan tidak matanya)

Artinya hadits merupakan hadits yang masyhur kedatanganya melalui beberapa jalur dari seorang rawi atau seorang sahabat atau dari sejumlah perawi, lalu ada seorang rawi meriwayatkanya dari jalur lain yang tidak masyhur.

3)      Gahrib matnan la isnadan (gharib dari segi matanya dan tidak sanadnya)

Artinya hadits yang pada mula sanadnya tunggal, akan tetapi pada tahap selanjutnya masyhur.

  1. 3.      Sejarah dan kreteria hadits palsu
    1. Sejarah

Berdasarkan data sejarah pamelsuan hadits tidak hanya dilakukan oleh orang islam, namun ada juga yang dilakukan oleh orang-orang non islam. Adapun motif munculnya hadits palsu adalah:

  1. Pertentangan Politik

Perpecahan umat islam yang paling besar adalah pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, dikarnakan pada masa ini banyak para kaum atau golongan  yang tidak setuju dengan atau tidak suka dengan pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

Akibat dengan adanya perpecahan dikalangan umat islam ini maka dapat mengakibatkan munculnya berbagai macam hadits palsu. Kemunculan hadits palsu ini dilandaskan karena para golongan yang ada pada saat itu ingin mengalahkan golongan yang lain dengan cara membawa Al-qur’an dan Sunnah yang bertujuan untuk mengunggulkan kelompok dan madzhabnya masing-masing. Ketika tidak ditemuanya maka mereka membuat pertanyaan yang disandarkan pada nabi. Berangkat dari sinilah maka hadits palsu mulai berkembang.

Menurut Ibnu Abi Al-Hadad dalam ‘Syarah Nahj Al-Balaghah’ sebagaimana dikutip oleh Musthofa Al-Siba’i, bahwa pihak yang pertamak kali membuat hadits palsu adalah golongan syiah dan kelompok ahlu sunnah menandingi dengan hadits-hadits yang maudhu juga.

Hammad bin salamah pernah meriwayatkan bahwa ada salah seorang tokoh Rafidah berkata :”sekiranya kami pandang baik, segera kami jadikan hadits”. Imam Syafi’I juga pernah berkata “ saya tidak pernah puas melihat hawa nafsu yang melebihi sekte Rafidah dalam memuat hadits palsu”. Sedangkan menurut data sejarah khawarij tidak pernah membuat hadits palsu.[7]

  1. Usaha Kaum Zindik

Kaum Zindik termasuk kaum golongan yang membenci islam sebagai agama atau sebagai dasar pemerintahan. Mereka tidak mungkin dapat melampiaskan kebencian melalui kontrofensi dan pemalsuan Al-Qur’an, maka cara yang paling tepat adalah dengan cara memalsukah hadits dengan tujuan menghancurkan agama islam dari dalam. Adapun contoh seorang yang pernah melakukan pemalsuan hadits adalah Abd Al-Karim ibn ‘Auja’ yang dihukum mati oleh Muhamad bin Sulaiman bin Ali seorang wali dari wilayah basrah, sebelum dihukum mati sang pemalsu hadits berkata “demi Allah saya telah membuat hadits palsu sebanyak 4000 hadits.[8]dan hadits palsu ini telah menyebar dimasyarakat. Hammad bin Zaid mengatakan “hadits yang dibuat oleh kaum zindiq ini berjumlah 12000 hadits, adapun contoh hadits palsu yang dibuat oleh kaum zindiq adalah:

“Melihat wajah wanitah cantik termasuk ibadah”

  1. Fanatik terhadap bangsa, suku, negeri, bahasa dan pemimpin.

Mereka membuat hadits palsu karena didorong oleh sikapego dan fanatik terhadap suku, negeri dan pemimpin mereka sehingga mereka membuat hadits palsu. Golongan Al-Syu’ubiyah yang sangat fanatik terhada bahasa persi mengatakan:

“Apabila Allah murka, maka dia menurunkan wahyu dengan bahasa arab dan apabila senang maka akan menurunkanya dengan bahasa persi:.

Namun sebaliknya orang Arab yang sangat fanati terhadap bahasa mereka mengatakan:

“Apabila Allah murka, menurunkan wahyu dengan bahsa persi dan apabila senang menurunkan wahyu dengan bahasa arab”.

Golongan yang fanatik kepada madzhab Abu Hanifah pernah memuat hadits palsu yang isinya sebagai berikut:

“dikemudian hari aka nada seorang umatku yang bernama Abu Hanifah bin Nu’man, ia ibarat obor bagi umat-ku”.

Demikian pula golongan yang fanatik menentang imam Syafi’I juga membuat hadits palsu seperti “dikemudian hari aka nada seorang umat-ku yang bernama Muhamad bin Idris, ia akan menimbulkan madharat kepada umat-ku dari pada iblis”.

Demikian cara tersebut dipakai sehingga akhirnya pada saat itu merebak hadits-hadits palsu yang intinya dikarnakan mereka hanya fanatik terhadap golongan mereka sendiri.

  1. Mempengaruhi kaum awam dengan kisah dan nasihat.

Mereka melakukan pemalsuan hadits dengan tujuan untuk meraih simpatik. Hadist ini biasanya terlalu berlebihan dan tidak masuk akal, adapun contohnya adalah sebagai berikut:

“barang siapa mengucapkan kalimat Allah akan menciptakan seekor burung (sebagai balasan dari tiap-tiap kalimat) yang paruhnya terdiri dari emas dan bulunya dari marjan”.

  1. Perselisihan madzhab dan ilmu kalam.

Munculnya berbagai macam hadits palsu hal ini berasal dari para pengikut madzhab. Mereka melakukan pemalsuan hadits dengan dalih karena mereka terlalu fanatik terhadab imam madzhab mereka.

Diantara hadits-hadits palsu tentang masalah madzhab dan ilmu kalam adalah:

  • Siapa yang mengangkat kedua tanganya dalam shalat maka shalatnya tidak sah.
  • Yang junub wajib berkumur dan menghisap air tiga kali.
  • Semua yang ada di muka bumi dan langit serta diantara keduanya adalah makhluk, kecuali Allah dan Al-qur’an. Dan kelak aka nada di antara umatku yang menyatakan bahwasanya Al-qur’an itu makhluk dan barang sipa yang menyataka demikian maka niscaya ia telah kufur kepada Allah yang maha agung dan saat itu pula jatuhlah talak kepada istrinya.
  1. Membangkitkan gairah beribadat, tanpa mengerti apa yang dilakuakan.

Banyak diantara ulama’ yang membuat hadits palsu dengan dan bahkan mengira usahanya itu benar dan upaya mendekatkan diri kepada Allah, serta menjunjung tinggi agamanya. Namun mereka berdalih “kami berdosa semata-mata untuk menjunjung tinggi nama Rasullah dan bukan sebaliknya”.

  1. Menjilat Penguasa.

Ghiyas bin Ibrahim merupakan tokoh yang banya ditulis dalam kitab hadits sebagai pemalsu hadits tentang perlombaan. Adapun tujuan dari pembuatan hadits palsu ini adalah untuk menerima pujian dari para penguasa pada saat itu.

Beberapa motif pembuatan hadits palsu di atas dapat dikelompokan menjadi:

  • Ada yang sengaja
  • Ada yang tidak sengaja merusak agama
  • Ada yang merasa yakin bahwa membuat hadits palsu itu diperberbolehkan
  • Ada yang tidak tahu gila dirinya membuat hadits palsu.[9]

Tujuan mereka membuat hadits palsu ada yang bertujuan negatif dan ada pula yang mempunyai nilai positif.

  1. Kreteria Hadits Palsu.
    1. Dalam sanad
  • Atas dasar pengakuan pembuat hadits palsu, sebagaimana pengakuan Abu Ishmah Nuh bin Abi maryam bahwa ia telah membuat hadits palsu tentang fadhilah membaca Al-qur’an, surat demi surat, Ghiyas bin Ibrahim dan lain-lain. Dalam kaitanya dengan masalah ini Al-Suyuthi menyatakan, bahwasanya surat-surat dalam Al-Qur’an yang didapati pada hadits sahih mengenai keutamaanya hanyalah surat Al-Fatihah, Al-Baqarah, Ali-Imran, Al-An’am dan tujuh surat yang panjang (dari surat Al-Baqarah hingga surat Al-Bara’ah). Selain terdapat surat tersebut hadisnya bukanlah hadits sahih.
  • Adanya qiranah (dalil) yang menunjungan kebohonganya seperti menurut pengakuanya ia meriwayatkan dari seorang syekh, tetapi ia belum pernah bertemu secara langsung dengan syekh tersebut. Atau ia pernah menerima hadits dari suatu daerah tapi ia belum pernah melakukan rihalah atau perjalanan ke daerah tersebut dan atau ia menerima hadiuts dari seorang syekh tetapi syekh tersebut sudah meninggal tatkala ia masih kecil.
  • Meriwayatkan hadits sendirian, sementara dari rawi dikenal sebagai pembohong.
  1. Dalam Matan
  • Buruknya redaksi hadits, padahal nabi Muhamad adalah seorang yang sangat fasih dalam berbahasa santun dan enak dirasakan. Dari redaksi yang jelek ini akan berpengaruh terhadap makna ataupun maksud dari hadits tersebut.
  • Maknanya rusak. Ibnu hajar menerangkan bahwa kejelasan lafadz ini dititik beratkan pada kerusakan arti, sebab dalam sejarah mencatat “periwayatan hadits tidak mesti bi al-lafdzi akan tetapi ada yang bi al-ma’na terkecuali bila dikatakan bahwa lafadnya dari nabi, baru dikatakan haitsnya palsu.
  • Matanya bertentangan dengan akal atau kenyataan, bertentangan dengan Al-Qur’an atau hadits yang lebih kuat atau ijma’.
  • Matanya menyebutkan janji yang sangat besar atas perbuatan yang kecil atau ancaman yang sangat besar atas perkara kecil.
  • Hadits yang bertentangan dengan kenyataan sejarah yang benar-benar terjadi pada masa Rasullah dan tampak jelas kebohonganya.
  • Hadits yang terlalu melebih-lebihkan salah satu sahabat.[10]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

      Dari pembahsan yang ada di atas maka dapat disimpulkan bahwasanya yang dinamakan dengan hadits dhoif adalah hadits yang tidak memenuhi kriteria hadits maqbul (hasan atau sahih) atau hadits yang lemah hukum sanad periwayatnya atau pada hukum matannya.

Adapun pembagian hadits dhaif dari segi persambungan sanadnya digolongkan menjadi tujuh bagian yaitu hadits mawquf, hadits maqtu’, hadits mursal, hadits mu’allaq, hadits mudallas, hadits munqathi’, hadits mu’dhal. Sedangkan pembagian hadits berdasarkan catatan rawinya hadits dhaif dibagi menjadi dua yaitu hadits Mutawatir dan hadits Ahad dan hadits Mutawatir dan hadits Ahad masih dibagi lagi menjadi hadits-hadits yang lain.

     Banyak factor yang menyebabkan terjadinya pemalsuan diantaranya karena adanya pertentangan politik, adanya kau zindik (kaum yang membenci uamat islam yang ingin menghancurkan islam), sikap fanatik yang berlebihan terhadap bangsa, suku dan imam yang mereka anut, untuk memperoleh simpatik atau karena mereka hanya ingin dikenal, karena adanya perselishan madzhab pada saat itu dan yang terakhir mereka melakukan  pemalsuan hadits karena mereka menginginkan imbalan atau pujian dari pengauasa atau raja pada masa itu.

       Adapun kreteria dari hadits palsu (Dhaif) dapat kita lihat dari dua sudut pandang yaitu dari segi matanya dan dari segi sanadnya.

3.2. Saran

       Kami selaku pembuat makalah ini mengaku masih banyak kekurangan oleh sebab itu kami selaku pembuat makalah ini menerima dengan lapang dada saran dan kritikan yang nantinya bisa membawa makalah ini menjadi lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mundasir, Ilmu Hadits, Pustaka Setia, Bandung, 2008

Smeer, Zeid, Ulumul Hadits, UIN Press, Malang, 2008

Sumbulah, Umi, Buku Ajar Ulumul Hadits I, UIN Malang, Malang, 2007

Suparta Munzeir, Ilmu Hadits, Rajawali Pers, Jakarta, 2003

 


[1] Zeid B.Smeer, Ulumul Hadits, UIN Malang Press, hal.36

[2] Umi Sumbulah, Buku Ajar Ulumul Hadits I, UIN Malang, hal. 45-46

[3] Umi Sumbulah, Buku Ajar Ulumul Hadits 1,

[4] Mudasir, Ilmu Hadits, Pustaka Setia, hal.157

[5] Manna al-Qaththan, Mabahits fi’Ulum al-Hadits, Maktabah Wahabah, hal. 95

[6] Subhi Shalih, Ulum al-Hadits wa Mustahallahuh, Dar al-iim, hal 146

[7] Munzeir Suparta, Ilmu Hadits, Rajawali Prers, hal. 183

[8] Munzeir Suparta, Ilmu Hadits, Rajawali Prers, hal. 184

[9] Mudasir, Ilmu Hadits, Pustaka Setia, hal.178

[10] Munzeir Suparta, Ilmu Hadits, Rajawali Prers, hal. 189-191.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: