“TRADISI UPACARA KASADA -BROMO-PROBOLINGGO”

Di susun Oleh:Dina indrawasih

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar  Belakang

 

Kebudayaan erat hubunganya dengan masyarakat segala sesuatu yang terdapat didalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri meskipun bentuk dan caranya berbeda antara daerah  satu dengan yang lainnya. Akan tetapi perbedaan tersebut tidak menimbulkan perpecahan.

 

Budaya memiliki defisi yang berbeda-beda akan tetapi  semuanya memiliki prinsip yang sama yaitu mengakui adanya ciptaan manusia sebenarnya segala kesesuaian yang diciptakan oleh manusia  dimuka bumi ini adalah budaya.

 

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku dan budaya. Dari keanekaragaman budaya nusantara yang ada. Kebudayaan selalu menarik untuk dibahasdan dipelajari, diantara salah satu daerah yang memiliki berbagai macam kebudayaan adalah kota Probolinggo.

 

Dalam makalah ini tradisi kebudayaan Probolinggo yang akan diangkat  yaitu, perayaan Hari Raya Kasada  yang di dalamnya banyak mengandung nilai-nilai religius dan sejarah.  Di Probolinggo juga masih dapat ditemui satu suku dengan sosial budaya khas, yaitu masyarakat Tngger yang hidup di kawasan Pegunungan Tengger . Sistem sosial dan religi masyarakat

 

1.2  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana kebudayaan dikota proboliggo (Tengger)?

2.      Bagaimana  sejarah tradisi perayaan Hari Raya Kasada ?

3.      Bagaimana terdisi kebudayaan perayaan Hari Raya Kasada?

 

1.3  Tujuan Penulisan

  1. Mengetahui kebudayaan yang ada di Probolinggo

2.  Mengetahui sejarah tradisi Kasodoan

3. Mengetahui kebudayaan tradisi perayaan kasada

 

 

 

BAB II

KONSEP TEORI

 

2.1 Pengertian  Kebudayaan

 

Kata kebudayaan berasal dari kata sangsekerta budayah yaitu bentuk jamak dari budhi yang artinya budi  atau akal karena itu dapat dibedakan budaya dengan kebudayaan.  Budya ini dari budi yang berupacipta , karsa dan rasa . dan kebudayaan itu segala hasil dari cipta, karsa dan rasa.

             

              Adapun katakulture (bahasa inggris) yang artinya sama dengan kebudayaan yang bersal dari kata latin colere yang berarti mengolah, mengerjakan terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini culture sebagai segala daya dan aktifitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.

             

              Menurut Edward.  Taylor, budaya merupakan keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut selo soemardjo  karya,rasa,dan cipta masyarakat. Dari beberapa devinisi tersebut dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yang mana mempengruhi tingkat dan meliputi system ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia , sehingga kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makluk yang berbudaya, berupa perilaku, bahasa peralatan hidup organisasi social, religi, seni, danlain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan masyarakat.

             

              Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesennian moral, hukum, adat istiadat dan kemapuan –kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

a.       Unsur-unsur Kebudayaan

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen  atau unsure

Kebudayaan antara lain yaitu:

  1. Peralatan dan kelengkapan hidup (Teknologi)

Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan, teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduks, memakai, serta memeihara segala peralatan dan perlengkapan.  Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan  masyarakat dalam cara-cara mengekspresikan rasa dalam kehidupan atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian . masyarakat kecil berpindah-indah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari petani paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga dengan sistem peralatan dan unsure dari kebudayaan fisik ) yaitu:

    1. alat-alat produksi
    2. senjata
    3. alat-alat menyalakan api
    4. makanan
    5. pakaian
    6. tempat berlindung dan perumahan
    7. alat-alat transportasi
    8. wadah
  1. Sistem mata pencaharian

Perhatian para ilmuan pada sstem mata pencarian initerfokus pada masalah-masalah mata pencaran  terdisonal saja, diantranya :

    1. berburu dan meramu
    2. berternak
    3. bercocok tanam
    4. mengkap ikan

 

 

  1. Sistem keberadapan dan organisasi sosial

Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting daam keberadaan social. Mayer fortes mengungkapkan bahwa system kekerabatan masyarakat dapat dipergunakan dalam menggambarkan struktur social dalam masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit social yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan.

  1. System kepercayaan

Adakalanya pengetahuan, pemahaman dan daya tarik fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas secara bersamaan muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dar system jagat  raya  ini yang juga mengendalikan mmanusia sebagai salah satu bagian jagat raya Agama dan system kepercayaan lainnya sering kali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa inggris) relig adalah sebuah unsure kebudayaan yang pentng dalam sejarah umat islam:

    1. Agama samawi

Agama samawi atau atau agama abiahamik meliputi islam, Kristen (protestan dan katolik) dan yahud.

 

    1. Peradapan antara religi dan mogis

Dalam religi orang menggantungkan diri serta  menyerahkan nasip pada suatu kekuatan supra natural dengan melakukan pemujaan dan penyembahan. Sedangkan mogis seseorang berusaha menguasai kekuatan tersebut dengan tujuan memenuhi beberapa  kehendaknya. Biasanya mereka mengaaukan semua kekuatan untuk mengalahkan kekuatan-kekuatan supranatural uantuk di curahkan sesuai dengan keinginanya .

Raymond firth menjadi magis menjadi 5 bagian yaitu sebagai berikut:

1.      Magis produktif

2.      Magis proteksi

3.      Magis distruktif

4.      Magis prototo

5.      Magis analog

5.  Kesenian

Kesenian mengacuh kepada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari espresi

Hasrat manusia akan keindahan yang dnikmati dengan mata  ataupun telinga sebagai makhluk yang mempunyai cara rasa tinggi manusia menghasilkan beberapa corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga  perwujudan kesenian yang kompleks. Dipandang dari cara menikmatinya, kesenian sebagai ekspirasi hasrat manusia  akar kehidupan terbagi menjadi dua:

a.       seni rupa

b.      seni suara

6.  Bahasa

Bahasa adalah alat yang digunakan oleh manusia untuk saling berkomunikas dan berhubngan baik lewat tulisan, lisan maupun gerakan dengan tujuan menyampaikan maksudhati atau kepada awan bicaranya atau orang lain membaur dirinya dengan segala bentuk masyarakat.

 

 

2.2      Fungsi Kebudayaan

Kebudayaan memiliki fungsi yang sama besar  dalam masyarakat, yaitu membantu manusia dalam melagsungkan kehidupannya atau sebagai pedoman hidup kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar sebab ada bermacam-macam kekuatan yang harus dihadapi oleh semua anggota masyarakat yang ada beracam-macam kekuatan yang harus dihadapi oleh masyarakat yang tidak selalu baik bagi dirinya, misalnya kekuatan alam dan kekuatan lainya dalam masyarakat. Kebudayaan mengarahkan manusia  sehingga ia mengerti bagaimana harus bersikap, berperilaku bertindak, baik secara individu maupun kelompok kehiaupan juga mengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat dan menerntukan sikap ketika berhubungan dengan orang lain.

 

2.3 Hubungan  Antara Manusia Dengan Kebudayaan

 

Dengan seruan Allah manusia sebagai khalifah di bumi ,dengan akalbudi dan lmu pengetahuan yang diajarkan Allah dan dari sesama manusia ,manusia dituntut untuk mampu menciptakan piranti kehidupannya yaitukebutuhan rohani seperti: ilmu ,seni, budaya, bahasa. Sastra. Kebutuhan jasmani atau fisik :sandang, pangan, perumahan, teknologi. Dan kebutuhan sosial: sarana ibadah, pendidikan, Dengan Karunia Allah dan akal budi serta cipta karsa serta karsa manusia mampu menghasilkan kebudayaan, bahwa manusia sebagai penciptanya sesudah Tuhan, juga manusia sebagai pemakai kebudayaan maupun sebagai pemelihara atau sebaliknya sebagai perusak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

STUDY KASUS

 

            Kota Probolinggo mempunyai tradisi yaitu Upacara Kasada.Upacara ini diadakan pada saat purnama bulan Kasada (ke dua belas) tahun saka, upacara ini disebut juga sebagai Hari Raya Kurban. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya Kasada, diadakan berbagai tontonan seperti; tari-tarian, balapan kuda di lautan pasir, jalan santai, pameran. Sekitar pukul 05.00 pendeta dari masing-masing desa, serta masyarakat Tengger mendaki Gn.Bromo untuk melempar Kurban (Sesaji) ke Kawah Gn.Bromo. Setelah pendeta melempar Ongkeknya (tempat sesaji) baru diikuti oleh masyarakat lainnya.

Disamping pemandangan alam yang indah Gn.Bromo juga memiliki daya tarik yang luar biasa karena tradisi masyarakat tengger yang tetap berpegang teguh pada adat istiadat dan budaya yang menjadi pedoman hidupnya. Upacara Kasada terkenal hingga manca negara dan selalu ramai di hadiri turis luar negeri maupun lokal.

Suku Tengger berjumlah sekitar 40 ribu (1985) tinggal di lereng G.Semeru dan di sekitar kaldera Tengger. Mereka sangat dihormati karena mereka hidup jujur, tidak iri hati, dan tidak suka bertengkar. Masyarakat Tengger adalah keturunan Roro Anteng (putri raja Majapahit) dan Joko Seger (putera seorang brahmana).More…Mereka sangat menjunjung tinggi persamaan, demokrasi, dan kehidupan bermasyarakat. Bahasa daerah yang digunakan Masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa Jawa Tengger, yakni bahasa Jawa Kuno. Mereka tidak menggunakan tingkatan bahasa, berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai pada umumnya memiliki beberapa tingkatan.

 

3.1. Seni Dan Tradisi kebudayaan masyarakat Tengger

Tengger dikenal sebagai tanah hila-hila (suci) sejak jaman Majapahit, para penghuninya dianggap sebagai abdi dibidang keagamaan dari Sang Hyang Widi Wasa. Hingga kini Masyarakat masih mewarisi tradisi Hindu sejak jaman kejayaan Majapahit. Agama Hindu di Bali dan di Tengger pada dasarnya sama yaitu Hindu Dharma, tetapi Masyarakat Tengger tidak mengenal kasta, dan masih menganut tradisi yang pernah berkembang pada jaman Majapahit.

Tidak seperti halnya masyarakat Hindu di Bali, Masyarakat Tengger tidak memiliki Istana, pustaka, maupun kekayaan seni-budaya tradisional, meski memiliki beberapa obyek penting semacam lonceng perunggu dan sebuah padasan di lereng bagian utara Tengger yang telah menjadi puing. Namun demikian mereka kaya akan kepercayaan dan upacara adat, diantaranya ialah:

Orang Tengger kaya akan upacara adat tetapi hampir tidak memiliki produk kesenian. Upacara adat yang sampai saat ini masih diselenggarakan di wilayah Tengger adalah sebagai berikut.
Perayaan Kasada atau hari raya Kasada atau Kasodoan yang sekarang disebut Yadnya Kasada, adalah hari raya kurban orang Tengger yang diselenggarakan pada tanggal 14, 15, atau 16, bulan Kasada, yakni pada saat bulan purnama sedang menampakkan wajahnya di lazuardi biru. Hari raya kurban ini merupakan pelaksanaan pesan leluhur orang Tengger yang bernama Raden Kusuma alias Kyai Kusuma alias Dewa Kusuma, putra bungsu Rara Anteng dan Jaka Seger, yang telah merelakan dirinya menjadi kurban demi kesejahteraan ayah, ibu, serta para saudaranya. Kasodoan merupakan sarana komunikasi antara orang Tengger dengan Hyang Widi Wasa dan roh-roh halus yang menjaga Tengger. Komunikasi itu dilakukan melalui dukun Tengger, pewaris aktif tradisi Tengger.Kepergian dukun Tengger ke Bromo bukan hanya untuk berdoa, melainkan juga untuk minta berkah kepada yang menjaga Gunung Bromo. Permintaan itu ditujukan kepada Sang Dewa Kusuma yang dikurbankan (dilabuh) di Kawah Bromo. Selain meminta sesuatu, dukun Tengger juga memberi sesuatu, yaitu melaksanakan amanat Raden Kusuma yang diucapkan pada masa lalu yang berbunyi sebagaiberikut:
“Dulurku sing isih urip ana ngalam donya, ngalam padang, mbesuk aku saben wulan Kasada kirimana barang samubarang sing ana rupa tuwuh, rupa sandhang pangan, saanane sandhang pangan sing rika pangan ana ngalam donya, weruh rasane, apa sing rika suwun mesti keturutan kekarepane rika, ya keturutan panjaluke rika ya mesti kinabulna.” (“Saudara-saudaraku yang masih hidup di dunia, di alam terang, kelak setiap bulan Kasada, kirimkan kepadaku hasil pertanianmu, dan makanan yang kalian  makan di dunia, agar aku dapat merasakannya. Keinginanmu dan permintaanmu pasti kukabulkan”).

 

3.2.Sejarah Tradisi Perayaan Kasada

Dikisahkan, konon ada sepasang suami-isteri bernama Jaka Seger dan Raya Anteng, yang disatukan dari identitas dan status sosial yang berbeda. Jaka Seger adalah seorang pemuda dari Tengger, sedangkan Rara Anteng adalah salah satu kerabat dari Keraton Majapahit.

Setelah beberapa tahun usia perkawinan, keduanya tidak kunjung dikaruniai keturunan. Keduanya lalu bersemadi dan memohon agar segera diberikan keturunan, disertai ikrar kepada roh penjaga Gunung Bromo bila doanya terkabul akan melakukan pengorbanan. Permohonan tersebut ternyata dikabulkan, bahkan mereka dikaruniai keturunan berjumlah dua puluh lima orang. Untuk memenuhi janjinya, sepasang suami-istri itupun menyerahkan anam bungsunya bernama Dewa Kusuma untuk dikorbankan kepada roh Gunung Bromo.

Sepenggal kisah inilah yang menjadi asal-usul ritual Kasada, dan diperingati setiap tahun oleh komunitas Tengger (yang berarti pula anak cucu Rara Anteng dan Jaka Seger). Tidak lain tidak bukan, ritual ini diperuntukkan untuk mengenang pengorbanan yang dilakukan oleh Dewa Kusuma. Cerita mengenai Rara Anteng dan Jaka Seger dalam ritual Kasada biasanya disampaikan menjelang puncak perayaan Kasada, berupa larung sesaji secara massal di kawah Gunung Bromo.

Dari kisah Rara Anteng dan Jaka Seger inilah keseluruhan makna identitas Tengger selama ini dikonstruksikan. Hefner misalnya, dengan merujuk sumber-sumber dan catatan kolonial, menyatakan bahwa sebagian orang Tengger adalah orang-orang Majapahit yang mencari perlindungan dari serangan kerajaan Islam Demak. Perjumpaan dua “saudara” ini lalu dimaknai sebagai simbol pertemuan dua identitas yang mengharapkan kesuburan, kemakmuran, dan keberlangsungan rantai generasi mereka.

Di kalangan dukun-dukun Tengger sendiri, makna Kasada memiliki versinya sendiri, walau secara “resmi” tidak menolak kisah Rara Anteng dan Jaka Seger. Menurut Mujono (Dukun Ngadas {lor}, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo), ritual Kasada menyiratkan banyak makna di antaranya untuk mengingat pengorbanan leluhur, dan persembahan terhadap Yang Maha Kuasa guna memperoleh berkah kesuburan dan perlindungan.

Namun demikian selain cerita legenda yang sebenarnya banyak memuat versi tersebut, ritual Kasada secara sosiologis sebenarnya juga menjadi momen perjumpaan. Sebab, melalui ritual Kasada seluruh warga Tengger dari empat Kabupaten yang mengiris wilayah dataran tinggi Tengger berkumpul bersama. Tepat tanggal 15 saat bulan purnama, warga Tengger dari Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang menyatu dan melakukan puja bakti di Poten yang terletak di pinggir kawah Bromo.

Rangkaian upacara yang rumit dan dilakukan secara massal inilah yang sebenarnya membuat daya tarik Kasada amat besar. Paduan antara keelokan Bromo dan keagungan tradisi wong Tengger memendarkan keagungan yang mengundang rasa takjub semua orang.

Karena itu rasanya tidak mengherankan, bila ritual Kasada juga dimaknai oleh berbagai pihak dengan cara yang berbeda-beda. Proses modernisasi dan realitas ekonomi dan politik mutakhir telah ikut meletakkan ritual Kasada dalam ruang baru dengan aneka makna dan tafsir bagi para “penikmatnya”. Nasib tak dapat ditolak, dalam ruang yang baru ini Kasada kini menjadi arena pertarungan berbagai kepentingan, dan perebutan berbagai makna yang mengiringi kehidupan komunitas Tengger.

Pengorbanan Dewa Kusuma sebagai representasi leluhur Tengger juga menandai proses pemujaan terhadap arwah setiap leluhur Tengger yang telah meninggal. Biasanya pemujaan ini dihelat melalui ritual entas-entas, atau mengentaskan arwah leluhur yang telah meninggal agar memperoleh alam surgawi. Sementara Kasada lebih menekankan pada pengentasan arwah leluhur mereka, yang diritualkan secara massal.

Hari kedua sejak kedatanganku di Tengger, aku diajak oleh para pemuka dukun Tengger untuk melakukan ritual pujan kasada. Ritual ini dilakukan di Desa Wonokerso. Letaknya di atas gunung. Walau dapat dijangkau dengan hardtop, namun punggungku terasa patah, sebab hampir dua jam perjalanan jalanan seperti ikut offroad. Bagitu tiba ditempat ritual, oleh warga desa aku disambut sejajar dengan para dukun, sebab aku datang bersama rombongan dukun. Aku mengikuti ritual ini, termasuk juga gerak-gerak ritualnya. Padahal ritual ini dilaksanakan hari Jumat siang, dan tak jauh dari tempat aku menjalankan ritual ini terdapat masjid yang sedang menjalankan Jumat’an. Aku ternyata cukup enjoy menjalankan ritual ini. Ini adalah permulaan yang cukup baik untuk semakin menjalin hubungan kekerabatan dengan wong Tengger.

 

3.3. Makna kasada

          Bagi warga Tengger Upacara Kasada atau Hari Raya Kasada atau Kasodoan adalah Upacara yang dilakukan oleh Masyarakat Tengger untuk memperingati Pengorbanan diri Raden Kusuma ( Hadi Kusuma ) putra ke 25 pasangan Joko Seger dan Loro Anteng, yang telah merelakan dirinya untuk berkorban demi Kesejahteraan Ayah , Ibunya serta saudara – saudaranya.

Dalam kepercayaan Hindu sekte Tengger, Gunung Bromo adalah alat pemersatu dan berkah hidup yang senantiasa memberi perlindungan dan kesejahteraan masyarakat Suku Tengger. Suburnya tanah pertanian dan harmonisnya kehidupan di sini, paling tidak telah menjadi bukti yang dipercaya mereka sebagai berkah dari roh para leluhur yang bersemayam di kawah Gunung Bromo.Kuatnya keyakinan itulah yang membuat kawasan Gunung Bromo, pada hari-hari biasa tetap saja ramai dikunjungi warga masyarakat baik yang datang dari Suku Tengger sendiri maupun masyarakat luar. Mereka, umumnya datang karena suatu hajat tertentu atau sekedar menunaikan nadzar pribadi dengan mempersembahkan sesaji, berupa hasil pertanian seperti kubis, wortel, sawi, kentang,dan binatang peliharaan seperti ayam, untuk dilemparkan ke kawah Gunung Bromo.

Menurut tata cara adat Suku Tengger, sebelum sesaji tersebut dibuang dan diperebutkan di kawah Bromo, sesaji harus diberi mantera di Pure Luhur Poten sesuai hajat orang bersangkutan. Baru kemudian sesaji yang berupa hasil bumi dan peternakan dipersembahkan,dengan harapan, semua keinginannya dapat dikabulkan oleh yang mbaurekso atau penguasa kawah Gunung Bromo.

Tradisi seperti ini sudah dilakukan masyarakat Tengger secara turun-turun, sejak ratusan tahun lalu, baik tradisi upacara persembahan sesaji secara pribadi maupun upacara akbar yang lebih kita kenal dengan nama Perayaan Yadnya Kasada. Sebuah ritual agama Hindu yang dilaksanakan pada setiap bulan 12 menurut Tarikh Caka, penanggalan khusus warga Tengger.

Hari Raya Kasada ini dilakukan sebagai ungkapan syukur Suku Tengger terhadap sang pencipta, Yang Widi Wasa, atas berkah dan rezeki yang diberikan. Juga penghormatan kepada nenek moyang mereka, yakni Joko Seger dan Roro Anteng, yang rela mengorbankan putra bungsunya demi kedamaian hidup anak keturunannya yang mendiami kawasan Gunung Bromo.

Dalam semedinya mereka mendengar suara gaib yang memberitahukan bahwa mereka akan diberi keturunan sebanyak 25 anak, dengan syarat, harus rela menyerahkan anak bungsunya yakni Dewa Kusuma untuk dikorbankan pada bulan Kasada, bulan purnama 14 tepat putih wetan atau subuh. Namun setelah hari yang dijanjikan, Dewa Kusuma yang sudah berusia 10 tahun, tidak juga dikorbankan oleh kedua orang tuanya, Joko Seger dan Roro Anteng. Mereka tidak memenuhi janjinya. Rasa takut kehilangan anak, membuat mereka membawa ke 25 anaknya diungsikan ke Gunung Pananjakan.

Sebagai wujud teguran dewata terhadap kelalaian Joko Seger, Gunung Bromo diletuskan dan jilatan apinya menyambar dan membawa pergi Dewa Kusuma ke dalam kawah Gunung Bromo. Melalui suara gaibnya, Dewa Kusuma berpesan kepada seluruh saudaranya di sekitar Poten agar mereka hidup rukun dan meminta warga Tengger menyerahkan sebagian hasil buminya kepadanya.

Sejak saat itulah bulan Kasada, bulan ke 12 menurut penanggalan versi Tengger dijadikan sebagai hari raya keagamaan Hindu Tengger, Yadnya Kasada, hari kurban yang sakral. Meskipun Yadnya Kasada, bukan termasuk hari raya terbesar dalam tradisi Hindu Tengger, namun mempunyai makna khusus dalam hidup mereka. Terutama ajarannya tentang sikap rela berkorban dan menjaga keseimbangan hidup antar sesama manusia dan juga dengan alam sekitarnya dipegang teguh secara turun-menurun oleh Suku Tengger.

Karena itu, tiap-tiap kerusakan yang timbul baik di masyarakat maupun alam sekitar oleh orang Tengger harus dipandang sebagai pengingkaran terhadap ajaran tadi. Bahkan gejala alam, seperti meletusnya Gunung Bromo yang memuntahkan debu vulkanik beberapa waktu lalu, ditafsirkan oleh sebagian orang Hindu Tengger, sebagai pertanda kurdho atau murkanya penguasa Bromo pada tahap paling dini. Sebab bagi mereka peningkatan aktivitas Bromo tidak semata peristiwa alam biasa, namun juga mengandung pesan peringatan. Mungkin akibat kelalaian prilaku atau karena berkurangnya sesaji yang dipersembahkan oleh warga masyarakat Tengger ke kawah Gunung Bromo.

Menurut tata cara adat masyarakat Tengger, setiap Hari Raya Kasada, tiap-tiap desa harus menyiapkan satu ongkek, yang nantinya akan dibawa oleh dukun mereka ke Pure Luhur Poten. tapi jika dalam bulan Kasada di satu desa terdapat musibah kematian, maka ongkek tidak bisa dibuat, karena kematian dianggap sebagai peristiwa yang mengotori Perayaan Kasada.

Setelah semua persiapan rampung, tepat tengah malam, umat Hindu Tengger mulai bergerak dari Pendopo agung. Mereka berjalan kaki secara beriringan menuju ke Pure Luhur Poten yang jaraknya sekitar 8 kilometer, mendaki kaki Gunung Bromo yang berpasir. Ribuan warga Tengger ini, pria, wanita,tua, muda bahkan bocah kecil, berjalan sambil membawa berbagai hasil bumi yang mereka tanam di ladang masing-masing untuk kemudian dipersembahkan ke sang leluhur, Dewa Kusuma yang bersemayam di kawah Gunung Bromo. Sebelum sampai di kawah, sesaji tersebut singgah dulu di Pure Luhur Poten untuk diberi mantera keselamatan oleh para dukun. Kemudian dengan diterangi oncor dan obor, dan diiringi gamelan Kepyak, yang bergemerincing, dan tetabuhan Ketipung, para dukun dan warga Tengger mendaki kawah dengan khidmat, kemudian secara bergantian melemparkan sesaji ke kawah Gunung Bromo.

Namun apapun upacara Yadnya Kasada yang rutin diselenggarakan masyarakat Tengger ini adalah cermin mereka dalam menjaga keharmonisan hidup sehari-hari dengan alam, terutama dengan sang pencipta, yang utuh mengatur alam dan manusianya. Harmoni kehidupan masyarakat Suku Tengger di pegunungan dan kawasan perbukitan Gunung Bromo ini, setidaknya secara kasat mata masih berlangsung. Namun ini bukan berarti tanpa ancaman.

Secara budaya, peradaban masyarakat Tengger ini, telah lama terkepung oleh beragam budaya lain di luar Tengger. Terbilang sulit untuk tidak bersentuhan sama sekali dengan perkembangan budaya global, yang cenderung tidak berbatas. Kekhawatiran tradisi-tradisi ritual yang berkaitan dengan alam dan kehidupan sosial orang Tenggerakan hilang, sudah lama muncul. Secara geografis saja, desa-desa yang dulu dikenal sebagai Desa Tengger, kini tidak lagi bisa dikatakan sebagai desa orang Tengger. Sejumlah pendatang telah telah mendiami desa-desa ini. Padahal, berdasarkan kriteria yang selama ini banyak dipakai untuk menggambarkan masyarakat Tengger, adalah mereka yang beragama Hindu dan masih memegang teguh adat istiadat Tengger.

Terbukanya kawasan Tengger sebagai obyek pariwisata, banyak disebut-sebut menjadi ancaman nyata buat masyarakat Tengger, bila ingin mempertahankan peradagannya. Orang kota, atau Orang Ngare, dalam sebutan masyarakat setempat, atau orang yang hidup di dataran rendah, menurut kepercayaan orang Tengger dianggap telah tercemar virus kapitalisme, yang banyak menawarkan berbagai kesenangan.Pola hidup masyarakat agraris, masih dipegang oleh sebagian masyarakat Tengger. Mereka masih mengolah lahan pertaniannya dengan menanam berbagai jenis tanaman sayuran.

`Namun, terbukanya kawasan Tengger ini sebagai obyek pariwisata, akhirnya menawarkan pilihan lain buat masyarakat Tengger. Tidak sedikit yang mengalihkan usahanya dengan menyewakan kendaraan roda empatnya. Ataupun menyewakan kuda ternak mereka kepada para pelancong. Atau merubah rumah kediamannya menjadi homestay,dengan omset yang cukup besar.

BAB IV

ANALISA DAN KESIMPULAN

 

4.1. Analisis

Masyarakat Tengger masih menganut kepercayaart yang bersifat tradisional dengan melakukan berbagai upacara, antara lain Kusada, Karo, Entas-entas, Unan-unan, perkawinan, kematian, pendirian rumah, dan sebagainya. Berbagai upacara itu pada hakikatnya adalah untuk memohon keselamatan dunia dan akhirat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keselamatan di dunia termasuk kelangsungan hidup dalam rumah tangga dan perkawinan, bertetangga, menempati rumah, keberhasilan dalam bertani, pembersihan dari dosa, dan sebagainya. Sedangkan keselamatan akhirat berkaitan dengan terbebasnya dari kesengsaraan negara untuk dapat masuk surga atau moksa.
Isi mantra yang diucapkan dalam berbagai upacara adat menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Tengger masih kuat dalam melaksanakan ibadah berdasarkan agama Hindu, meskipun pada waktu itu tidak ada pendeta, pedanda resi, ataupun biksu. Upacara-upacara adat dipimpin oleh pada dukun sebagai kepala adat. Meskipun mantra yang diucapkan diawali dengan kata Hong, namun sangat jelas isinya cenderung bersifat agama Hindu. Terlebih-lebih dengan digunakannya Gunung Bromo sebagai arah beribadah, seperti telah diuraikan dalam legenda bahwa Bromo identik dengan pengertian Dewa Brahma yang merupakan manifestasi dari sifat Tuhan sesuai dengan ajaran agama Hindu.
Anggapan bahwa masyarakat Tengger sebelum dibina dan dinyatakan sebagai pemeluk agama Hindu adalah pemeluk Agama buda tidak sepenuhnya salah. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian Nancy atas mantra yang sering digunakan dalam upacara-upacara.
Pada tahun 1973 setelah diadakan pembinaan agama oleh pemerintah, dengan ditetapkannya agama Hindu sebagai dasar pembinaan masyarakat Tengger, maka rakyat Tengger telah terbiasa melaksanakan ibadah agama Hindu Dharma seperti yang dikembangkan di Bali. Sampai saat ini telah dibangun beberapa pura di Kecamatan Tosari dan Kecamatan Sinduro, sedangkan daerah lain masih menggunakan sanggar sebagai tempat beribadah.
Masyarakat Tengger terhadap pemeluk agama lain cukup tinggi. Mereka tetap mampu mempertahankan tradisi lamanya dalam melaksanakan ibadah, meskipun masyarakat sekitarnya telah memeluk agama lain dan mengubah tradisinya. Sikap hidup berdampingan dengan penganut agama lain dapat dikaji dari sesantinya: geblag lor dan geblag kidul, sebagai pernyataan bahwa masyarakat bagian utara Tengger telah memeluk agama islam, sedangkan sebelum tahun 1973 masyarakat Tengger tetap dengan tradisinya. Atas dasar kenyataan ini, maka pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi itu perlu terus dilakukan serta hasilnya dikembangkan sesuai dengan alam modern.
Upacara adat yang bersifat umum dan besar adalah Kasada, Karo dan Unan-unan. Upacara Kasada dan Karo dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada bulan ke-12 dan ke-2 menurut penanggalan Tengger, sedangkan upacara Unan-unan dilaksanakan setiap lima tahun sekali, satu windu tahun wuku.

Upacara Kasada dilakukan di kaki Gunung Bromo di lembah lautan pasir pada bulan ke-12. Setelah berdoa tengah malam, upacara ini diakhiri dengan menyajikan korban ke kawah Gunung Bromo sebagaimana dipesankan oleh leluhurnya, Raden Kusumaputra Rara Anteng dan Jaka Seger. Korban itu berupa buah-buahan dan hasil bumi lainnya demi keselamatan masyarakat dan anak-cucu masyarakat Tengger.  Upacara Kasada, selain untuk persembahan dan penyajian korban di Gunung Bromo, juga digunakan untuk penyumpahan dan pelantikan dukun baru. Di samping itu bisa juga diadakan pelantikan para pejabat pemerintahan atau orang terhormat lainnya yang diangkat oleh masyarakat Tengger sebagai pinisepuh. Upacara Kasada dianggap sebagai saat yang tepat untuk memamerkan objek wisata Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, karena dapat menarik perhatian orang dari berbagai daerah dan mancanegara untuk berkunjung menyaksikan upacara adat di Tengger. Dengan demikian, sekaligus dapat menunjukkan keindahan Bromo dan alam sekitarnya kepada para pengunjung.

4.2 Kesimpulan

Budaya merupakan hasil karya manusia berupa daya dari budi yang berupa cipta,karsa dan rasa. Sedang kebudayaan itu segala hasil dari cipta, karsa dan rasa itu. Setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dari dari berbagai keanekaragaman itu memiliki prinsip dan tujuan yang sama yaitu mengakui adanya ciptaan manusia.

Anggapan bahwa masyarakat Tengger sebelum dibina dan dinyatakan sebagai pemeluk agama Hindu adalah pemeluk Agama buda tidak sepenuhnya salah.Dan menurut masyarakat tengger, kalau meninggalkan upacara perayaan kasada akan timbul bencana, Menurut tata cara adat masyarakat Tengger, setiap Hari Raya Kasada, tiap-tiap desa harus menyiapkan satu ongkek, yang nantinya akan dibawa oleh dukun mereka ke Pure Luhur Poten. tapi jika dalam bulan Kasada di satu desa terdapat musibah kematian, maka ongkek tidak bisa dibuat, karena kematian dianggap sebagai peristiwa yang mengotori Perayaan Kasada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Notowidagdo,Drs.H Rahman. 2000.  Ilmu Budaya Dasar, Jakarta PT Raja Grafindo Persada

Soekanto,Soerjono. 2004. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 

http://Wikipedia.org.com

 

http://clubbing.kapanlagi.com/archive/index.php/t-28685.html

 

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=1356&Itemid=71


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: