FIQIH MUNAKAHAT” NIKAH “

xBAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Menikah dan kehidupan berkeluarga merupakan salah satu sunnatullah terhadap makhluk, yang mana dia merupakan sesuatu yang umum dan mutlak dalam dunia kehidupan hewan serta tumbuh-tumbuhan.adapun manusia: bahwasanya Alla tidak menjadikannya seperti apa yang ada pada kehidupan selainnya yang bebas dalam penyaluran syahwat, bahkan menentukan beberapa peraturan yang sesuai dengan kehormatannya, memelihara kemuliaan dan menjaga kesuciaannya, yaitu dengan melakukan pernikahan syar’i yang menjadikan hubungan antara seorang pria dengan seorang wanita merupakan hubungan mulia, dilandasi oleh keridhoan, dibareng oleh ijab kabul, kelembutan serta kasih sayang.Sehingga bisa menyalurkan syahwatnya dengan cara benar, menjaga keturunan dari kerancuan dan juga sebagai penjagaan bagi wanita agar tidak dijadikan sebagai mainan bagi setiap orang yang menjamahnya.

Tuhan tidak mau menjadikan manusia seperti makhluk lainnya, yang hidup bebas mengikuti nalurinya yang berhubungan antara jantan dan betinanya secara anarkitanpa ada satu aturan.Oleh karena itu, untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan manusia,Allah SWT mewujudkan hukum yang sesuai dengan martabatnya.Sehingga hubungan antara pria dan wanita diatur secara terhormat danberdasarkan saling meridhoi,dengan upacara ijab dan qabul sebagai lambang dari adanya rasa saling meridhoi serta dihadiri oleh para saksi yang menyaksikan bahwa kedua pasangan tersebut telah saling terikat.

Salah satu kunci keluarga bahagia yaitu adanya pemahaman dan pelaksanaan hak dan kewajiban suami istri di dalam bahtera rumah tangga. Diperlukan kerjasama antara suami dan istri dalam membangun keharmonisan rumah tangganya. Tak lupa pula didasari dengan agama, keluarga tersebut akan menjadi sakinah. Seorang suami yang beriman akan mampu menjadi kepala rumah tangga yang baik dan kelak membawa keluarganya menuju syurga. Seorang istri yang sholehah tentunya yang selalu taat pada suaminya serta mampu membawa keluarganya senantiasa dalam kebaikan.

Suami sebagai pemimpin rumah tangga memiliki hak-hak yang didapatkan dari istri dan anak-anaknya. Istri menghormati suami, dan anak-anak menghormati ayahnya.

Bentuk pernikahan ini telah memberikan jalan yang aman pada naluri (seks), memelihara keturunan dengan baik dan menjaga kaum wanita menjadi aksana rumput yang bisa dimakan oleh binatang ternak seenaknya.Pergaulan suami istri diletakkan di bawah naungan naluri keibuan dan kebapaan sehingga nantinya akan menghasilkan tmbuh tumbuhan yang biak dan buah yang bagus. Peraturan dan pernikahan yang seperti inlah yang diridhoi Allah dan diabadikan islam untuk selamanya, sedangakan yang lainnya di batalkan.

Oleh karena itu penting kami menyusun makalah ini karena keharmonisan rumah tangga bagaikan bagunan misi kenabian jika bangunan runtuh, maka akan runtuh misi kemanusiaan. Jika dalam keluarga menetapkan hak dan kewajiban masing- masing, keluarga sakinah sebagai tujuan manusia berkeluarga akan terwujud.

 

1.2              Rumusan Masalah

Adapun rumusan malasah dalam makalah ini adalah :

1. Bagaimanakah kewajiban suami terhadap istri ?

2. Bagaimanakah hak suami terhadap isteri ?

3. Bagaimanaka hak suami istri ?

4. Bagaimanakah hukum dalam pernikahan ?

1.3        Tujuan

  Adapun tujuan dari makalah ini adalah : 

1. Mengetahui kewajiban suami terhadap istri.

2. Mengetahui hak suami terhadap isteri.

3. Mengetahui hak suami istri.

 4. Mengetahui hukum dalam pernikahan.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Keutamaan Menikah

Sebelumnya akan dijelaskan defenisi dari penikahan/munakahat. Dalam bahasa Indonesia, perkawinan berasal dari kata “kawin” yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh. Perkawinan disebut juga “pernikahan’’, berasal dari kata Nikah (نِ كَا ح) yang menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh (wathi).[1]Kata “nikah “ sendiri sering digunakan untuk arti bersetubuh juga untuk arti akad nikah.

            Menurut syara’ yaitu akad yang ditetapkan syara’ untuk membolehkan untuk bersenang-senang antara laki-laki dan perempuan dan menghalalkan bersenang-senangnya perempuan dengan laki-laki[2].

            Menurut Istilah syara’ ialah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan seksual dengan lafadz nikah atau dengan kata-kata yang semakna dengannya[3].

 

Menikah termasuk dari sunnah yang paling ditekankan oleh setiap Rasul, dan juga termasuk dari sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.  Allah berfirman :

 

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ  

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram  kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-Ruum: 21)

 

 

 

ô‰s)s9ur $uZù=y™ö‘r& Wxߙ①`ÏiB y7Î=ö6s% $uZù=yèy_ur öNçlm; %[`ºurø—r& Zp­ƒÍh‘èŒur 4

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rosul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan ..” (Ar-Ra’d: 38)

 

 Berkata Abdullah bin Mas’ud r.a: suatu ketika kami beberapa orang pemuda sedang bersama Nabi SAW dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, berskatalah kepada kami Rasulullah SAW “Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kalian yang telah mampu hendaklah dia menikah, karena yang demikian itu lebih

menjaga pandangan dan lebih menjaga kemaluannya, dan barang siapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa, karena itu merupakan benteng baginya” (Muttafaq Alaihi)

 Nikah: Adalah ikatan syar’i yang menghalalkan percumbuan dari setiap suami dan isteri.

 

2.2       Akad Nikah,Rukun Dan Syaratnya

Ketika ingin menikah,seorang laki laki di sunahkan untuk mengajukan pinangan terlebih dahulu dari pihak yang bersangkutan atau pihak lain yang hadir di tempat pihak wanita.[4]

            Sedangkan yang temasuk rukun akad nikah ada 3 hal yaitu :

 

  1. Adanya calon mempelai wanita dan mempelai pria yang tidak memiliki hambatan untuk mengadakan akad nikah yang sah.
  2. Adanya ijab atau penyerahan,yaitu lafazh yang di ucapkan oleh seorang wali dari pihak seorang wanita atau pihak yang diberika kepercayaan dari pihak wanita.
  3. Adanya Qobul atau penerimaan,yaitu suatu lafazh yang berasal dari calon mempelai pria atau telah mendapat kepercayaan dari pihak mempelai pria.

 

Pernikahan orang bisa di anggap sah bila diakukan dengan tulisan atau dengan isyarat yang jelas dan bisa di pahami.Jika ijab qobul itu telah terpenuhi,maka nikah itu menadi sah menurut agama walaupun orang yang mengucapkan itu main main dan tidak bermaksud untuk benar benar menikah.Sebagaimana sabda Rasullah :

ثَلَا ثٌ هَزْ لُهُنَّ جِدُّ , وَ جِدُّ هَنَّ جِدُّ : الطَلَا قُ  وَ النِّكَا حُ وَ الرَّ جْعَةُ  ( التَّرْ مِذِ ي )

”Ada tiga hal yang ketika main main itu harus benar benar terjadi,dan ketika sungguh sungguh juga harus benar tejadi, yaitu talak , nikah dan rujuk”. (HR.Turmudzi)

            Dan syarat sahnya nikah ada 4 hal, yaitu :

  1. Calon kedua mempelai telah diketahui dengan jelas.
  2. Kedua calon mempelai telah ikhlas atau ridho satu sama lain.Nikah tidak akan sah jika ada unsur paksaan dari satu pihak,Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra :

لَا تَنْكَحُ الأَ يَمَ حَتَّ تُسْتَأْ مَرَ , وَلَا الْبِكْرَ حَتَّى تُسْتَأْ ذَ نَ (متّفق عليه)

Jangan kamu nikahi seorang janda sebelum ia diajak berunding dan jangan kamu menikahi seorang gadis kecuali ia telah memberi izin dan rela”(mutafaqun alaih)

  1. Adanya wali bagi wanita untuk menikahkannya,Sabda Rasululah SAW :

لَا نِكَا حَ إِ لاَّ بِوَ لٍى  ( ر وا ه الخمسة إ الا النسَا ء ي)

”Tidak sah nikah seorang wanita tanpa adanya seorang wali.”(lima imam hadits,kecuali An-nasa’i) 

2.3       Mahar Atau Mas Kawin Dalam Nikah

Mahar atau mas kawin adalah harta atau pekerjaan yang diberikan oleh seorang  laki laki kepada seorang perempuan sebagai pengganti dalam sebuah pernikahan menurut kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak, atau berdasarkan ketetapan dari si hakim. Dalam bahasa Arab, mas kawin sering disebut dengan istilah mahar, shadaq, faridhah dan ajr. [5]

Mas kawin disebut dengan mahar yang secara bahasa berarti pandai, mahir, karena dengan menikah dan membayar mas kawin, pada hakikatnya laki-laki tersebut sudah pandai dan mahir, baik dalam urusan rumah tangga kelak ataupun dalam membagi waktu, uang dan perhatian.

Mas kawin juga disebut shadaq yang secara bahasa berarti jujur, lantaran dengan membayar mas kawin mengisyaratkan kejujuran dan kesungguhan si laki-laki untuk menikahi wanita tersebut.

Mas kawin disebut dengan faridhah yang secara bahasa berarti kewajiban, karena mas kawin merupakan kewajiban seorang laki-laki yang hendak menikahi seorang wanita.

 Mas kawin juga disebut dengan ajran yang secara bahasa berarti upah, lantaran dengan mas kawin sebagai upah atau ongkos untuk dapat menggauli isterinya secara halal.

Para ulama telah sepakat bahwa mahar hukumnya wajib bagi seorang laki-laki yang hendak menikah, baik mahar tersebut disebutkan atau tidak disebutkan sehingga si suami harus membayar mahar mitsil. Dalam Al Qur’an disebutkan juga dalam surat An- Nisa’:4 yang berbunyi :

(#qè?#uäur uä!$|¡ÏiY9$# £`ÍkÉJ»s%߉|¹ \’s#øtÏU 4 bÎ*sù tû÷ùÏÛ öNä3s9 `tã &äóÓx« çm÷ZÏiB $T¡øÿtR çnqè=ä3sù $\«ÿ‹ÏZyd $\«ÿƒÍ£D ÇÍÈ  

”Berikanlah mas kawin(mahar)kepada wanita yang kamu nikahi sebagai pemberian  dengan penuh kerelaan”.(An nisa’4)

 Oleh karena itu, pernikahan yang tidak memakai mahar, maka pernikahannya tidak sah karena mahar termasuk salah satu syarat sahnya sebuah pernikahan.

Mas kawin tidak mesti berupa uang atau harta benda, akan tetapi boleh juga hal-hal lainnya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini hal-hal yang dapat dijadikan mas kawin atau mahar :

1. Semua benda atau alat tukar (uang) yang dapat dijadikan harga dalam jual beli seperti uang atau benda-benda lainnya yang biasa diperjualbelikan dengan syarat benda atau uang tersebut, halal, suci, berkembang, dapat dimanfaatkan dan dapat diserahkan.

Oleh karena itu, harta hasil curian, tidak dapat dijadikan mas kawin karena ia barang haram bukan halal. Demikian juga, peternakan babi tidak dapat dijadikan mas kawin karena bendanya tidak suci. Piutang yang belum jelas kembalinya, juga tidak dapat dijadikan mas kawin lantaran tidak dapat diserahkan. Point pertama ini didasarkan kepada ayat berikut ini:

¨@Ïmé&ur Nä3s9 $¨B uä!#u‘ur öNà6Ï9ºsŒ br& (#qäótFö6s? Nä3Ï9ºuqøBr’Î/

“Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu” (QS. An-Nisa: 24).

Dan sabda Nabi SAW :

تَزَ وَّ جْ وَ لَوْ بِخَا تَمٍ مِنْ حَدِ يْدٍ ( رِ وَا ه البخر ى )

“Kawinlah engkau walaupun dengan mas kawin cincin dari besi (H.R Bukhori)”.

 

 

2. Semua pekerjaan yang dapat diupahkan.

Menurut Madzhab Syafi’i dan Hanbali, pekerjaan yang dapat diupahkan, boleh juga dijadikan mahar. Misalnya, mengajari membaca al-Qur’an, mengajari ilmu agama, bekerja dipabriknya, menggembalkan ternaknya, membantu membersihkan rumah, ladang atau yang lainnya. Misalnya, seorang laki-laki berkata: “Saya terima pernikahan saya dengan putri bapak yang bernama Siti Maimunah dengan mas kawin akan mengajarkan membaca al Qur’an kepadanya selama dua tahun, atau dengan mas kawin mengurus ladang dan ternaknya selama dua bulan“. Akan tetapi menurut Abu Hanifah dan Imam Malik, mahar dengan pekerjaan yang dapat diupahkan hukumnya makruh (dibenci). dengan mas kawin bekerja untuk laki-laki tua itu (calon mertuanya) selama delapan tahun

 

  1. Membebaskan budak.

Menurut Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Imam Daud ad-Dhahiry, bahwa membebaskan budak dapat dijadikan sebagai mas kawin. Maksudnya, apabila seseorang hendak menikahi seorang wanita yang masih menjadi budak belian, kemudian ia membebaskannya dan menjadikan pembebasannya itu sebagai mas kawinnya, maka boleh-boleh saja. Sedangkan menurut sebagian ulama lain, membebaskan budak tidak boleh dijadikan sebagai mas kawin.

 

2.4       Pengertian Kewajiban dan Hak

Kewajiban adalah pembatasan atau beban yang timbul karena hubungan dengan sesama atau dengan Negara

 Hak adalah kepentingan yang dilindungi oleh hukum yang memberikan keleluasaan kepada seseorang untuk melaksanakannya

 

2.5         Hak dan kewajiban Suami terhadap  Isteri

 

 Dalam pernikahan terdapat adab serta hak bagi kedua belah fihak: yaitu setiap dari mereka harus melaksanakan segala hak yang dimiliki oleh pasangannya, dia harus memperhatikan kewajiban yang harus dilaksanakannya, guna tercapainya kebahagiaan, meningkatnya kehidupan dan tenangnya keluarga. Allah berfirman QS.Al-baqarah 228 :

àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr’Î/ spsW»n=rO &äÿrãè% 4 Ÿwur ‘@Ïts† £`çlm; br& z`ôJçFõ3tƒ $tB t,n=y{ ª!$# þ’Îû £`ÎgÏB%tnö‘r& bÎ) £`ä. £`ÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 £`åkçJs9qãèç/ur ‘,ymr& £`ÏdÏjŠtÎ/ ’Îû y7Ï9ºsŒ ÷bÎ) (#ÿrߊ#u‘r& $[s»n=ô¹Î) 4 £`çlm;ur ã@÷WÏB “Ï%©!$# £`ÍköŽn=tã Å$rá÷èpRùQ$$Î/ 4 ÉA$y_Ìh=Ï9ur £`ÍköŽn=tã ×py_u‘yŠ 3 ª!$#ur ͕tã îLìÅ3ym ÇËËÑÈ  

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al-Baqarah: 228).

Suami diwajibkan untuk memberi nafkah kepada isteri serta anak-anaknya, dan juga apa yang menyertainya dari pakaian serta rumah dengan wajar, dia haruslah seorang yang baik dalam berbudi, bergaul bersama keluarga, menjadi pendamping yang 39 baik, menggauli isterinya dengan lemah lembut dan wajah ceria, bersikap lembut ketika isterinya murka, menjadikannya ridho ketika marah, menahan segala kesulitan darinya, mengobatinya ketika sakit, membantunya dalam urusan rumah, memerintahkannya untuk melaksanakan segala kewajiban dan meninggalkan segala keharaman, mengajarkannya agama jika dia tidak mengetahui ataupun ketika lalai, tidak membebaninya apa yang dia tidak mampu, tidak menolak apa yang dia minta selama masih dalam lingkup yang memungkinkan dan mubah, menjaga kemuliaan keluarganya dan tidak melarangnya untuk bersilaturahmi dengan mereka.[6]

 Suami diperbolehkan untuk menggauli isterinya dengan cara yang mubah, pada waktu kapan saja dan dalam keadaan bagaimanapun, selama itu tidak mendatangkan mudhorot terhadapnya dan tidak pula menyibukkannya dari kewajiban. Suami wajib untuk memberinya makan ketika dia makan, memberinya pakaian ketika dia berpakaian, tidak memukul muka isterinya, tidak menjelekkannya dan tidak pula melalaikannya kecuali dalam soal ranjang. Dari Abu Hurairoh r.a bahwa Nabi SAW bersabda:

 “.. hendaklah kalian berwasiat kebaikan terhadap wanita, karena mereka diciptakan dari tulang iga, dan yang paling bengkok dari tulang iga itu adalah yang paling atas, jika kamu berusaha untuk meluruskannya dia akan patah, dan jika dibiarkan dia akan tetap bengkok, berwasiat dengan kebaikanlah kalian terhadap wanita” (Muttafaq Alaihi)

Tentang hak suami terhadap istri, Rasulullah SAW menegaskan:

Dari Abdullah bin Umar ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Hak suami terhadap istrinya adalah tidak menghalangi permintaan suaminya kepadanya sekalipun sedang diatas punggung unta, tidak berpuasa walaupun sehari saja selain dengan seizinnya, kecuali puasa wajib. Jika ia tetap berpuasa, ia berdosa dan puasanya tidak diterima. Ia tidak boleh memberikan sesuatu dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika ia memberinya maka pahalanya bagi suaminya dan dosanya bagi dirinya sendiri. Ia tidak keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suamianya. Jika ia bebuat demikian maka Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya sampai tobat dan pulang kembali meskipun suaminya itu zalim.

2.6       Hak dan kewajiban istri terhadap suami

Seorang isteri wajib untuk melayani suaminya, mengurus dan mengatur rumah, mendidik anak, menasehatinya, menjaga suaminya dalam diri serta harta serta rumahnya, menemuinya dengan cerah dan berseri, berdandan untuknya, hendaklah dia memuliakan, menghormati dan menggaulinya dengan baik, menyiapkan segala sesuatu yang membuatnya tenang dalam beristirahat, membuat dirinya senang agar mendapati ketenangan serta kelapangan pada rumahnya. Hendaklah seorang isteri menta’ati suaminya dalam permasalahan yang tidak ada maksiat kepada Allah padanya, menjauhi apa yang bisa membuatnya marah, tidak meninggalkan rumah kecuali dengan izinnya, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunakan hartanya kecuali setelah mendapat izin darinya, tidak memasukkan seseorang kedalam rumah kecuali dia yang disenanginya, menjaga kehormatan keluarganya serta membantunya semaksimal mungkin ketika dia sakit ataupun lemah.[7]

 Dengan ini bisa kita ketahui kalau seorang wanita didalam rumah melaksanakan segala sesuatu untuk suami serta masyarakatnya, dengan berbagai macam amalan yang tidak kurang dari pekerjaan suaminya diluar rumah. Orang-orang yang ingin mengeluarkannya dari rumah serta tempat kerjanya, agar dia berbaur dan bersaing dalam pekerjaan dengan laki-laki, sungguh telah sesat ataupun bodoh dari pengetahuan tentang maslahat yang ada, baik itu yang berhubungan dengan agama ataupun dunia dengan kesesatan yang nyata, mereka sesatkan orang lain, sehingga hancurlah

masyarakat mereka.

Kewajiban taat kepada suami hanyalah dalam hal-hal yang dibenarkan agama, bukan dalam hal kemaksiatan kepada Allah SWT. Jika suami menyuruh istri untuk berbuat maksiat, maka si istri harus menolaknya. Diantara ketaatan istri kepada suami adalah tidak keluar rumah, kecuali dengan seizinnya

Dalam Al-Quran Surat An-Nisaa’ ayat 34 dijelaskan bahwa istri harus bisa menjaga dirinya, baik ketika berada didepan suami maupun dibelakangnya, dan ini merupakan salah satu cirri istri yang salihah.

Sebab itu maka wanita yang salih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri dibalik pembelakangan suaminya oleh karena Allah telah memelihara mereka.”

maksud memelihara diri dibalik pembelakangan suaminya dalam ayat tersebut adalah istri menjaga dirinya ketika suaminya tidak ada dan tidak berbuat khianat kepadanya, baik mengenai diri maupun harta bendanya. Inilah merupakan kewajiban tertinggi bagi seorang istri terhadp suaminya.

2.7       Hak dan kewajiban suami istri

1. Suami isteri dihalalkan saling bergaul mengadakan hubungan seksual perbuatan ini merupakan kebutuhan bersama suami isteri yang dihalalkan secara timbal balik. Jadi, bagi suami halal berbuat kepada isterinya, sebagaimana isteri kepada suaminya. Mengadakan hubungan seksual ini adalah hak bagi suami isteri, dan tidak boleh dilakukan kalau tidak secara bersamaan, sebagaimana tidak dapat dilakukan sepihak saja.

2. Haram melakukan perkawinan: yaitu isteri haram dinikahi oleh ayah suaminya, datuknya(kakaknya), anaknya dan cucu- cucunya. Begitu juga ibu isterinya, anak perempuanya dan seluruh cucunya haram dinikahi oleh suaminya.

3. Hak saling mendapat waris akibat dari ikatan perkawinan yang sah, bilamana salah seorang meninggal dunia sesudah sempurnanya ikatan perkawinan: yang lain dapat Mewarisi hartanya, sekalipun belum pernah melakukan hubungan seksual.

4.Anak mempunyai nasab(keturunan) yang jelas bagi suami, kedua belah pihak wajib bergaul (berpilaku) yang baik, sehingga dapat melahirkan kemesraan dan kedamaian hidup.

            Syarat-syarat yang rusak dalam pernikahan

1. Nikah Syighor: yaitu seorang laki-laki menikahkan putrinya, saudarinya ataupun lainnya yang mana dia menjadi walinya dengan syarat agar laki-laki lain menikahkannya dengan salah seorang putrinya, saudarinya ataupun lainnya. Nikah seperti ini rusak dan haram, baik dengan cara menyebutkan mahar ketika akad dilangsungkan ataupun tidak menyebutkannya.

Jika pernikahan seperti ini telah terjadi, maka bagi setiap dari mereka harus memperbaharui akad tanpa meminta syarat kepada yang lain, akad akan sempurna dengan mahar baru, akad nikah baru, seperti apa yang telah lalu, begitu pula dengan pasangan kedua, tanpa didahului oleh perceraian.

2. Nikah Al-Muhallil: yaitu seorang pria menikahi wanita yang telah ditalak tiga oleh suaminya, dengan syarat jika telah menjadi halal kembali dengan suami pertamanya, dia harus menceraikannya, ataupun dia hanya berniat saja dalam hatinya, atau ada kesepakatan diantara keduanya sebelum akad.

3.Nikah Mut’ah: yaitu seorang laki-laki melakukan akad terhadap seorang wanita hanya untuk satu hari atau satu minggu atau satu bulan atau satu tahun atau mungkin juga lebih maupun kurang dari itu, dia membayar mahar kepada wanitanya dan jika waktu yang telah ditentukan habis dia akan meninggalkannya.

 

Pernikahan seperti ini rusak dan tidak boleh, karena akan mendatangkan mudhorot bagi fihak wanita, dia hanya dijadikan seperti sebuah barang yang berpindah-pindah dari satu tangan kepada tangan lainnya, ini juga akan mendatangkan kerugian terhadap anak-anaknya, karena mereka tidak akan mendapat rumah tetap yang akan tinggal dan terdidik padanya. Tujuan pernikahan seperti ini hanyalah untuk menyalurkan syahwat, bukan mencari keturunan dan mendidik. Pernikahan ini pada permulaan Islam dihalalkan hanya untuk beberapa saat saja, kemudian diharamkan untuk selamanya.

Hukum pernikahan wanita muslimah dengan pria non muslim: Haram hukumnya pernikahan antara seorang muslimah dengan lakilaki yang bukan muslim, baik laki-laki tersebut termasuk ahli kitab ataupun selainnya, karena dia lebih tinggi derajatnya dibandingkan laki-laki tersebut berdasarkan ketauhidan, keimanan serta kehormatannya. Jika pernikahan ini telah terjadi maka sesungguhnya dia itu rusak, haram dan harus langsung dipisahkan,

karena tidak boleh bagi seorang kafir untuk memimpin muslim

ataupun muslimah.

2.8       Hukum Dalam Perkawinan

1.Wajib

Hukum nikah menjadi wajib, bagi orang yang takut terjerumus ke dalam lembah perzinahanjika ia tidak menikah.karena,dalm kondisi hal seperti,nikah dapat membantunya menjaga diri dari hal hal yangdi haramkan.

2.Sunnah

Hukum menikah menjadi sunnah, ketika seorang laki laki telah memiliki syahwat(nafsu bersetubuh),sedangkan ia tidajk takut terjerumus dalam zina.Jika ia menikah,justru akan banyak membawa maslahat serta kebaikan yang banyak,bagi laki laki tersebut maupun wanita yang di nikahinya.

3.mubah atau boleh

Hukum nikah menjadi mubah atau boleh,bagi orang yang syahwatnnya tidak bergejolak,tapi ia mempunyai kemauan dan kecenderungan untuk menikah

4.Makruh

Adanya makruh hukum nikah bagi seseorang yang lemah syahwat dan tidak mampu member nafkah kepada istrinya,walaupun tidak merugikan istri karena ia kaya dan tidak mempunyai naluri syahwat yang kuat.

5.Haram

Bagi orang yang tidak mampu memenuhi nafkah lahir maupun batin kepada istrinya beserta nafsunya pun tidak bergolak,maka baginya haram untuk menikah.[8]

2.9       Hikmah dari pernikahan

 

  1. Pernikahan merupakan suasana solihah yang menjurus kepada pembangunan serta ikatan kekeluargaan, memelihara kehormatan dan menjaganya dari segala keharaman, nikah juga merupakan ketenangan dan tuma’ninah, karena dengannya

bisa didapat kelembutan, kasih sayang serta kecintaan diantara suami dan isteri.

 

  1. Nikah merupakan jalan terbaik untuk memiliki anak, memperbanyak keturunan, sambil menjaga nasab yang dengannya bisa saling mengenal, bekerja sama, berlemah lembut dan saling tolong menolong.

 

  1. Nikah merupakan jalan terbaik untukdan menyalurkan kebutuhan biologis, menyalurkan syahwat dengan tanpa resiko terkena penyakit.

 

  1. Sesuai dengan tabiatnya,manusia itu cendrung mengasihi orang yang di kasihi.Adanya istri akan bias menghilangkan kesedihan dan ketakutan.

 

  1. Manusia di ciptakan dengan memiliki rasa ghirah atau kecemburuan untuk menjaga kehormatannya dan kemuliannya.

 

  1. Kesadaran akan tanggung jawab terhadap isrti dan anak anak akan menimbulkan sikap rajin dan sungguh sungguh dalam memperkuat bakat dan pembawaan seseorang.

 

  1. Dan banyak lagi manfaat yanag lainnya yang mencakup dari nilai nilai positif.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1              Kesimpulan

Pernikahan merupakan sunnahtullah ang berlaku pada semua makhluknya,baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Dimana pernikahan merupakan suatu carayang di pilih Allah sebagai jalan bagi manusia untuk beranak, berkembang biak, dan melestarikan kehidupannya, setelah masng masing melalukan peranann yang  positif dalam mewujudkan tujuan pernikahan.

Hak dan kewajiban dalam keluarga hal yang harus dilakukan oleh kedua pihak, karena itu adalah kewajiban yang sudah ditentukan bagi setiap yang menjalin rumah tangga, baik kewajiban isteri terhadap suami atau juga sebaliknya,dan saling menghormati dan menjaga keaiban serta menutupinya.

Dalam masalah pembiayaan baik untuk nafkah keluarga dan urusan keluarga yang lainnya dalam keluarga lebih diberatkan kepada suami, karena suami sebagai kepala rumah tangga. Tetapi tetap seorang istri juga membantu suami dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Nikah di timjau dari hokum syar’i ada lima macam, Terkadang hokum nikah itu wajib, kadang bias menjadi sunnah, dan kadang pula nikah itu hukumnnya haram, kadang menjadi makruh dan mubah atau hukumnnya hanya boleh menurut syari’at islam.Dan hokum nikah dapat berubah sesuai kondisi calon pelakunya, kemampuan fisik serta ekonominya,termasuk kesiapan untuk memikul tanggung jawab ruah tangga.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Al banna, imam hasan. 2006. Fiqih sunnah. Jakarta: Pena pundi aksara.

Al fauzan, saleh. 2005. Fiqih sehari hari. Jakarta: Gema insani press.

 Al-Quran al-Karim dan Terjemahannya.

Djaman, nur.  2004. Fiqih munakahat. Semarang: Dimas utama semarang.

Ghozali, abdul rahman.2003. Fiqih munakahat. Jakarta ; Kencana Prenada Media Group.

Rasyid, sulaiman. 1992. Fiqih islam. Bandung: PT sinar baru.

Sabiq, sayyid.1993.Fqih sunnah. Bandung: PT.Al ma’ariif.

Thalib, Muhammad. 1995. Petunjuk perkawinan islami. Bandng: Irsyad baitusalam.

Yanggo, chuzaimah. 1996.Problematika hokum islam kontemporer. Jakarta: Lembaga study islam dan kemasyarakatan(LSIK)

 

 

 

 


[1]1.Ghazali,Abdurahman,fiqih munakahat,Jakarta;2003,hlm.7-10

[2] Ibid

 

[4] Saleh alfauzan,Fiqih sehari hari,Jakarta ;2005.hlm 648

[5][5] Sayyid sabiq, Fiqih sunnah,Jakarta:2004.hlm 477

[6]Ghazali,Abdurahman,fiqih munakahat,Jakarta;2003,hlm.155

 

[7] ibid

[8] Sayyid sabiq, Fiqih sunnah,Jakarta:2004.hlm 491

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: