SUJUD TILAWAH DAN SYUKUR

BAB I

PENDAHULUAN

            Manusia adalah makhluk pelupa. Bukan manusia kalau dia tidak pernah lupa. Bahkan, sebagian ahli bahasa mengatakan, mengapa manusia disebut dengan an-nass atau al-insan? Karena memang suka lupa. Apakah lupa adalah sebuah ‘aib dan cacat? Tentu tidak semua. Bahkan, boleh jadi dalam banyak hal lupa adalah karunia dari Allah. Bayangkan, seandainya manusia tidak pernah lupa. Tentu dia tidak akan dapat makan minum dengan nikmat dan lahap karena apa yang dilihatnya di toilet misalnya, masih terbayang. Atau dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak, lantaran tayangan televise film horor yang baru saja ditontonnya, masih tergambar dengan jelas. Lebih jauh lagi, dia tidak akan menikah, karena trauma dengan berita yang sempat dibacanya di salah satu harian yang mengatakan bahwa seorang isteri tewas di tangan suaminya sendiri. Oleh karena itu, dalam banyak hal, lupa adalah biasa, bahkan sebuah karunia.

            Karena memang lupa adalah sifat manusia, masalahnya bagaimana kalau lupa itu terjadi ketika kita melaksanakan ibadah, khususnya shalat? Apa yang harus diperbuat? Mengulangi shalat ataukah melakukan perbuatan lain yang dianjurkan oleh ajaran Islam? Semua itu ada jawabannya dalam Ilmu Fiqh. Ketika seseorang melakukan shalat lalu lupa tidak mengerjakan salah satu wajib atau rukunnya, misalnya, maka Islam memberikan jalan keluar melalui Sujud Sahwi dan tidak perlu mengulang shalatnya.

            Selain Sujud Sahwi, dalam ajaran Islam juga dikenal dengan dua macam sujud lainnya yaitu Sujud Tilawah dan Sujud Syukur. Kalau Sujud Sahwi adalah sujud yang dilakukan karena lupa tidak melakukan sesuatu ketika shalat, maka Sujud Tilawah adalah sujud yang dilakukan karena membaca atau mendengar ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an yang sering disebut dengan ayat-ayat sajdah.

            Sementara Sujud Syukur dilakukan sebagai rasa syukur kita kepada Allah atas karunia dan kenikmatanyang telah diberikanNya, sekaligus atas bencana dan kesengsaraan yang telah dihindarkanNya. Ketiga macam sujud tersebut, insya Allah akan dibahas secara gamblang pada tulisan kali ini. Tulisan ini merupakan rangkaian dari tulisan sebelum dan sesudahnya nanti yang akan mengupas paket khusus seputar Fiqh Ibadah. Tulisan ini tentunya diharapkan agar para pembaca dapat mengetahui, memahami cara dan penyebab ketiga sujud tersebut dilakukan dan lebih umum lagi untuk dapat mengetahui cara melaksanakan ibadah dengan benar dan tepat. Sengaja dalam tulisan ini penulis suguhkan dan hadirkan hadits-haditsnya yang tentunya shahih, ditambah komentar dan tarjih penulis dari keragaman pendapat yang ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.1 Sujud Tilawah

a. Pengertian

            Sujud Tilawah adalah sujud yang dilakukan karena mambaca atau mendengar salah satu ayat dari ayat-ayat sajdah (ayat-ayat yang ketika membaca atau mendengarnya disunnatkan untuk sujud) yang terdapat dalam al-Qur’an. Dari definisi ini, ada dua kondisi seseorang disunnatkan untuk melakukan sujud tilawah, yaitu ketika ia membaca ayat sajdah dan ketika mendengar seseorang membaca ayat sajdah. Adapun yang termasuk ayat-ayat sajdah akan dibahas di bawah nanti.

b. Keutamaannya

            Dalam sebuah hadits dikatakan, keutamaan orang yang sujud karena membaca ayat sajdah adalah setan akan lari dan menangis tersedu-sedu. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

سجد , 􀑧 سجدة ف 􀑧 ن آدم ال 􀑧 رأ اب 􀑧 لم : ((إذا ق 􀑧 عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وس

سجود 􀑧 رت بال 􀑧 ة , وأم 􀑧 ه الجن 􀑧 سجد فل 􀑧 سجود ف 􀑧 ر بال 􀑧 ه, أم 􀑧 ا ويل 􀑧 ول: ي 􀑧 ى, يق 􀑧 شيطان يبك 􀑧 زل ال 􀑧 اعت

فعصيت فلي النار)) [رواه مسلم وأحمد وابن ماجه]

Artinya: “Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Apabila keturunan anak adam membaca ayat sajdah lalu ia sujud (tilawah), maka setan akan menjauh sambil menangis dan berkata:

“Aduh celaka dan sialnya nasibku, ia diperintahkan untuk bersujud, lalu ia sujud, maka baginya adalah surga, sementara saya diperintah sujud akan tetapi saya membangkang perintah tersebut, dan bagi saya adalah neraka” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).

            Dalam hadit-hadits lain yang menerangkan keutamaan orang-orang yang sering melakukan sujud (sujud secara umum) juga disebutkan bahwa orang yang seringkali bersujud, apabila suatu saat ia terpaksa masuk ke dalam neraka, ia akan segera dikeluarkan dari neraka itu lantaran ada bekas sujudnya. Bahkan, hanya bekas sujudlah yang tidak akan terkena lahapan api neraka. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ketika berbicara hari kebangkitan dan syafaat.

􀑧 ل الن 􀑧 ن أه 􀑧 ن أراد م 􀑧 ة م 􀑧 ى إذا أراد الله رحم 􀑧 لم : ((…حت 􀑧 قال رسول الله صلى الله عليه وس

أمر الله الملائكة أن يخرجوا من آان يعبد الله , فيخرجونهم ويعرفونهم بآثار السجود , وحرم

ر 􀑧 ار إلا أث 􀑧 ه الن 􀑧 ن آدم تأآل 􀑧 ل اب 􀑧 ار,فك 􀑧 ن الن 􀑧 ون م 􀑧 سجود, فيخرج 􀑧 ر ال 􀑧 ل أث 􀑧 ار أن تأآ 􀑧 ى الن 􀑧 الله عل

السجود)) [رواه البخاري ومسلم].

       Artinya: “Rasulullah Saw bersabda: “Sehingga apabila Allah hendak memberikan rahmat   kepada penghuni neraka, Allah memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan siapa saja yang      menyembah Allah.

             Para malaikat akan mengeluarkan mereka dengan jalan dikenali dari bekas sujudnya.Dan Allah mengaharamkan api neraka untuk membakar bekas sujud. Mereka  lalu dikeluarkan dari neraka. Seluruh keturunan Adam akan dimakan oleh api neraka kecuali bekas sujud” (HR. Bukhari Muslim).

لم 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ول الله ص 􀑧 أل رس 􀑧 ه س 􀑧 لم أن 􀑧 عن ثوبان مولى رسول الله صلى الله عليه وس

ك لا 􀑧 سجود , فإن 􀑧 رة ال 􀑧 ك بكث 􀑧 لم : ((علي 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ال ص 􀑧 ة , فق 􀑧 ه الجن 􀑧 عن عمل يدخله الله ب

ذى 􀑧 سلم والترم 􀑧 ة )) [رواه م 􀑧 ا خطيئ 􀑧 ك به 􀑧 ط عن 􀑧 ة , وح 􀑧 ا درج 􀑧 ك الله به 􀑧 جدة إلا رفع 􀑧 سجد لله س 􀑧 ت

والنسائي وابن ماجه]

 

Artinya: “Tsauban, maula Rasulullah Saw, suatu saat bertanya kepada Rasulullah Saw tentang amal yang akan memasukkannya ke dalam surga. Rasulullah Saw menjawab: “Kamu harus memperbanyak sujud, karena tidaklah kamu bersujud satu kali kepada Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatmu sekaligus Allah juga akan menghapuskan kesalahanmu” (HR. Muslim).

􀑧 ى الجن 􀑧 ه ف 􀑧 لم مرافقت 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ول الله ص 􀑧 أل رس 􀑧 ه س 􀑧 عن ربيعة بن آعب الأسلمى أن فقال: ((أعنى على نفسك بكثرة السجود)) [رواه مسلم وأبو داود والنسائي وأحمد

Artinya: “Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslamy pernah bertanya kepada Rasulullah Saw entang amalan yang bisa mendekatkan dirinya dengan Rasulullah Saw kelak di surga. Rasulullah menjawab: “Bantulah saya dengan jalan kamu memperbanyak sujud” (HR. Muslim).

            Hukum melakukannya Para ulama telah sepakat, bahwa Sujud Tilawah itu diperintahkan. Hal ini berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih yang bebicara mengenai hal tersebut. Salah satunya adalah hadits berikut ini:

سج 􀑧 سجدة في 􀑧 ا ال 􀑧 سورة فيه 􀑧 ا ال 􀑧 رأ علين 􀑧 لم يق 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ي ص 􀑧 ان النب 􀑧 ر: ((آ 􀑧 ن عم 􀑧 ن اب 􀑧 ع

ونسجد معه حتى ما يجد أحدنا موضعا لجبهته)) [رواه البخارى ومسلم

Artinya: “Dari Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah Saw pernah membacakan untuk kami satu surat yang terdapat ayat sajdahnya. Beliau lalu sujud, dan kami pun ikut sujud bersamanya sehingga masingmasing kami tidak mendapatkan lagi tempat untuk meletakkan dahinya (untuk sujud)” (HR. Bukhari Muslim).

            Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya, apakah hukum melaksanakan Sujud Tilawah ini wajib ataukah sunnah saja? Dalam hal ini para ulama terbagi dua kelompok:

Pendapat pertama, mengatakan hukum melaksanakan Sujud Tilawah ini adalah wajib. Artinya, apabila seseorang membaca ayat sajdah kemudian tidak sujud, maka berdosa. Pendapat ini dipegang oleh Madzhab ats-Tsauri, Abu Hanifah dan Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah.

Pendapat kedua, mengatakan bahwa hukum melaksanakan Sujud Tilawah adalah sunnah saja dan bukan wajib. Artinya, bagi yang sujud, ia mendapat pahala, dan bagi yang tidak sujud, ia tidak mendapat dosa. Pendapat ini merupakan pendapat kebanyakan para ulama (jumhur ulama) seperti Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Auzai, Imam Laits, Imam Ahmad bin Hanbal, Ishak, Abu Tsaur, Dawud dan Ibn Hazm. Dari kalangan sahabat yang berpendapat seperti ini adalah Umar bin Khatab, Salman, Ibn Abbas, dan Imran bin Hushain.

            Di antara alasan dan argumen yang disodorkan oleh kelompok pertama yang mengatakan bahwa sujud tilawah ini hukumnya wajib adalah dalil-dalil berikut ini:

(21- فما لهم لا يؤمنون* وإذا قرئ عليهم القرآن لا يسجدون (الإنشقاق: 2

Artinya: “Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud” (QS al-Insyiqaq: 20-21)

(( فاسجدوا لله واعبدوا (النجم: 6

Artinya: “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)” (QS. An-Nahm: 62).

( واسجد واقترب (العلق: 19

Artinya: “Dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. Al-Alaq: 19).

سجد , 􀑧 سجدة ف 􀑧 ن آدم ال 􀑧 رأ اب 􀑧 لم : ((إذا ق 􀑧 عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وس

سجود 􀑧 رت بال 􀑧 ة , وأم 􀑧 ه الجن 􀑧 سجد فل 􀑧 سجود ف 􀑧 ر بال 􀑧 ه, أم 􀑧 ا ويل 􀑧 ول: ي 􀑧 ى, يق 􀑧 شيطان يبك 􀑧 زل ال 􀑧 اعت

فعصيت فلي النار)) [رواه مسلم وأحمد وابن ماجه]

Artinya: “Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Apabila keturunan anak adam membaca ayat sajdah lalu ia sujud tilawah, maka setan akan menjauh sambil menangis dan berkata: “Aduh celaka dan sialnya nasibku, ia diperintahkan untuk bersujud, lalu ia sujud, maka baginya adalah surga, sementara saya diperintah sujud akan tetapi saya membangkang perintah tersebut, dan bagi saya adalah neraka” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).

قال عثمان: إنما السجود على من استمع (رواه ابن أبي شيبة بإسناد صحيح)

Artinya: Utsman berkata: “Sujud Tilawah itu hanyalah bagi yang mendengar (bacaannya)” (HR. Ibn Abi Syaibah dengan sanad yang sahih).

            Sementara Jumhur ulama yang mengatakan bahwa sujud tilawah hanyalah sunnah mengatakan bahwa ayat 21 dari surat al-Insyiqaq di atas yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama yang mengatakan sujud tilawah itu wajib tidak ada kaitannya dengan sujud tilawah, karenanya tidak tepat kalau berhujjah menggunakan ayat tersebut. Karena, ayat tersebut berbicara tentang orang-orang yang tidak mau bersujud lantaran kesombongan dan keangkuhannya. Sementara mereka yang berpendapat sunnah, tetap melakukan sujud bahkan tetap mengakui keutamaan dan kemasyru’an sujud tilawah tersebut. Karena itu, berhujjah dengan ayat di atas, tidak tepat.

            Sedangkan ke dua ayat yaitu surat an-Najm: 62 dan al-Alaq: 19 yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama juga kurang tepat. Ayat di atas juga tidak ada kaitan dengan sujud tilawah. Ayat di atas berbicara secara umum tentang sujud yang boleh jadi berarti sujud ketika shalat atau lainnya.

            Karena banyak kemungkinan inilah, maka ayat di atas tidak dapat dijadikan dalil akan wajibnya sujud tilawah ini. Bahkan, dalam riwayat lain dijelaskan bahwa ketika Rasulullah Saw mendengar bacaan ayat sajdah, belaiu tidak sujud. Seandainya sujud tilawah itu adalah wajib, tentu Rasulullah Saw akan bersujud dan memerintahkan para sahabat lainnya untuk sujud. Tapi tidak demikian. Ini artinya, bahwa memang sujud tilawah itu bukanlah sesuatu yang wajib, hanya sunnah saja. Riwayat dimaksud adalah:

􀑧 ا. وف 􀑧 سجد فيه 􀑧 عن زيد بن ثابت قال : قرأت على النبي صلى الله عليه وسلم (والنجم) فلم ي

رواية: فلم يسجد منا أحد

Artinya: “Zaid bin Tsabit berkata: “Saya pernah membaca surat an-Najm di hadapan Rasulullah Saw, akan tetapi Rasulullah Saw tidak melakukan Sujud Tilawah (ketika mendengar ayat sajdahnya). Dalam riwayat lain dikatakan: “Di antara kami tidak ada yang sujud”.

            Demikian juga dengan hadits berikut ini yang mengatakan bahwa Umar bin Khatab ketika khutbah Jum’at kemudian membaca ayat sajdah, ia tidak sujud tilawah. Ini juga menguatkan pendapat bahwa sujud tilawah hukumnya sunnah saja, bukan wajib. Hadits dimaksud adalah sebagai berikut:

سجدة 􀑧 اء ال 􀑧 ى إذا ج 􀑧 ل حت 􀑧 ورة النح 􀑧 ر س 􀑧 ى المنب 􀑧 ة عل 􀑧 وم الجمع 􀑧 رأ ي 􀑧 عن عمر بن الخطاب أنه ق

ال : 􀑧 سجدة , ق 􀑧 فنزل فسجد , فسجد الناس , حتى إذا آانت الجمعة القابلة , قرأ بها حتى إذا جاء ال

م 􀑧 ه , ول 􀑧 م علي 􀑧 لا إث 􀑧 سجد ف 􀑧 م ي 􀑧 ن ل 􀑧 ((يا أيها الناس , إنما نمر بالسجود , فمن سجد فقد أصاب , وم

يسجد عمر رضي الله عنه)) [رواه البخاري]

Artinya: “Dari Umar bin Khatab bahwasannya ia pernah membaca surat an-Nahl ketika sedang khutbah Jum’at. Ketika ia membaca ayat sajdah, ia turun dari mimbar lalu sujud dan orang-orang ikut sujud bersamanya. Pada hari Jum’at berikutnya, Umar kembali membaca surat tersebut. Ketika ia membaca ayat sajdahnya, Umar berkata: “Wahai manusia, kami baru saja membaca ayat sajdah, maka barang siapa yang mau sujud, silahkan dan ia telah sesuai dengan sunnah. Dan barangsiapa yang tidak melakukan sujud, maka ia tidak berdosa”. Umar pun tidak melakukan sujud” (HR. Bukhari).

            Hadits di atas semakin menguatkan bahwa sujud tilawah hukumnya sunnah saja, karena ternyata dalam hadits di atas dijelaksan, bahwa pada Jum’ah berikutnya, Umar bin Khatab tidak melakukan sujud tilwah, padahal para sahabat Rasulullah Saw lainnya banyak yang hadir dan mereka tidak ada yang protes satu pun. Ini menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan pendapat Umar bin Khatab, bahwa sujud tilawah hukumnya sunnah saja. Dan pendapat Jumhur Ulama ini, menurut penulis, adalah pendapat yang lebih kuat dan lebih mendekati kebenaran.

c. Bagaimana cara melakukan Sujud Tilawah?

Dalam melakukan sujud tilawah ini ada empat catatan yang harus diperhatikan:

  1. Para ulama sepakat bahwa sujud tilawah dilakukan hanya dengan sekali sujud.
  2. Cara melakukan sujud tilawah persis sama dengan cara melakukan sujud biasa dalam shalat.
  3. Dalam melakukan sujud tilawah ini, menurut pendapat yang lebih kuat, tidak mesti memakai takbiratul ihram (takbir untuk memulai shalat), juga tidak memakai salam. Jadi, dalam prakteknya, begitu anda membaca atau mendengar ayat sajdah, anda langsung sujud sekali saja sebagaimana sujud dalam shalat, tanpa takbiratul ihram terlebih dahulu. Setelah itu bangun lagi dan teruskan bacaan shalatnya, tanpa memakai salam. Demikian menurut Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal dan menurut Ibnu Taimiyyah.

Adapun hadits Ibnu Umar yang mengatakan:

􀑧 ر , وس 􀑧 سجدة آب 􀑧 آان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ علينا القرآن , فإذا مر بال

وسجدنا [رواه أبو داود]

Artinya: “Rasulullah Saw pernah membacakan ayat al-Qur’an kepada kami. Begitu beliau membaca ayat sajdah, beliau bertakbir lalu sujud dan kami pun turut sujud bersamanya” (HR. Abu Dawud).

            Adalah hadits dhaif yang tidak bisa dijadikan hujjah. Namun demikian, Jumhur Ulama mengatakan bahwa mengucapkan takbir (Allahu akbar) ketika hendak sujud dan ketika bangun dari sujud adalah sunnah. Hemat penulis, dalil shahih yang layak untuk dijadikan argumen untuk thesis Jumhur ini adalah hadits berikut:

􀑧 ع التكبي 􀑧 ه م 􀑧 ع يدي 􀑧 ان يرف 􀑧 لم آ 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ي ص 􀑧 ر: ((أن النب 􀑧 ن حج 􀑧 ل ب 􀑧 ن وائ 􀑧 ع

ويكبر آلما خفض وآلما رفع)) [رواه أحمد بإسناد حسن].

Artinya: “Dari Wail bin Hajar, bahwasannya Rasulullah Saw bertakbir sambil mengangkat

kedua tangannya. Demikian juga setiap kali menunduk dan bangkit, beliau selalu bertakbir”

(HR. Ahmad dengan sanad Hasan).

            Dengan demikian, penulis cenderung untuk mengatakan, bahwa meski pendapat yang mengatakan bahwa sujud tilawah itu tanpa memakai takbir dan salam lebih kuat, namun, pendapat jumhurpun boleh dilakukan karena ada keterangan berupa hadits Hasan yang menjadi sandarannya. Namun demikian, jumhur ulama juga sama dengan pendapat pertama, bahwa untuk sujud tulawah tidak ada salam. Oleh karena itu, apabila anda melakukan sujud tilawah lalu ketika mau sujud dan ketika bangkit dari sujud mengucapkan takbir, maka sah-sah saja dan boleh-boleh saja.

  1. Menurut Madzhab Hanabilah, ulama Hanafiyyah generasi terakhir, sebagian ulama syafi’iyyah dan menurut Ibnu Taimiyyah, bahwa orang yang akan melakukan sujud tilawah di luar shalat (bukan ketika shalat), lebih afdhal (lebih utama) kalau dia berdiri terlebih dahulu lalu mengucapkan takbir dan kemudian sujud. Bukan dilakukan sambil duduk. Hal ini, menurut mereka, karena kata al-khurur dalam surat al-Isra ayat 107 yang berbunyi:

إذا يتلى عليهم يخرون للأذقان سجدا

Artinya: “…Apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud” (QS. Al-Isra: 107).

            Maknanya adalah turun dari berdiri (suquth min qiyam). Sedangkan menurut pendapat Madzhab Syafi’i dan lainnya, bahwa sujud tilawah boleh juga dilakukan sambil duduk, tidak mesti harus berdiri terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan tidak ada keterangan dari hadits yang mengatakan secara jelas dan tegas bahwa sujud tilawah ini harus dilakukan dengan berdiri terlebih dahulu. Untuk itu, hemat penulis, pendapat Madzhab Syafi’i ini lebih mendekati kebenaran, artinya, sujud tilawah boleh dilakukan sambil berdiri terlebih dahulu, atau sambil duduk. Keduanya sah-sah saja.

  1. Sujud Tilawah dilakuan dalam dua keadaan; di luar shalat dan ketika sedang shalat. Cara melakukan Sujud Tilawah di luar shalat adalah sebagai berikut: Ketika anda membaca atau mendengar ayat sajdah, anda langsung berdiri atau boleh juga duduk mengahadap kiblat, lalu ucapkan takbir: “Allahu Akbar” atau tidak mengucapkan takbir juga boleh, lalu sujudlah satu kali sebagai mana anda sujud ketika melakukan shalat. Setelah itu, bangkitlah kembali sambil mengucapkan takbir: “Allahu Akbar”, atau tanpa takbir. Setelah itu, anda teruskan bacaan al- Qur’annya tanpa salam terlebih dahulu.

            Sedangkan apabila dilakukan ketika sedang shalat, maka begitu membaca ayat sajdah, anda langsung sujud satu kali lalu bangkit berdiri lagi, dan teruskan bacaan shalat anda.

d. Apakah Sujud Tilawah harus menghadap kiblat dan harus berwudhu terlebih dahulu??

            Menurut Jumhur ulama (kebanyakan ulama), Sujud Tilawah disyaratkan harus memenuhisyarat-syarat shalat lainnya, misalnya, harus menghadap kiblat dan harus dilakukan oleh orang yang mempunyai wudhu.

            Sedangkan menurut Ibn Hazm dan Syaikul Islam Ibn Taimiyyah, bahwa Sujud Tilawah tidakdiharuskan menghadap kiblat, juga tidak disyaratkan harus mempunyai wudhu terlebih dahulu, karena Sujud Tilawah bukanlah shalat, akan tetapi ia hanyalah sebuah ibadah. Dan sebagaimana diketahui, bahwa tidak semua ibadah disyaratkan harus memakai wudhu dan menghadap kiblat. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sahabat dan para ulama lain semisal Ibnu Umar, Imam asy-Sya’by dan ImamBukhari. Dan pendapat inilah, hemat penulis, yang lebih kuat dan lebih afdhal.

            Pendapat kedua ini dikuatkan oleh sebuah hadits Ibnu Abbas berikut ini:

سلمون 􀑧 ه الم 􀑧 جد مع 􀑧 النجم وس 􀑧 جد ب 􀑧 لم س 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ي ص 􀑧 اس : (( أن النب 􀑧 ن عب 􀑧 ن اب 􀑧 ع

والمشرآون والجن والإنس)) [رواه البخارى والترمذى]

 

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, bahwasannya Rasulullah Saw ketika membaca surat an-Najm, ia sujudtilawah dan orang-orangpun ikut sujud bersamanya, termasuk orang-orang musyrik, jin dan manusia” (HR. Bukhari).

            Sehubungan dengan hadits di atas, Imam Bukhari mengatakan, hadits ini mengisyaratkan bahwa orang musyrik pun melakukan sujud tilawah. Dan sebagaimana diketahui, bahwa orang musyrik tentu mereka tidak mempunyai wudhu karena mereka adalah najis (berhadats besar dan kecil).

            Kalau seandainya Sujud Tilawah ini harus dilakukan oleh orang yang mempunyai wudhu, tentu Rasulullah Saw akan melarang orang-orang musyrik tersebut untuk sujud tilawah, tapi ternyata tidak melarangnya. Ini berarti, bahwa Sujud Tilawah tidak mesti berwudhu sebelumnya.

            Sehubungan dengan masalah ini pula, Imam Syaukani berkata: “Tidak ada satupun hadits yang berbicara tentang Sujud Tilawah yang mensyaratkan orang yang melakukannya harus mempunyai wudhu. Dalam banyak kesempatan, Rasulullah dan para sahabat yang mendengar bacaan ayat Sajdah, melakukan Sujud Tilawah bersama-sama, akan tetapi Rasulullah Saw tidak memerintahkan salah seorangpun dari mereka untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu. Padahal, tidak semua sahabat saat itu mempunyai wudhu. Bahkan terkadang, Rasulullah Saw sujud bersama orang-orang musyrik sebagaimana dikatakan dalam hadits di atas, dan tentunya orang-orang musyrik tidak mempunyai wudhu kerena mereka adalah najis….Adapun menutup aurat dan menghadap kiblat, selama memungkinkan, para ulama sepakat mensyaratkannya. Tapi sekali lagi dengan catatan, selama memungkinkan”.

            Dari pendapat-pendapat di atas, penulis lebih condong untuk mengatakan, selama Sujud Tilawah ini dilakukan di luar shalat, tidak disyaratkan harus menghadap kiblat, dan tidak harus mempunyai wudhu terlebih dahulu sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyyah dan Ibn Hazm di atas.

            Akan tetapi apabila dilakukan menghadap kiblat, mempunyai wudhu terlebih dahulu, tentu ini lebih afdhal dan lebih sempurna. Karena bagaimanapun Sujud Tilawah adalah salah satu bentuk ibadah. Dan sebuah ibadah alangkah lebih baiknya kalau dilakukan dalam keadaan suci dan menghadap kiblat.

            Sekali lagi, kalau memungkinkan untuk mengambil wudhu dan menghadap kiblat, tentu itu lebih utama, akan tetapi menghadap kiblat dan berwudhu, bukanlah syarat sahnya Sujud Tilawah.

e. Bagaimana cara sujudnya orang yang sedang dalam kendaraan?

            Apabila seseorang membaca atau mendengar salah satu ayat sajdah sementara dia sedang berjalan (bepergian) atau sedang berada di atas kendaraan, kemudian dia bermaksud untuk melakukan sujud tilawah, maka menurut sebagian para sahabat dan para ulama generasi salaf seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan lainnya, cukup dengan berisyarat berupa menundukkan kepalanya sedikit ke arah manapun ia sedang menghadap saat itu. Hal ini seperti dikatakan oleh Ibnu Umar dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih, ketika ia ditanya cara melakukan sujud tilawah bagi yang sedang berada dalam kendaraan, Ibnu Umar mengatakan: “Sujudlah dengan cara isyarat”. Demikian juga dengan orang yang sedang berjalan kaki (bepergian), apabila tidak bisa berhenti sejenak untuk melakukan sujud dan dia bermaksud untuk sujud, maka cukup dengan menganggukkan kepalanya sebagai isyarat sujudnya.

f. Apa yang dibaca ketika Sujud Tilawah?

            Sehubungan dengan masalah ini, terdapat dua hadits yang menginformasikan bacaan ketika Sujud Tilawah. Berikut kedua hadits di atas:

􀑧 ول ف 􀑧 ل , يق 􀑧 رآن باللي 􀑧 جود الق 􀑧 ى س 􀑧 ول ف 􀑧 عن عائشة قالت : آان النبي صلى الله عليه وسلم ي

ه)) 􀑧 ه وقوت 􀑧 صره بحول 􀑧 معه وب 􀑧 ق س 􀑧 وره وش 􀑧 ه وص 􀑧 ذى خلق 􀑧 ى لل 􀑧 جد وجه 􀑧 رارا: ((س 􀑧 سجدة م 􀑧 ال

[رواه أبو داود, والترمذى والنسائي)

Artinya: “Siti Aisyah berkata: “Bahwasannya Rasulullah Saw ketika sujud tilawah pada malam hari,beliau membaca do’a berikut secara berulang-ulang: ” sajada wajhii lilladzi khalaqahu washawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bihaulihi wa quwwatihi (wajahku aku sujudkan kepada yang telah menciptakan dan membentuknya, juga yang telah memecahkan pendengaran, penglihatannya dengan segala daya dan kekuatanNya)”        (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

􀑧 ول الله , إن 􀑧 ا رس 􀑧 ال ي 􀑧 لم فق 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ي ص 􀑧 ى النب 􀑧 ل إل 􀑧 اء رج 􀑧 ال: ج 􀑧 اس ق 􀑧 ن عب 􀑧 ن اب 􀑧 ع

سجودى, 􀑧 شجرة ل 􀑧 سمجدت ال 􀑧 سجدت, ف 􀑧 جرة, ف 􀑧 ف ش 􀑧 لى خل 􀑧 أنى أص 􀑧 ائم آ 􀑧 ا ن 􀑧 ة وأن 􀑧 ى الليل 􀑧 رأيتن

ى 􀑧 ا ل 􀑧 ا وزر ا, واجعله 􀑧 ى به 􀑧 ع عن 􀑧 فسمعتها وهي تقول : ((اللهم اآتب لى بها عندك أجر ا, وض

لى 􀑧 ي ص 􀑧 رأ النب 􀑧 اس : فق 􀑧 ن عب 􀑧 ال اب 􀑧 عندك ذخر ا, وتقبلها منى آما تقبلتها من عبدك داود ))…ق

شجرة 􀑧 ول ال 􀑧 ن ق 􀑧 ل ع 􀑧 ره الرج 􀑧 ا أخب 􀑧 ول مثلم 􀑧 و يق 􀑧 سمعته وه 􀑧 جد , ف 􀑧 م س 􀑧 جدة , ث 􀑧 الله عليه وسلم س

[أخرجه الترمذى وابن ماجه]

Artinya: “Ibnu Abbas berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw sambil berkata: “Wahai Rasulullah, tadi malam saya bermimpi seolah-olah saya shalat di belakang sebuah pohon, lalu saya sujud dan pohon pun ikut sujud bersamaku serta saya mendengar pohon itu membaca doa berikut ini: Allahummaktub li biha indaka ajra, wa dha’ ‘anni biha wizra, waj’alha li ‘indaka dzukhra, wa taqabbalha minny kama taqabbaltaha min ‘ibadika dawud (Ya Allah, dengan sujud ini, catatlah pahala bagi saya disisiMu, hapuskan dosaku, jadikan sujudku ini sebagai simpananku kelak, dan terimalah sujudku ini sebagaimana Eukau telah menerima sujudnya Nabi Dawud)…” Ibnu Abbas kemudian berkata: “Lalu Rasulullah Saw membaca salah satu ayat sajdah dan beliau sujud (tilawah). Pada saat itu saya mendengar Rasulullah ketika sujudnya tadi membaca do’a sebagaimana yang telah disampaikan oleh laki-laki tadi yang diambil dari doanya sebuah pohon” (HR. Turmudzi dan Ibn Majah).

            Dari kedua hadits di atas, kita mendapatkan informasi bahwa bacaan yang dibaca oleh Rasulullah Saw ketika Sujud Tilawah ada dua, yaitu bacaan: “sajada wajhii lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bihaulihi wa quwwatihi dan bacaan: Allahummaktub li biha indaka ajra, wa dha’ ‘anni biha wizra, waj’alha li ‘indaka dzukhra, wa taqabbalha minny kama taqabbaltaha min ‘ibadika dawud. Akan tetapi sanad kedua hadits di atas diperdebatkan keshahihannya. Bahkan menurut pendapat yang lebih kuat, kedua hadits di atas adalah Hadits Dha’if.

            Karena kedua hadits di atas diperdebatkan kesahihannya dan lebih cenderung dhaif, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Adapun saya, ketika Sujud Tilawah, saya membaca bacaan sujud biasa yaitu: subhanarabbiyal ‘ala”. Oleh karena itu, menurut pendapat yang lebih kuat, tidak ada bacaan khusus untuk sujud tilawah karena hadits-hadits yang mengatakan hal demikian semuanya Hadits Dhaif. Karenanya, bacaan Sujud Tilawah disamakan dengan bacaan sujud biasa dalam shalat. Adapun bacaan-bacaan sujud ketika shalat ada bebarapa macam, termasuk salah satunya adalah bacaan sajada wajhii lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bihaulihi wa quwwatihi. Untuk lebih jelasnya, berikut di antara bacaan-bacaan yang boleh dibaca ketika sujud dalam shalat:

  1. Allahumma laka sajadtu wabika amantu wa laka aslamtu, sajada wajhii lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu, tabarakallahu ahsanal khaliqin (HR. Muslim)
  2. Subhanakallahumma rabbana wa bihamdika allahummagfirli (HR. Bukhari Muslim)
  3. Subbuhun quddusun rabbul malaikati warruh (HR. Muslim)
  4. Subhanarabbiyal a’laa (HR. Nasai, Turmudzi, Abu Dawud dan Ibn Majah)
  5. Subhana dzil jabarut walmalakut walkibriya wal’adhamah (HR. Abu Dawud dan Nasai)

            Demikian, bacaan-bacaan yang biasa dibaca oleh Rasulullah Saw ketika sujud. Oleh karena itu, bagi yang melakukan Sujud Tilawah, silahkan untuk memilih salah satu dari bacaan di atas.

g. Berulang-ulang membaca dan mendengar ayat sajdah, Sujudnya?

            Apabila seseorang membaca atau mendengar ayat sajdah beberapa kali, ia boleh mengakhirkan sujudnya sampai ayat terakhir dari ayat sajdah dibaca. Setelah itu baru ia sujud sajdah satu kali.

            Kemudian apabila setelah sujud, membaca kembali ayat sajdah, maka menurut pendapat Jumhur Ulama, lebih afdhal ia melakukan sujud lagi. Artinya, Jumhur ulama lebih cenderung untuk mengatakan, bahwa yang lebih afdhal, sujud tilawah dilakukan setiap kali kita mendengar atau membaca ayat sajdah.

h. Apakah Sujud Tilawah yang dilakukan ketika shalat khusus untuk shalat wajib saja?

            Sebagaimana telah di jelaskan di atas, sujud tilawah dilakukan dalam dua keadaan; ketika sedang melakukan shalat dan ketika di luar shalat (tidak sedang melakukan shalat). Namun shalat apa saja yang boleh melakukan Sujud Tilawah; Apakah hanya untuk shalat wajib dan apakah hanya untuk shalat berjamaah serta apakah hanya untuk shalat Jahr (yang bacaannya dinyaringkan yaitu shalat Magrib, Isya dan Subuh) saja?

            Dalam hal ini, jumhur ulama mengatakan, bahwa Sujud Tilawah dilakukan baik ketika shalat wajib maupun shalat sunnat. Ini artinya, apabila seseorang membaca ayat sajdah ketika sedang shalat Tahajjud, maka sunnah hukumnya untuk melakukan Sujud Tilawah. Demikian juga, Sujud Tilawah dilakukan baik ketika shalat berjamaah maupun ketika shalat sendiri (munfarid).

            Sedangkan apakah untuk shalat yang bacaannya dibaca nyaring (jahr) saja atau juga yang bacaannya dipelankan (di-sir-kan)? Para ulama sepakat, bahwa untuk shalat-shalat yang dibaca dengan suara nyaring seperti Magrib dan Isya, sunnah hukumnya melakukan Sujud Tilawah. Namun, untuk shalat yang imamnya membaca dengan suara sir (pelan) misalnya Shalat Duhur dan Ashar, makruh hukumnya melakukan Sujud Tilawah. Hal ini ditakutkan akan menimbulkan kebingungan bagi para makmum sehingga kekhusyuan shalatnya menjadi terganggu, karena makmum tidak mengetahui apa yang sedang dibaca oleh imam. Akan tetapi menurut Syafi’iyyah (para ulama bermadzhab Syafi’i), untuk yang melakukan shalat dengan bacaan pelan pun, sunnah hukumnya untuk melakukan Sujud Tilawah. Hanya saja, dalam prakteknya, Sujud Tilawahnya diakhirkan sampai shalat tersebut selesai agar makmum tidak merasa bingung dibuatnya. Namun pendapat ini, menurut penulis, kurang tepat karena antara membaca ayat sajdah dengan selesainya shalat terdapat pemisah yang lumayan lama. Untuk itu, pendapat Jumhur yang mengatakan, makruh hukumnya bagi shalat yang bacaan imamnya di sirr-kan (dipelankan) untuk melakukan Sujud Tilawah adalah pendapat yang lebih kuat dan arjah.

            Bagaimana hukumnya apabila ketika sedang melakukan shalat, membaca ayat sajdah akan tetapi tidak melakukan Sujud Tilawah? Menurut pendapat Jumhur Ulama seperti Imam Sya’bi, Ibn al-Musayyib, Ibn Sirin, an-Nakha’i dan Imam Ishak, makruh hukumnya seseorang yang sedang melakukan shalat kemudian membaca ayat sajdah akan tetapi tidak melakukan Sujud Tilawah.

            Apabila ayat sajdah tersebut berada di akhir surat, bagaimana cara melakukan sujudnya dan apa yang harus diperbuat?

            Apabila seseorang membaca salah satu ayat sajdah yang berada di akhir surat, misalnya ayat terakhir dari surat al-Alaq, maka ia boleh melakukan salah satu dari tiga keadaan berikut ini:

  1. Ia melakukan Sujud Tilawah, kemudian berdiri lagi dan disambungkan dengan bacaan surat lainnya lalu setelah itu ia ruku. Hal ini pernah dilakuan oleh Umar bin Khatab. Dalam sebuah hadits riwayat Abdul Razak dengan sanad yang sahih, ketika shalat Subuh, Umar bin Khatab pernah membaca surat an-Najm pada rakaat kedua. Kemudian ia Sujud Tilawah, lalu setelah itu Umar membaca surat lain yakni surat al-Insyiqaq. Cara ini adalah yang lebih utama
  2. Ia langsung ruku’ tanpa melakukan Sujud Tilawah. Cara ini juga boleh dilakukan karena ketika Ibnu Mas’ud ditanya: “Apakah perlu Sujud Tilawah dahulu atau langsung ruku’ ketika membaca ayat sajdah yang berada di akhir surat?” Ibn Mas’ud menjawab: “Apabila tidak ada hal lain antara kamu dengan sujud selain ruku, maka ruku’ itulah yang lebih dekat” (HR. Ibn Abi Syaibah dengan sanad yang shahih). Pendapat ini, hemat punulis, lebih cocok diterapkan untuk kondisi di mana para makmum umumnya belum mengetahui ayat sajdah dan Sujud Tilawah. Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik langsung ruku, tidak Sujud Tilawah terlebih dahulu. Kecuali kalau para makmumnya adalah orang-orang yang sudah paham.
  3. Cara lainnya adalah ia Sujud Tilawah, kemudian bertakbir dan berdiri setelah itu ia ruku tanpa ada tambahan bacaan surat lainnya.

i. Bagaimana cara sujudnya apabila sedang khutbah di atas mimbar?

            Apabila seseorang sedang khutbah di atas mimbar, lalu ia membaca ayat sajdah, maka ia boleh turun dari mimbarnya lalu Sujud Tilawah dan orang-orang sujud bersamanya. Apabila ia tidak sujud, juga tidak mengapa sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khatab sebagaimana telah dijelaskan di atas.

            Jika memungkinkan untuk sujud di atas mimbar, ia boleh sujud di atasnya, dan orang-orang ikut sujud bersamanya. Akan tetapi apabila khatib tidak sujud, maka makmum tidak disunnahkan untuk sujud.

j. Apa saja yang termasuk ayat sajdah itu?

            Tempat-tempat sujud atau yang termasuk ayat-ayat sajdah itu ada 15 (lima belas) tempat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits marfu’ akan tetapi dhaif berikut ini:

􀑧 جدة ف 􀑧 شرة س 􀑧 س ع 􀑧 رأه خم 􀑧 لم أق 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ول الله ص 􀑧 اص أن رس 􀑧 ن الع 􀑧 رو ب 􀑧 ن عم 􀑧 ع

ن 􀑧 اآم واب 􀑧 و داود والح 􀑧 ه أب 􀑧 القرآن, منها ثلاث فى المفصل , وفى سورة الحج سجدتان (أخرج

ماجه)

Artinya: “Dari Amr bin Ash, bahwasannya Rasulullah Saw membacakan kepadanya lima belas ayat sajdah dalam al-Qur’an; tiga di antaranya terdapat pada surat-surat pendek dan dua tempat sujud pada surat al-Hajj” (HR. Abu Dawud, Hamim dan Ibn Majah).

            Dari lima belas tempat ini, sepuluh tempat telah disepakati oleh para ulama, 4 tempat diperdebatkan, akan tetapi banyak hadits yang menguatkannya, dan satu tempat tidak ada keterangan haditsnya, akan tetapi sebagian sahabat Rasulullah Saw melakukannya karena melihat kandungan makna ayat tersebut.

  1. Tempat-tempat sujud yang disepakati oleh para ulama untuk dilaksanakan Sujud Tilawah:
    1. Surat al-Araf ayat 206 yakni ketika membaca firman Allah berikut ini:

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ

Artinya: “Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasaenggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud” (QS. Al-Araf: 206).

 

  1.  Surat ar-Ra’du ayat 15:

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَآَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

Artinya: “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari” (HR. ar-Ra’du: 15).

  1. Surat an-Nahl ayat 49-50:

􀑧 مْ لَ 􀑧 ةُ وَهُ 􀑧 ةٍ وَالْمَلَا ئِكَ 􀑧 نْ دَابَّ 􀑧 أَرْضِ مِ 􀑧 ي الْ 􀑧 ا فِ 􀑧 سَّمَوَاتِ وَمَ 􀑧 ي ال 􀑧 ا فِ 􀑧 سْجُدُ مَ 􀑧 هِ يَ 􀑧 وَلِلَّ

يَسْتَكْبِرُونَ* يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An-Nahl: 49-50)

  1. Surat al-Isra ayat107-109:

رُّونَ 􀑧 يْهِمْ يَخِ 􀑧 قُلْ ءَامِ نُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَ

رُّونَ 􀑧 ا* وَيَخِ 􀑧 ا لَمَفْعُولً 􀑧 دُ رَبِّنَ 􀑧 انَ وَعْ 􀑧 ا إِنْ آَ 􀑧 بْحَانَ رَبِّنَ 􀑧 ونَ سُ 􀑧 جَّدًا* وَيَقُولُ 􀑧 انِ سُ 􀑧 لِلْأَذْقَ

لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Artinya: “Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, Dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”.Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'” (QS. Al-Isra: 107-109)

 

  1. Surat Maryam ayat 58:

وحٍ 􀑧 عَ نُ 􀑧 ا مَ 􀑧 نْ حَمَلْنَ 􀑧 ةِ ءَادَمَ وَمِمَّ 􀑧 نْ ذُرِّيَّ 􀑧 ينَ مِ 􀑧 نَ النَّبِيِّ 􀑧 يْهِمْ مِ 􀑧 هُ عَلَ 􀑧 أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّ

اتُ 􀑧 يْهِمْ ءَايَ 􀑧 ى عَلَ 􀑧 ا إِذَا تُتْلَ 􀑧 دَيْنَا وَاجْتَبَيْنَ 􀑧 نْ هَ 􀑧 رَائِيلَ وَمِمَّ 􀑧 رَاهِيمَ وَإِسْ 􀑧 ةِ إِبْ 􀑧 نْ ذُرِّيَّ 􀑧 وَمِ

الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58)

  1. Surat al-Hajj ayat 18:

سَنًا وَإِنَّ 􀑧 ا حَ 􀑧 هُ رِزْقً 􀑧 رْزُقَنَّهُمُ اللَّ 􀑧 اتُوا لَيَ 􀑧 وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَ

اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya: “Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezki” (QS. Al-Hajj: 18).

  1.  Surat al-Furqan ayat 60:

انَ 􀑧 إِلَّا مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَآَ

اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Furqan: 60).

 

  1.  Surat an-Naml ayat 25-26:

ونَ 􀑧 ا تُخْفُ 􀑧 مُ مَ 􀑧 أَرْضِ وَيَعْلَ 􀑧 سَّمَوَاتِ وَالْ 􀑧 ي ال 􀑧 بْءَ فِ 􀑧 رِجُ الْخَ 􀑧 ذِي يُخْ 􀑧 هِ الَّ 􀑧 أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّ

وَمَا تُعْلِنُونَ* اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar” (QS. An-Naml: 25-26).

  1. Surat as-Sajdah ayat 15:

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُآِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا

يَسْتَكْبِرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong” (QS. As-Sajdah:15).

  1. Surat Fushilat ayat 37 dan 38:

رِ 􀑧 ا لِلْقَمَ 􀑧 شَّمْسِ وَلَ 􀑧 سْجُدُوا لِل 􀑧 ا تَ 􀑧 رُ لَ 􀑧 شَّمْسُ وَالْقَمَ 􀑧 ارُ وَال 􀑧 لُ وَالنَّهَ 􀑧 هِ اللَّيْ 􀑧 نْ ءَايَاتِ 􀑧 وَمِ

دَ 􀑧 ذِينَ عِنْ 􀑧 تَكْبَرُوا فَالَّ 􀑧 إِنِ اسْ 􀑧 دُونَ* فَ 􀑧 اهُ تَعْبُ 􀑧 تُمْ إِيَّ 􀑧 نَّ إِنْ آُنْ 􀑧 ذِي خَلَقَهُ 􀑧 هِ الَّ 􀑧 جُدُوا لِلَّ 􀑧 وَاسْ

رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah. Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu” (QS. Fushilat: 37 dan 38).

            Berkaitan dengan ayat ini, Jumhur ulama berpendapat bahwa Sujud Tilawah dilakukan ketika selesai membaca akhir dari ayat ke 38, sedangkan menurut Malikiyyah, ketika selesai membaca ayat 37.

  1. Tempat-tempat sujud yang diperdebatkan oleh para ulama akan tetapi boleh dilaksanakan

karena dikuatkan oleh dalil-dalil yang shahih:

  1. Surat Shad ayat 24:

ضُهُمْ 􀑧 ي بَعْ 􀑧 قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَى نِعَاجِهِ وَإِنَّ آَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِ

ا 􀑧 نَّ دَاوُدُ أَنَّمَ 􀑧 مْ وَظَ 􀑧 ا هُ 􀑧 لٌ مَ 􀑧 صَّالِحَاتِ وَقَلِي 􀑧 وا ال 􀑧 وا وَعَمِلُ 􀑧 عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُ

فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاآِعًا وَأَنَابَ

Artinya: “Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat” (QS. Shad: 24).

  1. Surat an-Najm ayat 62:

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

Artinya: “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)” (QS. An-Najm: 62).

  1. Surat al-Insyiqaq ayat 20-21:

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ* وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ

Artinya: “Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud” (QS. Al-Insyiqaq ayat 20-21).

  1.  Surat al-Alaq ayat 19:

آَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Artinya: “Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan  dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. Al-Alaq ayat 19).

  1. Tempat sujud yang diperdebatkan dan tidak ada hadits shahih yang mendukungnya. Yang termasuk ke dalam bagian ke tiga ini hanya satu tempat yaitu surat al-Haj ayat 77:

مْ 􀑧 رَ لَعَلَّكُ 􀑧 وا الْخَيْ 􀑧 مْ وَافْعَلُ 􀑧 دُوا رَبَّكُ 􀑧 جُدُوا وَاعْبُ 􀑧 وا وَاسْ 􀑧 وا ارْآَعُ 􀑧 ذِينَ ءَا مَنُ 􀑧 ا الَّ 􀑧 يَاأَيُّهَ

تُفْلِحُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan” (QS. Al-Haj: 77).

            Di antara ulama yang mensunnahkan untu sujud tilawah ketika membaca atau mendengar ayat ini adalah Imam Syafi’I, Ahmad bin Hanbal, bahkan para sahabat pun melakukannya seperti Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib. Ibn Umar, Ibnu Abbas, Ibn Mas’ud dan lainnya. Oleh karena itu, meskipun tidak ada hadits yang shahih mengenai tempat sujud ini, akan tetapi karena sebagian besar para sahabat melakukannya, maka hemat penulis, tidak mengapa kita pun mengikuti mereka; ikut melaksanakan Sujud Tilawah ketika membaca atau mendengar ayat tersebut.

B.1 Sujud Syukur

a. Pengertian

            Sujud Syukur adalah sujud yang dilakukan ketika mendapatkan nikmat (mendapatkan rezeki nomplok) atau ketika terhindar dari mara bahaya yang mengancam. Misalnya, ketika lulus ujian, lulus tes kerja, menang perlombaan, naik jabatan, sembuh dari penyakit, terhindar dari kecelakaan, mendapat keturunan, memperoleh nilai yang memuaskan, selamat dari perampokan dan lainnya.

            Dalil diperbolehkannya Di antara dalil yang menjadi pegangan adanya Sujud Syukur ini adalah keterangan-keterangan berikut ini:

  1. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dan hadits ini sangat panjang, disebutkan bahwa ketika Ka’ab bin Malik mengetahui taubatnya diterima oleh Allah Swt, ia kemudian sujud (Sujud Syukur).
  2. Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Turmudzi dan Ibnu Majah serta yang lainnya dikataka bahwa apabila Rasulullah Saw mendapatkan kabar gembira atau mendapatkan sesuatu yang menggembirakan, beliau sujud sebagai tanda syukurnya kepada Allah Swt.

            Berdasarkan hadits-hadits di atas, Jumhur ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishak, Abu Tsaur, Ibn Mundzir dan Abu Yusuf berpendapat bahwa Sujud Syukur itu disyariatkan dan dianjurkan.

  1. b.   Bagaimana Cara Melaksanakannya?

            Cara melaksanakan sujud ini, sama dengan cara melaksanakan Sujud Tilawah; sekali sujud dan tanpa salam. Sedangkan mengenai bacaannya, sebagian ulama mengatakan tidak ada bacaan khusus dan menurut sebagian lagi, sama dengan bacaan ketika sujud dalam shalat. Kedua pendapat di atas sah-sah saja. Memang kalau memperhatikan hadits-hadits yang berbicara mengenai Sujud Syukur ini, tidak ada petunjuk khusus mengenai bacaannya. Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan, ketikaSujud Syukur tidak ada bacaannya, hanya sujud saja. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa karena tidak ada bacaan secara khusus, maka ia harus disamakan dengan bacaan sujud lainnya ketika shalat.

            Kedua pendapat di atas, hemat penulis, sah-sah saja. Sujud Syukur tidak perlu menghadap kiblat dan tidak perlu berwudhu Sujud Syukur boleh dilakukan menghadap ke mana saja, dan tidak perlu mengambil air wudhu terlebih dahulu, karena ia bukanlah bagian dari ibadah shalat. Hanya saja, kalau memungkinkan untuk menghadap kiblat dan mengambil air wudhu terlebih dahulu, itu lebih baik dan lebih utama.

  1. c.    Apakah Sujud Syukur Boleh Dilakukan Ketika Sedang Melaksanakan Shalat?

            Sujud Syukur tidak boleh dilakukan di dalam shalat. Hal ini dikarenakan, penyebab yang mensunnahkan Sujud Syukur sendiri terjadi di luar shalat. Apabila ia melaksanakan Sujud Syukur di dalam Shalat, maka shalatnya batal, kecuali kalau dia tidak tahu. Hal ini karena tidak ada keterangan baik yang shahih maupun yang dhaif sekalipun, yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw atau para sahabatnya melakukan Sujud Syukur ketika sedang melakukan shalat. Sedangkan pendapat sebagian ulama Hanabilah yang mengatakan Sujud Syukur boleh dilakukan di dalam shalat, hemat penulis, merupakan pendapat yang lemah dan karenanya tidak bisa dijadikan pegangan. Hal ini disebabkan, sebagaimana telah dijelaskan, tidak ada keterangan shahih yang menginformasikan hal tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: