SISTEM REPRODUKSI JNTAN PADA SAPI, BABI, DAN MERPATI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Bilogi adalah ilmu tentang kehidupan yang sudah berakar dari dalam diri manusia. Orang memelihara hewan, membudi-dayakan tanaman hias, mengundang burung-burung dengan menyediakan halaman belakang rumah mereka, mengunjungi kebun binatang dan cagar alam/taman nasional. Untuk mempertahankan keturunan, semua mahluk hidup harus mengadakan pembiakan. Reproduksi atau pembiakan ialah memperbanyak diri atau keturunan. Tujuan dari reproduksi itu sendiri adalah agar suatu spesies tertentu tidak punah, karena suatu mahluk hidup semua akan mati, yang merupakan ciri dari mahluk hidup. Peristiwa reproduksi melibatkan dua individu, yang mana mempunyai masing-masing alat yang bisa digunakan untuk bereproduksi, dalam pihak betina, kita mengenal sisitim reproduksi betina, begitupun dalam pihak jantan kita mengenal sisitim reproduksi jantan.

Dikarenakan mahluk hidup di dunia ini sangatlah beragam, maka sistim reproduksi dari masing-masing spesies berbeda pula. Maka dari itu kami menyusun mkalah ini agar kami mengetahui perbedaan sistim reproduksi jantan pada setiap spesies.

 

1.2  Rumusam masalah

Adapun rumusan masalah yang dilakukan dalam penyusunan makalh ini adalah:

  1. Sebutkan sistem reproduksi jantan pada babi, merpati, dan sapi?
  2. Perbedaan apa yang mencolok dari ketiga jenis hewan tersebt?

1.3  Tujuan

Tujuan dilakukan pembuatan lakalah ini adalah agar mahasiswa mengerti organ apa saja yang terdapat dalan alat kelamin pada babi, merpati, sapi jantan

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Reproduksi atau pembiakan ialah memperbanyak diri atau keturunan. Bertujuan untuk mempertahankan kehadiran spesies di alam. Individu di kalangan penduduk suatu spesies suatu ketika akan mati, sebagai ciri kehidupan. Karena itu jumlah penduduk itu akan susut, dan jika terus begitu mereka bisa punah. Karena itu sebelum setiap individu mati ia harus berkaturunan atau beranak dulu. Anak harus lebih banyak dari parent (tertua). Karena hidup itu banyak menempuh tantangan dan bahaya, terutama bagi anak yang masih lemah dan sederhana. Makin banyak anak dilahirkan makin besar kesempatan selamat hidup sampai dewasa, lalu bereproduksi lagi (Yatim, 1994:11).

Sistem reproduksi jantan terdiri atas (1) testis yang dikelilingi tunika vaginalis dan selubung testis, (2) epididimis, (3) duktus deferens, (4) kelenjar aksesori, (kelenjar vesikulosa, prostat, dan bulbouretralis), (5) uretra, dan (6) penis yang dilindungi oleh prepusium (Dellman, dkk, 1992;446).

Secara anatomik, alat kelamin jantan dapt dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu: (Partodihardjo, 1987;25)

  1. Gonad atau testis (kelenjar benih) merupakan bagian alat kelamin yang utama
  2. Saluran-saluran reproduksi terdiri atas; epididymis, vas deferens dan uretra; sedang kelenjar-kelanjar mani terdiri atas: kelenjar vesikularis, kelenjar prostata, dan kelenjar bulboureralis atau kelenjar cowper
  3. Alat kelamin bagian luar yaitu: penis yang merupakan alat kopulasi dan penyalur mani dan urin; dan alat pelindung yang terdiri dari skrotum dan preputium.

Alat reproduksi jantan. Fungsi utaman alat reproduksi jantan, ialah (Girisonta, 1981;79):

  • Meproduksi sel jantan, yakni yang disebut spermatozoa atau biasa disingkat sperma
  • Memasukkan sperma pada alat reproduksi betina pada saat yang bertepatan

TESTES

Bentuk testis bulat panjang, dengan sumbu pemanjangannya ke arah vertikal. Setelah kulit dibuka (ikut tersayat korium, tunika dartos, tunoka vaginalis komunis), testes terbungkus oleh kapsul berwarna putih mengkilat yang disebut; tunika albuginea. Tunika ini mengandung urat syaraf dan urat darh; pembuluh darah ini terlihat berkelok-kelok (Partodihardjo, 1987;26).

Pada hewan dewasa panjang testes 12-15 cm, dan diameter berayun dari 6 sampai 8 cm. berat sebuah testis, termasuk tunika albuginea dan epididymis berayun antara 300 sampai 500 gram, tergantung pada umur, jenis sapi dan kondisi makanan (Partodihardjo, 1987;26)

Tunika vaginalis. Bila testis diangkat dari skrotum, lapis parietal tunika vaginalis tetap melekat pada skrotum, sedangkan lapis viseralis, pembalut peritoneum pada testis (dan epididymis) tetap bertaut erat pada kapsula testis di bawahnya, yakni tunika albuginea. Lapis viseralis tunika vaginalis terdiri dari mesotel dan jaringan ikat yang melekat pada tunika albuginea (Dellman dkk, 1992;446).

Testes pejantan dewasa normal mempunyai 2 fungsi yang penting (Salisbury, 1985;207):

ü  Memproduksi spermatozoa hidup dan subur

ü  Memproduksi androgen, atau hormonkelamin jantan, testosteron

Testis sapi jantan berbentuk bulat panjang, terletak di dalam kantong scrotum dan tergantung pada shorda spermaticus dengan bagian anterior testis testis lebih ke bawah atau dengan posisi ventral. Pada hewan dewasa panjang testis 10-12½ cm dan lebar 5-6,25 cm dengan berat 500 gram. Testis ini diselubungi oleh selapis turunan pengikat yang tipis dan elastis, tunica albuginea. Bila diraba selaput ini terasa kukuh dan kuat. Testis terbagi secara tak sempurna oleh mediastum, suatu septum yang terbatas. Helai-halai jaringan ikat berjalan dari pusat testis pada sumbu longitudinal dan bersambung dengan selaput pemisah. Segmen-segmen testis mengandung banyak tubuli seminiferi yang berkelok-kelok, jaringan longgar dan sel-sel intersetial yang berserakan. Panjang tubuli keseluruhan pada sapi jantan dewasa diperkirakan 4,5 km, dan setiap tubulus bergaris tengah 200 mikron lebih sedikit. Pada sapi jantan garis tengah tubuli bervariasi dari 207-296 mikron. Kira-kira 80% dari berat seekor sapi jantan normal terdiri dari tubuli (Salisbury, 1985;207).

Testis. Babi seperti halnya hewan ternak lainnya, memiliki dua buah testis yang berada di luar tubuh dan terbungkus oleh kantong yang disebut scrotum (Girisonta, 1981;79).

Testes babi sangat besar tapi relatif lebih lunak, dan terletak horizontal di dalam scrotum. Testes berbentuk lonjong, panjang 10 sampai 15cm, diameter 5 sampai 9cm, berat (dua testes) antara 500 sampai 800 gram, rata-rata 600 gram. Tubuli seminiferi mencapai panjang 600 meter (Toilehere, 1977;87).

Burung jantan memiliki sepasang testis perut berbaring cranioventral ke lobus ginjal pertama. Testis meningkat secara dramatis dalam ukuran selama musim kawin. Vas deferens muncul medial dan melewati caudally ke kloaka yang mana memiliki kesamaan dengan pembukaan ureter di Urodeum. Vas Terminal deferens bengkak sebagai organ penyimpanan, yaitu Glomus seminalis (atau vesikula seminalis seperti pada gambar ke kanan). Testes kanan lebih kecil daripada testes yang kiri. Testes berbentuk oval, warna keputihan, pada masa kawin membesar yang berfungsi sebagai penghasil sperma (Rachmanto, 2001;55).

 

Kedalaman testis terbagi atas lebih kurang 250 kamar bentuk piramid, yang puncaknya berada di mediastinum. Kamar-kamar itu disebut lobula testis, dipisahkan sesamanya dengan serat jaringan ikat (saluran penghasil mani) yang bergulung banyak sekali. Diantara tubuli terkandung jaringan ikat atau jaringan interstitial (Yatim, 1994;30).

Jika kita memotong skrotum secara melintang maka secara mikroskopis terlihat adanya lapisan-lapisan tenunen pembungkus testes (Partodihardjo, 1987;26-28):

  1. Epidermis adalah bagian kulit luar
  2. Korium adalah jangat bagian kulit yang mengandung banyak urat darah dan urat syaraf
  3. Tunika Dartos adalah fascia pelindung yang juga mengandung unsur serabut urat daging, jadi dapat berkontraksi
  4. Tenunan pengikat yang longgar
  5. Tenunan unika vaginalis komunis (bagian dari peritonium)
  6. Rongga sempit adalah bagian rongga perut yang menjulur ke daerah inguinal yang merupakan kantong dimana kemudian ditempati oleh testes yang turun dari dalam rongga perut sewaktu masih dalam perkembangan embrio
  7. Tunika albuginea mengandung serabut-serabut fascia yang licin mengkilat berwarna putih mengandung banyak buluh dan syaraf. Bagian ini merupakan pembungkus langsung parenchyma testes
  8. Parenchyma terdiri atas: tubuli seminiferi, lobuli, sel-sel instertitial, saluran-saluran cairan testes dan spermatozoa
  9. Mediastinum testes adalah bagian tengah dari testes, dan merupakan perluasan dari retetestes

Lobulus adalah kantong-kantong kecil yang pada umumnya berbentuk kerucut, seperti buah salak. Ujug medialnya lancip, sedang ujung lateralnya lebar dan merupakan dasar dari kerucut tersebut. Isi lobulus adalah tubulus seminiferus. Tabung ini kecil, panjang, berkelok-kelok memenuhi seluruh kerucut. Muara tabung seminiferus terdapat pada ujung medial dari kerucut dan langsung berhubungan dengan rete testes. Dinidng tubulus seminiferus terdiri atas sel-sel membran basal, epitel benih, sel-sel penunjang dan sel penghasil cairan testes (Partodihardjo, 1987;30).

Tubuli seminiferi memproduksispermatozoa hasil dari pembelahan sel yang berurutan berasal dari deretan sel epitel lembaga, yang disebut spermatogonia, dan terletak di membran basalis yang merupakan sebagai dinding luar tubules. Jadi pembelahan sel dan perkembangan sel berjalan ke arah dalam menuju ke lumen tubuli, yang tercampur dengan spermatozoa. Sel sertoli terletak berjarak pada dinding tubuli dan menonjol masuk ke dalam lumen. Dikatakan bahwa sel sertoli memberi makan spermatid sampai terjadi tingkat metamorphosis yang sempurna dan mereka akan tinggal hidup sendiri-sendiri (Salisbury, 1985;208).

Sel-sel leydig atau sel-sel interstitial, yang tersebar di parenchyma testes diantara tubuli, merupakan sumber hormon jantan. Pada sapi hormon ini muncul pertama kali didalam testis dari embrio berukuran 30 mm. testis embrio sapi tampak ssebelum terbentuk ovarium dan dapat dibedakan pada embrio berukuran 20 mm (Salisbury, 1985;209).

Sel-sel interstitial adalah sel-sel yang terdapat di antara lobuli. Sel-sel ini berbentuk poligonal teranyam bersama-sam tenunan pengikat. Karena ditemukan oleh leydig maka disebut sel leydig dan telah pula diketahui bahwa sel tersebut adalah penghasil hormon jantan, atau androgen. Produksi sel spermatozoa berjalan tanpa hentinya; kecepatan tergantung dari kondisi makanan. Diet berprotein tinggi akan berpengaruh ke arah produksi tinggi. Karena tanpa henti maka dalam tempo yang relatif singkat lumen tubuli seminiferi akan penuh. Karena sperma yang terbentuk belum bergerak, maka transport sperma ke dalam saluran sperma tergantung dari adanya cairan testis. Cairan ini dihasilkan oleh sel sertoli dan sel-sel lain yang terdapat di antara sel sertoli dan sel-sel spermatogonium dalam tubuli seminiferi (Partodihardjo, 1987;30).

SKROTUM

Skrotum adalah kantong testes. Dalam keadaan relaks pada sapi, skrotum itu panjang ke bawah. Kulit di daerah skrotum pada umumnya tak berbulu walaupu ada, bulu itu tipis dan jarang tumbuhnya (Partodiharjo, 1987;36).

Alat kelamin jantan dewasa normal hanya dapat terlihat scrotum dan sekelompok dan sekelompok penisnya saja, yaitu yang diliputi oleh rambut preputium. Scrotum yang merupakan kantong ganda berisi testis terdapat di daerah inguinal di antara kedua lipat paha, tepat di belakangputing yang rudimenter. Bagian luar scrotum terbagi dua secara simetris dilekukan tengah ke ara vertikal dan sedikit rata di permukaan anterior dan posterior. Tiap-tiap scrotum tersebut berisi satu testes (Salisbury, 1985;203).

Skrotum berfungsi mengatur temperatur testes dan epididymis supaya tetap bertemperatur 4⁰ sampai 7⁰ lebih rendah dari  temperatur tubuh. Mekanisme dari sistim thermoregulator ini dikerjakan oleh 2 muskulus yaitu: muskulus kremaster externa dan intera dan juga oleh tunika dartos. Kedua muskulus kremaster itu dapat menarik testes ke atas mendekati ruang perut untuk mendapat pemanasan. Pada kedaan panas, kedua muskulus kremaster itu merelaks dan testes itu turun menjauhi ruang perut. Demikian juga tunika dartos akan mengerut bila udara dingin. Akibatnya skrotum mengkerut, dan memaksa testes naik ke atas mendekati ruang perut (Partodiharjo, 1987;37).

Scotum babi terletak tepat dibawah anus dan tidak begitu jelas seperti yang terlihat pada mamalia lainnya (Toilehere, 1977;87).

 

 

SALURAN PENGELUARAN

Epididymis

Epididymis, suatu pembuluh yang timbul dari bagian dorsal testes berasal dari ductus efferensia, terdiri dri 3 bagian; kepala, badan, dan ekor (Slisury, 1985;213).

Caudal epididymis pada babi cukup besar, terletak pada bagian dorsal, corpus pada bagian cranial, dan caput di bagian ventral (Toilehere, 1977;87).

Epididymis pada babi adalah bagian dari organ reproduksi di dalam testis yang terbentuk tabung bergulung-gulung. Epididymis berfungsi :

  • Sebagai tempat penyimpanan sperma
  • Sebagai tempat keluarnya cairan yang bisa memberikan bahan makanan pada sperma
  • Sebagai tempat maturasi sperma (Girisonta, 1981;82).

Spermatozoa tertimbun di dalam epididymis dan menjadi dewasa selama perjalanannya di dalam pembuluh epididymis itu, yang panjangnya sampai 33-3 cm. pada sapi jantan 44 cm dan lebih panjang pada babi atau kuda jantan. Di dalam epididymis spermatozoa menjadi masak terhadap kemampuannya untuk memperlihatkan motilitas yang spontan dan kemempuan untuk membuahi ovum (Salisbury, 1985;215).

Pada merpati ada sepasang epididymis, berukuran kecil dan terletak pada bagian sisi dorsal testis, yang merupakan saluran spermatozoa (Rachmanto, 2001;57).

Vas Deferens

Vas deferens pada babi adalah saluran berbentuk bulat dan panjang yang menghubungkan antara epididymis dengan urethra. Fungsi utama adalah membawa sperma masuk ke dalam urethra pada saat ejakulasi (pemancaran sperma). Pemotongan atau pengikatan yang dilakukan terhadap saluran ini disebut vasectomy. Operasi dan pengikatan saluran semacam ini dimaksudkan agar supaya hewan menjadi steril (Girisonta, 1981;82).

Vas deferens berasal dari epididymis dan berjalan dari titik terendah testes ke atas dan bersama dengan tali spermaticus melewati cincin inguinalis dan di tempat itu vas deferens akan memisahkan diri dari pembuluh darah arteri dan vena, syaraf dan jaringan lain pada tali spermaticus tersebut. Vas deferens akan masuk ke dalam ruang abdominalis mengandung sel epitel yang berjajar hampir lurus, memiliki dua lapisan urat daging yang membujur dan melingkar, dan dibungkus oleh selaput peritonium. Vas deferens memiliki syaraf yang banyak jumlahnya berasal dari plexus pelvis dari sistem syaraf yang banyak jumlahnya berasal dari plexus pelvis dari sistem syaraf sympaticus. Di daerah pelvis vas deferens membesar dan membentuk ampulla Henle (panjang 10 sampai 17,5 cm) yang memiliki banyak kelenjar dan spermatozoa tertimbun di dalamnya (Salisbury, 1985;216).

Ujung terminalis vas deferens membentuk ampula (pada kuda, ruminansia, anjing) atau tidak (pada babi, kucing) mengandung kelenjar tubuloalveolar bercabang sederhana dalam propia-submukosa (Dellman, 1992;468).

Pada merpati vas deferens juga terdapat sepasang, pada burung muda, vas deferens terlihat lurus, sedangkan pada burung yang tua, tampak berkelok-kelok, berjalan ke caudal menyilang ke ureter, kemudian bermuara ke kloaka. Pada merpati, vas deferens sebelah kanan berkembang dengan baik, berbentuk panjang dan berkelok-kelok, yang sebelah kiri kurang berkembang dengan baik dan berbentuk agak lurus (Rachmanto, 2001;57).

Kedua ampula tidak panjang (±4 cm), sebab setelah menyusup di bawah kelenjar prostata dan bermuara, keduanya berupa saluran yang sempit dalam uretra. Sebelum koitus terjadi, yaitu pada saat rangsangan seksuil terjadi, vas deferens berkontraksi dan gerak peristaltik yang terjadi mengalirkan sperma dari bagian ekorepididymis ke dalam ampula (Partodiharjo, 1987;37).

Urethra

Urethra adalah saluran urogenitalis, jadi untuk urine dan semen. Yang disebut urethra ialah bagian saluran yang tergantung dari tempat bermuaranya ampula vas deferens sampai ke ujung penis. Menurut bentuk dan letaknya dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

  1. Bagian pelvis

Panjangnya kira-kira 15 sampai 20 cm dari muara ampula; bagian ini berupa pipa yang diselubungi oleh urat daging yang tebal dan terletak di atas simfisis pelvis

  1. Bagian yang membengkok

Dimana uretra itu meninggalkan simfisis pelvis sampai ke pangkal penis. Bagian ini berupa pipa yang mengandung sedikit sekali unsur urat daging. Panjangnya kira-kira 10 cm

  1. Bagian penis

Yaitu mulai dari pangkal penis ke ujung penis (Partodiharjo, 1987;39).

Urethra merupakan saluran pengeluaran yang biasa terpakai oleh produksi testis dan juga jalan keluar bagi produksi kelenjar pelengkap dan juga merupakan jalan keluar air kencing. Urethra berasal dari daerah pelvis dan penis dan berakhir pada ujung glands penis yang merupakan sebagai orificium externa urethralis. Urethra berdinding sel ephitel peralihan yang menjadi sel yang berbentuk pipih dan bertandukdi dekat ujung glands penis. Urethra berasal dari leher kandung air kencng, di orificium interna urethralis dan membesar tepat di belakang untuk selanjutnya membentuk colliculus seinalis, yaitu tempat masuknya pembuluh dari kelenjar ampulla dan kelenjar vesikula seminalis. Orificium ampulla berada di sebelah atas atau dorsal orificium dari vesicula seminalis kira-kira 40% dari pejantan; orificium ampulla ini berada di bawah atau ventral pada bangsa sapi lain kira-kira 40%; dan orificium ampulla berada di antara sebanyak 20% (Salisbury, 1985;216).

Urethra menghubungkan kandung air kencing dengan glands penis berfungsi untuk mengalirkan air kencing dan semen (Girisonta, 1981;82).

PENIS

Penis yaitu alat reproduksi bagian luar yang berfungsi untuk alat kopulasi yakni memasukkan sperma ke dalam lat reproduksi betina (girisonta, 1981;82).

Penis mempunyai 2 fungsi yaitu yang utama menyemprotkan semen ke dalam alat reproduksi betina; kedua, untuk lewatnya urin (Partodiharjo, 1987;41).

Pada sapi, penis berbentuk bulat panjang dan bertipe fibroelastis, artinya selalu dalam keadaan agak kaku dan kenyal meskipun dalam keadaan non-aktif atau non erecsi. Penis terbingkus oleh tunika fibrosa yang padat dan putih, disebutbtunica albiginea. Penis dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian pangkal, yang melekat pada fascia atau ligamenta yang kuat dan disebut “crus penis”. Bagian badan dimana di bagian tengahnya melipat melingkar merupakan huruf S disebut “Sigmoid” dan bagian ujung penis disebut “Glans penis” (Partodiharjo, 1987;41).

Korpus penis sapi jantan mengndung jaringan ikat sentral terbentuk dari susunan trabekula yang memusat. Ujung glans penis terdiri dari sel-sel mesenkim, sel lemak, dan ruang antar sel yang luas. Terdapat pleksus venosus erektil yang ekstensif. Penis kambing dan domba mirip dengan penis sapi jantan,glans penisnya membesar seperti tudung. Dua bentuk kantung lateral korpus spongiosum penis menonjol ke arah lateral (Dellman, 1992;48).

Penis babi mirip penis sapi tetapi flexura sigmoideanya terletak praescrotal. Bagian kranial penis tidak mempunyaiglans tetapi berbentuk spiral ke arah yang berlawanan dengan arahsampai 30 cm bagian penis tersebut keluar dari mulut praeputim (Toilehere, 1977;88).

Penis hewan jantan dewasa berukuran panjang 91,4 cm dan bergaris tengah 2,5 cm. bentuk penis ini sylindris dan sedikit menipis dari pangkal penis ke ujung yang bebas. Bagian ujung penis memiliki sedikit sekali jaringan tegang, kecuali bagian pangkal; jadi penis membesar sedikit pada waktu ereksi dan menjadi lebih tegang. Pada waktu keadaan penis mengndor atau tidak meregang, penis sapi jantan padat dan keras. Di belakang scrotum penis tadi membentuk lengkungan menyerupai huruf S ini akan menjadi  lurus yang menyebabkan penis mencapai panjang 91,4 cm. glans penis panjangnya sekitar 4,5 cm, memipih di bagian atas dan bawah, memuntir dan bagian ujungnya menguncup. Bagian ini berisi sedikit jaringan tegang dan pada waktu ereksi menjadi lebih besar sedikit (Salisbury,1985;221).

Perbedaan panjang penis antara ereksi dan tak ereksi adalah 3:2. Jadi kalau tak ereksi, panjang penis itu berkuran 1/3 dari panjang yang ereksi; ini disebabkan terutama oleh terbentuknya bentuk S oleh m. retraktor penis dan sebagian kecil oleh berkurangnya darah dalam corpus cavernosum penis (Partodiharjo, 1987;42).

Alat kopulasi pada merpati jantan berupa kloaka. Pada waktu kopulasi kedua kloaka dari jantan dan betina ditempelkan kuat-kuat, sehingga sperma yang keluar pada waktu ejakulasi langsung masuk ke dalam hewan betina untuk kemudian menuju ke oviduct (Rachmanto, 2001;58).

Praeputium

Bagian kranial penis dan glans penis terletak dalam kantung terdiri dari lipatan kulit berebntuk buluh, disebut praeputim, yang terdiri dari bagian luar dan bagian dalam. Lapis luar membentuk lipatan kulit ke dalam, dan pada lubang praeputium membentuk lapis dan praepitium. Keadaan ini menggambarkan daerah kranial penis dan tepatnya bertaut ke arah kranial glans penis (Dellman, 1992;484).

Praeputium mempunyai orificium yang sempit dengan bulu-bulu yang kaku. Pada dinding dorsal cavum praeputii ada pintu ke suatu kantong yang lonjong, diverticulum praeputii. Kantong praeutium mengandung campuran urine yang telah terurai dan sel-sel ephitel yang rusak dan mempunyai bau tidak enak dan khas babi jantan. Bau tersebut sangat menyolok dan dapat masuk ke dalam daging sehingga mengurangi rasa dagingnya (Toilehere, 1977;88).

Celah praeputium  pada sapi dewasa kira-kira 5 cm caudal dan tali pusat, lebarnya kira-kira dapat dimasuki 3 jari, serta disekitarnya ditumbuhi bulu-bulu pelindung yang lebih panjang dari bulu kulit biasa. Ruang praeputium yang berisi penis panjangnya 35 sampai 40 cm dan diameternya 3 sampai 4 cm (Partodiharjo, 1987;43).

Pada babi jantan , terdapat lekuk dorsal pada praepitium, disebut divertikulum prepusium. Terdapat pemisah yang kurang sempurna sehingga terbagi dua oleh septum medianum. Seringkali selaput lendir kutan yang bertanduk melipat. Campuran kemih dan epitel yang terkelupas membentuk zat yang berbau tidak enak (Dellman, 1992;484).

 

KELENJAR-KELENJAR TAMBAHAN

Kelenjar vesicularis

Pada sapi kelenjar ini sepsang; dari luar kelihatan jelas berlobuli; letaknya sebidang dengan ampulla vas deferens tetapi ada di sebelah lateral, jadi kedua ampula itu diapit oleh kedua kelenjar vesikuralis (Partodiharjo, 1987;38).

Pada babi jantan, kelenjar vesikulosa memiliki kapsula jaringan ikat biasa, tunika muskularisnya tipis. Septa interlobularis terdiri dari jaringan ikat dengan sedikit sel otot polos. Lumen tubulus lebar dan epitel yang bersekresi melipat (Dellman, 1992;471).

Sekresi kelenjar vesikularis merupakan 50% dari volume total dari suatu ejakulasi yang normal. Jadi kalau pejantan sapi itu ejakulasinya 5 cc maka 2½ cc berasal dari kelenjar vesikularis (Partodiharjo, 1987;38).

Hasil sekreta yang bersifat gelatin, putih atau kekuningan dari dari kelenjar vesikulosa merupakan 25% sampai 30% dari seluruh ejakulat sapi, kira-kira 10% sampai 30% pada babi, dan 7% sampai 8% dari domba dan kambing. Sekreta ini kaya akan fruktosa yang berperan sebagai sumber energi spermatozoa yang telah diejakulasikan (Dellman, 1992;472).

Kelenjar prostate

Kelenjar prostat pada sapi ada sepasang, bentuknya bulat dan jauh lebih kecil daripada kelenjar vesikularis. Sekresi dari kelenjar ini melalui beberapa muara kecil masuk ke dalam urethra kira-kira pada jarak 19 cm kaudal dari muara kelenjar vesikularis (Partodiharjo, 1987;38).

Kelenjar prostat merupakan kelenjar tubuloalveolar, berkembang dari epitel uretrha pelvis. Secara topografik dibedakan dua bagian; bagian padat kelenjar atau bagian luar (corpus prostat), dan bagian yang menyebar atau bagian dalam (pars disseminata prostatae). Bagian luar menutup bagian dorsalnya saja. Pars dissemnata terletak dalam propia-submukosa urethra pelvis (Dellman, 1992;472).

Pada babi kelenjar prostat terletak pada leher kandung kencing (baldder). Kelenjar ini menghasilkan cairan kental dan banyak mengandung protein serta garam yang berbau khas. Di samping itu kelenjar ini berfungsi membersihkan urethra selama ejakulasi serta melebarkan saluran sperma agar sperma bisa keluar dengan lancar (Girisonta, 1981;82).

Bagian luar kelenjar prostat pada sapi jantan relatif tidak jelas; dan ternyata tidak tampak pada ruminansia kecil. Bagian dalam yang cukup berkambang mengitari urethra pada sapi dan kambing jantan; pada domba jantan berbentuk huruf U. jalur tengah bagian ventral bersifat bebas kelenjar (Dellman, 1992;474).

Pada babi jantan, bagian luar kelenjar prostat seperti sebuah puring, bagian alam cukup berkembang mengitari uretra pelvis (Dellman, 1992;474).

Kontribusi sekreta kelenjar prostat terhadap volume total ejakulasi bervariasi, tergantung pada spesies. Pada ruminansia 4%-6%, kuda jantan 25%-30%, dan babi jantan 35%-60%. Salah satu fungsi kelenjar prostat adalah menetralisrkan plasma mani, membuatnya asam dengan akumulasi metabolit karbondioksida dan asam laktat, dan untuk merangsang gerak aktif spermatozoa dalam ejakulat (Dellman, 1992;474).

 

 

Kelenjar cowper

Terdapat sepasang kelenjar bulbouretralis (kelenjar cowper) terletak dorsoventral uretra dalam rongga pelvis. Bersifat sebagaikelenjar tubulus majemuk (babi, kucing, dan kambing jantan), atau tubuloalveolar (kuda, sapi dan domba jantan), anjing tidak memilikinya (Dellman, 1992;474).

Pembuluh sekresi dari kedua kelenjar ini bertemu dan bersatu kemudian menuju ke urethra; setelah 2-3 cm dari tempat pertemuan, pembuluh itu bermuara ke dalam urethra. Baik kelenjar prostat maupun cowper terbentuk dari lobuli dan tiap-tiap lobuli berbentuk tabung. Tiap-tiap lobuli dipisahkan oleh suatu dinding pemisah yang mengandung serabut-serabut urat daging licin. Urat dagung ini berkontraksi secara tiba-tiba dan sekresinya memancar keluar. Sel-sel sekretorinya berbentuk kubus dengan inti di dasarnya dan beberapa bintik-bintik di sekitar inti (Partodiharji, 1987;39).

Kelenjar berfungsi menghasilkan suatu cairan yang dapat membersihkan urethra pada saat semen terlepas (Girisonta, 1981;82).

Hasil sekresi yang bersifat mukus dam mirip protein kelenjar bulbouretralis, disekresikan mendahului proses ejakulasi pada ruminansia, berperan menetralisirkan lingkungan urethra dan melumasi urethra serta vagina. Pada babi jantan, hasil sekresi mukous yang kaya akan asam sialik (sialik acid) merupakan sebagian dari ejakulat (15%-30%) dan kemungkinan ikut membantu menutup serviks dalam menghindari kehilangan meni (Dellman, 1992;477).

Sebelum kopulasi, sering terlihat adanya tetesan-tetesan cairan dalam penis yang berasal dari cowper. Semua kelenjar accesor bersifat aprokrine, artinya: sebagian besar dari isi sel sekretorinya turut keluar pada saat sel itu mengeluarkan sekresinya (Partodiharjo, 1987;39).

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

  • Sitem reproduksi babi jantan : testes, epydidimis, vas deferns, urethra, penis dan kelenjar-kelenjar tambahan (kelenjar vesikularis, kelenjar prosta, kelenjar cowper).
  • Sistem reproduksi merpati jantan : testes, epididymis, vas deferens, urethra, kloaka dan kelenjar-kelenjar tambahan (kelenjar vesikularis, kelenjar prosta, kelenjar cowper).
  • Sitem reproduksi sapi jantan : testes, epydidimis, vas deferns, urethra, penis dan kelenjar-kelenjar tambahan (kelenjar vesikularis, kelenjar prosta, kelenjar cowper).
  • Perbedaan yang mencolok dintara ketiganya adalah pada ukuran alat kelamin, tentunya pada sapi dan babi lebih besar daripada pada alat kelamin merpati. Pada merpati alat kopulasi berupa kloaka, dan tidak mempunyai penis. Ukuran penis pada babi lebih besar dan panjang dari ukuran testis pada sapi.

 

 

Daftar pustaka

 

Dellman, dieter. Brown, esther. 1992. Buku histologi veteriner II. UI Press: Jakarta

Girisonta. 1981. Pedoman lengkap berternak babi. Yaysan kanisus: Yogyakarta

Partodiharjo, Dr. soebadi. 1987. Ilmu reproduksi hewan. Mutiara sumber widya: Jakarta

Rachmanto. 2001. Beternak dan mencetak merpati. Kanisus: Yogyakarta

Salisbury, GW. 1985.Fisiologi reproduksi dan inseminasi buatan pada sapi. UGM Press: Yogyakarta

Toilehere, R.Morres. 1977. Fisiologi reproduksi pada ternak. Angkasa: Banbung

 

MAKALAH “INFERTILITAS”

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. Latar Belakang

Infertilitas merupakan suatu permasalahan yang cukup lama dalam dunia kedokteran.Namun sampai saat ini ilmu kedokteran baru berhasil menolong ± 50% pasangan infertililitas untuk memperoleh anak. Di masyarakat kadang infertilitas di salah artikan sebagai ketidakmampuan mutlak untuk memiliki anak atau ”kemandulan” pada kenyataannya dibidang reproduksi, infertilitas diartikan sebagai kekurangmampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan, jadi bukanlah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan.

Menurut catatan WHO, diketahui penyebab infertilitas pada perempuan di antaranya, adalah: faktor Tuba fallopii (saluran telur) 36%, gangguan ovulasi 33%, endometriosis 30%, dan hal lain yang tidak diketahui sekitar 26%.Hal ini berarti sebagian besar masalah infertilitas pada perempuan disebabkan oleh gangguan pada organ reproduksi atau karena gangguan proses ovulasi.

  1. Tujuan
    1. Mengetahui penyebab dari infertilitas
    2. Mengetahui faktor-faktor penyebab serta diagnosis endometriosis
    3. Mengetahui gejala dari infertilitas
    4. Mengetahui pencegahan serta pengobatan infertilitas

 

  1.  Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian dari infertilitas?
    2. Apa faktor-faktor penyebab serta diagnosis infertilitas?
    3. Bagaimana gejala dari endometrriosis?
    4. Bagaimana pencegahan serta pengobatan infertilitas?

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

  1. Definisi Infertilitas

Infertilitas ialah pasangan suami-istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun.

  1. Secara medis, infertilitas dibagi menjadi 2 jenis, yaitu (Djuwantono,2008)

Infertilitas primer berarti pasangan suami-istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun.

Infertilitas sekundar berarti pasangan suami istri telah atau pernah memiliki anak sebelumnya, tetapi saat ini belum mampu memiliki anak lagi setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa menggunakan alat atau metode kontrasepsi dalam bentuk apapun.

Sebanyak 60%-70% pasangan yang telah menikah akan memiliki anak pada tahun pertama pernikahan mereka. Sebanyak 20% akan memiliki anak pada tahun ke-2 dari usia pernikahan. Sebanyak 10-20% sisanya akan memiliki anak pada tahun ke-3 atau lebih atau tidak akan pernah memiliki anak (Djuwantono,2008).

Walaupun pasangan suami-istri dianggap infertile, bukan tidak mungkin kondisi infertile sesungguhnya hanya dialami oleh sang suami atau sang istri. Hal tersebut dapat dipahami karena proses pembuahan yang berujung pada kehamilan dan lahirnya seorang manusia baru merupakan kerjasama antara suami dan istri. Kerjasama tersebut mengandung arti bahwa dua factor yang harus dipenuhi adalah: (1) suami memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan dan menyalurkan sel kelami pria (spermatozoa) ke dalam organ reproduksi istri dan (2) istri memiliki sistem dan fungsi reproduksi yang sehat sehingga mampu menghasilkan sel kelamin wanita (sel telur atau ovum) yang dapat dibuahi oleh spermatozoa dan memiliki rahim yang dapat menjadi tempat perkembangan janin, embrio, hingga bayi berusia cukup bulan dan dilahirkan. Apabila salah satu dari dua factor yang telah disebutkan tersebut tidak dimiliki oleh pasangan suami-istri, pasangan tersebut tidak akan mampu memiliki anak.

Berdasarkan hal yang telah disebutkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pasangan suami-istri dianggap infertile apabila memenuhi syarat-syarat berikut (Djuwantono,2008)

  1. Pasangan tersebut berkeinginan untuk memiliki anak
  2. Selama 1 tahun atau lebih berhubungan seks, istri belum mendapatkan kehamilan
  3. Frekuensi hubungan seks minimal 2-3 kali dalam setiap minggunya

Istri maupun suami tidak pernah menggunakan alat atau metode kontrasepsi, baik kondom, obat-obatan, dan alat lain yang berfungsi untuk mencegah kehamilan.

Hal-hal yang paling penting dalam berhasil atau tidaknya pengobatan infertilitas antara lain (Permadi,2008)

  1. Ketepatan diagnosis penyebab infertilitas
  2. Kondisi penyakit yang menjadi penyebab infertilitas
  3. Usia pasien
  4. Ketepatan metode pengobatan
  5. Kepatuhan pasien dalam berobat

 

  1. Penyebab Infertilitas

Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas, antara lain:

  1. Umur
  2. Lama infertilitas
  3. Stress
  4. Lingkungan
  5. Hubungan seksual
  6. Kondisi reproduksi wanita, meliputi cervix, uterus, dan sel telur
  7. Kondisi reproduksi pria, yaitu kualitas sperma dan seksualitas

(1) Umur

Kemampuan reproduksi wanita menurun drastis setelah umur 35 tahun. Hal ini dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah masa sistem reproduksi wanita berjalan optimal sehingga wanita berkemampuan untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase pubertas sampai sebelum fase menopause.

Fase pubertas wanita adalah fase di saat wanita mulai dapat bereproduksi, yang ditandai dengan haid untuk pertama kalinya (disebut menarche) dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder, yaitu membesarnya payudara, tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin, dan timbunan lemak di pinggul. Fase pubertas wanita terjadi pada umur 11-13 tahun. Adapun fase menopause adalah fase di saat haid berhenti. Fase menopause terjadi pada umur 45-55 tahun.

Pada fase reproduksi, wanita memiliki 400 sel telur. Semenjak wanita mengalami menarche sampai menopause, wanita mengalami menstruasi secara periodik yaitu pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat mengalami menstruasi sampai sekitar 400 kali. Pada umur 35 tahun simpanan sel telur menipis dan mulai terjadi perubahan keseimbangan hormon sehingga kesempatan wanita untuk bisa hamil menurun drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkan pun menurun sehingga tingkat keguguran meningkat. Sampai pada akhirnya kira-kira umur 45 tahun sel telur habis sehingga wanita tidak menstruasi lagi alias tidak dapat hamil lagi. Pemeriksaan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah atau USG saat menstruasi hari ke-2 atau ke-3.

(2) Lama Infertilitas

Berdasarkan laporan klinik fertilitas di Surabaya, lebih dari 50% pasangan dengan masalah infertilitas datang terlambat. Terlambat dalam artian umur makin tua, penyakit pada organ reproduksi yang makin parah, dan makin terbatasnya jenis pengobatan yang sesuai dengan pasangan tersebut.

(3) Stress

Stres memicu pengeluaran hormon kortisol yang mempengaruhi pengaturan hormon reproduksi.

(4) Lingkungan

Paparan terhadap racun seperti lem, bahan pelarut organik yang mudah menguap, silikon, pestisida, obat-obatan (misalnya: obat pelangsing), dan obat rekreasional (rokok, kafein, dan alkohol) dapat mempengaruhi sistem reproduksi. Kafein terkandung dalam kopi dan teh.

(5) Hubungan Seksual

Penyebab infertilitas ditinjau dari segi hubungan seksual meliputi: frekuensi, posisi, dan melakukannya tidak pada masa subur.

(6) Frekuensi

Hubungan intim (disebut koitus) atau onani (disebut masturbasi) yang dilakukan setiap hari akan mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang dianjurkan adalah 2-3 kali seminggu sehingga memberi waktu testis memproduksi sperma dalam jumlah cukup dan matang.

(7) Posisi

Infertilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas, yaitu dilakukan dengan frekuensi 2-3 kali seminggu, terjadi penetrasi dan tanpa kontrasepsi. Penetrasi adalah masuknya penis ke vagina sehingga sperma dapat dikeluarkan, yang nantinya akan bertemu sel telur yang “menunggu” di saluran telur wanita. Penetrasi terjadi bila penis tegang (ereksi). Oleh karena itu gangguan ereksi (disebut impotensi) dapat menyebabkan infertilitas. Penetrasi yang optimal dilakukan dengan cara posisi pria di atas, wanita di bawah. Sebagai tambahan, di bawah pantat wanita diberi bantal agar sperma dapat tertampung. Dianjurkan, setelah wanita menerima sperma, wanita berbaring selama 10 menit sampai 1 jam bertujuan memberi waktu pada sperma bergerak menuju saluran telur untuk bertemu sel telur.

(8) Masa Subur

Marak di tengah masyarakat bahwa supaya bisa hamil, saat berhubungan seksual wanita harus orgasme. Pernyataan itu keliru, karena kehamilan terjadi bila sel telur dan sperma bertemu. Hal yang juga perlu diingat adalah bahwa sel telur tidak dilepaskan karena orgasme. Satu sel telur dilepaskan oleh indung telur dalam setiap menstruasi, yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Peristiwa itu disebut ovulasi. Sel telur kemudian menunggu sperma di saluran telur (tuba falopi) selama kurang-lebih 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur.

 Menentukan Kesuburan Pria

Sperma merupakan cairan yang tersusun dari berbagai produk organ-organ pada sistem reproduksi pria. Secara lebih rinci, komposisi di dalamnya antara lain: 1) spermatozoa, 2) cairan yang diproduksi oleh kelenjar-kelenjar tambahan yang mengandung nutrisi dan pelindung spermatozoa serta pelumas.

Berdasarkan komposisi tersebut, analisis sperma mampu menghasilkan data yang akurat dan dapat dijadikan analisis kesuburan seorang pria. Sebagai contoh, dapat digambarkan hal-hal sebagai berikut (Herlianto,1971)

  1. Apabila sperma memiliki volume, warna, dan kekentalan yang normal, tetapi spermatozoa tidak ditemukan sama sekali, jumlahnya kurang dari jumlah normal, memiliki bentuk yang tidak lazim, atau belum mencapai kematangan, hal tersebut merupakan indikasi bahwa terdapat gangguan pada testis.
  2. Apabila sperma mengandung spermatozoa dalam jumlah dan bentuk yang normal, tetapi memiliki volume, warna serta kekentalan yang tidak normal, hal tersebut merupakan indikasi adanya gangguan pada kelenjar-kelenjar tambahan. Gangguan pada kelenjar tambahan juga dapat diindikasikan dengan banyak ditemukannya spermatozoa yang mati. Hal tersebut secara logis berhubungan dengan fungsi cairan yang dihasilkan kelenjar tambahan sebagai nutrisi dan pelindung spermatozoa.
  3. Apabila saat ejakulasi sperma tidak dikeluarkan sama sekali, hal tersebut mengindikasikan kemungkinan terjadinya gangguan multifaktorial, antara lain gangguan pada saluran keluar sperma yang disertai gangguan pada testis maupun kelenjar-kelenjar tambahan. Sumbatan (obstruksi) atau tidak terdapatnya saluran sperma tertentu merupakan akibat dari kelainan sejak lahir (Kongenital) juga memiliki kemungkinan untuk menjadi penyebab tidak dikeluarkannya sperma sama sekali.

Berdasarkan fakta ilmiah tersebut, analisis sperma dapat menjadi sebuah tes kesuburan yang dapat diandalkan untuk menemukan gangguan pada sistem reproduksi pria yang pada akhirnya mengakibatkan infertilitas (Permadi,2008).

  1. Normozoozpermia : karakteristik normal
  2. Ologozoospermia : konsentrasi spermatozoa kurang dari 20 juta per ml
  3. Asthenozoospermia : jumlah sperma yang masih hidup dan bergerak secara aktif, dalam waktu 1 jam setelah ajakulasi, kurang dari 50%
  4. Teratozoospermia : jumlah sperma dengan morfologi normal kurang dari 30%
  5. Oligoasthenoteraatozoospermia : kelainan campuran dari 3 variabel yang telah disebutkan sebelumnya
  6. Azoospermia : tidak adanya spermatozoa dalam sperma
  7. Aspermia : sama sekali tidak terjadi ejakulasi sperma

Menguji Kesuburan Seorang Wanita

Sistem reproduksi wanita dapat dibagi berdasarkan fungsi utama dari tiap organ yang menyusunnya. Fungsi utama tersebut antara lain (Permadi,2008)

  • Produksi dan pematangan sel telur di ovarium
  • Penghantaran sel telur yang telah matang ke tempat terjadinya pembuahan (ampulla tuba) dan zigot yang dihasilkan ke rahim
  • Implantasi zigot dan perkembangan embrio hingga menjadi bayi dalam rahim

Dengan memahami hal tersebut, prinsip pemeriksaan kesuburan yang dapat dilakukan adalah dengann memeriksa baik tidaknya fungsi utama organ-organ reproduksi dijalankan. Dengan demikian, prinsip-prinsip utama pemeriksaan kesuburan wanita adalah (Permadi,2008)

  • Memeriksa apakah ovarium mampu menghasilkan sel telur matang dan melepaskannya saat ovulasi
  • Memeriksa ada tidaknya sumbatan dalam tuba
  • Memeriksa ada tidaknya kelainan dalam rahim yang mampu menghambat terjadinya implantasi dan perkembangan janin

Obat-obat Infertilitas Pria adalah dengan terapi dan menggunakan obat-obat lain yang juga sering diberikan dokter sebagai obat pendukung dalam meningkatkan kesuburan adalah vitamin dan antibiotic. Pada umumnya, vitamin yang diberikan dokter adalah vitamin E. vitamin E telah terbukti memiliki efek antioksidan yang tinggi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup sel-sel tubuh, termasuk kerja sel yang berkaitan dengan produksi dan perkembangan spermatozoa hingga matang (Permadi,2008).

Antibiotik hanya diberikan apabila sang pria terbukti mengalami infeksi pada organ ataupun saluran reproduksinya. Antibiotik hanya diberikan atas instruksi dokter dan digunakan sesuai dengan petunjuk penggunanya (Permadi,2008).

Akibat dari pemakaian antibiotik yang tidak sesuai dengan aturan pakai adalah kuman penyebab infeksi yang menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Dengan demikian, hal tersebut justru menyebabkan bertambah parahnya kondisi sakit yang ada (Permadi,2008).

D. Diagnosis

Seorang wanita dengan gejala yang khas atau infertilitas yang tidak bisa dijelaskan biasanya diduga menderita endometriosis. Sebagai tambahan pemeriksaan laboratorium tertentu bisa membantu seperti kadar Ca – 125 dalam darah dan aktivitas endometrial aromatase. Tapi alat diagnosa yang paling dapat dipercaya adalah dengan laparoskopi, yang dilakukan dengan memasukkan alat laparoskop melalui sayatan kecil di bawah pusar. Dengan alat ini dokter dapat melihat organ-organ panggul, kista dan jaringan endometriosis secara langsung.
           Berdasarkan riwayat penyakit, gejala, dan tanda-tanda serta pemeriksaan bimanual saja, diagnosis endometriosis sukar dibuat. Hal ini disebabkan karena endometriosis sering menyerupai penyakit lain seperti dismenorea primer, radang pelvis, perlekatan pelvis, uterus miomatus, sindroma kongesti pelvis, salfingitis ismika nodosa, penyakit gastro intestinal, penyakit traktus urinarius dan neoplasma. Diagnosis biasanya dibuat atas dasar anamnesa dan pemeriksaan fisik, dan dipastikan dengan pemeriksaan laparaskopi. Kuldoskopi kurang bermanfaat terutama jika cavum Douglasi ikut serta dalam endometriosis. Pada endometriosis yang ditemukan pada lokasi seperti forniks vaginae post perineum, parut laparatomi, dan sebagainya, biopsis dapat memberi kepastian mengenai diagnosis.

Pemeriksaan laboratorium pada endometriosis tidak memberi tanda yang khas, hanya apabila ada darah dalam tinja atau air kencing pada waktu haid, dapat menjadi petunjuk tentang adanya endometriosis pada rektosigmoid atau pada kandung kencing. Sigmoidoskopi dan sitoskopi dapat memperlihatkan tempat perdarahan pada waktu haid. Differensial diagnosis, Adenomiosis uteri, radang pelvis dengan tumor adneksa dapat menimbulkan kesukaran dalam mendiagnosis. Kombinasi adenomiosis uteri atau mioma uteri dengan endometriosis, kista ovarium, karsinoma.

Gejala Endometriosis bisa timbul di berbagai tempat dan mempengaruhi gejala yang ditimbulkan. Tempat yang paling sering ditemukan adalah di belakang rahim, pada jaringan antara rektum dan vagina dan permukaan rektum. Tapi kadang-kadang ditemukan juga di tuba, ovarium, otot-otot pengikat rahim, kandung kencing dan dinding samping panggul.

Mengikuti siklus menstruasi, setiap bulan jaringan di luar rahim ini mengalami penebalan dan perdarahan. Perdarahan ini tidak mempunyai saluran keluar seperti darah menstruasi, tapi terkumpul dalam rongga panggul dan menimbulkan nyeri. Jaringan endometriosis dalam ovarium menyebabkan terbentuknya kista coklat. Akibat peradangan jaringan secara kronis, terbentuk jaringan parut dan perlengketan organ-organ reproduksi. Sel telur sendiri terjerat dalam jaringan parut yang tebal sehingga tidak dapat dilepaskan. Sepertiga penderita endometriosis tidak mempunyai gejala apapun selain infertilitas.

Penderita yang lain mengalami berbagai gejala dengan gejala utama nyeri. Beratnya endometriosis tidak berhubungan dengan derajat nyeri,bisa jadi endometriosis yang berat hanya menimbulkan nyeri ringan. Gejala yang sering timbul :

  1. Nyeri, hebatnya nyeri ditentukan oleh lokasi endometriosis
  • nyeri pada saat menstruasi
  • nyeri selama dan sesudah hubungan intim
  • nyeri ovulasi nyeri pada pemeriksaan dalam oleh dokter
  1. Perdarahan
  • perdarahan banyak dan lama pada saat menstruasi
  • spotting sebelum menstruasi
  • menstruasi yang tidak teratur
  • darah menstruasi yang berwarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau di akhir menstruasi
  1. Keluhan buang air besar dan kecil
  • nyeri pada saat buang air besar
  • darah pada feces
  • diare, konstipasi dan kolik
  • nyeri sebelum, pada saat dan sesudah buang air kecil Pencegahan dan Pengobatan Endometriosis.
  • Pencegahan Endometriosis

Medis berpendapat bahwa kehamilan adalah cara pencegahan yang paling baik untuk endometriosis. Gejala-gejala endometriosis memang berkurang atau hilang pada waktu dan sesudah kehamilan karena regresi endometrium dalam sarang-sarang endometriosis. Oleh sebab itu hendaknya perkawinan jangan ditunda terlalu lama, dan sesudah perkawinan hendaknya diusahakan supaya mendapat anak-anak yang diinginkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sikap demikian itu tidak hanya merupakan profilaksis yang baik terhadap endometriosis, melainkan menghindari terjaidnya infertilitas sesudah endometriosis, melainkan menghindari terjadinya infertilitas sesudah endometriosis timbul. Selain itu jangan melakukan pemeriksaan yang kasar atau melakukan kerokan pada waktu haid, karena dapat menyebabkan mengalirnya darah haid dari uterus ke tuba dan ke rongga panggul.

  • Ø Pengobatan Endometriosis

Pengobatan yang diberikan tergantung pada gejala, rencana mempunyai anak, usia dan luasnya daerah yang terkena. Pengelolaan endometriosis dengan obat-obatan tidak menyembuhkan, endeometriosis akan kambuh setelah pengobatan dihentikan. Pada wanita dengan endometriosis ringan sampai berat, terutama dengan kasus infertilitas, maka diperlukan pembedahan untuk membuang sebanyak mungkin jaringan endometriosis dan mengembalikan fungsi reproduksi.

Macam pengobatan hormonal untuk terapi endometriosis

  1. Androgen, yaitu preparat yang dipakai adalah metiltestoteran sublingual dengan dosis 5-10 mg perhari. Biasanya diberikan 10 mg per hari pada bulan pertama dilanjutkan dengan 5 mg perhari selama 2-3 bulan berikutnya. Kekurangan adalah:

 a) Timbulnya efek samping maskulinisasi terutama pada dosis melebihi 300 mg perbulan/ pada terapi jangka panjang.

b) Masih mungkin terjadi ovulasi, terutama pada dosis 5 mg per hari.

 c) Bila terjadi kehamilan akan menimbulkan cacat bawaan pada janin. Keuntungan adalah:

 1) Digunakan untuk mengurangi nyeri/ dispaneuri.

 2) Meningkatkan libido.

  1. Estrogen-progesteron, terapi standar yang dianjurkan adalah 0,03 mg etinil estradiol, kekurangan adalah terjadi mual, muntah dan perdarahan. Keuntungan adalah dilaporkan bahwa dengan terapi ini 30 %, penderita menyatakan keluhannya bekurang dan 18 % secara obyektif mengalami kesembuhan.
  2. Progestogen, dosis yang dipakai adalah medroksiprogesteron asetat 30-50 per hari atau noretiston asetat 30 mg per hari kekurangan adalah menghambatan ovulasi, sedangkan keuntungannya adalah terjadinya kehamilan lagi setelah terapi yaitu rata-rata sebesar 26 %.
  3. Danazol, dosis yang dianjurkan untuk endometriosis ringan atau sedang adalah 400 mg/ hari. Sedangkan untuk yang berat diberikan sampai dengan 800 mg perhari. Kekurangan adalah terjadi acne, kulit berminyak, perubahan suara, pertambahan berat badan dan edema. Sedangkan keuntungannya dapat mengurangi ukuran endometrioma dan menghilangkan rasa nyeri.
  4. Pembedahan
    1. Pembedahan konservatif dilakukan pada pasien dengan intentilitas dan sudah tua, yaitu dengan merusak seluruh endometriosis dan memperbaiki keadaan pelvis dengan cara neuroktomi presakral.
    2. Pembedahan definitif dilakukan pada pasien yang tidak ingin hamil atau beberapa gejala. Jenis pemebdahannya yaitu histerektomi total, salpingi, ooforektomi bilateral, dan eksisi tempat endometriosis. Perlu diingat terlebih dulu harus ditentukan apakah fungsi ovarium dipertahankan atau tidak. Fungsi ovarium dipertahankan pada endometriosis dini, tidak adanya gejala dan pasien usia muda yang masih punya anak. Fungsi ovarium dihentikan bila endometriosis sudah menyerang pelvis secara luas khususnya pada wanita usia lanjut.
    3. Pembedahan Radikal

Pembedahan dilakukan dengan mengangkat rahim dan ovarium di samping membersihkan jaringan endometriosisnya. Hal ini hanya dilakukan pada wanita dengan endometriosis hebat yang tidak mengalami perbaikan dengan pengobatan lain dan tidak lagi mengharapkan kehamilan. Setelah dilakukan pembedahan diberikan terapi pengganti estrogen, karena pengangkatan rahim dan ovarium menimbulkan akibat yang sama dengan menopause. Terapi pengganti ini diberikan 4-6 bulan setelah pembedahan agar semua jaringan endometriosis yang tersisa sudah habis dan tidak terbentuk kembali di bawah pengaruh estrogen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Infertilitas diartikan sebagai kekurang mampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan. Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas, antara lain:

  • Umur
  • Lama infertilitas
  • Emosi
  • Lingkungan
  • Hubungan seksual
  • Kondisi reproduksi wanita, meliputi cervix, uterus, dan sel telur
  • Kondisi reproduksi pria, yaitu kualitas sperma dan seksualitas

Gejala-gejala Endometriosis, antara lain :

  1. Nyeri, hebatnya nyeri ditentukan oleh lokasi endometriosis
  • nyeri pada saat menstruasi
  • nyeri selama dan sesudah hubungan intim
  • nyeri ovulasi
  • nyeri pada pemeriksaan dalam oleh dokter
  1. Perdarahan
  • pendarahan banyak dan lama pada saat menstruasi
  • spotting sebelum menstruasi
  • menstruasi yang tidak teratur
  • darah menstruasi yang berwarna gelap yang keluar sebelum menstruasi atau di akhir menstruasi
  1. Keluhan buang air besar dan kecil
  • nyeri pada saat buang air besar
  • darah pada feces
  • diare, konstipasi dan kolik
  • nyeri sebelum, pada saat dan sesudah buang air kecil
  1. Pencegahan dan Pengobatan Endometriosis
  • Pencegahan
    kehamilan adalah cara pencegahan yang paling baik untuk endometriosis.
  •  Pengobatan
  1. Ada 3 cara pengobatan Endometriosis yaitu :
    1. Pengobatan Hormonal
    2. Pembedahan
    3. Pembedahan Radikal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Djuwantono, Tono. 2008. Hanya 7 Hari Memahami Infertilitas. Bandung : PT Refika      Aditama

Herlianto, Harijati. 1971. Fertilitas (Kelahiran) dalam Pengantar Demogarfi.jakarta: PT              Lembaga Demografi UI.

Permadi, 2008. Mengatasi Infertilitas. Bandung: PT Grafindo

Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi Dan Embryologi.Bandung: Tarsito.

Vitahealth. 2008. Infertil: Informasi Lengkap Untuk Penderita dan Keluarganya. Jakarta: Gramedia.

Samsul, Hadi. 2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Surabaya.

http://www.wikipedia.com.

SUJUD TILAWAH DAN SYUKUR

BAB I

PENDAHULUAN

            Manusia adalah makhluk pelupa. Bukan manusia kalau dia tidak pernah lupa. Bahkan, sebagian ahli bahasa mengatakan, mengapa manusia disebut dengan an-nass atau al-insan? Karena memang suka lupa. Apakah lupa adalah sebuah ‘aib dan cacat? Tentu tidak semua. Bahkan, boleh jadi dalam banyak hal lupa adalah karunia dari Allah. Bayangkan, seandainya manusia tidak pernah lupa. Tentu dia tidak akan dapat makan minum dengan nikmat dan lahap karena apa yang dilihatnya di toilet misalnya, masih terbayang. Atau dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak, lantaran tayangan televise film horor yang baru saja ditontonnya, masih tergambar dengan jelas. Lebih jauh lagi, dia tidak akan menikah, karena trauma dengan berita yang sempat dibacanya di salah satu harian yang mengatakan bahwa seorang isteri tewas di tangan suaminya sendiri. Oleh karena itu, dalam banyak hal, lupa adalah biasa, bahkan sebuah karunia.

            Karena memang lupa adalah sifat manusia, masalahnya bagaimana kalau lupa itu terjadi ketika kita melaksanakan ibadah, khususnya shalat? Apa yang harus diperbuat? Mengulangi shalat ataukah melakukan perbuatan lain yang dianjurkan oleh ajaran Islam? Semua itu ada jawabannya dalam Ilmu Fiqh. Ketika seseorang melakukan shalat lalu lupa tidak mengerjakan salah satu wajib atau rukunnya, misalnya, maka Islam memberikan jalan keluar melalui Sujud Sahwi dan tidak perlu mengulang shalatnya.

            Selain Sujud Sahwi, dalam ajaran Islam juga dikenal dengan dua macam sujud lainnya yaitu Sujud Tilawah dan Sujud Syukur. Kalau Sujud Sahwi adalah sujud yang dilakukan karena lupa tidak melakukan sesuatu ketika shalat, maka Sujud Tilawah adalah sujud yang dilakukan karena membaca atau mendengar ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an yang sering disebut dengan ayat-ayat sajdah.

            Sementara Sujud Syukur dilakukan sebagai rasa syukur kita kepada Allah atas karunia dan kenikmatanyang telah diberikanNya, sekaligus atas bencana dan kesengsaraan yang telah dihindarkanNya. Ketiga macam sujud tersebut, insya Allah akan dibahas secara gamblang pada tulisan kali ini. Tulisan ini merupakan rangkaian dari tulisan sebelum dan sesudahnya nanti yang akan mengupas paket khusus seputar Fiqh Ibadah. Tulisan ini tentunya diharapkan agar para pembaca dapat mengetahui, memahami cara dan penyebab ketiga sujud tersebut dilakukan dan lebih umum lagi untuk dapat mengetahui cara melaksanakan ibadah dengan benar dan tepat. Sengaja dalam tulisan ini penulis suguhkan dan hadirkan hadits-haditsnya yang tentunya shahih, ditambah komentar dan tarjih penulis dari keragaman pendapat yang ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.1 Sujud Tilawah

a. Pengertian

            Sujud Tilawah adalah sujud yang dilakukan karena mambaca atau mendengar salah satu ayat dari ayat-ayat sajdah (ayat-ayat yang ketika membaca atau mendengarnya disunnatkan untuk sujud) yang terdapat dalam al-Qur’an. Dari definisi ini, ada dua kondisi seseorang disunnatkan untuk melakukan sujud tilawah, yaitu ketika ia membaca ayat sajdah dan ketika mendengar seseorang membaca ayat sajdah. Adapun yang termasuk ayat-ayat sajdah akan dibahas di bawah nanti.

b. Keutamaannya

            Dalam sebuah hadits dikatakan, keutamaan orang yang sujud karena membaca ayat sajdah adalah setan akan lari dan menangis tersedu-sedu. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

سجد , 􀑧 سجدة ف 􀑧 ن آدم ال 􀑧 رأ اب 􀑧 لم : ((إذا ق 􀑧 عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وس

سجود 􀑧 رت بال 􀑧 ة , وأم 􀑧 ه الجن 􀑧 سجد فل 􀑧 سجود ف 􀑧 ر بال 􀑧 ه, أم 􀑧 ا ويل 􀑧 ول: ي 􀑧 ى, يق 􀑧 شيطان يبك 􀑧 زل ال 􀑧 اعت

فعصيت فلي النار)) [رواه مسلم وأحمد وابن ماجه]

Artinya: “Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Apabila keturunan anak adam membaca ayat sajdah lalu ia sujud (tilawah), maka setan akan menjauh sambil menangis dan berkata:

“Aduh celaka dan sialnya nasibku, ia diperintahkan untuk bersujud, lalu ia sujud, maka baginya adalah surga, sementara saya diperintah sujud akan tetapi saya membangkang perintah tersebut, dan bagi saya adalah neraka” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).

            Dalam hadit-hadits lain yang menerangkan keutamaan orang-orang yang sering melakukan sujud (sujud secara umum) juga disebutkan bahwa orang yang seringkali bersujud, apabila suatu saat ia terpaksa masuk ke dalam neraka, ia akan segera dikeluarkan dari neraka itu lantaran ada bekas sujudnya. Bahkan, hanya bekas sujudlah yang tidak akan terkena lahapan api neraka. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ketika berbicara hari kebangkitan dan syafaat.

􀑧 ل الن 􀑧 ن أه 􀑧 ن أراد م 􀑧 ة م 􀑧 ى إذا أراد الله رحم 􀑧 لم : ((…حت 􀑧 قال رسول الله صلى الله عليه وس

أمر الله الملائكة أن يخرجوا من آان يعبد الله , فيخرجونهم ويعرفونهم بآثار السجود , وحرم

ر 􀑧 ار إلا أث 􀑧 ه الن 􀑧 ن آدم تأآل 􀑧 ل اب 􀑧 ار,فك 􀑧 ن الن 􀑧 ون م 􀑧 سجود, فيخرج 􀑧 ر ال 􀑧 ل أث 􀑧 ار أن تأآ 􀑧 ى الن 􀑧 الله عل

السجود)) [رواه البخاري ومسلم].

       Artinya: “Rasulullah Saw bersabda: “Sehingga apabila Allah hendak memberikan rahmat   kepada penghuni neraka, Allah memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan siapa saja yang      menyembah Allah.

             Para malaikat akan mengeluarkan mereka dengan jalan dikenali dari bekas sujudnya.Dan Allah mengaharamkan api neraka untuk membakar bekas sujud. Mereka  lalu dikeluarkan dari neraka. Seluruh keturunan Adam akan dimakan oleh api neraka kecuali bekas sujud” (HR. Bukhari Muslim).

لم 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ول الله ص 􀑧 أل رس 􀑧 ه س 􀑧 لم أن 􀑧 عن ثوبان مولى رسول الله صلى الله عليه وس

ك لا 􀑧 سجود , فإن 􀑧 رة ال 􀑧 ك بكث 􀑧 لم : ((علي 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ال ص 􀑧 ة , فق 􀑧 ه الجن 􀑧 عن عمل يدخله الله ب

ذى 􀑧 سلم والترم 􀑧 ة )) [رواه م 􀑧 ا خطيئ 􀑧 ك به 􀑧 ط عن 􀑧 ة , وح 􀑧 ا درج 􀑧 ك الله به 􀑧 جدة إلا رفع 􀑧 سجد لله س 􀑧 ت

والنسائي وابن ماجه]

 

Artinya: “Tsauban, maula Rasulullah Saw, suatu saat bertanya kepada Rasulullah Saw tentang amal yang akan memasukkannya ke dalam surga. Rasulullah Saw menjawab: “Kamu harus memperbanyak sujud, karena tidaklah kamu bersujud satu kali kepada Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatmu sekaligus Allah juga akan menghapuskan kesalahanmu” (HR. Muslim).

􀑧 ى الجن 􀑧 ه ف 􀑧 لم مرافقت 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ول الله ص 􀑧 أل رس 􀑧 ه س 􀑧 عن ربيعة بن آعب الأسلمى أن فقال: ((أعنى على نفسك بكثرة السجود)) [رواه مسلم وأبو داود والنسائي وأحمد

Artinya: “Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslamy pernah bertanya kepada Rasulullah Saw entang amalan yang bisa mendekatkan dirinya dengan Rasulullah Saw kelak di surga. Rasulullah menjawab: “Bantulah saya dengan jalan kamu memperbanyak sujud” (HR. Muslim).

            Hukum melakukannya Para ulama telah sepakat, bahwa Sujud Tilawah itu diperintahkan. Hal ini berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih yang bebicara mengenai hal tersebut. Salah satunya adalah hadits berikut ini:

سج 􀑧 سجدة في 􀑧 ا ال 􀑧 سورة فيه 􀑧 ا ال 􀑧 رأ علين 􀑧 لم يق 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ي ص 􀑧 ان النب 􀑧 ر: ((آ 􀑧 ن عم 􀑧 ن اب 􀑧 ع

ونسجد معه حتى ما يجد أحدنا موضعا لجبهته)) [رواه البخارى ومسلم

Artinya: “Dari Ibnu Umar, bahwasannya Rasulullah Saw pernah membacakan untuk kami satu surat yang terdapat ayat sajdahnya. Beliau lalu sujud, dan kami pun ikut sujud bersamanya sehingga masingmasing kami tidak mendapatkan lagi tempat untuk meletakkan dahinya (untuk sujud)” (HR. Bukhari Muslim).

            Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya, apakah hukum melaksanakan Sujud Tilawah ini wajib ataukah sunnah saja? Dalam hal ini para ulama terbagi dua kelompok:

Pendapat pertama, mengatakan hukum melaksanakan Sujud Tilawah ini adalah wajib. Artinya, apabila seseorang membaca ayat sajdah kemudian tidak sujud, maka berdosa. Pendapat ini dipegang oleh Madzhab ats-Tsauri, Abu Hanifah dan Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah.

Pendapat kedua, mengatakan bahwa hukum melaksanakan Sujud Tilawah adalah sunnah saja dan bukan wajib. Artinya, bagi yang sujud, ia mendapat pahala, dan bagi yang tidak sujud, ia tidak mendapat dosa. Pendapat ini merupakan pendapat kebanyakan para ulama (jumhur ulama) seperti Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Auzai, Imam Laits, Imam Ahmad bin Hanbal, Ishak, Abu Tsaur, Dawud dan Ibn Hazm. Dari kalangan sahabat yang berpendapat seperti ini adalah Umar bin Khatab, Salman, Ibn Abbas, dan Imran bin Hushain.

            Di antara alasan dan argumen yang disodorkan oleh kelompok pertama yang mengatakan bahwa sujud tilawah ini hukumnya wajib adalah dalil-dalil berikut ini:

(21- فما لهم لا يؤمنون* وإذا قرئ عليهم القرآن لا يسجدون (الإنشقاق: 2

Artinya: “Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud” (QS al-Insyiqaq: 20-21)

(( فاسجدوا لله واعبدوا (النجم: 6

Artinya: “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)” (QS. An-Nahm: 62).

( واسجد واقترب (العلق: 19

Artinya: “Dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. Al-Alaq: 19).

سجد , 􀑧 سجدة ف 􀑧 ن آدم ال 􀑧 رأ اب 􀑧 لم : ((إذا ق 􀑧 عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وس

سجود 􀑧 رت بال 􀑧 ة , وأم 􀑧 ه الجن 􀑧 سجد فل 􀑧 سجود ف 􀑧 ر بال 􀑧 ه, أم 􀑧 ا ويل 􀑧 ول: ي 􀑧 ى, يق 􀑧 شيطان يبك 􀑧 زل ال 􀑧 اعت

فعصيت فلي النار)) [رواه مسلم وأحمد وابن ماجه]

Artinya: “Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Apabila keturunan anak adam membaca ayat sajdah lalu ia sujud tilawah, maka setan akan menjauh sambil menangis dan berkata: “Aduh celaka dan sialnya nasibku, ia diperintahkan untuk bersujud, lalu ia sujud, maka baginya adalah surga, sementara saya diperintah sujud akan tetapi saya membangkang perintah tersebut, dan bagi saya adalah neraka” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).

قال عثمان: إنما السجود على من استمع (رواه ابن أبي شيبة بإسناد صحيح)

Artinya: Utsman berkata: “Sujud Tilawah itu hanyalah bagi yang mendengar (bacaannya)” (HR. Ibn Abi Syaibah dengan sanad yang sahih).

            Sementara Jumhur ulama yang mengatakan bahwa sujud tilawah hanyalah sunnah mengatakan bahwa ayat 21 dari surat al-Insyiqaq di atas yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama yang mengatakan sujud tilawah itu wajib tidak ada kaitannya dengan sujud tilawah, karenanya tidak tepat kalau berhujjah menggunakan ayat tersebut. Karena, ayat tersebut berbicara tentang orang-orang yang tidak mau bersujud lantaran kesombongan dan keangkuhannya. Sementara mereka yang berpendapat sunnah, tetap melakukan sujud bahkan tetap mengakui keutamaan dan kemasyru’an sujud tilawah tersebut. Karena itu, berhujjah dengan ayat di atas, tidak tepat.

            Sedangkan ke dua ayat yaitu surat an-Najm: 62 dan al-Alaq: 19 yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama juga kurang tepat. Ayat di atas juga tidak ada kaitan dengan sujud tilawah. Ayat di atas berbicara secara umum tentang sujud yang boleh jadi berarti sujud ketika shalat atau lainnya.

            Karena banyak kemungkinan inilah, maka ayat di atas tidak dapat dijadikan dalil akan wajibnya sujud tilawah ini. Bahkan, dalam riwayat lain dijelaskan bahwa ketika Rasulullah Saw mendengar bacaan ayat sajdah, belaiu tidak sujud. Seandainya sujud tilawah itu adalah wajib, tentu Rasulullah Saw akan bersujud dan memerintahkan para sahabat lainnya untuk sujud. Tapi tidak demikian. Ini artinya, bahwa memang sujud tilawah itu bukanlah sesuatu yang wajib, hanya sunnah saja. Riwayat dimaksud adalah:

􀑧 ا. وف 􀑧 سجد فيه 􀑧 عن زيد بن ثابت قال : قرأت على النبي صلى الله عليه وسلم (والنجم) فلم ي

رواية: فلم يسجد منا أحد

Artinya: “Zaid bin Tsabit berkata: “Saya pernah membaca surat an-Najm di hadapan Rasulullah Saw, akan tetapi Rasulullah Saw tidak melakukan Sujud Tilawah (ketika mendengar ayat sajdahnya). Dalam riwayat lain dikatakan: “Di antara kami tidak ada yang sujud”.

            Demikian juga dengan hadits berikut ini yang mengatakan bahwa Umar bin Khatab ketika khutbah Jum’at kemudian membaca ayat sajdah, ia tidak sujud tilawah. Ini juga menguatkan pendapat bahwa sujud tilawah hukumnya sunnah saja, bukan wajib. Hadits dimaksud adalah sebagai berikut:

سجدة 􀑧 اء ال 􀑧 ى إذا ج 􀑧 ل حت 􀑧 ورة النح 􀑧 ر س 􀑧 ى المنب 􀑧 ة عل 􀑧 وم الجمع 􀑧 رأ ي 􀑧 عن عمر بن الخطاب أنه ق

ال : 􀑧 سجدة , ق 􀑧 فنزل فسجد , فسجد الناس , حتى إذا آانت الجمعة القابلة , قرأ بها حتى إذا جاء ال

م 􀑧 ه , ول 􀑧 م علي 􀑧 لا إث 􀑧 سجد ف 􀑧 م ي 􀑧 ن ل 􀑧 ((يا أيها الناس , إنما نمر بالسجود , فمن سجد فقد أصاب , وم

يسجد عمر رضي الله عنه)) [رواه البخاري]

Artinya: “Dari Umar bin Khatab bahwasannya ia pernah membaca surat an-Nahl ketika sedang khutbah Jum’at. Ketika ia membaca ayat sajdah, ia turun dari mimbar lalu sujud dan orang-orang ikut sujud bersamanya. Pada hari Jum’at berikutnya, Umar kembali membaca surat tersebut. Ketika ia membaca ayat sajdahnya, Umar berkata: “Wahai manusia, kami baru saja membaca ayat sajdah, maka barang siapa yang mau sujud, silahkan dan ia telah sesuai dengan sunnah. Dan barangsiapa yang tidak melakukan sujud, maka ia tidak berdosa”. Umar pun tidak melakukan sujud” (HR. Bukhari).

            Hadits di atas semakin menguatkan bahwa sujud tilawah hukumnya sunnah saja, karena ternyata dalam hadits di atas dijelaksan, bahwa pada Jum’ah berikutnya, Umar bin Khatab tidak melakukan sujud tilwah, padahal para sahabat Rasulullah Saw lainnya banyak yang hadir dan mereka tidak ada yang protes satu pun. Ini menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan pendapat Umar bin Khatab, bahwa sujud tilawah hukumnya sunnah saja. Dan pendapat Jumhur Ulama ini, menurut penulis, adalah pendapat yang lebih kuat dan lebih mendekati kebenaran.

c. Bagaimana cara melakukan Sujud Tilawah?

Dalam melakukan sujud tilawah ini ada empat catatan yang harus diperhatikan:

  1. Para ulama sepakat bahwa sujud tilawah dilakukan hanya dengan sekali sujud.
  2. Cara melakukan sujud tilawah persis sama dengan cara melakukan sujud biasa dalam shalat.
  3. Dalam melakukan sujud tilawah ini, menurut pendapat yang lebih kuat, tidak mesti memakai takbiratul ihram (takbir untuk memulai shalat), juga tidak memakai salam. Jadi, dalam prakteknya, begitu anda membaca atau mendengar ayat sajdah, anda langsung sujud sekali saja sebagaimana sujud dalam shalat, tanpa takbiratul ihram terlebih dahulu. Setelah itu bangun lagi dan teruskan bacaan shalatnya, tanpa memakai salam. Demikian menurut Imam Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal dan menurut Ibnu Taimiyyah.

Adapun hadits Ibnu Umar yang mengatakan:

􀑧 ر , وس 􀑧 سجدة آب 􀑧 آان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ علينا القرآن , فإذا مر بال

وسجدنا [رواه أبو داود]

Artinya: “Rasulullah Saw pernah membacakan ayat al-Qur’an kepada kami. Begitu beliau membaca ayat sajdah, beliau bertakbir lalu sujud dan kami pun turut sujud bersamanya” (HR. Abu Dawud).

            Adalah hadits dhaif yang tidak bisa dijadikan hujjah. Namun demikian, Jumhur Ulama mengatakan bahwa mengucapkan takbir (Allahu akbar) ketika hendak sujud dan ketika bangun dari sujud adalah sunnah. Hemat penulis, dalil shahih yang layak untuk dijadikan argumen untuk thesis Jumhur ini adalah hadits berikut:

􀑧 ع التكبي 􀑧 ه م 􀑧 ع يدي 􀑧 ان يرف 􀑧 لم آ 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ي ص 􀑧 ر: ((أن النب 􀑧 ن حج 􀑧 ل ب 􀑧 ن وائ 􀑧 ع

ويكبر آلما خفض وآلما رفع)) [رواه أحمد بإسناد حسن].

Artinya: “Dari Wail bin Hajar, bahwasannya Rasulullah Saw bertakbir sambil mengangkat

kedua tangannya. Demikian juga setiap kali menunduk dan bangkit, beliau selalu bertakbir”

(HR. Ahmad dengan sanad Hasan).

            Dengan demikian, penulis cenderung untuk mengatakan, bahwa meski pendapat yang mengatakan bahwa sujud tilawah itu tanpa memakai takbir dan salam lebih kuat, namun, pendapat jumhurpun boleh dilakukan karena ada keterangan berupa hadits Hasan yang menjadi sandarannya. Namun demikian, jumhur ulama juga sama dengan pendapat pertama, bahwa untuk sujud tulawah tidak ada salam. Oleh karena itu, apabila anda melakukan sujud tilawah lalu ketika mau sujud dan ketika bangkit dari sujud mengucapkan takbir, maka sah-sah saja dan boleh-boleh saja.

  1. Menurut Madzhab Hanabilah, ulama Hanafiyyah generasi terakhir, sebagian ulama syafi’iyyah dan menurut Ibnu Taimiyyah, bahwa orang yang akan melakukan sujud tilawah di luar shalat (bukan ketika shalat), lebih afdhal (lebih utama) kalau dia berdiri terlebih dahulu lalu mengucapkan takbir dan kemudian sujud. Bukan dilakukan sambil duduk. Hal ini, menurut mereka, karena kata al-khurur dalam surat al-Isra ayat 107 yang berbunyi:

إذا يتلى عليهم يخرون للأذقان سجدا

Artinya: “…Apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud” (QS. Al-Isra: 107).

            Maknanya adalah turun dari berdiri (suquth min qiyam). Sedangkan menurut pendapat Madzhab Syafi’i dan lainnya, bahwa sujud tilawah boleh juga dilakukan sambil duduk, tidak mesti harus berdiri terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan tidak ada keterangan dari hadits yang mengatakan secara jelas dan tegas bahwa sujud tilawah ini harus dilakukan dengan berdiri terlebih dahulu. Untuk itu, hemat penulis, pendapat Madzhab Syafi’i ini lebih mendekati kebenaran, artinya, sujud tilawah boleh dilakukan sambil berdiri terlebih dahulu, atau sambil duduk. Keduanya sah-sah saja.

  1. Sujud Tilawah dilakuan dalam dua keadaan; di luar shalat dan ketika sedang shalat. Cara melakukan Sujud Tilawah di luar shalat adalah sebagai berikut: Ketika anda membaca atau mendengar ayat sajdah, anda langsung berdiri atau boleh juga duduk mengahadap kiblat, lalu ucapkan takbir: “Allahu Akbar” atau tidak mengucapkan takbir juga boleh, lalu sujudlah satu kali sebagai mana anda sujud ketika melakukan shalat. Setelah itu, bangkitlah kembali sambil mengucapkan takbir: “Allahu Akbar”, atau tanpa takbir. Setelah itu, anda teruskan bacaan al- Qur’annya tanpa salam terlebih dahulu.

            Sedangkan apabila dilakukan ketika sedang shalat, maka begitu membaca ayat sajdah, anda langsung sujud satu kali lalu bangkit berdiri lagi, dan teruskan bacaan shalat anda.

d. Apakah Sujud Tilawah harus menghadap kiblat dan harus berwudhu terlebih dahulu??

            Menurut Jumhur ulama (kebanyakan ulama), Sujud Tilawah disyaratkan harus memenuhisyarat-syarat shalat lainnya, misalnya, harus menghadap kiblat dan harus dilakukan oleh orang yang mempunyai wudhu.

            Sedangkan menurut Ibn Hazm dan Syaikul Islam Ibn Taimiyyah, bahwa Sujud Tilawah tidakdiharuskan menghadap kiblat, juga tidak disyaratkan harus mempunyai wudhu terlebih dahulu, karena Sujud Tilawah bukanlah shalat, akan tetapi ia hanyalah sebuah ibadah. Dan sebagaimana diketahui, bahwa tidak semua ibadah disyaratkan harus memakai wudhu dan menghadap kiblat. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sahabat dan para ulama lain semisal Ibnu Umar, Imam asy-Sya’by dan ImamBukhari. Dan pendapat inilah, hemat penulis, yang lebih kuat dan lebih afdhal.

            Pendapat kedua ini dikuatkan oleh sebuah hadits Ibnu Abbas berikut ini:

سلمون 􀑧 ه الم 􀑧 جد مع 􀑧 النجم وس 􀑧 جد ب 􀑧 لم س 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ي ص 􀑧 اس : (( أن النب 􀑧 ن عب 􀑧 ن اب 􀑧 ع

والمشرآون والجن والإنس)) [رواه البخارى والترمذى]

 

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, bahwasannya Rasulullah Saw ketika membaca surat an-Najm, ia sujudtilawah dan orang-orangpun ikut sujud bersamanya, termasuk orang-orang musyrik, jin dan manusia” (HR. Bukhari).

            Sehubungan dengan hadits di atas, Imam Bukhari mengatakan, hadits ini mengisyaratkan bahwa orang musyrik pun melakukan sujud tilawah. Dan sebagaimana diketahui, bahwa orang musyrik tentu mereka tidak mempunyai wudhu karena mereka adalah najis (berhadats besar dan kecil).

            Kalau seandainya Sujud Tilawah ini harus dilakukan oleh orang yang mempunyai wudhu, tentu Rasulullah Saw akan melarang orang-orang musyrik tersebut untuk sujud tilawah, tapi ternyata tidak melarangnya. Ini berarti, bahwa Sujud Tilawah tidak mesti berwudhu sebelumnya.

            Sehubungan dengan masalah ini pula, Imam Syaukani berkata: “Tidak ada satupun hadits yang berbicara tentang Sujud Tilawah yang mensyaratkan orang yang melakukannya harus mempunyai wudhu. Dalam banyak kesempatan, Rasulullah dan para sahabat yang mendengar bacaan ayat Sajdah, melakukan Sujud Tilawah bersama-sama, akan tetapi Rasulullah Saw tidak memerintahkan salah seorangpun dari mereka untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu. Padahal, tidak semua sahabat saat itu mempunyai wudhu. Bahkan terkadang, Rasulullah Saw sujud bersama orang-orang musyrik sebagaimana dikatakan dalam hadits di atas, dan tentunya orang-orang musyrik tidak mempunyai wudhu kerena mereka adalah najis….Adapun menutup aurat dan menghadap kiblat, selama memungkinkan, para ulama sepakat mensyaratkannya. Tapi sekali lagi dengan catatan, selama memungkinkan”.

            Dari pendapat-pendapat di atas, penulis lebih condong untuk mengatakan, selama Sujud Tilawah ini dilakukan di luar shalat, tidak disyaratkan harus menghadap kiblat, dan tidak harus mempunyai wudhu terlebih dahulu sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyyah dan Ibn Hazm di atas.

            Akan tetapi apabila dilakukan menghadap kiblat, mempunyai wudhu terlebih dahulu, tentu ini lebih afdhal dan lebih sempurna. Karena bagaimanapun Sujud Tilawah adalah salah satu bentuk ibadah. Dan sebuah ibadah alangkah lebih baiknya kalau dilakukan dalam keadaan suci dan menghadap kiblat.

            Sekali lagi, kalau memungkinkan untuk mengambil wudhu dan menghadap kiblat, tentu itu lebih utama, akan tetapi menghadap kiblat dan berwudhu, bukanlah syarat sahnya Sujud Tilawah.

e. Bagaimana cara sujudnya orang yang sedang dalam kendaraan?

            Apabila seseorang membaca atau mendengar salah satu ayat sajdah sementara dia sedang berjalan (bepergian) atau sedang berada di atas kendaraan, kemudian dia bermaksud untuk melakukan sujud tilawah, maka menurut sebagian para sahabat dan para ulama generasi salaf seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan lainnya, cukup dengan berisyarat berupa menundukkan kepalanya sedikit ke arah manapun ia sedang menghadap saat itu. Hal ini seperti dikatakan oleh Ibnu Umar dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih, ketika ia ditanya cara melakukan sujud tilawah bagi yang sedang berada dalam kendaraan, Ibnu Umar mengatakan: “Sujudlah dengan cara isyarat”. Demikian juga dengan orang yang sedang berjalan kaki (bepergian), apabila tidak bisa berhenti sejenak untuk melakukan sujud dan dia bermaksud untuk sujud, maka cukup dengan menganggukkan kepalanya sebagai isyarat sujudnya.

f. Apa yang dibaca ketika Sujud Tilawah?

            Sehubungan dengan masalah ini, terdapat dua hadits yang menginformasikan bacaan ketika Sujud Tilawah. Berikut kedua hadits di atas:

􀑧 ول ف 􀑧 ل , يق 􀑧 رآن باللي 􀑧 جود الق 􀑧 ى س 􀑧 ول ف 􀑧 عن عائشة قالت : آان النبي صلى الله عليه وسلم ي

ه)) 􀑧 ه وقوت 􀑧 صره بحول 􀑧 معه وب 􀑧 ق س 􀑧 وره وش 􀑧 ه وص 􀑧 ذى خلق 􀑧 ى لل 􀑧 جد وجه 􀑧 رارا: ((س 􀑧 سجدة م 􀑧 ال

[رواه أبو داود, والترمذى والنسائي)

Artinya: “Siti Aisyah berkata: “Bahwasannya Rasulullah Saw ketika sujud tilawah pada malam hari,beliau membaca do’a berikut secara berulang-ulang: ” sajada wajhii lilladzi khalaqahu washawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bihaulihi wa quwwatihi (wajahku aku sujudkan kepada yang telah menciptakan dan membentuknya, juga yang telah memecahkan pendengaran, penglihatannya dengan segala daya dan kekuatanNya)”        (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

􀑧 ول الله , إن 􀑧 ا رس 􀑧 ال ي 􀑧 لم فق 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ي ص 􀑧 ى النب 􀑧 ل إل 􀑧 اء رج 􀑧 ال: ج 􀑧 اس ق 􀑧 ن عب 􀑧 ن اب 􀑧 ع

سجودى, 􀑧 شجرة ل 􀑧 سمجدت ال 􀑧 سجدت, ف 􀑧 جرة, ف 􀑧 ف ش 􀑧 لى خل 􀑧 أنى أص 􀑧 ائم آ 􀑧 ا ن 􀑧 ة وأن 􀑧 ى الليل 􀑧 رأيتن

ى 􀑧 ا ل 􀑧 ا وزر ا, واجعله 􀑧 ى به 􀑧 ع عن 􀑧 فسمعتها وهي تقول : ((اللهم اآتب لى بها عندك أجر ا, وض

لى 􀑧 ي ص 􀑧 رأ النب 􀑧 اس : فق 􀑧 ن عب 􀑧 ال اب 􀑧 عندك ذخر ا, وتقبلها منى آما تقبلتها من عبدك داود ))…ق

شجرة 􀑧 ول ال 􀑧 ن ق 􀑧 ل ع 􀑧 ره الرج 􀑧 ا أخب 􀑧 ول مثلم 􀑧 و يق 􀑧 سمعته وه 􀑧 جد , ف 􀑧 م س 􀑧 جدة , ث 􀑧 الله عليه وسلم س

[أخرجه الترمذى وابن ماجه]

Artinya: “Ibnu Abbas berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw sambil berkata: “Wahai Rasulullah, tadi malam saya bermimpi seolah-olah saya shalat di belakang sebuah pohon, lalu saya sujud dan pohon pun ikut sujud bersamaku serta saya mendengar pohon itu membaca doa berikut ini: Allahummaktub li biha indaka ajra, wa dha’ ‘anni biha wizra, waj’alha li ‘indaka dzukhra, wa taqabbalha minny kama taqabbaltaha min ‘ibadika dawud (Ya Allah, dengan sujud ini, catatlah pahala bagi saya disisiMu, hapuskan dosaku, jadikan sujudku ini sebagai simpananku kelak, dan terimalah sujudku ini sebagaimana Eukau telah menerima sujudnya Nabi Dawud)…” Ibnu Abbas kemudian berkata: “Lalu Rasulullah Saw membaca salah satu ayat sajdah dan beliau sujud (tilawah). Pada saat itu saya mendengar Rasulullah ketika sujudnya tadi membaca do’a sebagaimana yang telah disampaikan oleh laki-laki tadi yang diambil dari doanya sebuah pohon” (HR. Turmudzi dan Ibn Majah).

            Dari kedua hadits di atas, kita mendapatkan informasi bahwa bacaan yang dibaca oleh Rasulullah Saw ketika Sujud Tilawah ada dua, yaitu bacaan: “sajada wajhii lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bihaulihi wa quwwatihi dan bacaan: Allahummaktub li biha indaka ajra, wa dha’ ‘anni biha wizra, waj’alha li ‘indaka dzukhra, wa taqabbalha minny kama taqabbaltaha min ‘ibadika dawud. Akan tetapi sanad kedua hadits di atas diperdebatkan keshahihannya. Bahkan menurut pendapat yang lebih kuat, kedua hadits di atas adalah Hadits Dha’if.

            Karena kedua hadits di atas diperdebatkan kesahihannya dan lebih cenderung dhaif, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Adapun saya, ketika Sujud Tilawah, saya membaca bacaan sujud biasa yaitu: subhanarabbiyal ‘ala”. Oleh karena itu, menurut pendapat yang lebih kuat, tidak ada bacaan khusus untuk sujud tilawah karena hadits-hadits yang mengatakan hal demikian semuanya Hadits Dhaif. Karenanya, bacaan Sujud Tilawah disamakan dengan bacaan sujud biasa dalam shalat. Adapun bacaan-bacaan sujud ketika shalat ada bebarapa macam, termasuk salah satunya adalah bacaan sajada wajhii lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bihaulihi wa quwwatihi. Untuk lebih jelasnya, berikut di antara bacaan-bacaan yang boleh dibaca ketika sujud dalam shalat:

  1. Allahumma laka sajadtu wabika amantu wa laka aslamtu, sajada wajhii lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu, tabarakallahu ahsanal khaliqin (HR. Muslim)
  2. Subhanakallahumma rabbana wa bihamdika allahummagfirli (HR. Bukhari Muslim)
  3. Subbuhun quddusun rabbul malaikati warruh (HR. Muslim)
  4. Subhanarabbiyal a’laa (HR. Nasai, Turmudzi, Abu Dawud dan Ibn Majah)
  5. Subhana dzil jabarut walmalakut walkibriya wal’adhamah (HR. Abu Dawud dan Nasai)

            Demikian, bacaan-bacaan yang biasa dibaca oleh Rasulullah Saw ketika sujud. Oleh karena itu, bagi yang melakukan Sujud Tilawah, silahkan untuk memilih salah satu dari bacaan di atas.

g. Berulang-ulang membaca dan mendengar ayat sajdah, Sujudnya?

            Apabila seseorang membaca atau mendengar ayat sajdah beberapa kali, ia boleh mengakhirkan sujudnya sampai ayat terakhir dari ayat sajdah dibaca. Setelah itu baru ia sujud sajdah satu kali.

            Kemudian apabila setelah sujud, membaca kembali ayat sajdah, maka menurut pendapat Jumhur Ulama, lebih afdhal ia melakukan sujud lagi. Artinya, Jumhur ulama lebih cenderung untuk mengatakan, bahwa yang lebih afdhal, sujud tilawah dilakukan setiap kali kita mendengar atau membaca ayat sajdah.

h. Apakah Sujud Tilawah yang dilakukan ketika shalat khusus untuk shalat wajib saja?

            Sebagaimana telah di jelaskan di atas, sujud tilawah dilakukan dalam dua keadaan; ketika sedang melakukan shalat dan ketika di luar shalat (tidak sedang melakukan shalat). Namun shalat apa saja yang boleh melakukan Sujud Tilawah; Apakah hanya untuk shalat wajib dan apakah hanya untuk shalat berjamaah serta apakah hanya untuk shalat Jahr (yang bacaannya dinyaringkan yaitu shalat Magrib, Isya dan Subuh) saja?

            Dalam hal ini, jumhur ulama mengatakan, bahwa Sujud Tilawah dilakukan baik ketika shalat wajib maupun shalat sunnat. Ini artinya, apabila seseorang membaca ayat sajdah ketika sedang shalat Tahajjud, maka sunnah hukumnya untuk melakukan Sujud Tilawah. Demikian juga, Sujud Tilawah dilakukan baik ketika shalat berjamaah maupun ketika shalat sendiri (munfarid).

            Sedangkan apakah untuk shalat yang bacaannya dibaca nyaring (jahr) saja atau juga yang bacaannya dipelankan (di-sir-kan)? Para ulama sepakat, bahwa untuk shalat-shalat yang dibaca dengan suara nyaring seperti Magrib dan Isya, sunnah hukumnya melakukan Sujud Tilawah. Namun, untuk shalat yang imamnya membaca dengan suara sir (pelan) misalnya Shalat Duhur dan Ashar, makruh hukumnya melakukan Sujud Tilawah. Hal ini ditakutkan akan menimbulkan kebingungan bagi para makmum sehingga kekhusyuan shalatnya menjadi terganggu, karena makmum tidak mengetahui apa yang sedang dibaca oleh imam. Akan tetapi menurut Syafi’iyyah (para ulama bermadzhab Syafi’i), untuk yang melakukan shalat dengan bacaan pelan pun, sunnah hukumnya untuk melakukan Sujud Tilawah. Hanya saja, dalam prakteknya, Sujud Tilawahnya diakhirkan sampai shalat tersebut selesai agar makmum tidak merasa bingung dibuatnya. Namun pendapat ini, menurut penulis, kurang tepat karena antara membaca ayat sajdah dengan selesainya shalat terdapat pemisah yang lumayan lama. Untuk itu, pendapat Jumhur yang mengatakan, makruh hukumnya bagi shalat yang bacaan imamnya di sirr-kan (dipelankan) untuk melakukan Sujud Tilawah adalah pendapat yang lebih kuat dan arjah.

            Bagaimana hukumnya apabila ketika sedang melakukan shalat, membaca ayat sajdah akan tetapi tidak melakukan Sujud Tilawah? Menurut pendapat Jumhur Ulama seperti Imam Sya’bi, Ibn al-Musayyib, Ibn Sirin, an-Nakha’i dan Imam Ishak, makruh hukumnya seseorang yang sedang melakukan shalat kemudian membaca ayat sajdah akan tetapi tidak melakukan Sujud Tilawah.

            Apabila ayat sajdah tersebut berada di akhir surat, bagaimana cara melakukan sujudnya dan apa yang harus diperbuat?

            Apabila seseorang membaca salah satu ayat sajdah yang berada di akhir surat, misalnya ayat terakhir dari surat al-Alaq, maka ia boleh melakukan salah satu dari tiga keadaan berikut ini:

  1. Ia melakukan Sujud Tilawah, kemudian berdiri lagi dan disambungkan dengan bacaan surat lainnya lalu setelah itu ia ruku. Hal ini pernah dilakuan oleh Umar bin Khatab. Dalam sebuah hadits riwayat Abdul Razak dengan sanad yang sahih, ketika shalat Subuh, Umar bin Khatab pernah membaca surat an-Najm pada rakaat kedua. Kemudian ia Sujud Tilawah, lalu setelah itu Umar membaca surat lain yakni surat al-Insyiqaq. Cara ini adalah yang lebih utama
  2. Ia langsung ruku’ tanpa melakukan Sujud Tilawah. Cara ini juga boleh dilakukan karena ketika Ibnu Mas’ud ditanya: “Apakah perlu Sujud Tilawah dahulu atau langsung ruku’ ketika membaca ayat sajdah yang berada di akhir surat?” Ibn Mas’ud menjawab: “Apabila tidak ada hal lain antara kamu dengan sujud selain ruku, maka ruku’ itulah yang lebih dekat” (HR. Ibn Abi Syaibah dengan sanad yang shahih). Pendapat ini, hemat punulis, lebih cocok diterapkan untuk kondisi di mana para makmum umumnya belum mengetahui ayat sajdah dan Sujud Tilawah. Maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik langsung ruku, tidak Sujud Tilawah terlebih dahulu. Kecuali kalau para makmumnya adalah orang-orang yang sudah paham.
  3. Cara lainnya adalah ia Sujud Tilawah, kemudian bertakbir dan berdiri setelah itu ia ruku tanpa ada tambahan bacaan surat lainnya.

i. Bagaimana cara sujudnya apabila sedang khutbah di atas mimbar?

            Apabila seseorang sedang khutbah di atas mimbar, lalu ia membaca ayat sajdah, maka ia boleh turun dari mimbarnya lalu Sujud Tilawah dan orang-orang sujud bersamanya. Apabila ia tidak sujud, juga tidak mengapa sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khatab sebagaimana telah dijelaskan di atas.

            Jika memungkinkan untuk sujud di atas mimbar, ia boleh sujud di atasnya, dan orang-orang ikut sujud bersamanya. Akan tetapi apabila khatib tidak sujud, maka makmum tidak disunnahkan untuk sujud.

j. Apa saja yang termasuk ayat sajdah itu?

            Tempat-tempat sujud atau yang termasuk ayat-ayat sajdah itu ada 15 (lima belas) tempat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits marfu’ akan tetapi dhaif berikut ini:

􀑧 جدة ف 􀑧 شرة س 􀑧 س ع 􀑧 رأه خم 􀑧 لم أق 􀑧 ه وس 􀑧 لى الله علي 􀑧 ول الله ص 􀑧 اص أن رس 􀑧 ن الع 􀑧 رو ب 􀑧 ن عم 􀑧 ع

ن 􀑧 اآم واب 􀑧 و داود والح 􀑧 ه أب 􀑧 القرآن, منها ثلاث فى المفصل , وفى سورة الحج سجدتان (أخرج

ماجه)

Artinya: “Dari Amr bin Ash, bahwasannya Rasulullah Saw membacakan kepadanya lima belas ayat sajdah dalam al-Qur’an; tiga di antaranya terdapat pada surat-surat pendek dan dua tempat sujud pada surat al-Hajj” (HR. Abu Dawud, Hamim dan Ibn Majah).

            Dari lima belas tempat ini, sepuluh tempat telah disepakati oleh para ulama, 4 tempat diperdebatkan, akan tetapi banyak hadits yang menguatkannya, dan satu tempat tidak ada keterangan haditsnya, akan tetapi sebagian sahabat Rasulullah Saw melakukannya karena melihat kandungan makna ayat tersebut.

  1. Tempat-tempat sujud yang disepakati oleh para ulama untuk dilaksanakan Sujud Tilawah:
    1. Surat al-Araf ayat 206 yakni ketika membaca firman Allah berikut ini:

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ

Artinya: “Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasaenggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud” (QS. Al-Araf: 206).

 

  1.  Surat ar-Ra’du ayat 15:

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَآَرْهًا وَظِلَالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

Artinya: “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari” (HR. ar-Ra’du: 15).

  1. Surat an-Nahl ayat 49-50:

􀑧 مْ لَ 􀑧 ةُ وَهُ 􀑧 ةٍ وَالْمَلَا ئِكَ 􀑧 نْ دَابَّ 􀑧 أَرْضِ مِ 􀑧 ي الْ 􀑧 ا فِ 􀑧 سَّمَوَاتِ وَمَ 􀑧 ي ال 􀑧 ا فِ 􀑧 سْجُدُ مَ 􀑧 هِ يَ 􀑧 وَلِلَّ

يَسْتَكْبِرُونَ* يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An-Nahl: 49-50)

  1. Surat al-Isra ayat107-109:

رُّونَ 􀑧 يْهِمْ يَخِ 􀑧 قُلْ ءَامِ نُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَ

رُّونَ 􀑧 ا* وَيَخِ 􀑧 ا لَمَفْعُولً 􀑧 دُ رَبِّنَ 􀑧 انَ وَعْ 􀑧 ا إِنْ آَ 􀑧 بْحَانَ رَبِّنَ 􀑧 ونَ سُ 􀑧 جَّدًا* وَيَقُولُ 􀑧 انِ سُ 􀑧 لِلْأَذْقَ

لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا

Artinya: “Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, Dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”.Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'” (QS. Al-Isra: 107-109)

 

  1. Surat Maryam ayat 58:

وحٍ 􀑧 عَ نُ 􀑧 ا مَ 􀑧 نْ حَمَلْنَ 􀑧 ةِ ءَادَمَ وَمِمَّ 􀑧 نْ ذُرِّيَّ 􀑧 ينَ مِ 􀑧 نَ النَّبِيِّ 􀑧 يْهِمْ مِ 􀑧 هُ عَلَ 􀑧 أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّ

اتُ 􀑧 يْهِمْ ءَايَ 􀑧 ى عَلَ 􀑧 ا إِذَا تُتْلَ 􀑧 دَيْنَا وَاجْتَبَيْنَ 􀑧 نْ هَ 􀑧 رَائِيلَ وَمِمَّ 􀑧 رَاهِيمَ وَإِسْ 􀑧 ةِ إِبْ 􀑧 نْ ذُرِّيَّ 􀑧 وَمِ

الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (QS. Maryam: 58)

  1. Surat al-Hajj ayat 18:

سَنًا وَإِنَّ 􀑧 ا حَ 􀑧 هُ رِزْقً 􀑧 رْزُقَنَّهُمُ اللَّ 􀑧 اتُوا لَيَ 􀑧 وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَ

اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya: “Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezki” (QS. Al-Hajj: 18).

  1.  Surat al-Furqan ayat 60:

انَ 􀑧 إِلَّا مَنْ تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَآَ

اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Furqan: 60).

 

  1.  Surat an-Naml ayat 25-26:

ونَ 􀑧 ا تُخْفُ 􀑧 مُ مَ 􀑧 أَرْضِ وَيَعْلَ 􀑧 سَّمَوَاتِ وَالْ 􀑧 ي ال 􀑧 بْءَ فِ 􀑧 رِجُ الْخَ 􀑧 ذِي يُخْ 􀑧 هِ الَّ 􀑧 أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّ

وَمَا تُعْلِنُونَ* اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Artinya: “Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar” (QS. An-Naml: 25-26).

  1. Surat as-Sajdah ayat 15:

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُآِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا

يَسْتَكْبِرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong” (QS. As-Sajdah:15).

  1. Surat Fushilat ayat 37 dan 38:

رِ 􀑧 ا لِلْقَمَ 􀑧 شَّمْسِ وَلَ 􀑧 سْجُدُوا لِل 􀑧 ا تَ 􀑧 رُ لَ 􀑧 شَّمْسُ وَالْقَمَ 􀑧 ارُ وَال 􀑧 لُ وَالنَّهَ 􀑧 هِ اللَّيْ 􀑧 نْ ءَايَاتِ 􀑧 وَمِ

دَ 􀑧 ذِينَ عِنْ 􀑧 تَكْبَرُوا فَالَّ 􀑧 إِنِ اسْ 􀑧 دُونَ* فَ 􀑧 اهُ تَعْبُ 􀑧 تُمْ إِيَّ 􀑧 نَّ إِنْ آُنْ 􀑧 ذِي خَلَقَهُ 􀑧 هِ الَّ 􀑧 جُدُوا لِلَّ 􀑧 وَاسْ

رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah. Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu” (QS. Fushilat: 37 dan 38).

            Berkaitan dengan ayat ini, Jumhur ulama berpendapat bahwa Sujud Tilawah dilakukan ketika selesai membaca akhir dari ayat ke 38, sedangkan menurut Malikiyyah, ketika selesai membaca ayat 37.

  1. Tempat-tempat sujud yang diperdebatkan oleh para ulama akan tetapi boleh dilaksanakan

karena dikuatkan oleh dalil-dalil yang shahih:

  1. Surat Shad ayat 24:

ضُهُمْ 􀑧 ي بَعْ 􀑧 قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَى نِعَاجِهِ وَإِنَّ آَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِ

ا 􀑧 نَّ دَاوُدُ أَنَّمَ 􀑧 مْ وَظَ 􀑧 ا هُ 􀑧 لٌ مَ 􀑧 صَّالِحَاتِ وَقَلِي 􀑧 وا ال 􀑧 وا وَعَمِلُ 􀑧 عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُ

فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاآِعًا وَأَنَابَ

Artinya: “Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat” (QS. Shad: 24).

  1. Surat an-Najm ayat 62:

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

Artinya: “Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)” (QS. An-Najm: 62).

  1. Surat al-Insyiqaq ayat 20-21:

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ* وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْءَانُ لَا يَسْجُدُونَ

Artinya: “Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud” (QS. Al-Insyiqaq ayat 20-21).

  1.  Surat al-Alaq ayat 19:

آَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Artinya: “Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan  dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” (QS. Al-Alaq ayat 19).

  1. Tempat sujud yang diperdebatkan dan tidak ada hadits shahih yang mendukungnya. Yang termasuk ke dalam bagian ke tiga ini hanya satu tempat yaitu surat al-Haj ayat 77:

مْ 􀑧 رَ لَعَلَّكُ 􀑧 وا الْخَيْ 􀑧 مْ وَافْعَلُ 􀑧 دُوا رَبَّكُ 􀑧 جُدُوا وَاعْبُ 􀑧 وا وَاسْ 􀑧 وا ارْآَعُ 􀑧 ذِينَ ءَا مَنُ 􀑧 ا الَّ 􀑧 يَاأَيُّهَ

تُفْلِحُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan” (QS. Al-Haj: 77).

            Di antara ulama yang mensunnahkan untu sujud tilawah ketika membaca atau mendengar ayat ini adalah Imam Syafi’I, Ahmad bin Hanbal, bahkan para sahabat pun melakukannya seperti Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib. Ibn Umar, Ibnu Abbas, Ibn Mas’ud dan lainnya. Oleh karena itu, meskipun tidak ada hadits yang shahih mengenai tempat sujud ini, akan tetapi karena sebagian besar para sahabat melakukannya, maka hemat penulis, tidak mengapa kita pun mengikuti mereka; ikut melaksanakan Sujud Tilawah ketika membaca atau mendengar ayat tersebut.

B.1 Sujud Syukur

a. Pengertian

            Sujud Syukur adalah sujud yang dilakukan ketika mendapatkan nikmat (mendapatkan rezeki nomplok) atau ketika terhindar dari mara bahaya yang mengancam. Misalnya, ketika lulus ujian, lulus tes kerja, menang perlombaan, naik jabatan, sembuh dari penyakit, terhindar dari kecelakaan, mendapat keturunan, memperoleh nilai yang memuaskan, selamat dari perampokan dan lainnya.

            Dalil diperbolehkannya Di antara dalil yang menjadi pegangan adanya Sujud Syukur ini adalah keterangan-keterangan berikut ini:

  1. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dan hadits ini sangat panjang, disebutkan bahwa ketika Ka’ab bin Malik mengetahui taubatnya diterima oleh Allah Swt, ia kemudian sujud (Sujud Syukur).
  2. Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Turmudzi dan Ibnu Majah serta yang lainnya dikataka bahwa apabila Rasulullah Saw mendapatkan kabar gembira atau mendapatkan sesuatu yang menggembirakan, beliau sujud sebagai tanda syukurnya kepada Allah Swt.

            Berdasarkan hadits-hadits di atas, Jumhur ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishak, Abu Tsaur, Ibn Mundzir dan Abu Yusuf berpendapat bahwa Sujud Syukur itu disyariatkan dan dianjurkan.

  1. b.   Bagaimana Cara Melaksanakannya?

            Cara melaksanakan sujud ini, sama dengan cara melaksanakan Sujud Tilawah; sekali sujud dan tanpa salam. Sedangkan mengenai bacaannya, sebagian ulama mengatakan tidak ada bacaan khusus dan menurut sebagian lagi, sama dengan bacaan ketika sujud dalam shalat. Kedua pendapat di atas sah-sah saja. Memang kalau memperhatikan hadits-hadits yang berbicara mengenai Sujud Syukur ini, tidak ada petunjuk khusus mengenai bacaannya. Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan, ketikaSujud Syukur tidak ada bacaannya, hanya sujud saja. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa karena tidak ada bacaan secara khusus, maka ia harus disamakan dengan bacaan sujud lainnya ketika shalat.

            Kedua pendapat di atas, hemat penulis, sah-sah saja. Sujud Syukur tidak perlu menghadap kiblat dan tidak perlu berwudhu Sujud Syukur boleh dilakukan menghadap ke mana saja, dan tidak perlu mengambil air wudhu terlebih dahulu, karena ia bukanlah bagian dari ibadah shalat. Hanya saja, kalau memungkinkan untuk menghadap kiblat dan mengambil air wudhu terlebih dahulu, itu lebih baik dan lebih utama.

  1. c.    Apakah Sujud Syukur Boleh Dilakukan Ketika Sedang Melaksanakan Shalat?

            Sujud Syukur tidak boleh dilakukan di dalam shalat. Hal ini dikarenakan, penyebab yang mensunnahkan Sujud Syukur sendiri terjadi di luar shalat. Apabila ia melaksanakan Sujud Syukur di dalam Shalat, maka shalatnya batal, kecuali kalau dia tidak tahu. Hal ini karena tidak ada keterangan baik yang shahih maupun yang dhaif sekalipun, yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw atau para sahabatnya melakukan Sujud Syukur ketika sedang melakukan shalat. Sedangkan pendapat sebagian ulama Hanabilah yang mengatakan Sujud Syukur boleh dilakukan di dalam shalat, hemat penulis, merupakan pendapat yang lemah dan karenanya tidak bisa dijadikan pegangan. Hal ini disebabkan, sebagaimana telah dijelaskan, tidak ada keterangan shahih yang menginformasikan hal tersebut.

 

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

            Islamisasi merupakan salah satu kata yang sudah tidak asing lagi didengar. Islamisasi dapat diartikan sebagai proses pengislaman. Proses pengislaman ini tidak hanya diberlakukan terhadap manusia, tetapi juga diberlakukan terhadap hal-hal yang menyangkut hajat orang banyak. Salah satu hal yang menyangkut hajat orang banyak adalah ilmu pengetahuan.

            Ilmu pengetahuan dapat menjadi salah satu media dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Tapi apakah semua ilmu pengetahuan yang dipelajari umat manusia sesuai dengan ajaran islam? Dalam makalah ini akan dibahas tentang Islamisasi ilmu pengetahuan.

            Dengan adanya Islamisasi Ilmu Pengetahuan akan mampu menghilangkan keraguan dalam menekuni suatu ilmu.

 

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud Islamisasi Ilmu Pengetahuan?

2. Apa tujuan Islamisasi Ilmu Pengetahuan?

3. Bagaimana pemikiran para tokoh tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan?

4. Apa langkah-langkah Islamisasi Ilmu Pengetahuan menurut al-Faruqi?

 

1.3 Tujuan

1. Menjelaskan makna Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

2. Mengetahui tujuan Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

3. Mengetahui pemikiran-pemikiran tokoh tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

4. Mengetahui langkah-langkah Islamisasi Ilmu Pengetahuan menurut al-Faruqi.   

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Dalam bahasa arab, istilah islamisasi ilmu dikenal dengan “Islamiyyat al-ma’rifat” dan dalam bahasa inggris disebut dengan “Islamization of  Knowledge”. Islamisasi ilmu merupakan istilah yang mendiskripsikan berbagai usaha dan pendekatan untuk mensitesakan antar etika islam dengan berbagai bidang pemikiran modern. Produk akhirnya akan menjadi ijma’ (kesepakatan) baru bagi umat islam dalam bidang keilmuan yang sesuai dan metode ilmiah tidak bertentangan dengan norma-norma islam.

Menurut Mulyadhi Kartanegara, Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan naturalisasi sains (ilmu pengetahauan) untuk meminimalisasikan dampak negatif sains sekuler terhadap sistem kepercayaan agama dan dengan begitu agama menjadi terlindungi.

 

2.2  Tujuan Islamisasi Ilmu Pengetahuan

            Dengan adanya islamisasi ilmu pengetahuan diharapkan nantinya akan dihasilkan sebuah sains Islam yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Hadits, di mana sains Islam tersebut berbeda dengan sains Barat yang telah berkembang saat ini. Adapun perbandingan antara sains Barat dan sains Islam, yaitu (Butt, 1991: 73-76):

No

Sains Barat

Sains Islam

1.

Percaya pada rasionalitas

Percaya pada wahyu

2.

Sains untuk sains

Sains adalah sarana untuk mendapatkan keridhoan Allah

3.

Satau-satunya metode atau cara untuk mengetahui realitas

Banyak metode berlandaskan akal dan wahyu baik secara objektif dan subjektif

4.

Netralitas emosional sebagai prasyarat kunci menggapai rasionalitas

Komitmen emosional sangat penting untuk mengangkat usaha-usaha sains spiritual maupun sosial

5.

Tidak memihak, ilmuwan hanya peduli pada produl pengetahuan baru dan akibat-akibat penggunaannya

Pemihakan pada kebenaran, ilmuan harus peduli terhadap hasil-hasil dan akibat-akibat penemuannya secara moral sebagai bentuk ibadah

6.

Tidak adanya bias, validitas suatu sains hanya tergantung pada bukti penerapannya (objektif) bukan ilmuwan yang menjalankannya (subjektif)

Adanya subjektivitas, validitas sains tergantung pada bukti penerapan juga pada tujuan dan pandangan ilmuwan  yang menjalankannya

7.

Penggantungan pendapat, sains hanya dibuat atas dasar bukti yang meyakinkan

Menguji pendapat, sains dibuat atas dasar bukti yang tidak meyakinkan

8.

Reduksionisme, cara yang dominan untuk mencapai kemajuan sains

Sintesis, cara yang dominan untuk meningkatkan kemajuan sains

9.

Fragmentasi, pembagian sains ke dalam disiplin dan subdisiplin-subdisiplin

Holistik, pembagian sains ke dalam lapisan yang lebih kecil yaitu pemahaman interdisipliner dan holistik

10.

Universalisme, walaupun universal namun buah sains hanya bagi mereka yang mampu membelinya

Universalisme, buah sains bagi seluruh umat manusia dan tidak diperjualbelikan

11.

Induvidualisme, ilmuwan harus menjaga jarak dengan permasalahan sosial, politik dan ideologis

Orientasi masyarakat, ilmuwan memiliki hak dan kewajiban adanya interdependensi dengan masyarakat

12.

Netralitas, sains adalah netral

Orientai nilai, sains adalah sarat nilai berupa baik atau buruk juga halal atau haram

13.

Loyalitas kelompok, hasil pengetahuan baru adalah aktifitas terpenting dan perlu dijunjung tinggi

Loyalitas pada Tuhan dan makhluk-Nya, hasil pengetahuan baru adalah cara memahami ayat-ayat Tuhan dan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas ciptaan-Nya

14.

Kebebasan absolute, tidak ada pengekangan atau penguasaan penelitian sains

Manajemen sains adalah sumber yang tidak terhingga nilainya, sains dikelola dan direncanakan dengan baik dan harus dipaksa oleh nilai etika dan moral

15.

Tujuan membenarkan sarana, setiap sarana dibenarkan demi penelitian sains

Tujuan tidak membenarkan sarana, tujuan sarana diperbolehkan dalam batas-batas etika dan moralitas

 

2.3 Pemikiran Tokoh-tokoh tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

2.3.1 Sayyed Hossein Nasr

Ide islamisasi sains pertama kali yang dicutuskan oleh Nasr dalam bukunya The Encounter of  Man and Nature tahun 1968. Sains Islami menurut Nasr tidak akan dapat diperoleh kecuali dari intelek yang bersifat Ilahiyah dan bukan akal manusia. Kedudukan intelek adalah di hati, bukan di kepala, karena akal tidak lebih dari pantulan ruhaniyah. Selama hierarki pengetahuan tetap dipertahankan dan tidak terganggu dalam Islam dan scientia terus dibina dalam haribaan sapienta, beberapa pembatasan di bidang fisik dapat diterima guna mempertahankan kebebasan pengembangan dan keinsafan di bidang ruhani. Ilmu pengetahuan harus menjadi alat untuk mengakses yang sakral dan ilmu pengetahuan sakral (scientiasacra) tetap sebagai jalan kesatuan utama dengan realitas, dimana kebenaran dan kebahagiaan disatukan (Zainal: 2007).

Untuk mewujudkan sains Islami, Nasr menggunakan perbandingan dengan apa yang telah diraih Islam pada zaman keemasannya (zaman pertengahan). Menurutnya, pada saat itu dengan teologi yang mendominasi sains, sains telah memperoleh kecerahan dan dapat menyelamatkan umat dari sifat destruktif sains.

Metode yang digunakan oleh Nasr belumlah sempurna, terdapat masalah-masalah yang timbul karena ide yang digunakannya. Salah satunya yaitu apakah suatu sistem modern dapat diajarkan tanpa kerangka sains modern? (Zainal: 2007).

2.3.2        Maurice Bucaille

Bucaille merupakan seorang dokter ahli bedah bangsa prancis yang beralih menjadi spiritualis. Ia menjadi orang terkenal di dunia Islam dengan diterbitkannya buku La Bible La Coran at La Science (The Bible, The Qur’an and science/Bibel, Qur’an dan Sains Modern) (Zainal: 2007).

Bucaille mengawali pembahasan dari bukunya tersebut dengan menelaah keoentikan teks suci al-Qur’an. Kemudian dia mengkonfrontasikannya dengan Bibel, dan dia mengambil suatu kesimpulan akhir bahwa al-Qur’an dalam hal keotentikan teksnya lebih mutawatir dibandingkan dengan Bibel. Sedangkan dalam kaitannya dengan perkembangan sains di dunia kontemporer, metode yang digunakannya cukup sederhana. Dengan merujuk beberapa ayat al-Qur’an dan juga Bibel, dia mengaitkannya dengan sains modern, dengan faktailmiah yang telah ditemukan. Dalam komparasi ini, kemudian dia juga mengambil suatu kesimpulan bahwa al-Qur’an memiliki kesesuaian dengan fakta ilmiah sains modern, sementara Bibel banyak kelemahan (Zainal: 2007).

Metode yang digunakan oleh Bucaille mendapat kritikan dari Ali Syari’ati dan juga Pervez Hoodbhoy. Akhirnya pada tahun 1994 mengeluarkan beberapa uraian klarifikasi mengenai metode yang selama ini ia gunakan dalam International Seminar on Miracle of Al-Qur’an and As-Sunnah di Bandung, indonesia (Zainal: 2007).

2.3.3        Ismail Raji’ Al-Faruqi

Karya dari al-Faruqi tentang ide Islamisasi sains adalah “Islamization of knowledge: General Principles and Work Plan”. Ide al-Faruqi ini  sebagaimana juga banyak menjadi landasan awal ide Islamisasi sains Nasr dan Bucaille, yaitu berawal dari keprihatinannya yang mencermati bahwa dalam jajaran peradaban dunia dewasa ini umat Islam hampir di semua segi baik politik, ekonomi, budaya maupun pendidikan berada pada posisi bangsa yang paling rendah. Al-Faruqi menyebut hal ini sebagai malaise yang dihadapi umat (Zainal: 2007).

Ilmu pengetahuan menurut tradisi Islam tidak menerangkan dan memahami realitas sebagai entitas yang terpisah dan independen dari realitas absolut (Allah), tetapi melihatnya sebagai bagian integral dari eksistensi Allah. Oleh karena itu, Islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi harus diarahkan pada suatu kondisi analisis dan sintesis tentang hubungan realitas yang sedang dipelajari dengan hukum (pola) hukum Tuhan. Rencana kerja Islamisasi sains al-Faruqi memiliki tujuan untuk: (Zainal: 2007)

  1. Menguasai disiplin modern;
  2. Menguasai warisan Islam;
  3. Menetapkan relevansi khusus pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern;
  4. Mencari jalan untuk sintesis khusus kreatif antara warisan (Islam) dan ilmu pengetahuan modern;
  5. Meluncurkan pemikiran Islam pada jalan yang mengarah pada kepatuhan pada hukum Tuhan.

Zianuddin Sardar mengkritik tajam metode yang diguanakan oleh al-Faruqi. Salah satu program dari al-Faruqi adalah menentukan relevansi Islam pada setiap bidang ilmu pengetahuan modern, tampak seakan-akan dia mengerjakan suatu yang terbalik. Jadi bukan Islam yang dibuat relevans dengan ilmu pengetahuan modern, tetapi ilmu pengetahuan modernlah yang seharusnya dibuat relevansi Islam (Zainal: 2007). 

2.3.4        Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Al-Attas mengatakan Islamisasi adalah jalan utama pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis nasional kultural dan sesudah itu dari pengendalian sekular terhadap nalar dan bahasanya yang selama ini diderita umat Islam. Dengan demikian sifat Islamisasi adalah suatu proses pembebasan. Langkah yang paling efektif dalam program Islamisasi sains dan disiplin pengetahuan adalah melalui Islamisasi bahasa. Islamisasi bahasa menurut al-Attas sesungguhnya telah ditunjukkan oleh al-Qur’an sendiri dalam surat al-Alaq(96): 1-5. Kosakata dasar Islam inilah yang memproyeksikan pandangan dunia khas Islami dalam pikiran kaum muslim (Zainal: 2007).

Selain itu, islamisasi ilmu pengetahuan merupakan suatu upaya untuk mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya ilmu-ilmu kemanusiaan (www.ensiklopedia.com).

Terdapat kelemahan dari ide al-Attas diantaranya yaitu walaupun diakui bahwa bahasa berpengaruh pada pandangan dunia, maka yang akan terjadi adalah adanya suatu apologi suatu kaum terhadap penguasaan disiplin ilmu tanpa adanya bukti kemampuan terhadap disiplin ilmu yang telah dibahasakan; pandangan dunia Islam terhadap suatu disiplin dengan bahasa yang digunakan senantiasa didasarkan pada sebuah teori yang telah diketemukan seseorang (Zainal:2007).

Tanpa adanya kemampuan untuk menemukan teori yang relevans dengan kemajuan ilmiah, bahasa yang digunakan untuk membungkus sebuah teori yang telah ada tidak akan berhasil mengubah pandangan dunia.     

2.3.5        Ziauddin Sardar

Sardar mengidentifikasikan cara perumusan epistemologi Islam, yaitu:

  1. Merumuskan paradigma ilmu pengetahuan, yaitu dengan menitik beratkan pada konsep, prinsip dan nilai Islam penting yang berhubungan dengan pengkajian khusus;
  2. Merumuskan paradigma tingkah laku, dengan jalan menentukan batasan etik dimana para ilmuwan muslim bisa bekerja secara bebas.

Sardar menegaskan pada prinsipnya sains dan teknologi senantiasa berkaitan dengan 10 nilai dasar Islam, yaitu: tauhid, khalifah, ibadah, ilmu, halal, haram, ‘adl, dhalim, dan dhliy’(pemborosan) (Zainal:2007).

2.3.6        Pervez Hoodbhoy

Pervez memiliki pandangan yang yang berbeda tentang konsep Islamisasi sains. Ia menentang konsep sains Islam yang telah dimunculkan oleh para pendahulunya. Alasannya, karena sains Islam itu tidak ada dan setiap usaha untuk mencipatakan sains Islam telah gagal, selain itu Pervez  juga berpendapat bahwa program Islamisasi sains selama ini tidak mengarah pada pembuatan mesin atau instrumen sains, sintesis senyawa kimia atau obat-obatan yang baru, rencana percobaan baru, atau penemuan hal-hal baru yang belum dapat diuji. Malah sebaliknya para pelaku dan pembela sains Islam telah mengarahkan penelitian pada masalah yang terletak di luar wilayah sains yang umum. Misalnya masalah yang tidak dapat dibuktikan seperti “kecepatan surga”, “temperatur neraka ”, “komposisi kimia jin” dancontoh-contoh yang lain (Zainal:2007).

 

2.4 Langkah-langkah untuk Mencapai Proses Islamisasi Ilmu Pengetahuan

  1. Penguasaan Disiplin Ilmu Modern

Disiplin-disiolin ilmu di Barat diuraikan menjadi kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi-metodologi, problema-problema dan tema-tema. Penguraian tersebut harus mencerminkan ‘daftar isi’ sebuah buku. Dan hasil uraian tersebut harus berbentuk kalimat-kalimat yang memperjelas istilah-istilah teknis, menerangkan kategori, prinsip, problema, dan tema pokok disiplin ilmu Barat.

  1. Survey Disiplin Ilmu

Setiap disiplin ilmu harus disurvei dan esei-esei harus ditulis dalam bentuk bagan mengenai asal-usul dan perkembangannya beserta pertumbuhan metodologinya, perluasan cakrawala wawasannya, dan tak lupa sumbangan-sumbangan pemikiran yang diberikan oleh para tokoh utamanya.

  1. Penguasaan Khasanah Islam

Sebelum menyelami seluk-beluk relevansi islam bagi suatu disiplin ilmu modern, perlu ditemukan sampai berapa jauh khasanah ilmiah islam menyentuh dan membahas obyek disiplin ilmu tersebut.

  1. Penguasaan Khasanah Ilmiah Islam

Untuk dapat mendekatkan karya-karya hasil khasanah ilmiah islam dengan para ilmuwan muslim yang terdidik dalam cara Barat, kita perlu melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekedar menyajikan berhalaman-halaman bahan dalam bentuk antologi.

  1. Penentuan Relevansi Islam yang Khas terhadap Disiplin-disiplin Ilmu

Relevansi-relevansi khasanah islam yang spesifik pada masing-masing ilmu harus diturunkan secara logis.

  1. Penilaian Kritis terhadap Disiplin Ilmu Modern

Ini adalah langkah utama dalam proses islamisasi ilmu pengetahuan. Permasalahan pokok dan tema-tema abadi masing-masing disiplin harus dianalisa dan diuji akan reduksionisme, kesesuaian, kemasukakalan dan ketepatan asasnya dengan konsep panca kesatuan yang diajarkan islam.

  1. Penilaian Kritis terhadap Khasanah Islam

Khasanah islam adalah Qur’an suci, firman-firman Allah, dan sunnah Rasul SAW. Tugas untuk menilai khasanah islam pada suatu bidang kegiatan manusia harus ditangani oleh para ahli di bidang tersebut.

  1. Survey Permasalahan yang dihadapi Umat Islam

Kearifan yang dikandung setiap disiplin ilmu harus dihadapkan dan dimanfaatkan untuk menanggulangi permasalahan umat islam agar kaum muslimin dapat memahaminya dengan benar, menilai dengan tepat pengaruhnya pada kehidupan umat serta memetakan dengan teliti semua pengaruh yang diberikannya pada tujuan global islam.

  1. Survey Permasalahan yang dihadapi Umat Manusia

Sebenarnya, amanah Allah SWT meliputi seluruh jagad raya, dan sebagai konsekuensinya tanggung jawab terhadap manusia juga tercakupdi dalamnya. Umat islam memiliki wawasan yang diperlukan untuk kemajuan manusia untuk membuat sejarah berjalan kea rah apa yang dikehendaki Allah SWT.

  1. Analisa Kreatif dan Sintesa

Sintesa kreatif harus dicetuskan diantara ilmu-ilmu islam tradisional dan disiplin-disiplin ilmu modern untuk dapat mendobrak kemandegan selama beberapa abad terakhir ini.

  1. Penuangan kembali Disiplin Ilmu Modern ke dalam Kerangka Islam

Pada dasarnya, para pemikir islam tidak akan tiba pada suatu penyelesaian yang sama, atau memilih pilihan yang sama dalam hal penentuan relevansi islam  terhadap eksistensi umat islam di masa kini dan di masa mendatang.

  1. Penyebarluasan Ilmu-ilmu yang telah diislamkan

Adalah suatu kesia-siaan apabila hasil karya para ilmuwan muslim hanya disimpan sebagai koleksi pribadi mereka masing-masing. Karya apa saja yang dibuat berdasar Lillahi Ta’ala adalah menjadi milik seluruh umat islam. Pemanfaatan karya-karya tersebut tidak mendapat berkah Allah kecuali jika dilaksanakan untuk sebanyak mungkin makhluk-Nya.

BAB III

PENUTUP

 

3.1        Kesimpulan

Dari hasil makalah ini, kami dapat menyimpulkan beberapa hal dari Islamisasi Ilmu Pengetahuan antara lain:

  1. Kata “islamisasi” dinisbatkan kepada agama islam yaitu agama yang telah diletakkan manhajnya oleh Allah melalui wahyu. Ilmu ialah persepsi, konsep, bentuk sesuatu perkara atau benda. Islamisasi ilmu berarti hubungan antara Islam dan ilmu pengetahuan yaitu hubungan antara “Kitab Wahyu” al-Qur’an dan al-Sunnah dengan “Kitab Wujud” dan ilmu kemanusiaan.
  2. Tujuan dari Islamisasi Ilmu pengetahuan adalah untuk mengahsilkan sebuah sains (Ilmu pengetahuan) Islam yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Hadits.
  3. Pemikiran-pemikiran tokoh tentang Islamisasi pengetahuan
  4. Untuk mencapai proses Islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi ada 12 langkah yang harus dijalani.

 

3.2        Saran

Dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan sehingga tidak sesuai dengan keinginan pembaca, untuk itu saran sangat kami harapkan agar penulisan makalah selanjutnya kekurangan-kekurangan tersebut dapat penulis perbaiki.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Butt, Nasim. 1996. Sains dan Masyarakat Islam. Badung: Pustaka Hidayah

Habib, Zainal. 2007. Islamisasi Sains. Malang: UIN Malang Press

Kamil, Sukron. 2003. Sains dalam Islam Konseptual dan Islam aktual. Jakarta: PBB UIN

Suef, Mohammad. Islamisasi Ilmu: Sejarah, Dasar, Pola dan Strategi. Diakses tanggal 18 April 2010 jam: 10.26 am

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ilmu kalam

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.     Latar belakang

Teologi Islam merupakan istilah yang diambil dari bahasa Inggris, Theology. William L. mendefinisikannya dengan pemikiran tentang Tuhan. Dengan mengutip dari William Ockham, Reese lebih jauh mengatakan bahwa teologi merupakan disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan. Sementara itu, Gove menyatakan bahwa teologi adalah penjelasan tentang keimanan, perbuatan, dan pengalaman agama secara rasional.

Teologi merupakan istilah lain dari Ilmu Kalâm, dimana Ilmu Kalâm tersebut merupakan ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika atau filsafat secara teoretis aliran Salaf tidak dapat dimasukkan dalam Ilmu Kalâm, karena aliran ini berada dalam masalah-masalah ketuhanan dan tidak menggunakan argumentasi filsafat atau logika.

Oleh karena itu kami menyusun makalah ini dengan tujuan dapat menambah wawasan tentang Ilmu Kalâm itu sendiri. Sehingga kita dapat mengetahui secara detail dan terperinci mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Ilmu Kalâm tersebut.

1.2.     Rumusan Masalah

  1. Apakah pengertian dari Ilmu Kalâm?
  2. Apakah nama-nama lain dari Ilmu Kalâm dan sebab-sebab penamaannya?
  3. Apa saja sumber-sumber Ilmu Kalâm?
  4. Apa saja objek Ilmu Kalâm?
  5. Bagaimana sejarah munculnya Ilmu Kalâm?
  6.    Apakah hubungan Ilmu Kalâm dengan ilmu-ilmu lainnya?

1.3.     Tujuan

  1. Dapat mengetahui pengertian dari Ilmu Kalâm.
  2. Dapat mengetahui nama-nama lain dari Ilmu Kalâm dan alasan penamaannya.
  3. Dapat mengetahui sumber-sumber Ilmu Kalâm.
  4. Dapat mengetahui objek-objek dari Ilmu Kalâm.
  5. Dapat mengetahui sejarah munculnya Ilmu Kalâm.
  6. Dapat mengetahui hubungan Ilmu Kalâm dengan ilmu-ilmu lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Pengertian Ilmu Kalâm

Perkataan ‘’Kalâm” sebenarnya merupakan suatu istilah yang sudah tidak asing lagi, khususnya bagi kaum muslim. Secara harfiyah perkataan “Kalâm” dapat ditemukan baik didalam Al-Qur’an maupun diberbagai sumber lain.

Misalnya didalam kitab Jurmiyah terungkap pengertian Kalâm sebagai berikut:

اللفظ المركب المفيد

Artinya : “Kata-kata yang tersusun dengan sengaja untuk menunjukkan suatu maksud atau pengertian”

Didalam Al-Qur’an istilah Kalâm ini dapat ditemukan dalam ayat-ayat yang berhubungan dengan salah satu sifat Allah, yakni lafadz “Kalâmullah”. Ayat-ayat itu antara lain:

  1. An-Nisa’ ayat 164:

Wxߙâ‘ur ô‰s% öNßg»oYóÁ|Ás% šø‹n=tã `ÏB ã@ö6s% Wxߙâ‘ur öN©9 öNßgóÁÝÁø)tR šø‹n=tã 4 zN¯=x.ur ª!$# 4Óy›qãB $VJŠÎ=ò6s? ÇÊÏÍÈ

“Dan (Kami Telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh Telah kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung”

  1. Al-Baqarah ayat 75:

* tbqãèyJôÜtGsùr& br& (#qãZÏB÷sムöNä3s9 ô‰s%ur tb%x. ×,ƒÌsù öNßg÷YÏiB tbqãèyJó¡o„ zN»n=Ÿ2 «!$# ¢OèO ¼çmtRqèùÌhptä† .`ÏB ω÷èt/ $tB çnqè=s)tã öNèdur šcqßJn=ôètƒ ÇÐÎÈ

Artinya:“ Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui”

  1. At-Taubah ayat 6:

÷bÎ)ur Ӊtnr& z`ÏiB šúüÏ.Ύô³ßJø9$# x8u‘$yftFó™$# çnöÅ_r’sù 4Ó®Lym yìyJó¡o„ zN»n=x. «!$# ¢OèO çmøóÎ=ö/r& ¼çmuZtBù’tB 4 y7Ï9ºsŒ öNåk¨Xr’Î/ ×Pöqs% žw šcqßJn=ôètƒ ÇÏÈ

Artinya: “ Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, Kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak Mengetahui”

Dengan demikian secara harfiyah perkataan “Kalâm” berarti pembicaraan atau perkataan. Sedangkan menurut ayat-ayat tersebut diatas istilah Kalâm berarti sabda Allah atau firman Allah, sebagaimana juga menurut para musafir sebutan Kalâm tiada lain adalah menunjukkan pengertian “Kalaamullah”. Demikian pula menurut Encyclopaedia of Religion yang mengartikan “Kalâm” dengan pembicaraan atau perkataan.

Dr. Muzaffaruddin Nadvi dalam bukunya Muslim Thought and It’s Source , melihat pengertian ilmu Kalâm dari aspek sumber latar belakang kemunculannya, juga mengungkapakan sisi metodologinya. Ia mengataka bahwa ilmu Kalâm tiada lain adalah “Ilmu berfikir yang lahir pada saat terjadinya percekcokan antara penganut Islam ortodoks dengan penganut Islam baru”. Penganut Islam baru adalah orang-orang baru yang memeluk Islam, yang ide-ide keagamaannya masih bercampur dengan ide-ide keagamaan lama dan pemikiran leluhur mereka seperti Yahudi, Hindu, Budha, Kristen dan isme-isme lainnya. Oleh karena itu, ketika itu mereka (Penganut Islam Ortodoks) menfsirkan Al-Qur’an (ajaran Islam) berdasarkan cara pandang mereka sendiri. Untuk menghadapi mereka para pemikir muslim waktu itu (penganut Islam ortodoks) menyodorkan ilmu logika (mantiq) yang diperkenalkan kepada manusia dengan nama “Kalâm”.

Sebutan ini (Kalâm) juga dipertegas oleh Nurcholish Madjid, yang mengutip Ali Asy-Syabi bahwa antara istilah mantiq dan Kalâm secara historis ada hubungan. Keduanya memiliki kesamaan, lalu antara kaum Mutakallim (ahli ilmu Kalâm) dan para filosofis mengganti istilah mantiq dengan Kalâm karena keduanya memiliki makna harfiyah yang sama.

Berkaitan dengan pengertian diatas, didalam Encyclopaedia of Religion and Ethnics istilah “Kalâm” (atau dalam  bahasa inggris Converstion) dihubungkan dengan istilah Yunani yakni dialektika. Oleh Plato istilah ini digunakan dalam pengertian metafisika. Atau kadang-kadang istilah Kalâm ini dapat dipahami dalam pengertian “fundamental of religion(Ushuluddin).

Muhammad Abduh mengartikan ilmu Kalâm dengan “ilmu yang berisi alasan-alasan, atau sekumpulan argumentasi, guna mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan salaf dan ahlus sunnah.

2.2 Nama-Nama Lain Ilmu Kalâm dan Sebab-Sebab Penamaannya

  1. Ilmu Tauhid

Ilmu ini dinamakan ilmu tauhid karena pokok pembahasannya dititikberatkan kepada ke-Esa-an Allah SWT. Tauhid adalah percaya kepada tuhan Yang Maha Esa dan tidak mempercayai tidak ada yang menjadi sekutu bagi-Nya. Tujuan tauhid adalah menetapkan ke-Esa-an Allah dalan zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Sebab itulah pembahasan yang berhubungan dengan-Nya dinamakan ilmu tauhid yang terpenting dalam ilmu tauhid adalah mengenai ke-Esa-an Allah.[1]

  1. Ilmu Ushuluddin

Ilmu Kalâm dinamakan juga dengan ilmu Ushuluddin karena obyek pembahasan utamanya adalah dasar-dasar agama yang merupakan masalah esensial dalam ajaran Islam. Dan masalah kepercayaan itu betul-betul menjadi dasar pokok dari persoalan lain dalam agama Islam.[2]

  1. Ilmu Kalâm

Menurut Syeikh Muhammad  Abduh ilmu tauhid sering disebut juga dengan ilmu Kalâm. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya memberikan batasan adakalanya masalah yang paling mashur dan banyak meimbulkan perbedaan pendapat dianatar para ulama-ulama kurun pertama yaitu apakah Kalâm Allah (wahyu) yang dibacakan itu qadim atau hadits? Dan adakalanya pula karena ilmu tauhid itu dibina oleh dalil akal (rasio) yang pengaruhnya dapat dilihat dari setiap perkataan para ahli yang banyak berbicara tentang ilmu ini. Disamping itu karena dalam memberikan dalil tentang pokok (Ushul) agama lebih menyerupai logika (Mantik) sebagaimana yang selalu di tempuh oleh para ahli pikir dalam menjelaskan argumentasi (hujjah) tentang pendiriannya. Kemudian orang mengganti Mantik dengan Kalâm, karena pada hakekatnya keduanya adalah berbeda.

Ilmu tauhid dinamakan ilmu Kalâm karena dalam pembahasannya mengenai eksistensi Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan-Nya digunakan argument-argumen filosofis dengan menggunakan logika atau mantik. Ilmu Kalâm dikenal sebagai ilmu keIslaman yang berdiri sendiri yakni pada zaman Khalifah Al-Makmun (813-833 M) dari Bani Abbasiyyah. [3]

  1. Ilmu Teologi

Ilmu tauhid sering disebut juga dengan ilmu teologi karena pembahasannya mencakup persoalan-persoalan dasar dan soal pokok seperti ketuhanan, iman, kufur, dan hal-hal pokok lainnya sebagaiman tercakup dalam rukun iman.

Pada awalnya istilah teologi diguanakan oleh kalangan orang-orang Barat untuk memberikan pengertian yang berkaitan dengan hak ketuhanan dalam agama Kristen. Kemudian istilah tersebut mereka gunakan untuk menamakan sesuatu yang oleh dunia Islam dinamakan ilmu tauhid, ilmu Kalâm atau ilmu Ushuluddin.

Memang pentransferan istiah tersebut atau mengganti pengertian ilmu tauhid dengan ilmu teologi sebagaimana yang mereka terapkan dalam agama Kristen adlah kurang tepat karena unsur muatannya jelas berbeda tidak seperti dalam agama Kristen yang hanya menyangkut persoalan ketuhanan.

  1. Ilmu Hakikat

Ilmu hakikat ialah ilmu sejati karena ilmu ini menjelaskan hakikat segala sesuatu, sehingga dapat meyakini akan kepercayaan yang benar (hakiki).[4]

  1. Ilmu Makrifat

Disebut ilmu makrifat karena dengan pengetahuan ini dapat mengetahui benar-benar tentang Allah dan segal sifat-sifat-Nya dan dengan keyakinan yang teguh.

Meskipun nama yang diberikan berbeda-beda inti poko pembahasan ilmu tauhid adalah sama yaitu wujud Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Karena itu, aspek terpenting dalam ilmu tauhid adalah keyakinan akan adanya Allah Yang Maha Sempurna, Mahakuasa dan memiliki sifat-sifat ke-Maha Sempurnaan lainnya. Keyakinan ini pada gilirannya akan membawa kepada keyakinan terhadap adanya malaikat, kitab-kitab, Nabi dan Rasul, hari akhir, dan melahirkan kesadaran akan tugas dan kewajiban terhadap Khalik (Pencipta).

 

2.3 Sumber-Sumber Ilmu Kalâm

Sumber Ideal, yaitu al-Qur’an dan Hadits, dimana di dalamnya memuat data yang berkaitan dengan obyek kajian dalam ilmu teologi/tauhid, yakni ketuhanan, kenabian, dan sam’iyat.

         1.         Al-Quran

Sebagai sumber ilmu Kalâm, Al-Qur’an banyak menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan Ketuhanan diantaranya :

  1. Q.S . Al-Ikhlas (112): 3-4. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun didunia ini yang tampak sekutu (sejajar) dengan-Nya.
  2. Q.S . Asy-Syura (42): 7. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun didunia ini, ia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
  3. Q.S . Al-furqan (25): 59. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Penyayang bertahta diatas “Arsy’. Ia Pencipta langit, bumi dan semua yang ada diantara keduanya.
  4. Q.S . Al-Fath (48): 10. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai “tangan” yang selalu berada diatas tangan orang-orang yang melakukan sesuatu selama mereka berpegang teguh dengan janji Allah.
  5. Q.S . Thaha (20): 39. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai “mata “ yang selalu digunakan untuk mengawasi seluruh gerak, termasuk gerakan hati makhluk-Nya.
  6. Q.S . Ar-Rahman (55): 27. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai “wajah” yang tidak akan rusak selama-lamanya.
  7. Q.S . An-Nisa’ (4): 125. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan menurunkan aturan berupa agama. Seseorang akan dikatakan telah melaksanakan aturan agama apabila melaksanakannya dengan ikhlas karena Allah.
  8. Q.S . Luqman (31): 22. Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah disebut sebagai orang muhsin.
  9. Q.S . Al-Ikhlas (3): 83. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah tempat kembali segala sesuatu, baik secra terpaksa maupun secara sadar.
  10. Q.S . Al-Imran (3): 84-85. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhanlah yang menurunkan penunjuk jalan kepada para nabi.
  11. Q.S . Al-Anbiya (21): 92.Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah berbagai suku, ras, atau etnis, dan agama apapun adalah umat Tuhan yang satu. Oleh sebab itu semua umat dalam kondisi dan situasi apapun harus mengarahkan pengabdiannya hanya kepada-Nya.
    1. Q.S . Al-Hajj (22): 78. Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu kegiatan yang sungguh-sungguh akan dikatakan sebagai “jihad” kalau dilakukannya hanya karena Allah SWT semata.

Ayat-ayat yang tersebut diatas berkaitan dengan zat, sifat, asma, perbuatan, tuntunan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan eksistensi Tuhan. Oleh sebab itu para ahli berbeda pendapat dalam menginterpretasikan rinciannya. Pembicaraan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan itu disitematisasikan yang pada gilirannya menjadi sebuah ilmu yang dikenal dengan istilah ilmu Kalâm. [5]

         2.         Hadits

Ada beberapa hadits yang kemudian dipahami sebagian ulama sebagai predikdi Nabi mengenai kemunculan berbagai golongan dalam Ilmu Kalâm, diantaranya adalah

Hadits yang diriwayatkan dari dari Abu Hurairah r.a. Ia mengatakan bahwa Rosulullah bersabda, “Orang-oranngYahudi akan terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan; Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh golongan.

Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar. Ia mengatakan bahwa Rosulullah bersabda, “Akan menimpa umatku apa yang pernah menimpa Bani Israil. Bani Israil telah terpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan saja, “Siapa mereka itu, wahai Rosulullah?” Tanya para sahabat. Rosulullah menjawab, ‘Mereka adalah yang mengikuti jejakku dan sahabat-sahabatku.

Komentar dari Abdullah Qadir tentang hadits masalah faksi tersebut, yang merupakan salah satu kajian Ilmu Kalâm, mempunyai sanad sangat banyak.* Diantara sanad yang sampai kepada Nabi adalah yang berasal dari beberapa sahabat, seperti Anasbin Malik, Abu Hurairah, Abu Ad-Darda, Jabir, Abu Said Al-Khudri, Abu Abi Kaab, Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Abu Ummah, Watsilah bin Al-Aqsa.

            Ada pula pada riwayat yang hanya sampai kepada sahabat. Di antaranya adalah Hadits yang mengatakan bahwa umat Islam akan terpecah-belah ke dalam beberapa golongan. Di antara golongan-golongan itu, hanya satu saja yang benar, sedangkan yang lainnya sesat.

                        Keberadaan Hadits yang berkaitan dengan perpecahan umat seperti tersebut diatas, pada dasarnya merupakan prediksi Nabi dengan melihat yang tersimpan dalam hati para sahabatnya. Oleh sebab itu, sering dikatakan bahwa hadits-hadits seperti itu lebih dimaksudkan sebagai peringatan bagi para sahabat dan umat Nabi tentang bahayanya perpecahan dan pentingnya persatuan.[6]

         3.         Pemikiran Manusia

Dalam hal ini pemikiran manusia bias berupa pemikiran umat Islam sendiri atau dari non Islam. Sebelum filsafat Yunani masuk dan berkembang didunia Islam, umat Islam sendiri telah menggunakan pemikiran rasionalnya untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat AL-Qur’an terutama yang belum jelas maksudnya (al-mutasyabihad). Dari beberapa ayat-ayat Al-Qur’an mengharuskan untuk menggunakan rasio diantaranya : [7]

Ÿxsùr& tbr㍭/y‰tGtƒ šc#uäöà)ø9$# ôQr& 4’n?tã A>qè=è% !$ygä9$xÿø%r& ÇËÍÈ    

Artinya : “Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad (47) : 24)

 

óOn=sùr& (#ÿrãÝàZtƒ ’n<Î) Ïä!$yJ¡¡9$# ôMßgs%öqsù y#ø‹x. $yg»oYø‹t^t/ $yg»¨Y­ƒy—ur $tBur $olm; `ÏB 8lrãèù ÇÏÈ   uÚö‘F{$#ur $yg»tR÷Šy‰tB $uZøŠs)ø9r&ur $pkŽÏù zÓśºuru‘ $uZ÷Fu;/Rr&ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. £l÷ry— 8kŠÎgt/ ÇÐÈ  

Artinya : “Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,” (Q.S. Qaaf (50) : 6-7)

                        Ayat serupa dapat ditemukan pada An-Nahl (16) ; 68-69; Al-Jatsiyah (45) : 12-13; Al-Isra’ (17) : 44; Al-An’am (6) : 97-98; At-Taubah (9) : 122; Ath-Thariq (86) : 5-7; Al-Ghatsiyah (88) : 7-20; Shad (38) : 29; Muhammad (47) : 24; An-Nahl (16) : 17; Az-Zumar (39) : 9; Adz-Dzariyat (51) : 47-49, dan lain-lain.

                        Semua ayat tersebut diatas berkaitan langsung dengan anjuran motivasi, bahkan perintah kepada manusia untuk menggunakan rasio. Dengan demikian, jika ditemukan seorang muslim telah melakukan suatu kajian objek tertentu dengan rasionya, hal itu secara teoritis bukan karena adanya pengaruh pihak luar saja tetapi karena adanya perintah langsung Al-Qur’an sendiri. Bentuk konkrit penggunaan pemikiran Islam sebagai sumber ilmu Kalâm adalah ijtihad yang dilakukan para mutakallim dalam persoalan-persoalan tertentu yang tidak ada penjelasannya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist.

                        Adapun sumber ilmu Kalâm berupa pemikiran yang berasal dari luar Islam dapat diklasifikasikan dalam dua kategori. Pertama, pemikiran nonmulim yang telah menjadi peradaban lalu ditrasfer dan diasimilasikan dengan pemikiran umat Islam. Proses transfer dan asimilasi ini dapat dimaklumi karena sebellum Islam masuk dan berkembang, dunia Arab adalah suatu wilayah tempat diturunkannya agama-agama Samawi lainya. Kedua, berupa pemikiran-pemikiran nonmuslim yang bersifat akademis, seperti filsafat (terutama dari Yunani), sejarah dan sains.

         4.         Insting[8]

Secara instingtif, manusia selalu ingin bertuhan. Kepercayaan adanya Tuhan telah berkembang sejak adanya manusia pertama. Oleh sebab itu, sangat wajarkalau William L. Resec mengatakan bahwa ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan, yang dikenal dengan istilah Theologia, telah berkembang sejak lama. Ia bahkan mengatakan bahwa teologi muncul dari sebuah mitos (theologia was originally viewedas concerned with myth). Selanjtnya, teologi itu berkembang menjadi “theology natural” (teologi alam) dan “revealed theology” (teologi wahyu).[9]

 

2.4 Objek Ilmu Kalâm[10]

     Ajaran tauhid atau aqidah merupakan ajaran terpenting yang dibawa oleh Al-Qur’an yakni pengakuan terhadap ke Esaan Allah SWT. dengan segala sifat-sifat kesempurnann-Nya, dengan segala keagungan-Nya dan mengesakan-Nya dalam beribadat.

     Dalam disiplin ilmu-ilmu Islam ajaran tauhid ini dibahas oleh ilmu Kalâm, hal ini disebabkan persoalan terpenting yang menjadi pembicaraan pada abad-abad permulaan hijriah adalah Kalâm Allah (wahyu Allah) yang dibacakan iitu apakah “baharu” atau “qadim”. Dalam membicarakan wahyu ini dasar yang dipakai adalah akal pikiran dan sangat sedikit yang mendasarkan pendapatnya pada dalil naql, kecuali setelah terlebih dahulu menetapkan benarnya pokok persoalan.[11]

     Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, terdapat berbagai aliran pemikiran Kalâm yang berawal dari pemikiran politik, pertentangan politik antara Ali bin Abi Talib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan meningkat menjadi persoalan Teoligi yang berujung pada peristiwa tahkim (arbitrase) yang memicu terjadinya pertentangan Teologi di kalangan umat Islam. Kepincangan tahkim antara kelompok Ali bi Abi Talib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan memunculkan lahirnya aliran Khawarij dengan semboyan mereka la hamka illa lillah (tidak ada hokum selain hokum Allah).

     Khawarij memandang Ali, Mu’awiyah ‘Amr bin Ash, Abu Musa al-Asyari dan lain-lain yang menerima tahkim adalah kafir, karena Al-Qur’an mengatakan :

`tBur óO©9 Oä3øts† !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# y7Í´¯»s9’ré’sù ãNèd tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÍÍÈ  

Artinya ; “ Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”

Lambat laun orang yang dipandang kafir bukan hanya yang tidak berhukum dengan Al-Qur’an, tetapi juga orang yang berbuat dosa besar. Disamping munculnya persoalan mu’min dan kafir.,muncul perseoalan tentang kehendak dan perbuatan manusia. Apakah manusia memiliki kebebasan berkehendak dan berbuat, ataukah manusia melakukannya secara terpaksa. Aliran yang memunculkan masalah ini adalah Qadariyah dan Jabariyah.

     Pada masa selanjutnya, Mu’tazilah mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani dan menterjemahkannya kedalam bahasa Arab, mereka mulai terpengaruh dengan filsafat Yunani dengan pemakaian rasio dan membawanya kelapangan Teologi, namun demikian mereka tidak meninggalkan wahyu. Sebagai antitesa terhadap pandangan Mu’tazilah yang rasional, maka muncullah aliran al-Asy’ariyah dan al-Maturidiyah yang dapat disebut sebagai golongan tradisional Islam.

     Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa objek dari ilmu Kalâm berkisar pada masalah wahyu, akal, iman, kufur, kehendak daan perbuatan Tuhan, keadilan dan sifat-sifat Tuhan.

2.5 Sejarah Munculnya Ilmu Kalâm

Ilmu Kalâm lahir dalam tradisi intelektual. Tradisi intelektual adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat beragama untuk menemukan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan akal dalam masyarakat tertentu dan mencoba menyelaraskan hubungan antara akal dengan apa yang disebut wahyu (Muhsin Mahdi). Ilmu Kalâm erat kaitannya dengan lahirnya skisme dalam Islam. Karenanya, asal mula persoalan Kalâm bisa ditelusuri hingga terbunuhnya Khalifah III Utsman bin Affan (Fitnah Kubrâ). Awal mula pemikiran kalâm adalah pertanyaan tentang siapa yang berhak memimpin (persoalan politik)

Menurut Harun Nasution, kemunculan persoalan Kalâm dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut pembunuhan Ustman bin Affan yang berbuntut pada penolakan Mu’awwiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ketegangan antara Mu’awiyah dan Ali bin Abi Thalib mengkristal menjadi Perang Siffin yang berakhir dengan keputusan tahkim (arbitrase). Sikap Ali yang menerima tipu muslihat Amr bin Al-Ash, utusan dari pihak Mu’awwiyyah dalam tahkim, sungguhpun dalam keadaan terpaksa tidak disetujui oleh sebagian tentaranya. Mereka berpendapat  bahwa persoalan yang terjadi pada saat itu tidak dapat diputuskan melalui tahkim. Putusan hanya datang dari Allah  dengan kembali pada hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an. La hukma illa lillah (tidak ada hukum selain hukum Allah) atau la hukma illa Allah (tidak ada perantara selain perantara Allah) menjadi semboyan mereka.  Mereka memadang Ali bin Abi Thalib telah berbuat salah sehingga mereka meninggalkan barisannya. Dalam sejarah Islam, mereka terkenal dengan nama Khawarij, yaitu orang yang keluar dan memisahkan diri atau secerders.

Di luar pasukan yang membelot Ali, ada pula sebagian besar yang tetap mendukung Ali. Mereka inilah yang kemudian memunculkan kelompok Syi’ah. Menurut Watt, Syi’ah muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mu’awiyyah yang dikenal dengan Perang Siffin sebagai respon atas penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan Mu’awiyyah, pasukan Ali terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung sikap Ali kelak disebut Syi’ah dan kelompok lain menolak sikap Ali kelak disebut Khawarij.  

Persoalan ini telah menimbulkan tiga aliran teologi dalam Islam yaitu:

  1. Aliran Khawarij, menegaskan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalam arti telah keluar dalam Islam, atau tegasnya murtad dan wajib dibunuh.
  2. Aliran Murji’ah, menegaskan bahwa orang yang berdosa besar masih tetap mu’min dan bukan kafir. Adapu soal dosa yang dilakukannya, hal itu terserah kepada Allah untuk mengampuni atau menghukumnya.
  3. Aliran Mu’tazilah, yang tidak menerima kedua pendapat diatas. Bagi mereka, orang yang berdosa besar bukan kafir, tapi bukan pula mu’min. mereka mengambil posisi antara mu’min dan kafir, yang dalam bahasa Arabnya terkenal dengan istilah al-manzilah manzilatain (posisi diantara dua posisi).[12]

Latar belakang ilmu Kalâm menurut Ahmad Amin dalam bukunya Duha al-Islam dikelompokkan mejadi 2 faktor :

  1. a.      Faktor Internal
  2. Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama hokum Islam, disamping membahas masalah ketauhidan, kenabian dan lain-lain, juga menyampaikan penolakan terhadap keyakinan-keyakinan lain yang diluar agama Islam, dan dalam Al-Qur’an diperintahkan supaya umat Islam melakukan penolakan terhadap berbagai keyakinan yang menyimpang tersebut dengan melakukan dakwah secara bijaksana dan melakukan bertahan (debat) dengan cara yang baik (Q.S. an-Nahl : 125). Perintah ini menuntut umay Islam mempelajari cara melakukan perdebatan dengan baik, hal ini mendorong munculnya Ilmu Kalâm.
  3. Semakin meluasnya wilayah kekuasaan umat Islam, mengakibatkan terjadinya persentuhan ajaran Islam dengan budaya-budaya lain yang ada diwilayah kekuasaannya Umat Islam mulai mengenal Filsafat dan mempelajarinya. Dan selanjutnya muncul upaya memfilsafati ayat-ayat Al-Qur’an yang nampaknya tidak sejalan, bahkan kelihatan bertentangan, seperti ayat-ayat yang membicarakan perbuatan manusia. Apakah manusia ini berbuat secara terpaksa ataukah memiliki kebebasan untuk berbuat.
  4. Rasulullah sampai akhir hayatnya tidak menyebutkan secara jelas siapakah yang akan menggantikannya untuk memimpin umat Islam setelah beliau wafat, namun demikian para sahabat dapat menyelesaikan persoalan kekhalifahan ini dengan diangkatnya Abu Bakar sebagai khalifah pertaman dan Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua.

Persoalan kekhalifahan (imamah) muncul pada masa akhir kekhalifahan Usman bin Affan, yakni terbunuhnya Usman yang melahirkan perdebatan Teologi, kelompok as-sunnah wa al-istiqomah menyebut bahwa pembunuh Usman adalah perbuatan dzalim dan merupakan permusuhan, dan kelompok lain menyebutkan berbeda dengan kelompok pertama (bukan bentuk kedzaliman).

Setelah Usman wafat, maka Ali bin Abi Thalib terpilih sebagai khalifah ke empat, tetapi begitu terpilih, langsung mendapat tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin menjadi khalifah. Tantangan pertaman muncul dari Talhah dan Zubeir dari Mekkah, tantangan kedua muncul dari Muawiyah dan keluarga dekat Usman bin Affan, yakni tidak mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.

Tantangan dari Talhah dan Zubeir melahirkan perang Jamal (unta) yang berakhir dengan kemenangan di pihak Ali. Tantangan dari Muawiyah melahirkan perang Siffin yang diselesaikan dengan tahkim (arbitrase). Terjadi ketidakadilan dalam tahkim mengakibatkan sebagai pendukung Ali bin Abi Thalib keluar dari barisan Ali dan membentuk kelompok yang dikenal dengan “khawarij”. Kelompok khawarij sebagai kelompok yang tidak menerima tahkim menuduh orang-orang yang terlibat dalam tahkim telah keluar dari Islam, mereka memperkuat tuduhan ini dengan Q.S. Al-Maaidah : 44 sebagai berikut,

!`tBur óO©9 Oä3øts† !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# y7Í´¯»s9’ré’sù ãNèd tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÍÍÈ  

     Kelompok ini berpendapat bahwa yang tidak berhukum dengan Al-Qur’an adalah kafir, pelakuk dosa besar dan wajib memeranginya. Pada masa yang sama muncul kelompok pembela Ali bin Abi Thalib yakni kelompok “Syiah

Persoalan kafir mengkafirkan ini telah sampai ke berbagai wilayah, dan Hasan Basri ditanya bagaimana pendapatnya tentang orang yang berbuat dosa besar, Wasil bin ‘Ata menjawab, sebelum Hasan Basri. Dari berbagai persoalan ini muncullah ilmu Kalâm.

 

  1. b.      Faktor Eksternal
    1. Seiring dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam, maka semakin banyak umat Islam yang memeluk agama Islam yang pada masa sebelumnya mereka memeluk agama atau kepercayaan tertentu. Pemeluk Islam ini ada yang berasal dari agama Yahudi dan Nasrani, ada dari peyembah berhala, peyembah matahari dan lainya. Setelah mereka memeluk Islam, maka tidak jarang terjadinya penyelesaian suatu masalah yang mereka temukan dalam Islam dengan menggunakan ajaran agama dan kepercayaan yang mereka anut sebelumnya.
    2. Aliran Mu’tazilah sebagai salah satu aliran yang lahir dari perdebatan tentang iman dan kufur, adalah salah satu aliran yang banyak melakukan dakwah atau seruan ke dalam Islam dn sekaligus melakukan  perdebatan dengan berbagai pihak dalam hal mengemukakan dan mempertahankan pendapat, bahkan mereka melakukan perdebatan dengan berbagai agama dan kepercayaan lain dalam rangka menegakkan dan membela ajaran Islam khususnya daru serangan kelompok Yahudi dan Nasrani.
    3. Adanya perdebatan antara sesama umat Islam dan khususnya dengan para pemeluk agama lain (Yahudi dan Nasrani) mengharuskan para mutakallim Mu’tazilah mempelajari filsafat, logika (ilmu mantiq) dan juga mempelajari Teologi Yunani, sebagaimana an-Nizam mempelajari filsafat Aristoteles. Kajian filsafat dan logika ini menjadi bagian ilmu Kalâm dan ilmu Kalâm menjadi ilmu yang berdiri sendiri.
    4. Selain factor intern dan ekstern sebagaimana disebut diatas, munculnya khilafiyah.

Pada masa akhir sahabat yang bersumber dari Jahm bin Safwan, Ma’bad al-Juhami dan Gillan ad-Dimasyqi dalam hal membicarakan qadr dan pengingkaran penyandaran yang baik dan buruk pada qadr, melahirkan kelompok Qodariyah dan Jabariyah perbedaan ini turut memicu timbulnya Ilmu Kalâm dalam kajian sejarah Islam.

Dalam Islam, timbul pula dua aliran teologi yang terkenal dengan nama Qodariyah dan Jabariyah, manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbutannya. Adapun Jabariyah, berpendapat sebaliknya bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dan kehendak dan perbuatannya.

Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional mendapat tantangan keras dari golongan tradisionalIslam, terutama golongan Hanbali, yaitu pengikut-pengikut mazhab Ibn Hanbal. Mereka yang menentang ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisional yang dipelopori Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (935 M). di samping aliran Asy’ariyah, timbul pula suatu aliran di Samarkand oleh Abu Mansur Muhammad Al-Maturidi (w. 944 M). Aliran ini kemudian terkenal dengan nama teologi Al-Maturidiyah.

Aliran-aliran Khawarij, Murji’ah dan Mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi, kecuali dalam sejarah. Adapun yang masih ada sampai sekarang adalah aliran Asy’ariah dan Maturidiyah yang keduanya disebut Ahlussunnah wal-jama’ah.[13]

 

2.6 Hubungan Ilmu Kalâm Dengan Ilmu Lainnya

     Bertitik tolak dari ilmu Kalâm sebagaimana diungkapkan diatas yakni : masalah wahyu, akal, iman, kufur, kehendak dan perbuatan Tuhan, keadilan dan sifat-sifat Tuhan dan juga berdasarkan faktor-faktor pendorong tumbuh dan berkembangkannya ilmu Kalâm, maka dapat disebutkan bahwa ilmu Kalâm memiliki keterkaitan dengan filsafat dan tasawuf.

  1. Titik persamaan

Dilihat dari objek kajiannya Ilmu Kalâm, filsafat, tasawuf mempunyai kemiripan :

  1. Objek kajian Ilmu Kalâm adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya.
  2. Objek kajian Filsafat adalah masalah ketuhanan disamping masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada.
  3. Objek kajian Tasawuh adalah Tuhan yakni upaya-upaya pendekatan terhadapnya.

Sehingga dilihat dari aspek objeknya ketiga ilmu tersebut membahas tentang ketuhanan.

      Baik Ilmu Kalâm, filsafat maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, kebenaran. Ilmu Kalâm, dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenarannya tentang Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya sendiri pula, berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia, atau tentang Tuhan. Sementara itu, tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal berusaha menghampiri kebenaran dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.

 

 

  1. Titik Perbedaan

Dilihat pada aspek metodologinya Ilmu Kalâm, filsafat dan tasawuf mempunyai perbedaan :

  1. Ilmu Kalâm

Sebagai ilmu yang menggunakan logika disamping argumentasi-argumentasi naqliah yang berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama. Sebagai sebuah dialog keagamaan Ilmu Kalâm berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional.

  1. Filsafat

Filsafat adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode yang digunakannya pun adalah metode rasional. Peranan filsafat sebagai mana yang diungkapkan oleh Socrates adalah berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep. Dalam fisafat dikenal tiga kebenaran : Pertama, kebenaran korespondensi, dalam pandangannya kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan fakta dan data itu sendiri. Kedua, kebenaran koherensi, dalam pandangannya, kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pertimbangan baru dan suatu pertimbangan yang telah diakui kebenarannya secara umum dan permanen. Ketiga, kebenaran pragmatik, dalam pandangannya, kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat dan mungkin dapat dikerjakan dengan dampak yang memuaskan.

  1. Tasawuf

Ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingtif. Sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf bersifat sangat subjektif yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, atau ilham, atau inspirasi yang dating dari Tuhan. Kebenaran yang dihasilkan ilmu tasawuf dikenal dengan istilah kebenaran hudhuri, yaitu suatu kebenaran yang objeknya dating dari subjek sendiri.

Sebagian orang memandang bahwa ketiga ilmu diatas memilki jenjang tertentu. Jenjang pertama adalah Ilmu Kalâm, kemudian filsafat dan yang terakhir adalah ilmu tasawuf. Oleh sebab itu merupakan suatu kekeliruan apabila dialektika kefilsafatan atau tasawuf teoretis diperkenalkan kepada masyarakat awam karena akan berdampak pada terjadinya rasional jumping (lompatan pemikiran).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1.     Kesimpulan

Perkataan ‘’Kalâm” sebenarnya merupakan suatu istilah yang sudah tidak asing lagi, khususnya bagi kaum muslim. Secara harfiyah perkataan “Kalâm” dapat ditemukan baik didalam Al-Qur’an maupun diberbagai sumber lain.

Misalnya didalam kitab Jurmiyah terungkap pengertian Kalâm sebagai berikut:

اللفظ المركب المفيد

Artinya : “Kata-kata yang tersusun dengan sengaja untuk menunjukkan suatu maksud atau pengertian

Ilmu Kalâm lahir dalam tradisi intelektual. Tradisi intelektual adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat beragama untuk menemukan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan akal dalam masyarakat tertentu dan mencoba menyelaraskan hubungan antara akal dengan apa yang disebut wahyu (Muhsin Mahdi). Ilmu Kalâm erat kaitannya dengan lahirnya skisme dalam Islam. Karenanya, asal mula persoalan Kalâm bisa ditelusuri hingga terbunuhnya Khalifah III Utsman bin Affan (Fitnah Kubrâ). Awal mula pemikiran kalâm adalah pertanyaan tentang siapa yang berhak memimpin (persoalan politik)

3.2.     Saran

Dalam makalah ini diharapkan ada pengembangan dalam penjelasan mengenai ilmu kalam sehingga dapat menambah wawasan. Demi kesempurnaan makalah kami ii, kami harapkan kritik dan saran dari pembaca. Semoga makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadikan amal shaleh bagi kami. Amiin.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

ü  Abduh, Muhammad. 1996. Rislah Tauhid. Alih Bahasa. KH. Firdaus AN.

Jakarta : Bulan Bintang

ü  Ahmad, Muhammad. 1998. Tauhid Ilmu Kalâm. Bandung : Pustaka Setia

ü  Al-Akkad, Abbas Mahmoud. Ketuhanan Sepanjang Ajaran agama-agama

dan Pemikiran Manusia. Terj. A. Hanafi. Jakarta : Bulan Bintang

ü  Anwar, Rosihon. 2003.  Ilmu Kalâm. Bandung : CV. Pustaka Setia

ü  Nasrah. Kalam dan Sekte-sekte dalam Khawarij.jurnal

ü  Nasution, Harun. 1986. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta : UI Press

ü  Raziq, Musthafa Abd. 1959. Tamhid II Tarikh Al-Falsafah Al

Islamiyah.Lajnah wa At-Tha’lif wa At-Tarjamah wa An-Nasyr

 


[1]  Drs. H.Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalâm, Pustaka Setia, Bandung, 1998, hlm.13-14

[2]  Ibid, hml.14-15

[3] Ibid, hml.15-16

[4] Ibid, hml.17

[5] Roziq, op. cit. 260-261

[6] Rosihon Anwar. 2003.  Ilmu Kalâm. Bandung : CV. Pustaka Setia,hlm; 17-21

[7]  Harun Nasution. Akal dan Wahyu dalam Islam. UI Press. Jakarta.1986.hlm,39-51.

[8]  Abbas Mahmoud  Al-Akkad. Ketuhanan Sepanjang Ajaran agama-agama dan Pemikiran Manusia. Terj. A. Hanafi. Bulan Bintang. Jakarta. 1973. Hlm.32

[9]  Roziq, op. cit. hlm.288-289

[10]  Nasrah. Kalam dan Sekte-sekte dalam Khawarij.jurnal. hlm.2.

[11] Muhammad Abduh, Rislah Tauhid. Alih Bahasa. KH. Firdaus AN. (Jakarta:Bulan Bintang.1996),hlm.3.

[12] Rosihon Anwar. 2003.  Ilmu Kalâm. Bandung : CV. Pustaka Setia,hlm; 27-29

[13] Nasrah. Kalam dan Sekte-sekte dalam Khawarij.jurnal. hlm.3-4.

FIQIH MUNAKAHAT” NIKAH “

xBAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Menikah dan kehidupan berkeluarga merupakan salah satu sunnatullah terhadap makhluk, yang mana dia merupakan sesuatu yang umum dan mutlak dalam dunia kehidupan hewan serta tumbuh-tumbuhan.adapun manusia: bahwasanya Alla tidak menjadikannya seperti apa yang ada pada kehidupan selainnya yang bebas dalam penyaluran syahwat, bahkan menentukan beberapa peraturan yang sesuai dengan kehormatannya, memelihara kemuliaan dan menjaga kesuciaannya, yaitu dengan melakukan pernikahan syar’i yang menjadikan hubungan antara seorang pria dengan seorang wanita merupakan hubungan mulia, dilandasi oleh keridhoan, dibareng oleh ijab kabul, kelembutan serta kasih sayang.Sehingga bisa menyalurkan syahwatnya dengan cara benar, menjaga keturunan dari kerancuan dan juga sebagai penjagaan bagi wanita agar tidak dijadikan sebagai mainan bagi setiap orang yang menjamahnya.

Tuhan tidak mau menjadikan manusia seperti makhluk lainnya, yang hidup bebas mengikuti nalurinya yang berhubungan antara jantan dan betinanya secara anarkitanpa ada satu aturan.Oleh karena itu, untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan manusia,Allah SWT mewujudkan hukum yang sesuai dengan martabatnya.Sehingga hubungan antara pria dan wanita diatur secara terhormat danberdasarkan saling meridhoi,dengan upacara ijab dan qabul sebagai lambang dari adanya rasa saling meridhoi serta dihadiri oleh para saksi yang menyaksikan bahwa kedua pasangan tersebut telah saling terikat.

Salah satu kunci keluarga bahagia yaitu adanya pemahaman dan pelaksanaan hak dan kewajiban suami istri di dalam bahtera rumah tangga. Diperlukan kerjasama antara suami dan istri dalam membangun keharmonisan rumah tangganya. Tak lupa pula didasari dengan agama, keluarga tersebut akan menjadi sakinah. Seorang suami yang beriman akan mampu menjadi kepala rumah tangga yang baik dan kelak membawa keluarganya menuju syurga. Seorang istri yang sholehah tentunya yang selalu taat pada suaminya serta mampu membawa keluarganya senantiasa dalam kebaikan.

Suami sebagai pemimpin rumah tangga memiliki hak-hak yang didapatkan dari istri dan anak-anaknya. Istri menghormati suami, dan anak-anak menghormati ayahnya.

Bentuk pernikahan ini telah memberikan jalan yang aman pada naluri (seks), memelihara keturunan dengan baik dan menjaga kaum wanita menjadi aksana rumput yang bisa dimakan oleh binatang ternak seenaknya.Pergaulan suami istri diletakkan di bawah naungan naluri keibuan dan kebapaan sehingga nantinya akan menghasilkan tmbuh tumbuhan yang biak dan buah yang bagus. Peraturan dan pernikahan yang seperti inlah yang diridhoi Allah dan diabadikan islam untuk selamanya, sedangakan yang lainnya di batalkan.

Oleh karena itu penting kami menyusun makalah ini karena keharmonisan rumah tangga bagaikan bagunan misi kenabian jika bangunan runtuh, maka akan runtuh misi kemanusiaan. Jika dalam keluarga menetapkan hak dan kewajiban masing- masing, keluarga sakinah sebagai tujuan manusia berkeluarga akan terwujud.

 

1.2              Rumusan Masalah

Adapun rumusan malasah dalam makalah ini adalah :

1. Bagaimanakah kewajiban suami terhadap istri ?

2. Bagaimanakah hak suami terhadap isteri ?

3. Bagaimanaka hak suami istri ?

4. Bagaimanakah hukum dalam pernikahan ?

1.3        Tujuan

  Adapun tujuan dari makalah ini adalah : 

1. Mengetahui kewajiban suami terhadap istri.

2. Mengetahui hak suami terhadap isteri.

3. Mengetahui hak suami istri.

 4. Mengetahui hukum dalam pernikahan.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Keutamaan Menikah

Sebelumnya akan dijelaskan defenisi dari penikahan/munakahat. Dalam bahasa Indonesia, perkawinan berasal dari kata “kawin” yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh. Perkawinan disebut juga “pernikahan’’, berasal dari kata Nikah (نِ كَا ح) yang menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh (wathi).[1]Kata “nikah “ sendiri sering digunakan untuk arti bersetubuh juga untuk arti akad nikah.

            Menurut syara’ yaitu akad yang ditetapkan syara’ untuk membolehkan untuk bersenang-senang antara laki-laki dan perempuan dan menghalalkan bersenang-senangnya perempuan dengan laki-laki[2].

            Menurut Istilah syara’ ialah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan seksual dengan lafadz nikah atau dengan kata-kata yang semakna dengannya[3].

 

Menikah termasuk dari sunnah yang paling ditekankan oleh setiap Rasul, dan juga termasuk dari sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.  Allah berfirman :

 

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ  

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram  kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-Ruum: 21)

 

 

 

ô‰s)s9ur $uZù=y™ö‘r& Wxߙ①`ÏiB y7Î=ö6s% $uZù=yèy_ur öNçlm; %[`ºurø—r& Zp­ƒÍh‘èŒur 4

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rosul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan ..” (Ar-Ra’d: 38)

 

 Berkata Abdullah bin Mas’ud r.a: suatu ketika kami beberapa orang pemuda sedang bersama Nabi SAW dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, berskatalah kepada kami Rasulullah SAW “Wahai sekalian pemuda, barang siapa diantara kalian yang telah mampu hendaklah dia menikah, karena yang demikian itu lebih

menjaga pandangan dan lebih menjaga kemaluannya, dan barang siapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa, karena itu merupakan benteng baginya” (Muttafaq Alaihi)

 Nikah: Adalah ikatan syar’i yang menghalalkan percumbuan dari setiap suami dan isteri.

 

2.2       Akad Nikah,Rukun Dan Syaratnya

Ketika ingin menikah,seorang laki laki di sunahkan untuk mengajukan pinangan terlebih dahulu dari pihak yang bersangkutan atau pihak lain yang hadir di tempat pihak wanita.[4]

            Sedangkan yang temasuk rukun akad nikah ada 3 hal yaitu :

 

  1. Adanya calon mempelai wanita dan mempelai pria yang tidak memiliki hambatan untuk mengadakan akad nikah yang sah.
  2. Adanya ijab atau penyerahan,yaitu lafazh yang di ucapkan oleh seorang wali dari pihak seorang wanita atau pihak yang diberika kepercayaan dari pihak wanita.
  3. Adanya Qobul atau penerimaan,yaitu suatu lafazh yang berasal dari calon mempelai pria atau telah mendapat kepercayaan dari pihak mempelai pria.

 

Pernikahan orang bisa di anggap sah bila diakukan dengan tulisan atau dengan isyarat yang jelas dan bisa di pahami.Jika ijab qobul itu telah terpenuhi,maka nikah itu menadi sah menurut agama walaupun orang yang mengucapkan itu main main dan tidak bermaksud untuk benar benar menikah.Sebagaimana sabda Rasullah :

ثَلَا ثٌ هَزْ لُهُنَّ جِدُّ , وَ جِدُّ هَنَّ جِدُّ : الطَلَا قُ  وَ النِّكَا حُ وَ الرَّ جْعَةُ  ( التَّرْ مِذِ ي )

”Ada tiga hal yang ketika main main itu harus benar benar terjadi,dan ketika sungguh sungguh juga harus benar tejadi, yaitu talak , nikah dan rujuk”. (HR.Turmudzi)

            Dan syarat sahnya nikah ada 4 hal, yaitu :

  1. Calon kedua mempelai telah diketahui dengan jelas.
  2. Kedua calon mempelai telah ikhlas atau ridho satu sama lain.Nikah tidak akan sah jika ada unsur paksaan dari satu pihak,Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra :

لَا تَنْكَحُ الأَ يَمَ حَتَّ تُسْتَأْ مَرَ , وَلَا الْبِكْرَ حَتَّى تُسْتَأْ ذَ نَ (متّفق عليه)

Jangan kamu nikahi seorang janda sebelum ia diajak berunding dan jangan kamu menikahi seorang gadis kecuali ia telah memberi izin dan rela”(mutafaqun alaih)

  1. Adanya wali bagi wanita untuk menikahkannya,Sabda Rasululah SAW :

لَا نِكَا حَ إِ لاَّ بِوَ لٍى  ( ر وا ه الخمسة إ الا النسَا ء ي)

”Tidak sah nikah seorang wanita tanpa adanya seorang wali.”(lima imam hadits,kecuali An-nasa’i) 

2.3       Mahar Atau Mas Kawin Dalam Nikah

Mahar atau mas kawin adalah harta atau pekerjaan yang diberikan oleh seorang  laki laki kepada seorang perempuan sebagai pengganti dalam sebuah pernikahan menurut kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak, atau berdasarkan ketetapan dari si hakim. Dalam bahasa Arab, mas kawin sering disebut dengan istilah mahar, shadaq, faridhah dan ajr. [5]

Mas kawin disebut dengan mahar yang secara bahasa berarti pandai, mahir, karena dengan menikah dan membayar mas kawin, pada hakikatnya laki-laki tersebut sudah pandai dan mahir, baik dalam urusan rumah tangga kelak ataupun dalam membagi waktu, uang dan perhatian.

Mas kawin juga disebut shadaq yang secara bahasa berarti jujur, lantaran dengan membayar mas kawin mengisyaratkan kejujuran dan kesungguhan si laki-laki untuk menikahi wanita tersebut.

Mas kawin disebut dengan faridhah yang secara bahasa berarti kewajiban, karena mas kawin merupakan kewajiban seorang laki-laki yang hendak menikahi seorang wanita.

 Mas kawin juga disebut dengan ajran yang secara bahasa berarti upah, lantaran dengan mas kawin sebagai upah atau ongkos untuk dapat menggauli isterinya secara halal.

Para ulama telah sepakat bahwa mahar hukumnya wajib bagi seorang laki-laki yang hendak menikah, baik mahar tersebut disebutkan atau tidak disebutkan sehingga si suami harus membayar mahar mitsil. Dalam Al Qur’an disebutkan juga dalam surat An- Nisa’:4 yang berbunyi :

(#qè?#uäur uä!$|¡ÏiY9$# £`ÍkÉJ»s%߉|¹ \’s#øtÏU 4 bÎ*sù tû÷ùÏÛ öNä3s9 `tã &äóÓx« çm÷ZÏiB $T¡øÿtR çnqè=ä3sù $\«ÿ‹ÏZyd $\«ÿƒÍ£D ÇÍÈ  

”Berikanlah mas kawin(mahar)kepada wanita yang kamu nikahi sebagai pemberian  dengan penuh kerelaan”.(An nisa’4)

 Oleh karena itu, pernikahan yang tidak memakai mahar, maka pernikahannya tidak sah karena mahar termasuk salah satu syarat sahnya sebuah pernikahan.

Mas kawin tidak mesti berupa uang atau harta benda, akan tetapi boleh juga hal-hal lainnya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini hal-hal yang dapat dijadikan mas kawin atau mahar :

1. Semua benda atau alat tukar (uang) yang dapat dijadikan harga dalam jual beli seperti uang atau benda-benda lainnya yang biasa diperjualbelikan dengan syarat benda atau uang tersebut, halal, suci, berkembang, dapat dimanfaatkan dan dapat diserahkan.

Oleh karena itu, harta hasil curian, tidak dapat dijadikan mas kawin karena ia barang haram bukan halal. Demikian juga, peternakan babi tidak dapat dijadikan mas kawin karena bendanya tidak suci. Piutang yang belum jelas kembalinya, juga tidak dapat dijadikan mas kawin lantaran tidak dapat diserahkan. Point pertama ini didasarkan kepada ayat berikut ini:

¨@Ïmé&ur Nä3s9 $¨B uä!#u‘ur öNà6Ï9ºsŒ br& (#qäótFö6s? Nä3Ï9ºuqøBr’Î/

“Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu” (QS. An-Nisa: 24).

Dan sabda Nabi SAW :

تَزَ وَّ جْ وَ لَوْ بِخَا تَمٍ مِنْ حَدِ يْدٍ ( رِ وَا ه البخر ى )

“Kawinlah engkau walaupun dengan mas kawin cincin dari besi (H.R Bukhori)”.

 

 

2. Semua pekerjaan yang dapat diupahkan.

Menurut Madzhab Syafi’i dan Hanbali, pekerjaan yang dapat diupahkan, boleh juga dijadikan mahar. Misalnya, mengajari membaca al-Qur’an, mengajari ilmu agama, bekerja dipabriknya, menggembalkan ternaknya, membantu membersihkan rumah, ladang atau yang lainnya. Misalnya, seorang laki-laki berkata: “Saya terima pernikahan saya dengan putri bapak yang bernama Siti Maimunah dengan mas kawin akan mengajarkan membaca al Qur’an kepadanya selama dua tahun, atau dengan mas kawin mengurus ladang dan ternaknya selama dua bulan“. Akan tetapi menurut Abu Hanifah dan Imam Malik, mahar dengan pekerjaan yang dapat diupahkan hukumnya makruh (dibenci). dengan mas kawin bekerja untuk laki-laki tua itu (calon mertuanya) selama delapan tahun

 

  1. Membebaskan budak.

Menurut Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Imam Daud ad-Dhahiry, bahwa membebaskan budak dapat dijadikan sebagai mas kawin. Maksudnya, apabila seseorang hendak menikahi seorang wanita yang masih menjadi budak belian, kemudian ia membebaskannya dan menjadikan pembebasannya itu sebagai mas kawinnya, maka boleh-boleh saja. Sedangkan menurut sebagian ulama lain, membebaskan budak tidak boleh dijadikan sebagai mas kawin.

 

2.4       Pengertian Kewajiban dan Hak

Kewajiban adalah pembatasan atau beban yang timbul karena hubungan dengan sesama atau dengan Negara

 Hak adalah kepentingan yang dilindungi oleh hukum yang memberikan keleluasaan kepada seseorang untuk melaksanakannya

 

2.5         Hak dan kewajiban Suami terhadap  Isteri

 

 Dalam pernikahan terdapat adab serta hak bagi kedua belah fihak: yaitu setiap dari mereka harus melaksanakan segala hak yang dimiliki oleh pasangannya, dia harus memperhatikan kewajiban yang harus dilaksanakannya, guna tercapainya kebahagiaan, meningkatnya kehidupan dan tenangnya keluarga. Allah berfirman QS.Al-baqarah 228 :

àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr’Î/ spsW»n=rO &äÿrãè% 4 Ÿwur ‘@Ïts† £`çlm; br& z`ôJçFõ3tƒ $tB t,n=y{ ª!$# þ’Îû £`ÎgÏB%tnö‘r& bÎ) £`ä. £`ÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 £`åkçJs9qãèç/ur ‘,ymr& £`ÏdÏjŠtÎ/ ’Îû y7Ï9ºsŒ ÷bÎ) (#ÿrߊ#u‘r& $[s»n=ô¹Î) 4 £`çlm;ur ã@÷WÏB “Ï%©!$# £`ÍköŽn=tã Å$rá÷èpRùQ$$Î/ 4 ÉA$y_Ìh=Ï9ur £`ÍköŽn=tã ×py_u‘yŠ 3 ª!$#ur ͕tã îLìÅ3ym ÇËËÑÈ  

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Al-Baqarah: 228).

Suami diwajibkan untuk memberi nafkah kepada isteri serta anak-anaknya, dan juga apa yang menyertainya dari pakaian serta rumah dengan wajar, dia haruslah seorang yang baik dalam berbudi, bergaul bersama keluarga, menjadi pendamping yang 39 baik, menggauli isterinya dengan lemah lembut dan wajah ceria, bersikap lembut ketika isterinya murka, menjadikannya ridho ketika marah, menahan segala kesulitan darinya, mengobatinya ketika sakit, membantunya dalam urusan rumah, memerintahkannya untuk melaksanakan segala kewajiban dan meninggalkan segala keharaman, mengajarkannya agama jika dia tidak mengetahui ataupun ketika lalai, tidak membebaninya apa yang dia tidak mampu, tidak menolak apa yang dia minta selama masih dalam lingkup yang memungkinkan dan mubah, menjaga kemuliaan keluarganya dan tidak melarangnya untuk bersilaturahmi dengan mereka.[6]

 Suami diperbolehkan untuk menggauli isterinya dengan cara yang mubah, pada waktu kapan saja dan dalam keadaan bagaimanapun, selama itu tidak mendatangkan mudhorot terhadapnya dan tidak pula menyibukkannya dari kewajiban. Suami wajib untuk memberinya makan ketika dia makan, memberinya pakaian ketika dia berpakaian, tidak memukul muka isterinya, tidak menjelekkannya dan tidak pula melalaikannya kecuali dalam soal ranjang. Dari Abu Hurairoh r.a bahwa Nabi SAW bersabda:

 “.. hendaklah kalian berwasiat kebaikan terhadap wanita, karena mereka diciptakan dari tulang iga, dan yang paling bengkok dari tulang iga itu adalah yang paling atas, jika kamu berusaha untuk meluruskannya dia akan patah, dan jika dibiarkan dia akan tetap bengkok, berwasiat dengan kebaikanlah kalian terhadap wanita” (Muttafaq Alaihi)

Tentang hak suami terhadap istri, Rasulullah SAW menegaskan:

Dari Abdullah bin Umar ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Hak suami terhadap istrinya adalah tidak menghalangi permintaan suaminya kepadanya sekalipun sedang diatas punggung unta, tidak berpuasa walaupun sehari saja selain dengan seizinnya, kecuali puasa wajib. Jika ia tetap berpuasa, ia berdosa dan puasanya tidak diterima. Ia tidak boleh memberikan sesuatu dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika ia memberinya maka pahalanya bagi suaminya dan dosanya bagi dirinya sendiri. Ia tidak keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suamianya. Jika ia bebuat demikian maka Allah akan melaknatnya dan para malaikat memarahinya sampai tobat dan pulang kembali meskipun suaminya itu zalim.

2.6       Hak dan kewajiban istri terhadap suami

Seorang isteri wajib untuk melayani suaminya, mengurus dan mengatur rumah, mendidik anak, menasehatinya, menjaga suaminya dalam diri serta harta serta rumahnya, menemuinya dengan cerah dan berseri, berdandan untuknya, hendaklah dia memuliakan, menghormati dan menggaulinya dengan baik, menyiapkan segala sesuatu yang membuatnya tenang dalam beristirahat, membuat dirinya senang agar mendapati ketenangan serta kelapangan pada rumahnya. Hendaklah seorang isteri menta’ati suaminya dalam permasalahan yang tidak ada maksiat kepada Allah padanya, menjauhi apa yang bisa membuatnya marah, tidak meninggalkan rumah kecuali dengan izinnya, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunakan hartanya kecuali setelah mendapat izin darinya, tidak memasukkan seseorang kedalam rumah kecuali dia yang disenanginya, menjaga kehormatan keluarganya serta membantunya semaksimal mungkin ketika dia sakit ataupun lemah.[7]

 Dengan ini bisa kita ketahui kalau seorang wanita didalam rumah melaksanakan segala sesuatu untuk suami serta masyarakatnya, dengan berbagai macam amalan yang tidak kurang dari pekerjaan suaminya diluar rumah. Orang-orang yang ingin mengeluarkannya dari rumah serta tempat kerjanya, agar dia berbaur dan bersaing dalam pekerjaan dengan laki-laki, sungguh telah sesat ataupun bodoh dari pengetahuan tentang maslahat yang ada, baik itu yang berhubungan dengan agama ataupun dunia dengan kesesatan yang nyata, mereka sesatkan orang lain, sehingga hancurlah

masyarakat mereka.

Kewajiban taat kepada suami hanyalah dalam hal-hal yang dibenarkan agama, bukan dalam hal kemaksiatan kepada Allah SWT. Jika suami menyuruh istri untuk berbuat maksiat, maka si istri harus menolaknya. Diantara ketaatan istri kepada suami adalah tidak keluar rumah, kecuali dengan seizinnya

Dalam Al-Quran Surat An-Nisaa’ ayat 34 dijelaskan bahwa istri harus bisa menjaga dirinya, baik ketika berada didepan suami maupun dibelakangnya, dan ini merupakan salah satu cirri istri yang salihah.

Sebab itu maka wanita yang salih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri dibalik pembelakangan suaminya oleh karena Allah telah memelihara mereka.”

maksud memelihara diri dibalik pembelakangan suaminya dalam ayat tersebut adalah istri menjaga dirinya ketika suaminya tidak ada dan tidak berbuat khianat kepadanya, baik mengenai diri maupun harta bendanya. Inilah merupakan kewajiban tertinggi bagi seorang istri terhadp suaminya.

2.7       Hak dan kewajiban suami istri

1. Suami isteri dihalalkan saling bergaul mengadakan hubungan seksual perbuatan ini merupakan kebutuhan bersama suami isteri yang dihalalkan secara timbal balik. Jadi, bagi suami halal berbuat kepada isterinya, sebagaimana isteri kepada suaminya. Mengadakan hubungan seksual ini adalah hak bagi suami isteri, dan tidak boleh dilakukan kalau tidak secara bersamaan, sebagaimana tidak dapat dilakukan sepihak saja.

2. Haram melakukan perkawinan: yaitu isteri haram dinikahi oleh ayah suaminya, datuknya(kakaknya), anaknya dan cucu- cucunya. Begitu juga ibu isterinya, anak perempuanya dan seluruh cucunya haram dinikahi oleh suaminya.

3. Hak saling mendapat waris akibat dari ikatan perkawinan yang sah, bilamana salah seorang meninggal dunia sesudah sempurnanya ikatan perkawinan: yang lain dapat Mewarisi hartanya, sekalipun belum pernah melakukan hubungan seksual.

4.Anak mempunyai nasab(keturunan) yang jelas bagi suami, kedua belah pihak wajib bergaul (berpilaku) yang baik, sehingga dapat melahirkan kemesraan dan kedamaian hidup.

            Syarat-syarat yang rusak dalam pernikahan

1. Nikah Syighor: yaitu seorang laki-laki menikahkan putrinya, saudarinya ataupun lainnya yang mana dia menjadi walinya dengan syarat agar laki-laki lain menikahkannya dengan salah seorang putrinya, saudarinya ataupun lainnya. Nikah seperti ini rusak dan haram, baik dengan cara menyebutkan mahar ketika akad dilangsungkan ataupun tidak menyebutkannya.

Jika pernikahan seperti ini telah terjadi, maka bagi setiap dari mereka harus memperbaharui akad tanpa meminta syarat kepada yang lain, akad akan sempurna dengan mahar baru, akad nikah baru, seperti apa yang telah lalu, begitu pula dengan pasangan kedua, tanpa didahului oleh perceraian.

2. Nikah Al-Muhallil: yaitu seorang pria menikahi wanita yang telah ditalak tiga oleh suaminya, dengan syarat jika telah menjadi halal kembali dengan suami pertamanya, dia harus menceraikannya, ataupun dia hanya berniat saja dalam hatinya, atau ada kesepakatan diantara keduanya sebelum akad.

3.Nikah Mut’ah: yaitu seorang laki-laki melakukan akad terhadap seorang wanita hanya untuk satu hari atau satu minggu atau satu bulan atau satu tahun atau mungkin juga lebih maupun kurang dari itu, dia membayar mahar kepada wanitanya dan jika waktu yang telah ditentukan habis dia akan meninggalkannya.

 

Pernikahan seperti ini rusak dan tidak boleh, karena akan mendatangkan mudhorot bagi fihak wanita, dia hanya dijadikan seperti sebuah barang yang berpindah-pindah dari satu tangan kepada tangan lainnya, ini juga akan mendatangkan kerugian terhadap anak-anaknya, karena mereka tidak akan mendapat rumah tetap yang akan tinggal dan terdidik padanya. Tujuan pernikahan seperti ini hanyalah untuk menyalurkan syahwat, bukan mencari keturunan dan mendidik. Pernikahan ini pada permulaan Islam dihalalkan hanya untuk beberapa saat saja, kemudian diharamkan untuk selamanya.

Hukum pernikahan wanita muslimah dengan pria non muslim: Haram hukumnya pernikahan antara seorang muslimah dengan lakilaki yang bukan muslim, baik laki-laki tersebut termasuk ahli kitab ataupun selainnya, karena dia lebih tinggi derajatnya dibandingkan laki-laki tersebut berdasarkan ketauhidan, keimanan serta kehormatannya. Jika pernikahan ini telah terjadi maka sesungguhnya dia itu rusak, haram dan harus langsung dipisahkan,

karena tidak boleh bagi seorang kafir untuk memimpin muslim

ataupun muslimah.

2.8       Hukum Dalam Perkawinan

1.Wajib

Hukum nikah menjadi wajib, bagi orang yang takut terjerumus ke dalam lembah perzinahanjika ia tidak menikah.karena,dalm kondisi hal seperti,nikah dapat membantunya menjaga diri dari hal hal yangdi haramkan.

2.Sunnah

Hukum menikah menjadi sunnah, ketika seorang laki laki telah memiliki syahwat(nafsu bersetubuh),sedangkan ia tidajk takut terjerumus dalam zina.Jika ia menikah,justru akan banyak membawa maslahat serta kebaikan yang banyak,bagi laki laki tersebut maupun wanita yang di nikahinya.

3.mubah atau boleh

Hukum nikah menjadi mubah atau boleh,bagi orang yang syahwatnnya tidak bergejolak,tapi ia mempunyai kemauan dan kecenderungan untuk menikah

4.Makruh

Adanya makruh hukum nikah bagi seseorang yang lemah syahwat dan tidak mampu member nafkah kepada istrinya,walaupun tidak merugikan istri karena ia kaya dan tidak mempunyai naluri syahwat yang kuat.

5.Haram

Bagi orang yang tidak mampu memenuhi nafkah lahir maupun batin kepada istrinya beserta nafsunya pun tidak bergolak,maka baginya haram untuk menikah.[8]

2.9       Hikmah dari pernikahan

 

  1. Pernikahan merupakan suasana solihah yang menjurus kepada pembangunan serta ikatan kekeluargaan, memelihara kehormatan dan menjaganya dari segala keharaman, nikah juga merupakan ketenangan dan tuma’ninah, karena dengannya

bisa didapat kelembutan, kasih sayang serta kecintaan diantara suami dan isteri.

 

  1. Nikah merupakan jalan terbaik untuk memiliki anak, memperbanyak keturunan, sambil menjaga nasab yang dengannya bisa saling mengenal, bekerja sama, berlemah lembut dan saling tolong menolong.

 

  1. Nikah merupakan jalan terbaik untukdan menyalurkan kebutuhan biologis, menyalurkan syahwat dengan tanpa resiko terkena penyakit.

 

  1. Sesuai dengan tabiatnya,manusia itu cendrung mengasihi orang yang di kasihi.Adanya istri akan bias menghilangkan kesedihan dan ketakutan.

 

  1. Manusia di ciptakan dengan memiliki rasa ghirah atau kecemburuan untuk menjaga kehormatannya dan kemuliannya.

 

  1. Kesadaran akan tanggung jawab terhadap isrti dan anak anak akan menimbulkan sikap rajin dan sungguh sungguh dalam memperkuat bakat dan pembawaan seseorang.

 

  1. Dan banyak lagi manfaat yanag lainnya yang mencakup dari nilai nilai positif.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1              Kesimpulan

Pernikahan merupakan sunnahtullah ang berlaku pada semua makhluknya,baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Dimana pernikahan merupakan suatu carayang di pilih Allah sebagai jalan bagi manusia untuk beranak, berkembang biak, dan melestarikan kehidupannya, setelah masng masing melalukan peranann yang  positif dalam mewujudkan tujuan pernikahan.

Hak dan kewajiban dalam keluarga hal yang harus dilakukan oleh kedua pihak, karena itu adalah kewajiban yang sudah ditentukan bagi setiap yang menjalin rumah tangga, baik kewajiban isteri terhadap suami atau juga sebaliknya,dan saling menghormati dan menjaga keaiban serta menutupinya.

Dalam masalah pembiayaan baik untuk nafkah keluarga dan urusan keluarga yang lainnya dalam keluarga lebih diberatkan kepada suami, karena suami sebagai kepala rumah tangga. Tetapi tetap seorang istri juga membantu suami dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Nikah di timjau dari hokum syar’i ada lima macam, Terkadang hokum nikah itu wajib, kadang bias menjadi sunnah, dan kadang pula nikah itu hukumnnya haram, kadang menjadi makruh dan mubah atau hukumnnya hanya boleh menurut syari’at islam.Dan hokum nikah dapat berubah sesuai kondisi calon pelakunya, kemampuan fisik serta ekonominya,termasuk kesiapan untuk memikul tanggung jawab ruah tangga.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Al banna, imam hasan. 2006. Fiqih sunnah. Jakarta: Pena pundi aksara.

Al fauzan, saleh. 2005. Fiqih sehari hari. Jakarta: Gema insani press.

 Al-Quran al-Karim dan Terjemahannya.

Djaman, nur.  2004. Fiqih munakahat. Semarang: Dimas utama semarang.

Ghozali, abdul rahman.2003. Fiqih munakahat. Jakarta ; Kencana Prenada Media Group.

Rasyid, sulaiman. 1992. Fiqih islam. Bandung: PT sinar baru.

Sabiq, sayyid.1993.Fqih sunnah. Bandung: PT.Al ma’ariif.

Thalib, Muhammad. 1995. Petunjuk perkawinan islami. Bandng: Irsyad baitusalam.

Yanggo, chuzaimah. 1996.Problematika hokum islam kontemporer. Jakarta: Lembaga study islam dan kemasyarakatan(LSIK)

 

 

 

 


[1]1.Ghazali,Abdurahman,fiqih munakahat,Jakarta;2003,hlm.7-10

[2] Ibid

 

[4] Saleh alfauzan,Fiqih sehari hari,Jakarta ;2005.hlm 648

[5][5] Sayyid sabiq, Fiqih sunnah,Jakarta:2004.hlm 477

[6]Ghazali,Abdurahman,fiqih munakahat,Jakarta;2003,hlm.155

 

[7] ibid

[8] Sayyid sabiq, Fiqih sunnah,Jakarta:2004.hlm 491

 

AGAR BEBAS DARI PRASANGKA

Kebanyakan orang menerima apa pun yang mereka peroleh dari ilmuwan sebagai kebenaran sejati. Tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa ilmuwan pun mungkin memiliki berbagai prasangka filosofis atau ideologis. Pada kenyataannya, ilmuwan evolusionis telah memaksakan prasangka dan pandangan filosofis mereka kepada masyarakat luas dengan kedok ilmu pengetahuan. Misalnya, meskipun sadar bahwa kejadian acak hanya akan menghasilkan ketidakteraturan dan kekacauan, mereka tetap menyatakan bahwa keteraturan, perencanaan dan desain yang sangat mengagumkan pada jagat raya dan makhluk hidup terjadi secara kebetulan.

Sebagai contoh, ahli biologi semacam ini akan dengan mudahnya menemukan keselarasan yang menakjubkan pada molekul protein, bahan penyusun kehidupan, dan molekul ini sama sekali tidak mungkin muncul secara kebetulan. Meski demikian ia malah menyatakan bahwa protein ini muncul pada kondisi bumi yang primitif secara kebetulan miliaran tahun yang lalu. Tidak cukup sampai di sini, ia juga menyatakan tanpa keraguan bahwa tidak hanya satu, tetapi jutaan protein terbentuk secara kebetulan, dan selanjutnya secara luar biasa bergabung membentuk sel hidup pertama. Lebih jauh lagi, ia berkeras mempertahankan pandangannya secara fanatik. Orang ini adalah ilmuwan “evolusionis”.

Jika ilmuwan yang sama melewati sebuah jalan datar, dan menemukan tiga buah batu bata bertumpuk rapi, tentunya ia tidak akan pernah menganggap bahwa ketiga batu bata tersebut terbentuk secara kebetulan dan selanjutnya menyusun diri menjadi tumpukan, juga secara kebetulan. Sudah pasti, siapa pun yang membuat pernyataan seperti itu akan dianggap tidak waras.

Lalu, bagaimana mungkin mereka yang mampu menilai peristiwa-peristiwa biasa secara rasional, dapat bersikap begitu tidak masuk akal ketika memikirkan keberadaan diri mereka sendiri?

Sikap seperti ini tidak mungkin diambil atas nama ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan, jika terdapat dua alternatif dengan kemungkinan yang sama mengenai suatu masalah, kita diharuskan mempertimbangkan keduanya. Dan jika kemungkinan salah satu alternatif tersebut jauh lebih kecil, misalnya hanya 1 %, maka tindakan yang rasional dan ilmiah adalah mengambil alternatif lainnya, yang memiliki kemungkinan 99 %, sebagai pilihan yang benar.

Mari kita teruskan dengan berpegang pada pedoman ilmiah ini. Terdapat dua pandangan yang dapat dikemukakan tentang bagaimana makhluk hidup muncul di muka bumi. Pandangan pertama menyatakan bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah dalam tatanan yang rumit seperti sekarang ini. Sedangkan pandangan kedua menyatakan bahwa kehidupan terbentuk oleh kebetulan-kebetulan acak dan di luar kesengajaan. Pandangan terakhir ini adalah pernyataan teori evolusi.

Jika kita mengacu kepada data-data ilmiah, misalnya di bidang biologi molekuler, jangankan satu sel hidup, salah satu dari jutaan protein di dalam sel tersebut sangat tidak mungkin muncul secara kebetulan. Sebagaimana juga akan diilustrasikan dalam bab-bab berikutnya, perhitungan probabilitas telah berkali-kali menegaskan hal ini. Jadi pandangan evolusionis tentang kemunculan makhluk hidup memiliki probabilitas nol untuk diterima sebagai kebenaran.

Artinya, pandangan pertama memiliki kemungkinan “100 %” sebagai suatu kebenaran. Jadi, kehidupan telah dimunculkan dengan sengaja, atau dengan kata lain, kehidupan itu “diciptakan”. Semua makhluk hidup telah muncul atas kehendak Sang Pencipta yang memiliki kekuatan, kebijaksanaan dan ilmu yang tak tertandingi. Kenyataan ini bukan sekadar masalah keyakinan; ini adalah kesimpulan yang sudah semestinya dicapai melalui kearifan, logika dan ilmu pengetahuan.

Dengan begitu, sudah seharusnya ilmuwan “evolusionis” tadi menarik pernyataan mereka dan menerima fakta yang jelas dan telah terbukti. Dengan bersikap sebaliknya, ia telah mengorbankan ilmu pengetahuan demi filsafat, ideologi dan dogma yang diikutinya, dan tidak menjadi seorang ilmuwan sejati.

Kemarahan, sikap keras kepala dan prasangka “ilmuwan” ini semakin bertambah setiap kali ia berhadapan dengan kenyataan. Sikapnya dapat dijelaskan dengan satu kata: ”keyakinan”. Tetapi keyakinan tersebut adalah keyakinan takhayul yang buta, karena hanya itulah penjelasan bagi ketidakpeduliannya terhadap fakta-fakta atau kesetiaan seumur hidup kepada skenario tak masuk akal yang ia susun dalam khayalannya sendiri.

 

Previous Older Entries